Tuesday, February 7, 2012

Bedah Buku di Bontang

Saat perayaan Saraswati 19 November 2011 yang lalu, selepas memberikan dharma wacana di L4 Kabupaten Kutai Kertanegara pada pagi hari, sorenya sekitar jam 2 aku langsung berangkat menuju Bontang bersama seluruh anggota keluargaku. PHDI Bontang mengundangku untuk acara bedah buku, buku pertama sekaligus buku kedua. Kebetulan setiap Saraswati juga merupakan hari odalan pura Buana Agung di Bontang. Jadi meskipun acara bedah buku berlangsung esok harinya, aku tetap melaju di hari Saraswatinya. Menyempatkan ikut sembahyang odalan di sana.

Tepat jam 7 malam kami tiba di halaman pura. Kondisi anak-anakku sangat tidak mendukung. Semua mabuk berat dan muntah-muntah sepanjang perjalanan. Untung aku dan si kecil Kavyaa sehat-sehat saja. Suamiku sendiri kebetulan sedang menjalankan upawasanya, nggak tahu deh gimana rasa perutnya. Yang pasti, begitu tiba kami langsung disambut oleh Pak Agung ketua PHDI kota Bontang dan digiring langsung memasuki pura.

Dua anakku yang mabuk berat jadinya tidak ikut sembahyang, sementara aku, suami dan Kavyaa langsung menuju jeroan. Ternyata runtutan acara odalan juga sudah dimulai. Aku sempat menyaksikan sebagian upacara itu. Kesanku sepintas, upacaranya sederhana tapi tidak mengurangi makna, nilai dan manfaatnya. Hmm...bagus sekali.

Aku sendiri mencoba meresapi suasana pura. Terasa nyaman. Aku juga baru tahu bahwa Ibu Saraswati punya pelinggih khusus di pura ini. Dan setiap odalan pratimanya akan di .....apakan ya namanya?. Pokoknya begitulah. Tahu sendirikan. Nanti selesai upacara, pratima Ibu Saraswati akan disimpan lagi di tempatnya semula.

Rasanya aku cuma duduk satu jam di sana, sudah termasuk aku menyaksikan upacaranya, aku sendiri berbicara barang 10 menit untuk pengantar acara besok dan sembahyang. Setengah sembilan, kami sudah di jaba tengah menonton anak-anak Bontang membawakan tari-tarian sambil menikmati makan malam bersama. Yang menarik, tidak hanya tari Bali yang dibawakan, tapi juga tari Dayak. Hmm.....sungguh efisien menggunakan waktunya.

Terus terang, aku terkesan. Seandainya di banyak tempat odalan juga dilangsungkan dengan cara seperti ini....

Setelah puas menyaksikan pertunjukan tari anak-anak tadi dan menyantap makan malamnya, kami di antar ke penginapan oleh Pak Agung sendiri. Malam itu aku hanya istirahat sambil setengah bingung menyiapkan apa yangharus kusampaikan untuk acara besok. Terus terang semakin sering memberi Dharma Tula aku bukannya tambah pintar, tapi malah merasa tambah bingung. Apa lagi yang harus diomongin. Bukannya sudah kemaren-kemaren? Ya tempatnya berbeda sih...tapi kan pengalamanku sama, itu-itu juga. Hehehe..... Jadilah setiap mau acara diskusi atau bedah buku, kepalaku malah blank, kosong tidak tahu mau bicara apa. Halah...


Akhirnya aku tidur saja. Besoknya minggu pagi sesuai janji Pak Agung kembali menjemput, dan sesuai jadwal tepa jam 10 pagi acara dimulai. Sambil duduk lesehan di wantilan pura, tempat anak-anak menari malam sebelumnya, aku merasa nyaman dengan cara forum ini dikondisikan. Tidak resmi, tapi serius. Aku langsung merasa santai, rileks.


Jadi meskipun yang dibahas dua bukuku, aku bisa katakan acara berlangsung lancar. Dan aku sangat senang. Di Bontang ini mudah sekali berbicara rasanya karena semua orang seolah haus dengan pengetahuan. Semua orang terbuka. Open minded. Baru di Bontang ini aku menemukan begitu banyak orang dalam kelompok yang sama yang berpikiran terbuka. Mungkin itu juga pengaruh Ibu Saraswati yang melinggih di sana ya? jadi semua orang di Bontang terdorong untuk tekun mengejar pengetahuan suci. Hhehehe.....


Karena kisah perjalanan ini lama sekali baru sempat kutuliskan sekarang, aku sendiri sebenarnya sudah lupa-lupa ingat bagaimana kisahnya. Bagaimana emosinya, apalagi detail kejadian selama di sana yang ku alami. Yang bisa kuingat adalah antusiasme mereka selama mendengarkan, perhatian dan keterbukaan. Wow...Mudahnya bicara dengan mereka yang selalu terbuka.


Yang aku ingat juga adalah bincang-bincang ringan setelah acara selesai dengan para peserta. Seru juga. Dan aku ingat aku didoakan. Semoga semua doa itu segera menjadi kenyataan.

Sekitar jam 3 sore, akhirnya aku pulang kembali ke Samarinda. Dengan membawa kesan yang menyenangkan tentang semua yang ada di sana.(*)

Thursday, February 2, 2012

Trip To Palangkaraya

Tak pernah terbayang aku akan melangkah ke bumi Tambun Bungai atau Palangkaraya ini. Tapi akhirnya hari ini 25 November 2011 jam 11 waktu setempat aku menginjakkan kaki di tanah Palangkaraya.

Tumben juga penerbanganku kok mulus tanpa delay meskipun masih juga naik maskapai yang sama, maskapai yang paing sering delay. Hehehe….Tuhan memang baik. Sempat tertinggal bando di bandara Balikpapan karena keburu dandan, maklum karena pesawat pagi aku harus berangkat jam 3 dini hari dari Samarinda tanpa dandan apa-apa, untung sempat mandi :p. Bandonya tidak ku ambil. Biarlah tertinggal. Mengingat pengalamanku yang mirip sebelumnya di Kendari—aku tertinggal selendang di kamar hotel saat akan kembali ke Samarinda—aku biarkan saja bandoku tertinggal juga di bandara Sepinggan Balikpapan ini. Aku percaya ini adalah sebagai penebus, pengganti, agar tidak ada kejadian buruk menimpaku. Begitu yang kuyakini, begitulah yang terjadi. Sekarang ini aku tidak bisa percaya lagi dengan apa yang disebut kebetulan. Karena memang sesungguhnya tidak ada peristiwa kebetulan di dunia ini.

Meskipun satu pulau, Samarinda di Kaltim dan Palangkaraya di Kalteng, aku harus menyeberang ke Surabaya dulu di Jatim untuk sampai di Palangkaraya bila ingin naik pesawat. Hmmm….tidak masalah sama sekali. Perjalanan pagi ini menyenangkan. Saat aku menulis bagian ini, aku sedang menunggu hari. Kami diajak sembahyang tilem di pura malam ini oleh ketua PHDI Propinsi Kalimantan Tengah.

Tadi siang aku diajak makan oleh Nali yang menjemputku di RM Samba. Masakannya khas Dayak. Ada umbut rotan dimasak santan, ada sambal serai, tumis perut ikan, yum yum yum….Enak boo…!!!! Wah…seleraku masih maju sampai akhir, sayang perutku sudah tak muat lagi. Ini saja aku masih merasa kekenyangan, entah jam berapa nanti aku baru bisa merasa lapar lagi, jangan-jangan baru besok pagi aku laparnya. Hahaha…..

Kami juga sempat diajak singgah ke Balai, karena aku minta dibawa ke Balai. Kami sempat mepamit pada para Tetua, bahwa kami sudah datang, kami mohon berkah. Ah…senang sekali rasanya. Aku juga sempat bertemu dengan Ketua Majelis Adat Dayak, Bapak Lewis KBR dan 2 orang bapak lagi yang aku tidak hapal namanya. Sayang, waktuku pendek. Tapi dalam waktu singkatpun aku mendapat pelajaran penting yang berharga dari percakapan singkat itu. Aku percaya, jika memang masih ada yang aku harus dengar dari mereka, maka aku akan diberi kesempatan lagi untuk ngobrol dengan mereka. Jadi saat Nali mengajak ke hotel, supaya aku sempat istirahat ku iyakan saja.

Ah ya…sejak aku tiba, yang kuperhatikan adalah dimana-mana kulihat ada Batang Garing—Pohon Kehidupan. Aku bertanya-tanya dalam hati, adakah mereka—masyarakat Dayak—ini juga memahami filosofi di dalamnya. Semoga ya. Aku masih punya 3 hari. Let see…

Malam ini aku sudah bersiap, tepat jam 7 Nali menjemput dan kami segera melaju ke Pura Pitamaha. Ternyata tidak banyak yang sembahyang tilem di sini. Rupanya di pura ini biasanya untuk persembahyangan Purnama, sedang untuk Tilem biasanya sembahyangnya di pura Dalem. Tapi ini karena mau bertemu denganku makanya sembahyang tilem di pura Pitamaha ini.

Jadi setelah sembahyang, kami mengobrol sejenak di wantilan di jeroan. Bersama dengan Pak Oka yang ketua PHDI propinsi Kalteng beserta ibu, ada juga Prof Nyoman (aduh, apa namanya ini? Aku kok sudah lupa lagi…maaf..maaf..) yang rada brewok, Nali dan beberapa panitia bedah buku, kami mengobrol. Tidak lama rombongan dari UNHI Denpasar yang rencananya Sabtu akan menguji mahasiswa PTJJ berjumlah 8 orang ikut bergabung.

Kami mendengarkan Pak Oka menyampaikan beberapa pengantar, terutama untukku tentang sejarah integrasi Kaharingan ke Hindu. Ah…setelah selesai, kami pulang aku sadar bahwa malam ini aku ke Pura khusus untuk mendengarkan bagian ini saja. Kurekam sebanyak mungkin yang bisa kuingat.

Oh ya, bersama rombongan dari UNHI yang menyertai adalah Ibu Pembimas Kalteng yang kemudian setelah pertemuan berakhir mengajak kami semua makan malam. Aduh…aku bingung, perutku belum lapar. Sudah begitu, ternyata restoran tempat kami makan, makanannya enak lagi…Wah…tidak sanggup menolak juga lidah meskipun perut rasanya mau pecah. Hehehe…..

Walhasil saat malam itu pulang kembali ke hotel setelah makan aku merasa perutku penuh hingga ke dada. Hehehe…..tapi aku merasa senang. Rencananya kami besok pagi akan ke Tangkilan, mengunjungi Keramat di sana. Aku tidak sabar menunggu pagi.


Bedah Buku Arti Menjadi Seorang Hindu Bagiku?


Pagi ini sesuai janji Nali beserta Wayan Ramini menjemput kami jam 8 pagi dan kami langsung menuju Keramat di Tangkiling. Perjalanan yang ditempuh hampir satu jam lamanya, tapi karena jalan-jalan di Palangkaraya ini mulus, rata dan lurus (iya …lurus! Seolah waktu mbikin digarisin pake penggaris ^-^) tidak terasa lama. Bahkan dalam perjalanan balik ke Palangka, karena suamiku yang mengambil alihr menyupir hanya setengah jam lebih sedikit sudah tiba kembali di kota.

Saat memasuki lokasi, sempat terjadi insiden kecil. Jalannya memang rusak sekali sekitar 2 m, dan bumper depan menyangkut hingga lepas dan terseret beberapa meter ke depan. Tetapi relatif insiden ini tidak menimbulkan kerusakan yang parah. Bagiku sendiri, insiden ini seperti biasa adalah sebagai pengganti/penebus bagi sesuatu kejadian yang lebih buruk atau lebih besar. Jadi insiden ini kunikmati saja. Hanya kulihat Wayan sempat cemas dia. Tapi hatiku merasa tenang saja (dan selalu terbukti hatiku tak pernah salah), jadi kuanggap masalahnya sudah selesai.

Saat kami tiba di keramat di bawah, yang ternyata hanya sekitar 50 m dari insiden ‘kecelakaan kecil’ kami, aku langsung sembahyang di depan keramat Bp Tjilik Riwut sebelum sembahyang mepamit di Keramat utama. Keramat adalah semacam pelinggih kalau di Bali. Semacam. Jadi tidak persis sama. Ini hanya rumah singgah bagi Leluhur untuk menerima persembahan dari anak cucunya sekaligus memberkahi.


Rasanya bagaimana gitu, mengingat memang itulah tujuan utama kami ke Palangkaraya ini. Setelah selesai di Keramat, seperti biasa semua yang kesini biasanya tujuannya ke pura baik pura yang dibawah maupun yang di atas. Maaf lagi karena aku tidak ingat nama puranya. Aku juga naik ke pura, tapi tiba-tiba Kavyaa rewel bukan kepalang. Aku sudah merasa, sepertinya aku tidak boleh kesini. Entah karena memang tidak boleh oleh Leluhur yang sejauh ini sudah menuntun kami atau memang tidak diijinkan masuk pura karena niatku memang bisa dibilang tidak ada.

Setelah tidak berhasil juga menenangkan Kavyaa aku memilih keluar dan benar, aku mendapat petunjuk bahwa kami tidak boleh ke pura. Bukan itu tujuan kami datang ke Palangkaraya ini. Ya kami. Karena Kavyaa juga minta ayahnya keluar dari pura. Jadi akhirnya kami duduk saja di dekat keramat di bawah menunggu Nali dan Wayan selesai sembahyang di pura.

Setelah mereka selesai, ternyata malah mereka yang tidak ikut ke Keramat di atas, alasannya tidak kuat. Akhirnya aku, suamiku dan Kavyaa saja yang naik beserta perlengkapan kami. Dan ternyata….oh sulitnya naik bukit batu.

Sebenarnya jarak tempuhnya tidaklah terlalu jauh. Paling 200-300 m, tapi mendaki batu terjal. Bikin ngos-ngosan juga, apalagi kalau membawa beban menggendong Kavyaa. Saat kami tiba di depan Keramat di atas, badanku basah kuyup dan nafasku sudah mau putus. Maklum tidak terbiasa jalan di tempat seperti ini. Kurang latihan stamina lagi. Komplit. Suamiku saja basah kuyup, padahal dia memiliki stamina lebih bagus daripada aku. Tapi aku lega kami sudah tiba, sekaligus terkejut.


Saat aku berhadapan dengan Keramat di atas itu, kami terkejut karena tampilannya sudah parah sekali. Jauh berbeda dengan Keramat-keramat yang banyak terdapat di bawah. Jarang ada yang sembahyang ke sini kelihatannya. Sama sekali tidak terawat. Kayu-kayunya sudah mulai keropos. Jabuk kalau pakai bahasa Banjar. Tidak indah. Kainnya sudah pudar warnanya dan koyak-koyak. Tapi disinilah tempat kami telah ditunggu.

Jadi setelah mengatur nafas, dan berusaha membersihkan diri sebisanya sekaligus mencari tempat duduk agar aku bisa menyusui Kavyaa kami sembahyang bergantian. Saat menunggu suamiku sembahyang, aku malah sempat membawa Kavyaa ke tempat yang lebih tinggi lagi, di batu datar di atas Keramat. Duduk di sana memandang ke bawah. Menikmati perasaanku yang hanyut entah kemana. (Beberapa bulan kemudian aku baru menyadari dimana sebenarnya aku berada…...hahaha…..)

Selesai sembahyang dan setelah beristirahat sebentar menikmati suasana kami segera turun kembali. Nanti sore acara bedah buku akan dimulai jam 4. Aku berharap kami—terutama Kavyaa—masih sempat istrihat sebelum acara nanti sore. Jadi kami semua segera bergegas kembali ke hotel.

Dan benar, aku masih punya waku sekitar 3 jam sebelum acara dimulai. Saat Nali menjemput sekitar setengah empat sore, aku sudah siap.


Acara diadakan di wantilan Pura Pitamaha Palangkaraya. Saat aku tiba persiapan sudah selesai. Dan sekitar jam 4 sore acara dimulai. Pembedah buku (terus terang baru kali ini acara bedah buku beneran ada pembedahnya hehehe…) adalah ketua STAHN Tampung Penyang sendiri dan Suryanto, yang penulis beberapa buku dan juga merupakan salah seorang dosen STAH-TP. Karena ini pengalaman pertama bukuku dibedah dengan cara seperti itu, aku benar-benar memasang kuping mendengarkan apa yang mereka katakan sambil sesekali merasa cemas, kalau terlalu lama pembukaannya begini, bisa-bisa saat aku harus bicara malah Kavyaa yang rewel.

Kondisi cuaca yang panas gerah di Palangkaraya ternyata juga membuat Kavyaa agak sulit diajak bekerja sama. Sampai-sampai dia harus diajak mengungsi keliling kota dengan suamiku. Itupun, sebelum acara selesai dia sudah balik lagi dan mengamuk. Untungnya saat itu acaraku memang sudah hampir selesai. KAvyaa mengamuk tepat pada akhir dari sesi tanya jawab. Jadi untunglah….

Kesanku sendiri pada mereka, pada audience-ku adalah aku merasa mereka setengah-setengah menerimaku. Maksudnya aku merasa mereka seolah ingin mendengar sesuatu yang ‘lain’ dariku. Hal yang tidak terlalu kupahami waktu itu. Yang pasti audience-ku di Palangka tidak hanya Hindu (Bali) tetapi juga Hindu Kaharingan. Dengan mengabaikan perasaanku itu, bisa dikatakan acara berlangsung mulus, lancar dan cukup sukses.


Tapi waktu yang terbatas, membuat acara harus dihentikan. Jam 7 malam acara selesai. Dan seperti biasa selalu ada acara foto bersama dan tanda tangan. Hebatnya, di sini anak-anak mahasiswa panitia itu meminta aku menandatangani BAJU mereka! Hahaha…..ada-ada saja. Begitulah…..jam 8 malam kami bersama-sama seluruh panitia pergi makan bersama di warung tenda di pinggir jalan.

Sayangnya aku membutuhkan waktu yang lama sekali baru sempat menuliskan kisah ini. Jadi gregetnya terasa kurang. Banyak yang sudah tidak bisa kuingat emosinya. Karena dalam kehidupan pribadiku sendiri beberapa waktu terakhir ini aku mengalami banyak hal yang membuat waktuku habis dan tidak sempat menulis untuk blog. Malah sebenarnya saat ini aku sedang mengalami kebuntuan menulis, tapi kebuntuan ini malah membuat aku jadi ‘sempat’ menulis untuk blogku sendiri. Itupun menulisnya masih harus skip satu perjalanan Dharma Tula di Bontang. Yah..next deh

Aku kembali ke Samarinda besok harinya dengan menumpang pesawat jam 10 pagi. Tapi sebelumnya pada jam 8 pagi aku masih sempat mampir ke Balai Basarah yang terdapat di STAH-TP Palangkaraya ini. Aku ikut Basarah, upacara persembahyangan umat Kaharingan. Tetapi, lagi-lagi Kavyaa rewel. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apalagi yang salah? Tapi karena tidak kunjung mengerti, jadinya aku hanya merasa telah setengah mengecewakan mereka karena tidak sempat berlama-lama berdiskusi dengan anak-anak Hindu Kaharingan ini. Aku hanya sempat menjawab satu buah pertanyaan sebelum Kavyaa mengmuk lagi.
Sayangnya aku baru bisa memahami kejadian ini lama sesudahnya. Sesudah aku pulang di Samarinda. Ternyata waktu itu lagi-lagi para Tetua, Leluhur (Dayak), Tatu Hiang ini tidak suka kami berlama-lama dan mengadakan Basarah di Balai Basarah ini karena Balai itu sebenarnya tidak bisa disebut sebagai Balai. Atribut untuk mengatakan bahwa itu adalah sebuah Balai tidak ada.
….
Tidak ada Batang Garing, tidak ada totem, tidak ada garantung (gong), malah yang ada gambar ibu Saraswati di sana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan gambar ibu Saraswati, tapi tidak tepat jika gambar itu diletakkan di dalam Balai. Kelihatannya anak-anak Hindu Kaharingan ini tidak benar-benar memahami tata cara dalam tradisinya sendiri. Atau toleran kebablasan dengan saudara Hindunya sendiri? Atau malah bingung dengan identitas diri? Entahlah. Aku harus riset untuk memahami jawabannya secara jelas. Pesan Tetua adalah: “Gunakan cara yang benar. Pahami apa yang dilakukan. Cari filsafat (makna tersembunyi) dari setiap simbol yang digunakan dalam setiap upacara dan sarana yang digunakan. Jangan atas nama toleransi lalu menyama-nyamakan tata cara. Itu tidak benar dan seharusnya tidak dilakukan!” Itulah kurasa pesan yang ingin disampaikan oleh Tetua.


Yang pasti tadi aku kan cuma mau cerita kepulanganku. Jadi sampai di Surabaya kami masih menunggu lama untuk menyambung dengan penerbangan sore. Akhirnya tepat jam 12 malam baru aku bisa tiba rumah.

Tetapi ternyata, perjalanan ke Palangkaraya ini membawa berkah. Membawa banyak hal, membawa banyak perubahan dalam hidupku baik secara mental, emosional maupun spiritual. Terutama spiritual. Perubahan-perubahan ini pulalah yang kadang membuat aku merasa ‘seolah’ tak punya waktu lagi untuk menulis.


Aku dan suamiku banyak belajar dan banyak mendapat pelajaran hingga hari-hari terakhir ini. Aku juga harus ngebut menyelesaikan bukuku yang ketiga, yang masih nyangkut di penerbit. Buku ketigaku bukanlah jenis buku yang biasa kutulis. Jadi mungkin memang perlu waktu lama untuk bisa diterbitkan, atau bisa-bisa penerbit malah tidak setuju untuk menerbitkan buku ketigaku ini. Hehehe….itu semua bisa terjadi.

Aku fanatik dengan Media Hindu. Jadi jika kelak Media Hindu memutuskan untuk tidak menerbitkan bukuku yang ketiga ini, aku mungkin menempuh jalan POD—Printing on Demand—untuk menerbitkannya. We’ll wait and see.

Sementara itu, aku mulai menggarap buku keempat. Tentang acara-acara dharma tula semacam ini? Hmmm…aku sempat menolak beberapa undangan kemaren-kemaren. Jadi untuk sementara ceritanya putus dulu. Oh ya..tentu aku masih akan menuliskan tentang dharma tula di Bontang.

Cerita yang lainnya?? Aah…aku sempat diminta untuk hadir di acara 'Hindu Muda Award' karena masuk nominasi mereka akhir tahun lalu. Tapi oleh Tetua aku diminta untuk tidak hadir. Dan karena aku anak baik, aku menurut. Jadi penghargaannya ..lewat…hehehe….

Lainnya lagi? Aku masih mengalami spiritual turbulence akhir2 ini. Itu tidak mudah. Tapi hingga detik ini aku merasa aku selalu diberkahi. Jadi…..let’s move on. Hehehe…..


Sahi
(ini ucapan penutup dalam bahasa Sangiang yang ada pada tradisi Hindu Kaharingan, yang artinya sama dengan Om Jai….hmmm….so sweet…)