Friday, November 11, 2011

Tirta Yatra Bali 2011 - Pura Ulun Danu Batur

Meskipun semula Mas Made berencana mengajak tirta yatra jam 6 pagi, ternyata kami tidak jadi sepagi itu berangkat. Tetapi bagus juga begitu, karena kami jadinya sempat sarapan dulu di hotel. Harap maklum, hotel tempatku menginap ini baru bisa menyediakan sarapan mulai jam 7 pagi. Persis saat kami selesai sarapan jam setengah delapan pagi, Mas Made datang. Kami langsung berangkat, karena sejak sarapan tadi aku sudah berpakaian lengkap dan menyiapkan peralatan kami di lobby hotel. Mas Made beserta istrinya saja, anak-anaknya tidak ada yang ikut. Ini hari kerja sih, mereka sekolah mestinya.

Mas Made memutuskan membawa kami ke Pura Ulun Danu Batur terlebih dahulu. Aku menurut saja. Dulu dalam kunjungan ke Bali tahun 2008 yang lalu, aku hanya melewati kompleks pura ini. Waktu itu tujuan kami memang hanya untuk singgah makan di rumah makan di pinggir tebing yang pemandangannya langsung ke gunung Batur dan danau Batur. Ternyata rumah makan dan restoran sejenis banyak sekali berjajar di sepanjang jalan. Aku berusaha mengingat-ingat, rasanya dulu kok belum sebanyak ini ya? Entahlah kalau aku yang salah ingat.

Kali ini, rumah-rumah makan itulah yang justru kulewati. Tidak lama kemudian (eh kok tidak lama, lama juga dong karena dari hotel lama perjalanan sekitar 1 jam) Mas Made menghentikan mobil dan memarkir mobilnya di lapangan parkir di seberang kompleks pura Ulun Danu Batur. Istri Mas Made, Mbak Putu sudah menyiapkan bebantenan untuk acara tirta yatra ini. Jadi aku cukup melenggang saja, eh tidak –menggendong Kavyaa saja seperti biasa-- melangkah menuju pura. Perjalanan 2 minggu nonstop ini telah membuat tanganku kuat. Bagaimana tidak? Kemana-mana Kavyaa tidak mau lepas dari gendonganku. Sama ayahnya juga tidak mau. Tanganku yang dulu lemah, sekarang terasa lebih kuat. Jadi acara gendong-menggendong ini tidak terlalu menyulitkan lagi. Kecuali kalau Kavyaa terus-terusan tidak mau turun dari gendongan, ya capek juga lama-lama.


Kompleks pura Ulun Danu ini ternyata cukup luas. Waktu kami datang, jaba tengah sedang dibersihkan. Sedangkan di jeroan masih nampak sisa-sisa upacara yang mungkin telah berlangsung hari sebelumnya. Sebelum sampai di sini, waktu masih di jaba sisi, aku melihat patung Ganesha, dan kembali hatiku berdesir seperti saat aku melihat patung Ganesha di pura Gunung Sari Lombok. Jadi aku berbisik dalam hati, nanti aku akan sembahyang di sini juga. Jaba sisi ini sangat indah, berbentuk taman. Menurut Mas Made taman itu baru. Terakhir dia ke Ulun Danu taman itu belum ada.

Sambil berusaha merekam semua yang kulihat dalam ingatan, aku bergegas mengikuti langkah Mas Made dan istrinya yang telah bersiap di depan pelinggih Cina. Iya. Bayangkan, ada pelinggih Cina di dalam jeroan pura. Hebat bukan sikap saling menghargai yang dimiliki leluhur kita. Tidak cuma slogan kosong seperti yang sering diungkapkan pemuka agama di jaman
sekarang. Tapi benar-benar tindakan nyata. Hahaha....Itulah kemegahan HINDU saudara-saudara!...
Mas Made memberitahuku nama pelinggih itu. Tapi aku kok lupa lagi sekarang. Umumnya orang cukup tahu ada kuil budha atau kelenteng, begitu saja menyebutnya di dalam jeroan. Sekali lagi, hebat bukan?


Meskipun heran kenapa sembahyangnya di depan pelinggih Cina ini dulu, aku menurut saja dengan Mas Made. Setelah selesai, barulah kami sembahyang dengan dipandu pemangku setempat. Mangkunya Mangku Anom, masih muda, masih remaja. Tetapi sebelum dia mulai memimpin sembahyang, tetap kami diminta untuk minta ijin dulu pada guru pemangku yang masih muda ini. Mbak Putu bercerita bahwa di Pura Ulun Danu ini pemangkunya selalu ada yang muda, bahkan pernah ada yang masih anak-anak sehingga dipanggil Mangku Alit. Tapi kalau sudah memimpin sembahyang, tidak kalah berwibawa dengan pemangku umum lainnya. Dan itu memang benar. Mangku yang inipun begitu. Padahal kalau lihat wajahnya, lebih mirip pemain sinetron Korea. Wkwkwkkkk.....
Hmmm…..selalu ada kisah-kisah eksotis semacam ini di Bali.


Selesai sembahyang aku menyempatkan diri berfoto sejenak di depan gebogan yang masih tersusun berjajar di barisan depan. Cantik sekali gebogannya. Setelah puas foto-foto, baru kami keluar dari jeroan. Sampai di jaba sisi kami berfoto lagi di taman. Taman yang indah. Lantas aku ingat aku mau sembahyang di depan patung Ganesha yang tadi menyambut kami begitu kami memasuki kompleks pura ini. Mbak Putu segera membantu menyiapkan canang untukku. Ah…lega rasanya setelah bersembahyang. Hatiku lega dan merasa siap untuk segera berangkat ke Besakih.

Tetapi ternyata di jalan menuju Pura Besakih, pemandangannya indah juga. Kami berhenti sebentar di tebing yang sepertinya memang disiapkan untuk mudah mengambil gambar dengan latar belakang gunung Agung dan danau Batur. Suamiku jeprat-jepret lagi. Aku sendiri tidak terlalu tertarik, meskipun kuakui pemandangannya indah. Yah…namanya juga niat tirta yatra, jadi sesi foto-foto ini tidak menarik bagiku. Hanya selingan. Penginnya cepat-cepat menuntaskan tirta yatranya saja.


Setelah suamiku cukup puas bereksperimen mengambil gambar dari berbagai sudut pandang, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pura Besakih. Lumayan juga jaraknya dari Pura Ulun Danu. Mungkin sekitar 1 jam juga baru kami tiba di Pura Dalem Puri Besakih. Mas Made bilang, sebelum ke Besakih, kami harus sembahyang di sini dulu. Ini adalah pura untuk pemujaan leluhur. Leluhur yang sudah meninggal tapi belum dientas singgah di sini dulu. Oh oh….mudah-mudahan aku tidak salah ingat. Kalau sudah begini aku baru sadar, ternyata tidak banyak yang aku ketahui tentang ritual dan tata cara dalam tradisi Hindu Bali. Dari yang tidak banyak ku ketahui itu, tidak banyak juga yang bisa nempel di kepalaku, tidak banyak yang bisa kuingat. Oh oh…..>*_*< Pura Dalem ini dibangun dari batu gunung. Hitam warnanya. Kokoh sekali. Namanya juga batu. Auranya dingin. Cocok sekali dengan fungsinya sebagai pura Dalem. Katanya sewaktu Gunung Agung meletus dulu memuntahkan batu-batu besar yang kemudian digunakan untuk membangun pura ini. Aku bergidik dalam hati. membayangkan bagaimana mereka membangun pura ini dahulu. Potongan batunya besar-besar. Beratkan? Terus terang, sebenarnya sejak di Ulun Danu tadi aku bingung bagaimana seharusnya aku sembahyang. Apa yang harus kulafalkan. Apa yang harus kumohonkan. Jadinya di semua tempat aku baca saja Tri Sandya dan kemudian berdoa sebisa-bisanya. Aku mencatat dalam hati, lain kali aku harus bertanya pada mereka yang lebih mengerti tentang hal ini bagaimana tata cara yang seharusnya. Begitulah, meskipun kebingungan, aku menyelesaikan sembahyang di pura dalem ini, lantas kami bergegas menuju Besakih. Semula kukira jalan kaki saja, ternyata kami menggunakan kendaraan kami juga menuju kesana. To be continued......

No comments: