Manusia yang bijak adalah manusia :

yang menyadari bahwa dirinya manusia, yang menyadari potensi dirinya, yang menyadari posisi dirinya, yang mengenal semesta, yang mengenal Manu, Sang Pencipta dan yang setelah mengetahui semua ini tetap merasa dirinya tidak tahu apa-apa.

Sanathkumara—itulah manusia yang bijak. Purushottama—itu juga sebutan untuk manusia yang bijak. Berusahalah untuk menjadi manusia yang bijak itu. Berkah-Ku selalu menyertai.

Friday, January 11, 2013

MEMOTONG HEWAN



Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mau tidak mau ada kalanya kita harus menggunakan hewan sebagai salah bahan kebutuhan makan kita. Mengkonsumsi hewan sebenarnya adalah opsi. Ini pilihan. Artinya, tanpa makan hewan pun, cukup dengan sayur, buah dan biji-bijian, susu, dan madu kita sudah bisa makan dengan menu yang enak dan dapat memenuhi semua kebutuhan kita.

Seandainya saat kita tumbuh besar, tubuh kita tidak dikondisikan untuk menerima asupan sumber makanan yang berasal dari hewan, maka hinga dewasa tubuh kita akan puas dan dapat terpenuhi semua kebuhtuhannya hanya dengan makanan yang bersumber dari tumbuhan. Tanpa daging, baik daging merah maupun daging putih. Tetapi, sekali tubuh kita diperkenalkan dengan makanan yang berasal dari daging ini, maka kebutuhan untuk mengkonsumsi daging ini akan ‘lahir’ pula. Perlu usaha keras lagi untuk mendisiplinkan dan membiasakan tubuh untuk kembali tidak membutuhkan daging ini. Itulah seharusnya yang dilakukan orang-orang yang melakukan pola makan vegetarian. Jadi bukan menahan diri atau menahan selera. Tapi mengendalikan tubuh dan menyesuaikan fungsi tubuh sehingga tubuh berhenti membutuhkan makanan yang berasal dari daging ini. Tanpa pengendalian seperti ini, menghindari makan daging dalam jangka panjang malah akan membuat beberapa organ tubuh terganggu yang kemudian muncul sebagai penyakit. Pengendalian fungsi tubuh, membuat seseorang tetap sehat walaupun dia membatasi diri untuk tidak makan makanan tertentu.

Tapi kali ini yang akan dibahas adalah tentang menyiapkan makanan dari hewan, bukan tentang vegetarian.

Jadi, umumnya ada saja waktu-waktu kita harus memotong hewan untuk memenuhi kebutuhan makan kita ini. Seharusnya, kita hanya memotong hewan secukup kebutuhan kita saja. Itupun tidak banyak. Karena terlalu sering memakan daging hewan berakibat buruk untuk fungsi tubuh. Untuk memenuhi kebutuhan yang sekali-sekali inilah kita menggunakan cara tertentu dalam menyiapkannya.

Hewan yang dipotong haruslah hewan yang sehat. Dan cara dia mati sebenarnya penting sekali. Dalam upacara-upacara adat yang biasanya melibatkan proses pemotongan hewan, maka hewan-hewan ini diikat di tiang dan setelah itu dibunuh dengan cara ditombak atau dipanah atau ditebas. Apa saja. Tapi, selalu hewan ini diberi kesempatan untuk bertarung melawan pembunuhnya sebelum dia harus mati. Intinya, adalah ini sebuah perburuan. Bedanya, hewan yang jelas-jelas akan dipotong ini hanya diberi sedikit ruang gerak saja. Tetapi, dia tetap diberi kesempatan untuk membela dirinya. Dalam hal ini, yang terjadi adalah perkelahian yang ksatriya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena itu, berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak dilarang. Dalam berburu, yang berburu harus berjuang untuk mendapatkan buruannya. Hewan buruan pun punya kesempatan besar untuk menyelamatkan dirinya. Pertarungan hidup mati sering terjadi antara keduanya. Yang berburu dengan yang diburu seringkali harus sama-sama mempertaruhkan nyawa. Inilah perkelahian yang adil.

Berbeda dengan jaman sekarang. Dimana memotong hewan dijadikan produksi masal. Kebutuhan manusia ‘diciptakan’ berlipat-lipat dari yang seharusnya sehingga cara memotong hewan pun sudah mengabaikan hak-hak hidup hewan itu. Padahal, membunuh dengan cara yang paling baik pun tetaplah membunuh. Tetap harus menanggung hutang karma akibat pembunuhan. Apalagi membunuh tanpa perasaan, tanpa doa yang dihaturkan bagi hewan itu, tanpa melihat lagi apakah kita memang benar-benar membutuhkannya semacam memotong hewan di rumah jagal seperti yang terjadi sekarang ini.

Memotong hewan ada caranya. Yaitu dengan cara yang ksatriya. Berburu adalah cara yang paling mudah. Setelah didapat pun, hewan harus didoakan agar jivanya meraih kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Yang berburu pun tetap harus mengucapkan terima kasih pada hewan buruannya karena dengan pengorbanan jivanya itu, si pemburu dan mungkin keluarganya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitulah tata cara yang seharusnya. Sehingga, hutang karma akibat membunuh hewan ini diminimalkan.

Jika aturan ini dipahami kita pun tidak akan hanya berpikir untuk memuaskan keinginan kita begitu saja tentang makanan. Kita pasti akan mencari cara lain untuk membuat kebutuhan kita terpenuhi dengan seminimal mungkin melakukan pembunuhan. Otomatis, kebutuhan kita akan daging akan berkurang. Sehingga memotong hewan kembali dilakukan seperlunya saja, tidak dalam jumlah besar, apalagi dijadikan produksi masal seperti sekarang ini.

Dan jiva-jiva hewan yang dipotong pun akan mampu meningkat, seiring dengan pengorbanan yang diberikannya pada manusia. Yang memberikan daging mendapat berkah. Yang memakan dagingnya pun masih bisa mendapat berkah..

Karena itu, sebisanya setelah memahami aturan ini, jika pun harus memotong hewan-- potonglah sendiri. Dengan cara yang baik. Dengan memohon maaf dan kerelaan dari hewan yang akan dipotong. Dengan doa penuh harapan agar jivanya memperoleh peningkatan. Dengan rasa syukur atas rejeki makanan yang diberikan Tuhan. Dan akan lebih baik lagi jika kemudian kita malah bisa mengurangi konsumsi daging hewan. Sambil berupaya mengendalikan diri dengan disiplin spiritual agar tubuh kita tidak lagi butuh hewan dalam jumlah besar. Sehingga hanya sewaktu-waktu saja kita membutuhkan daging hewan ini. Sehingga hanya sewaktu-waktu juga kita harus melakukan pembunuhan untuk memenuhi kebutuhan (daging) untuk kita sendiri.

Inilah tentang memotong hewan. Tentang cara dan aturannya. Tidak perlu menyebut nama Tuhan saat memotongnya. Tapi Tuhan dimohonkan pengampunanNya agar dosha pembunuhan yang kita lakukan diampuni. Dan Tuhan dimohonkan berkahNya agar jiva hewan yang kita potong diberkahi. Dan semoga kita semua diberkahi agar mampu mengendalikan diri sehingga bisa membatasi diri untuk tidak terlalau banyak memakan daging hewan ini.

Semoga Dia memberkati.

Om Jai Jai Prema

No comments: