Monday, December 5, 2011

Saraswati di L4 Teluk Dalam Tenggarong

Tanggal 19 November yang lalu, hari Sabtu, bertepatan dengan perayaan Hari Saraswati aku diminta untuk memberikan dharma wacana di L4 daerah Teluk Dalam, sekitar 45 menit berkendara dari Samarinda. Sorenya sedianya aku berangkat ke Bontang, karena akan mengisi acara dharma tula yang merupakan bedah bukuku yang pertama dan kedua, juga untuk ikut sembahyang odalan karena kebetulan odalannya jatuh pada hari raya Saraswati ini.

Kebetulan kupikir, jadi aku menyewa kendaraan sekalian untuk 2 hari, (maklum belum punya kendaraan sendiri) karena anak-anakku ingin ikut ke Bontang. Mereka memang belum pernah ke Bontang. Biasanya jika libur sekolah kuajak ke pantai di Balikpapan saja. Jadi sekalian lah….

Masalah itu beres. Tapi sebenarnya aku punya masalah lain, masalah yang lebih besar. Aku belum pernah memberikan dharma wacana sebelumnya, apalagi ini dharma wacana bertepatan perayaan Saraswati. Untungnya mereka mengundangku sekitar 2 minggu sebelum acara. Jadi aku punya cukup waktu untuk belajar, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan perayaan hari Saraswati ini.

Mulanya hanya begitu. Tetapi setelah 2-3 hari aku mempelajari makna hari Saraswati, barulah aku menyadari, bahwa sebenarnya dengan datangnya undangan ini adalah sekaligus ‘teguran’ bagiku dari Ibu Saraswati karena aku selama ini memang hampir tidak pernah menyapa beliau.

Ada gambar beliau di meja sembahyangku, tapi tak pernah kusapa sungguh-sungguh. Jadi ini adalah sebuah teguran khusus bagiku. Selama ini aku menulis buku, aku membaca berbagai macam kitab yang berisi pengetahuan suci, tapi sekalipun tidak pernah memohon berkah Beliau. Aduh duh duh…aku ini lancang sekali. Belakangan aku tahu lagi bahwa yang berstana di Pura Bontang adalah Ibu Saraswati. Ah…….ternyata MEMANG Beliau telah ‘memanggilku’, mengingatkanku. Aku menyimpulkan, sebenarnya undangan yang kuterima baik dari Bontang maupun dari L4 itu hanyalah sarana Ibu Saraswati untuk mengingatkanku. Apa yang kurang, apa yang selama ini belum kulakukan. Oh…terima kasih Ibu

Segera setelah menyadari hal itu, aku mulai ‘menyapa’ Ibu Saraswati juga setiap kali aku sadhana di pagi hari. Dan Beliau menerimaku, dan menuntunku. Itulah yang kurasakan kemudian.

Jadi, saat hari H tiba, aku pergi ke L4, aku merasa sudah punya bekal lumayan untuk disampaikan.

Tetapi setiba aku di L4 pagi itu, aku merasa hal yang berbeda. Pak Wayan Sudira, yang selama ini menjadi contact person menyambutku di sana. Sebelum memasuki jeroan pura, aku sempat bertanya apa sebenarnya yang beliau ingin aku sampaikan pada hari ini. Ternyata seperti biasa, terutama yang diminta adalah agar aku bisa membangkitkan semangat kehinduan terutama di kalangan generasi muda mereka. Oh oh….

Ternyata tidak khusus tentang Saraswati…hahaha... aku geli sendiri dengan kepanikanku beberapa hari ini.


Aku melihat persiapan untuk perayaan odalan mereka sudah dimulai. Mereka memang akan merayakan odalan di bulan Desember ini. Karya besar. Jadi persiapannya jauh-jauh hari. Aku mencari posisi duduk, dan dalam waktu singkat yang kumiliki berusaha menyusun kerangka besar apa yang bisa kusampaikan nanti.

Saat aku tiba, persembahyangan baru akan dimulai. Aku duduk di depan, di sebelahku adalah Pak Dewa Alit yang adalah salah seorang anggota paruman walaka. Beliau sudah sepuh, tapi seperti yang kebanyakan kulihat selama ini di kalangan orang Hindu, biar sudah sepuh tetap segar dan sehat. Selama persiapan sembahyang beliau menerangkan apa-apa yang kulihat di hadapanku itu. Tentang pelinggih-pelinggih yang ada di hadapanku. Tentang pura desa, pura puseh. Cukup banyak menambah wawasanku tentang praktik keagamaan Hindu di Bali.

Tidak heran. Dari komentar-komentar yang kudengar dari teman-temanku di Samarinda, L4 ini dijuluki Bali Kecil, karena memang seluruh praktek keagamaannya mirip sekali dengan di Bali. Biasanya mereka yang berada di luar Bali, prakteknya agak berubah sedikit menyesuaikan dengan keadaan lingkungan. Tapi di L4 karena memang orang Bali mungkin mayoritas, jadi segala adat istiadat dan tata cara seperti yang di Bali masih mungkin dilaksanakan. Tak mengapa. Aku senang bicara dengan Pak Dewa Alit ini. Beliau tahu banyak. Tapi saat memberi tahuku tidak terasa menggurui. Jadi aku senang-senang saja. Belakangan aku tahu, ternyata beliau senang ‘laku’ juga. hehehe……


Saat tiba giliranku untuk menyampaikan dharma wacana, aku sempat blank. Sejenak, karena sebentar kemudian malah bingung bagaimana mendiamkan Kavyaa. Tadi pagi di rumah Kavyaa kuangkat saja, belum mandi, langsung berangkat kesini. Lah, duduk sembahyang tadi kena sorot matahari kenceng, keringatanlah dia, dan ngamuklah sekarang…..hemmm.

Ayahnya langsung kuberi kode untuk sejenak melarikan Kavyaa. Jadi diiringi suara tangis Kavyaa aku memulai dharma wacana. Selain memenuhi permintaan Pak Wayan Sudira tentu saja aku juga menyinggung tentang Ibu Saraswati. Pas hari Saraswati je…… Inti yang harus kusampaikan tentang hari raya Saraswati adalah agar pada tiap perayaan Saraswati ini benar-benar dimaknai sebagai sarana untuk mendapatkan berkah dari Ibu Saraswati agar kita dapat menerima dan memahami pengetahuan suci.

Tidak lama aku bicara. Bingung juga kalau ngomong sendiri. Kata suamiku sepertinya tidak sampai setengah jam. Rasanya memang hanya sebentar sih. Tapi kuharap pendengarku puas. Jadi tidak perlu lama, tapi apa yang sedikit disampaikan itu betul-betul ‘kena’ dan bermanfaat. Kurasa begitu lebih baik. Aku senang, pendengarku juga senang. Tidak ada orang yang senang mendengarkan dharma wacana lama-lama kan? Hehehe…


Setelah selesai, aku sudah bersiap pamit pulang, eh ternyata diajak makan dulu. Makanlah kami bersama para pinandita. Eh tidak, suamiku kan pas puasa wetonnya, jadi dia tidak ikut makan, hanya duduk menemani saja. Kami sempat foto-foto setelah itu. Sayangnya tadi pas acara malah tidak ada fotonya, karena suamiku harus membawa Kavyaa pergi.

Sebelum pulang, pak Wayan Sudira menawarkan agar aku ikut pawintenan saat odalan mereka. Aku iyakan saja. Rencananya tanggal 3 Desember kemaren pawintenannya. Tapi aku kok tidak enak menguhubungi beliau lebih dahulu. Entahlah aku jadi diwinten atau tidak. Seperi biasa, aku selalu yakin bahwa, jika aku harus ikut pawintenan, pasti nanti ada caranya. Hehehe…..so just wait and see…..hehehe…..

Jadi, setelah kami kembali ke Samarinda, aku bersiap lagi berkemas untuk berangkat ke Bontang sore itu juga.

No comments: