Friday, March 24, 2017

Tari Shaman Tarana




Tarian ini kubuat setelah aku membuat tarian Kateyasavithakathak. Sebenarnya kisah yang kutuangkan dalam kedua tarian ini sama; kisah hidupku. Hanya apabila Kateyasavithakathak mengajarkan caranya, maka Shaman Tarana hanya berkisah. Ini kisahku. Kisah hidupku. Kisah pencarianku.

Shaman adalah bahasa kuno nusantara untuk yang kini masih dikenal dengan istilah balian. Aku memang seorang balian. Artinya ‘orang yang mampu terhubung dengan Tuhan’. Tarana (baca tere na) artinya ‘tanpa diri’. Jadi Shaman Tarana arti bebasnya ‘ keinginan terdalam seorang balian’.

Karena itu seluruh mudra yang digunakan di tarian ini mempunyai arti. Dan Dia memberkahi, dengan mengijinkanku membagi—mengajarkan tarian ini pada siapa saja yang ingin juga menarikannya. Karena suka. Karena juga ingin bertemu denganNya.

Dalam tarian ini ada satu mudra yang tidak dikenal di kalangan mereka penari bharatanatyam/kachipudi. Tetapi mudra ini dikenal di nusantara meskipun yang masih mengenalnya hanya mengenal samar-samar. Padahal mudra ini sebenarnya adalah mudra utama.  Kratuh (dibaca krate dengan ‘e’ seperti e dalam kata apel—artinya postur Yang Baik. Jadi mereka yang melakukan mudra kratuh sebenarnya ‘sedang menjadikan diri menjadi stanaNya’. Beberapa perguruan mengajarkan untuk mengucapkan hal ini, ‘……...aku menjadi stanaMu’  karena tidak lagi mengenal mudranya. Inilah sesungguhnya cara mudah untuk meraihNya. Dengan melakukan mudra ini dalam memulai setiap persembahan apa saja.

Tarian yang dilakukan sambil duduk juga tidak dikenali lagi oleh mereka yang menjalankan dharma. Padahal menari yang dilakukan dengan duduk juga adalah tarian dharma di masa yang lalu. Di masa kini hanya beberapa suku di pedalaman Amerika Selatan yang tradisinya masih dharma yang mengenal tarian semacam ini.

Inilah shaman tarana. Berhasil kuselesaikan komposisinya 2 Maret 2017. Dan dari waktu ke waktu akan selalu kutarikan dengan makin sempurna, makin sempurna, makin sempurna. Karena begitulah hidup. Selalu bergerak. Dan aku selalu ingin pergerakan itu ke arah yang lebih baik. Menjadi lebih baik. Semoga demikian yang akan terjadi.

Karena Dia selalu memberkahi.


I make this dance after I make Kateyasavithakathak dance. Actually, I define my journey to this dance, same as Kateyasavithakathak. My journey to find God. The story of my life. Only Kateyasavithakathak told how (to meet God), but Shaman Tarana just a story. My story. 

Shaman is the archipelago ancient language, which is still known now as ‘the balian’. I am balian. And it means ‘one who able to connect God at anytime '. Tarana (read tere na) means 'without self'. So Shaman Tarana loosely translated as 'deepest desires of a shaman'.

Therefore the whole mudra used in this dance has a meaning. And He give His Blessing by allowing me to share it, to teach this dance to anyone who want to try dancing it too. Because he/she/they like it. Because he/she/they also want to meet Him too.

In this dance there is mudra not known among them dancers bharatanatyam / kachipudi. But this mudra is known in nuswantara although vaguely senses. Though this mudra is actually the main mudra. Kratuh (read krate with 'e' as e in apple) —Good God posture. So those who do kratuh actually are ‘make themselves as His stana'. Some guru told his disciples to say this, '...... ... I am your stana' because no longer know its mudra. This is indeed an easy way to reach Him. By doing this mudra in starting each and any offering.

Dances performed by sitting not recognized anymore by they who dharma. Whereas dancing by sitting are dharma tradition also in the past. At present only a few tribes in South America which tradition still dharma still knew it.
So. this is Shaman Tarana. I successfully finish its composition in March 2, 2017. And from time to time I would always dance it more perfect, more perfect, more perfect. Because that's life. Always on the move. And I always wanted to move it to a better direction. To be good. To be better. So blessfully that would happen.

Because He bless.

Thursday, March 23, 2017

Tari Kateyasavithakathak


Ini adalah tari Kateyasavithakathak. Sebenarnya ini adalah versi terakhir dalam 108 hari aku menciptakan kathak ini. Dari mulai menyusun komposisi sekaligus belajar melakukan gerakannya. Karena saat aku menciptakan kathak ini, itulah untuk pertama kalinya aku melihat—menonton-- tarian bharathanatyam atau kachipudi. Aku memang perlu menonton beberapa penari kachipudi menari, baru aku paham gerakan dasar kathak. Meskipun tetap saja seluruh gerakan dasar dalam kathak yang kuciptakan ini sesungguhnya Dia sendiri yang mengajarkan padaku. Aku menonton hanya untuk memperoleh gambaran tarian kathak itu seperti apa. Tapi gerakan dalam tarianku ini, sepenuhnya diajarkanNya sendiri padaku. Karena itu aku hanya butuh 108 hari untuk menyelesaikan komposisi tarian ini. Cuma butuh 108 hari untuk menjadikannya sempurna, meskipun dalam 108 hari ini ada 3 kali perubahan rangkaian gerakan yang terjadi karena perubahan keadaanku yang sangat cepat.

Akupun hanya perlu 108 hari untuk mampu melakukan seluruh gerakan dalam kathak ini dengan sempurna meskipun sesungguhnya sangat sulit dan berat untuk dilakukan. Bahkan dalam 40 hari pertama aku juga mampu menyelesaikan satu tari yang lain, Tari Shaman Tarana yang hanya butuh 40 hari bagiku untuk menyelesaikannya –dari membuat komposisi hingga selesai sempurna dan aku dapat merekamnya.

Aku bukan penari. Aku hanya orang yang bahagia karena akhirnya mampu mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku yang sangat banyak tentang hidup dan kehidupan. Akuhanya orang yang bahagia karena mampu meraih Tuhan dan bertemu denganNya. Aku ekstasi dalam kebahagiaan karena itu aku ingin menari saja. Karena aku suka. 
Jadi aku menari bukan untuk pertunjukan. Aku menari bukan untuk menyenangkan orang. Aku menari karena aku bahagia. Tapi tarianku juga dapat membantu orang yang percaya agar bisa meraih apa yang sudah kuraih juga.

Aku perlu menyampaikan ini karena pasti ada yang mengatakan ini itu tentang tarianku. Tapi cobalah tarikan. Baru akan terasa bedanya. Siapapun yang ingin mampu menarikan tarian ini juga harus melakukan sadhana sebelum memulainya. Sadhana apa saja yang dipilihnya, apakah meditasi rutin atau japamala atau bentuk disiplin lainnya yang harus dilakukan minimal 108 hari, tergantung dari jenis sadhana yang dipilihnya. Makin berat sadhananya waktunya bisa lebih singkat. Menjapakan Gayatri Mantram perlu 108 hari. Tapi menjapakan bija mantra cukup 40 hari. Ini contohnya. Barulah seseorang akan cukup punya energi untuk mampu menarikannya. Meskipun sesungguhnya dia adalah seorang penari, sadhana tetap diperlukan. Karena saat tarian ini dilakukan, kita sebenarnya langsung terhubung padaNya. Cobalah.

Tanpa persiapan sadhana tidak akan orang mampu menarikan tarianku ini. Malah mungkin cedera. Dengan demikian peringatan dan petunjuk telah kusampaikan.

Tapi inilah caraku berbagi. Pada mereka yang tulus dan rendah hati. Dan percaya padaNya sepenuh hati. Syarat yang kusampaikan pasti tidak berarti. Karena mereka pasti yakin, kebahagiaan telah menanti.

Alur kisah

Kateyasavithakathak mengisahkan bagaimana cara aku mampu bertemu denganNya. Mampu menyatu denganNya.

Saat aku masih baru memulai pencarianku dengan bermacam cara, dengan penuh kesungguhan, aku melakukan apa saja yang mungkin untuk membantu mengantarku padaNya.

Dan Dia memberi jalan dengan membuat aku mengenal seseorang yang kemudian mengajarkan 10 jurus padaku. 10 jurus saja yang dilakukan tanpa jeda selama 3 bulan = 99 hari, yang bisa membuatku kemudian sanggup menerimaNya sehingga tuntunanNya makin mudah kuterima.

10 jurus ini disebut ‘jurus’ karena memanglah berupa jurus seperti yang digunakan oleh mereka yang berlatih kanuragan. Jadi sesungguhnya sangat berat untukku dan untuk wanita pada umumnya.

Tapi aku tetap mampu juga karena kesungguhanku melakukannya meskipun aku yakin tidak ada satupun dari jurus2 itu yang bisa kulakukan dengan sempurna. Namun ternyata kesungguhanku menyempurnakannya. Sehingga pada akhirnya aku sampai juga pada tujuanku –Dia.

Dan setelah pada akhirnya aku mampu bertemu denganNya, Dia mengijinkanku untuk membagi caraku meraihNya dengan jalan yang lebih mudah, dengan jalan yang dapat dilakukan oleh laki-laki maupun wanita bagaimanapun keadaannya. Inilah, dengan membuat Kateyasavithakathak – kathak yang mengisahkan perjalananku mencari Kartikeya dan Savitri –Tuhan Sang Pencipta dan ShaktiNya.

Inilah 10 jurus yang pernah kulakukan dulu, dalam bentuk yang lebih ringan dan lebih mudah untuk dilakukan, --dalam bentuk mudra di dalam tarian. Karena perjalanan mencari Tuhan meskipun selalu diiringi penderitaan tetap mendatangkan kebahagiaan.

Jurus 1 menyiapkan diri – mudra 1 mempersiapkan diri
Jurus 2 menguatkan kaki – mudra 2 mengenal dunya
Jurus 3 menguatkan pinggang – mudra 3 menjalani kehidupan di dunya
Jurus 4 menguatkan dada – mudra 4 perjalanan penuh derita
Jurus 5 menguatkan diri – mudra 5 meraih Mahadeva
Jurus 6 membersihkan diri – mudra 6 meraih kemulyaan
Jurus 7 mensucikan diri – mudra 7 mengenal bhuwana dan mengenal diri sendiri
Jurus 8 membagi kebaikan –mudra 8 meraih sanath
Jurus 9 bertemu denganNya – mudra 9 bertemu denganNya
Jurus 10 persembahan pada penguasa bhuwana – mudra 10

Inilah 10 jurus – 10 mudra itu. Maknanya persis sama dengan 10 jurus yang pernah kulakukan dulu. Tapi Kateyasavithakathak menjadikan 10 jurus itu lebih lembut dan lebih indah dan lebih memungkinkan untuk dilakukan oleh wanita. Tetapi laki-laki pun dapat menarikannya.

Dengan kesungguhan dan keyakinan, setiap yang melakukannya akan mampu meraih apa yang telah kuraih juga.


Dalam menarikan tarian ini aku masih menggunakan sari yang kupakai dengan cara gochi kattu (baca: goci kati)—memakai sari dengan membentuk lipitnya menjadi celana--. Kelak aku akan memakai kostum yang seharusnya –kostum kachipudi. 

Karena Dia memberkati


- Kateyasavithakathak menggunakan musik pengiring dari Ravi Sankar, Pancham Segara (mendalami 5 unsur –pancamahabhuta) yang apabila diterjemahkan bebas artinya ‘mengenali diri’. Sangat sesuai dengan kisah perjalananku mencariNya. Karena itu aku gunakan di sini. Aku belum mengurus ijin resmi dari yang mengurus legacynya, tapi aku yakin pada waktunya pasti diijinkan.



This is Kateyasavithakathak dance. Frankly this is the final version of the 108 day I create this kathak. From the time I compose and at the same time learning to do the move. By the time I create this kathak, is the first time I see dance--watch-- bharathanatyam or kachipudi. I do need to watch some kachipudi dancer dancing kachipudi, to understand the basic movements of kathak. Although still the whole movement I create in this kathak are actually He Himself who taught me. I watch just to obtain how kathak dance like. But all movement in my dance, entirely He taught Himself to me. That's why I only took 108 day to complete the composition of this dance. Just takes 108 day to make it perfect, though in this 108 day there were 3 times I changed range of motion because of my situation changed very quickly.

I only need 108 day to be able to do the whole movement in this kathak perfectly despite very difficult and hard to do. On the top of that, in the first 40 day I also able to complete another dance, Shaman Tarana dance which only took 40 day for me to finish-from composing until perfect and I could record it.

I'm not a dancer. I'm just a blithesome person who eventually able to get all the answer of my questions which very very many about life and Life. I am just people who happy because in the end of my journey I could reach God and meet Him. I am ecstasy in happiness and I want to dance. Because I love (to dance).


So I dance not for show. I dance not to please people. I dance because I'm happy. But my dance could also help people who believe so could achieve what I have achieved as well.

I need to say this because surely somebody must said a thing or two about my dance. But try to dance it too. Feel the difference. Anyone who willing to dance my dance have to do sadhana before start doing. Whatever sadhana one choose, whether routine meditation or japamala or other form of discipline which must be done at least 108 day, depending on the type of sadhana chosen. The more severe the sadhana, the  time could be shorter. Do Gayatri Mantram japamala would need 108 day. But do bija mantra japamala would need quite 40 day only. Here's for example. Only then someone will have enough energy to be able to dance it. Despite the fact that one is a dancer, sadhana would still needed. Because when this dance is done, we actually directly connected to Him. Try it.

Without preparation by doing sadhana one must not be able to dance my dance. Injury may occur. Thus the warnings and instructions was told.

But this is my way of sharing. For those who are sincere and humble. And those who trust Him wholeheartedly. All I was told would mean nothing. Because they must believe, happiness always waiting.

Story :

Kateyasavithakathak told story how I met Him. Able to merge with Him.

When I was just starting my pilgrim in many different ways, with full sincerity, I do everything possible to help take me to Him.

And He gave way to make me know someone who later taught 10 moves to me. 10 moves which performed without a break for 3 month = 99 day, which could made me able to take Him to me so that His guidance more easily I accept.

10 moves are called  'moves’ because indeed such moves used by those who practice kanuragan – martial art. So really very hard for me and for women in general.

But I'm still able to do well because of my sincerity though I'm sure none of that moves I can do perfectly. But apparently my sincerity made it perfect. So in the end I could achieve my purpose – Him.

And once I able to meet Him, He allowed me to share how I achieve Him by an easier path, the path which can be done by men and women under any circumstances. Here, by making Kateyasavithakathak -- kathak which told story of my journey to meet Kartikeya and Savitri -- God The Creator and His Shakti.

Here are 10 moves I've ever done before, in the form of a lighter and easier to do, -- in the form of mudra in dance. Because the journey to God while it is always accompany by suffer still bring happiness.

Move 1 preparation - mudra 1 preparation
Move 2 strengthen legs - mudra 2 learning in dunya
Move 3 strengthen waist - mudra 3 life living in dunya
Move 4 strengthen chest - mudra 4 meet anguish
Move 5 bracing ourselves - mudra 5 to meet Mahadeva
Move 6 self cleaning - mudra 6 have kemulyaan
Move 7 purify ourselves - mudra 7 knew bhuwana and oneself
Move 8 pour kindness -mudra 8 achieve Sanath
Move 9 meet Him - mudra 9 meet Him
Move 10 offering to the ruler of bhuwana - mudra 10

Here are 10 mudra. Its meaning is exactly the same as the 10 moves I ever did before. But Scekarakathak make 10 moves softer and more beautiful and more likely to be done by women. But men can do it also.

With sincerity and conviction, anyone who do so would be able to achieve what I achieved as well.


In dancing this dance I still use saree in gochi kattu way (read: gocee kaHtee) -used saree with pleated pants--. Later I would wear the right costume -kachipudi costume.

Because He bless


• Kateyasavithakathak use the music by Ravi Sankar, Pancham Segara (go deep into 5 basic element -pancamahabhuta ), loosely translated 'know yourself'. Very appropriate with the story of my journey to meet Him. That's why I use it. I have not manage an official permit yet with his legacy, but I'm sure in time I certainly permitted.

Saturday, March 4, 2017

Tari Sape' Balian

Ini adalah tari Sape' Balian (baca: Sampek Balian). Tarian ini juga bisa ditarikan di atas gong. Aku tidak punya gong, jadi aku menggunakan simbol yang bermakna sama dengan gong --alas menari dengan gambar kehidupan--.




Sape' Balian di masa yang lalu sampai masa sekarang ini seharusnya hanya ditarikan oleh balian. Ditarikan saat upacara seperti upacara kelahiran, perkawinan atau kematian. Juga ditarikan saat ada upacara khusus, misal upacara membuang siyal atau membersihkan wilayah. Di masa kini hanya ada 1-2 orang balian yang masih mampu dan berhak menarikannya (selain aku ;p)

Tarian ini secara sepintas akan terlihat sama, tetapi sebenarnya tetap ada kisah di dalamnya. Untukku tarian ini benar-benar kutarikan sebagai persembahan padaNya, saat aku menyelesaikan masa berguru. Jadi kisah yang ada di tarian ini adalah kisah perjalananku mencariNya sampai dapat menemukanNya dan bertemu denganNya. Apabila tarian ini dilakukan saat upacara kelahiran misalnya, maka kisahnya biasanya adalah permohonan agar anak yang lahir dapat menjalani hidup dengan benar dan dapat segera mengetahui tujuan hidupnya. Apabila dilakukan saat upacara kematian, maka pasti ada gerakan tari yang maknanya permohonan agar yang mati mudah menemukan jalan kembali padaNya. Demikianlah.

Dalam menarikan tarian ini aku juga menggunakan pakaianku sendiri, jadi agak berbeda dengan pakaian yang umum dipakai balian lainnya saat menarikannya. Karena itu aku perlu jelaskan agar tidak ada yang salah berpikir saat melihat pakaianku ini.


Ini adalah ta'a- kain panjang untuk menutup kaki. Hiasan yang kugunakan adalah hiasan yang memang hiasan pakaian balian -gambar tingang dan tambarirang. Seharusnya hanya balian yang memakai baju dengan hiasan motif ini.  Orang biasa menggunakan motif bunga, sedangkan motif hewan seperti buaya dan kalajengking  adalah motif yang digunakan para prajurit. Untuk inoq (baju atas tanpa lengan yang dipakai wanita) aku gunakan warna merah saja, karena aku belum punya inoq dengan motif tingang dan tambarirang.



Aku juga memakai ikat kepala merah dengan 2 helai dandang tingang (bulu burung enggang) yang merupakan simbol kebijaksanaan. Aku tidak memakai topi berhias karena aku balian, jadi cukuplah hiasan kepalanya sepeti ini. Tapi aku tetap memakai da'a (penutup bahu) dengan demikian aku sudah terlindungi oleh Tatu Hiang - Raja Bunu Leluhur manusia --. Karena begitulah janjiNya.

Jadi tarian ini adalah tari persembahanku yang pertama untukNya. Masih ada yang berikutnya, hanya aku perlu sedikit persiapan sebelum dapat membagikannya dengan cara ini.

Ya ....aku merekam aku menarikan Sape Balian ini juga caraku berbagi. Berbagi kebahagiaan...berbagi berkah....

Karena Dia selalu memberkahi...


It is Sape' Balian dance (read: Sampek Balian). This dance can also be danced on top of gong. I do not have gong, so I use the same symbol as gong --dancing pad with symbol of life--.

Sape' Balian in the past until nowadays should only be danced by balian. And they do it in ceremonies such as ceremonies of birth, marriage or death. Also be danced when there are special ceremony, like ceremony to dump siyal or ceremony to clean up the area. At the present time there are only 1-2 balian who are able and entitled to dance this dance (besides me ;p)


This dance is always look the same, but in fact there are a story in it. For me this dance I danced is really as an offering to Him, when I finish my learning. So the story in this dance is the story of my journey to seek Him, until I could find Him and at last meet Him. If the dance is performed during the ceremony of birth, for example, the story usually is a request that the new born can live properly and be able to immediately find out the purpose of his life. If done during the funeral ceremony, then there must the move meaning a request that the dead would easy to find his way back to Him. That's all.

In this dance I also use my own clothes, so it is a bit different from the common clothes of other healer when dance. That's why I have to explain so no one could think wrong upon seeing my clothes.




It is
ta'a- long cloth to cover legs. I use embellishment of shaman clothing -- tingang and tambarirang. It should only healers dressed with a decorative motif of this. Ordinary people using flower motif, while the motif of animals such as crocodile and scorpion used by warriors. Inoq (sleeveless shirt worn over a woman) I use the red color, because I have not had tingang and tambarirang inoq. And red color always symbol of dharma in fierce roopa (kind roopa of dharma is yellow color).


I also wore red headband with 2 dandang tingang (feather of hornbill), which is a symbol of wisdom. I do not wear a hat decorated with because I am balian, so this headband suffice. But I still wore da'a (cover shoulder) so I  protected yet by Tatu Hiang - King Bunu Human Ancestor -. Because He promised. 
 
So this dance is my first offering dance for Him. There are still other offering dance, I just need a bit of preparation before I can share it in this way.

Yes .... I'm recording I'm dancing Sape Balian is also my way of sharing. Sharing my happiness ... sharing the blessing I have ....

Because He bless ...



Samarinda,  4 Maret 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi