Wednesday, November 16, 2011

Tirta Yatra Bali 2011 -- Part 2

Sesampai di kompleks pura Besakih, aku terpana. Olala…..ternyata yang namanya Pura Besakih itu tidak hanya satu. Ternyata yang namanya kompleks Pura Besakih itu seluas itu. Pantas, tadi di mobil Mas Made bilang bisa setengah hari di Besakih. Aku sendiri menghitung melihat jumlah pura yang ada di sana, bisa beberapa hari baru habis jika ingin menapaki satu persatu pura yang ada. Hhh……aku geleng-geleng kepala. Lihatlah leluhur kita begitu…..

Begitu…..

Begitu agung pencapaian spiritualnya (sampai susah ngomong aku). Begitu agung pencapaian seni dan budayanya. Mengapa masyarakat Indonesia kini malah berusaha dijauhkan dan menjauhkan diri dari budayanya sendiri? Mengapa masyarakat Indonesia masa kini selalu berusaha diputuskan atau memutuskan hubungannya dengan leluhurnya? Hal itu pasti disebabkan karena ketidaktahuan!

Aku teringat saat aku remaja dulu. Dicekoki dengan berbagai macam ajaran baik dari pelajaran agama maupun dari pelajaran umum di sekolah. Lama aku menerima informasi bahwa leluhurku dulu itu, leluhur orang Indonesia itu peradabannya masih rendah dan lain sebagainya, masih bercawat (dengan mencontohkan suku-suku asli yang masih tertinggal sekarang), mengenakan pakaian yang tidak praktis dan tidak etis. Ah…., aku ingat waktu itu aku sempat malu dan menyesal mengapa lahir menjadi anak cucu keturunan orang Indonesia.

Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini aku menyadari kalau semua itu tidak benar, bahwa sejarah leluhurku telah dinilai secara tidak proporsional dan penuh muatan politis. Bahwa selama ini ternyata aku telah dibohongi bulat-bulat. Telah beberapa waktu ini pula aku mengoreksi perilaku burukku itu. Tapi kunjunganku ke beberapa daerah bulan-bulan terakhir ini dan perjalanan-perjalanan yang membawaku bersentuhan pada sejarah masa silam, termasuk kunjunganku ke Besakih ini makin membuka mataku bahwa leluhur kita di Nusantara ini bukanlah kaum barbar, biadab dengan pengetahuan rendah dan tidak berbudaya. Justru leluhurku—leluhur kita-- berbudaya sangat tinggi. Mempunyai peradaban dan memegang serta memahami Pengetahuan Suci. Di beberapa daerah Pengetahuan Suci itu lebih dikenal sebagai kearifan lokal (local genius). Sayangnya hingga kini kearifan lokal inipun belum sepenuhnya dihargai. Dihargai saja belum, apalagi diterima, dan masih merupakan mimpi untuk mendapat apresiasi. Padahal aku bahkan berani mengatakan (meskipun belum bisa menunjukkan bukti nyata) bahwa Nusantara ini adalah pusat dunia, pusat dari peradaban diseluruh dunia! Jangan minta bukti sekarang padaku. Hanya itu yang sementara ini dapat kukatakan.

Percakapan yang terjadi di kepalaku terus berlangsung sementara kami menapaki jalan mendaki. Aku minta di antar ke Pura Gelap. Aku sudah diwanti-wanti oleh Ibu G di Lombok bahwa aku harus ke Pura Gelap sebelum ke yang lainnya. Jadi itulah yang kulakukan. Ternyata Mas Made malah belum pernah ke Pura Gelap. Tapi dia ngotot akan mengantarku ke sana.

Setelah bertanya-tanya (kok ya ndak mau melihat peta….padahal petanya jelas terpampang menjelang memasuki kompleks pura…^-^) akhirnya kami tahu jalan menuju Pura Gelap. Ada lorong di samping tembok penyengker pura utama terus naik ke atas. Kami menyusuri lorong itu. Sebenarnya tidak tepat juga dikatakan lorong. Mungkin lebih tepat dikatakan jalan kecil disamping tembok pura. Tapi karena sisi satunya lagi ada bangunan-bangunan pedagang yang menawarkan barang kerajinan maupun yang berjualan makanan/minuman, jadi mirip lorong deh.


Perlahan aku menapak jalan naik. Di sana sini ada anak tangga satu dua tingkat. Aku baru sadar, kalau sejak tadi kami mendaki terus makin mendekati kaki gunung. Gunung apa ya? Aku tidak sempat bertanya. Mungkin kami mendaki itu sekitar jarak 500m baru ada tanda-tanda Pura Gelap dari kejauhan. Normal, aku tidak akan sanggup deh jalan sejauh itu, dengan kondisi jalan mendaki, menggendong Kavyaa pula. Hehh……tapi nyatanya aku bisa. Tanpa mengkis-mengkis kehabisan napas.

Saat kami tiba di depan Pura Gelap. Aku terpana sekali lagi. Woowww….kami seperti dibawa melintas jaman. Entah ukiran gaya jaman kapan pura ini. Berbeda sekali dengan ukiran di pura-pura yang lain. Sepertinya yang ini dari era yang lebih tua. Mana batunya hitam semua. Kami tiba di Pura Gelap sekitar setengah satu siang, tapi di atas sini langit terlihat mendung-mendung saja plus udara yang sejuk membuat kami lupa kalau waktu itu sebenarnya adalah tengah hari membentang.


Naik ke jeroan pura ternyata anak tangganya banyak sekali. Pura di Samarinda hanya memiliki tidak sampai setengah dari jumlah anak tangga di sin. Untuk itupun biasanya aku harus dua kali berhenti di tangga untuk ambil napas. Tapi di sini tidak. Meskipun Kavyaa menggelayut di pinggang, mengenakan selop tinggi, aku tetap berhasil menaiki anak tangga satu persatu dengan mantap sampai tiba di jaba tengah. Tapi kami menahan diri untuk tidak langsung menikmati suasana yang indah ini. Kami langsung sembahyang.

Pemangku yang bersiap di Pura ini begitu melihat kami segera menyambut dan membantu kami dalam persembahyangan. Suamiku terpesona dengan naga Basuki yang terdapat di samping kanan pelinggih utama. Tak puas-puas dia memandang dan memotret patung naga itu. Padahal begitu banyak yang bisa dilihat di sini. Begitu banyak yang bisa dinikmati. Mau bilang apa, kalau perhatiannya sudah tersedot habis ke naga itu. Tapi dia sempat meditasi sejenak tadi selesai sembahyang. Dan selama waktu yang sejenak itu sempat melihat permata merah dihadapannya. Sayang tidak diambil hehehe….. Aku tidak bisa ikut meditasi. Jadi sementara menunggu aku beserta Mas Made dan Mbak Putu duduk-duduk saja sambil meresapi keadaan sekeliling. Setelah urusan sembahyang selesai, barulah kami benar-benar rehat sambil menikmati suasana di Pura Gelap ini.

Aku sudah memutuskan akan datang lagi ke sini lain kali aku ke Bali. Ada suasana mistis yang berbeda di sini. Aku masih ingin berlama-lama. Tapi tidak bisa kali ini karena merasa diburu waktu. Aku masih punya acara sore nanti. Jadi hati tidak tenang sepenuhnya. Kami meminta pemangkunya untuk berfoto bersama kami. Barulah kemudian kami ke jaba tengah. Di sini pemandangannya juga eksotis. Serasa berada di taman-taman kerajaan. Sedang asyik melihat-lihat tiba-tiba Mas Made memanggilku.
“Mbak kemari”, katanya.
“Lihatlah pemandangannya dari sini!”.

Sejak naik tadi baru inilah aku berbalik memandang ke luar dari arah dalam Pura Gelap. Dan ………. aku tak mampu berkata-kata. Pemandangan yang terpampang di hadapanku kini adalah pemandangan yang pernah kulihat dalam mimpiku seminggu sebelum aku berangkat ke Lombok. Aku bermimpi melihat hamparan pura-pura dengan payung kuning dan penjor di sana-sini seperti sedang ada upacara atau perayaan. Aku melihatnya dari tempat yang tinggi. Dalam mimpiku aku berpikir aku sedang terbang, karena yang kusaksikan adalah atap-atap pura. Dalam mimpi itu aku merasa tinggal di daerah itu karena ada seseorang yang memintaku untuk menempati salah satu rumah yang ada di situ. Jadi kemudian aku ke rumah itu dan bertemu dengan kera putih di sana. Kera itu kuberi makan dan bermain denganku. Begitulah mimpiku, hanya sampai di situ. Tak dinyana. Ternyata pemandangan yang kulihat dalam mimpi itu nyata. Di sini. Dalam mimpi itu aku ternyata berdiri memandang ke bawah dari Pura Gelap ini.
“Oh Tuhan….terima kasih. Terima kasih atas pengalaman ini. Aku belum sepenuhnya memahami pesanMu. Tapi sampai di sini saja aku sudah merasa di berkahi. Terima kasih!”

Aku berteriak memanggil suamiku yang masih sibuk memotret. Aku serasa tidak sabar mengingatkannya kembali cerita mimpiku itu. Setelah dia tahu bahwa mimpiku itu kejadiannya di sini, dia lantas bilang sambil mengangkat bahu,” Menurutku kera putihmu itu Hanuman”. Gantian aku lagi yang bengong mendengarnya. Tapi kami tidak memusingkan mimpi itu lagi. Perasaan senang dan bahagia yang tidak terlukiskan yang kurasakan sudah tidak tergantikan lagi dengan yang lain. Untuk sementara semua ini sudah cukup. Mas Made dan istrinya yang ikut mendengarkan percakapan kami hanya bisa mengatakan ,”Wah…wah…..,” saja. ^-^

Setelah berpuas-puas diri di Pura Gelap barulah kami turun kembali menuju Pura Penataran Agung. Jalan turun lebih cepat rasanya meskipun justru kurasakan lebih berat tekanannya di kakiku. Ya…aku harus menahan bobot Kavyaa juga yang lagi-lagi minta digendong. Tapi cepat kami sampai di Penataran Agung. Memang ada sisa odalan kelihatannya. Tapi Mas Made tidak tahu odalan apa. Buatku tidak menjadi masalah.

Mas Made dan Mbak Putu pamit karena akan sembahyang di pedharman mereka (mungkin?) karena tidak mengajakku sembahyang. Mereka membawa bunga dan banten dan melangkah ke daerah belakang pura Penataran Agung. Sementara aku duduk menunggu dan menyaksikan turis-turis yang hilir mudik berpose di beberapa tempat dan mengobrol dengan para guide mereka.


Memang Mas Made tidak lama. Hanya sekitar 15 menit. Kami kemudian bersiap sembahyang di sini. Yang ternyata tidak memakan waktu lama juga. Setelah sembahyang dan mengambil beberapa foto di dalam lingkungan pura Penataran Agung ini barulah kami melangkah pulang. Aku merasa lega karena niat tirta yatra terpenuhi meskipun belum memuaskan hatiku. sambil berjalan santai menuju parkiran mobil aku membuat rencana dengan suamiku untuk kembali tirta yatra dengan waktu yang lebih santai, lebih panjang daripada hari ini. Dia setuju. Sip sudah.

Kini aku tinggal memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dua eh tiga rencanaku lainnya. Pertama cari perlengkapan sembahyang, kedua cari oleh-oleh dan ketiga hadir pada acara copy darat FDJHN. Ah…..kayaknya nggak terkejar waktunya nih. Tapi janji is janji, aku akan hubungi dulu apakah tidak mengapa aku datang terlambat. Karena sesungguhnya memang sudah terlambat banget. Janji pertemuannya jam 6 sore. Sementara kami keluar dari Besakih saja sudah jam setengah 5 sore. Mana mungkin terkejar di acara untuk hadir tepat waktu?

Begitulah first thing first. Aku mencari perlengkapan sembahyang dulu yang sulit kudapatkan di Samarinda. Meskipun berbelanja kayak orang mabuk karena tidak pakai pilih-pilih, lihat langsung ambil dan bayar, tapi hampir semua kebutuhanku sudah berhasil kudapatkan. Malah kebutuhanku sendiri yang belum. Aku pengin menjahit beberapa kebaya rencananya di Bali ini. Malah nggak sempat nih…..wuawaawwaaa………*._.*

Setelah itu mencari oleh-oleh. Masak pergi 2 minggu meninggalkan rumah dan menitipkan anak-anak pada kakakku tidak membawa apa-apa. Harus disempatkan sore ini. Jadi begitu deh. Belanja kayak orang mabok lagi, ambil set.. set…. set… trus…bayar.

Setelah itu aku diantar kembali ke hotel untuk bersih-bersih badan sebelum menghadiri pertemuan itu. Tapi Mas Made memaksa aku harus mampir ke rumahnya barang sejenak sembari menunggu dia mandi, jadi nanti tidak pake acara menjemputku lagi. Langsung saja mereka nanti yang menunggu kami mandi di hotel.

Wuahahahaa….begitulah aku mampir rumahnya sejenak. Betul-betul sejenak. Mas Made mandinya bersih apa tidak itu kok cepat sekali selesai. Untung Mbak Putu mandinya tidak secepat Mas Made. Setelah mereka siap kami langsung menuju hotel. Gantian mereka lagi yang menunggu aku bergantian mandi dengan suamiku dan Kavyaa. Tepat jam 8 malam barulah kami bisa meluncur ke tempat pertemuan di Wr Gurame, rumah makan milik Pak Kantha yang salah satu dedengkot FDJHN itu.

Ternyata alamat yang dimaksud lumayan jauh jaraknya dari hotel kami. Pokoknya kami terlambat pol. Meskipun begitu aku sangat bahagia karena Pak Kantha tetap menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ah…akhirnya bertemu juga dengan saudara-saudara dari dunia maya.

Telah berkumpul banyak orang yang tidak dapat kuingat dengan segera namanya satu-satu pada malam itu. Belakangan aku cari lagi wajah-wajah mereka pelan-pelan di FB barulah aku bisa menghubungkan nama dengan wajahnya. Itupun tidak semua berhasil kuingat. Seperti yang sudah sering kukatakan, maklumlah processornya mulai lelet kerjanya. Mungkin sudah waktunya aku harus upgrade kapasitas memori otakku sekarang hehehe…..

Yang tak kulupakan tentu saja Pak Kantha yang sering menyapaku di FB, Pak Ngurah Pratama, Bu His, Bu Ning, Bhawa Cakep, Jarot Widi, Pak Ketut Kinog yang datang belakangan lagi dibanding aku, Pak Wayan Sukarma, Pak…siapa lagi…hmmmm…dan bapak-bapak yang namanya tidak dapat kusebutkan satu persatu. Hahaha…

Pertemuan itu terasa akrab. Sayang mulainya sudah terasa malam sekali bagi aku yang punya anak kecil. Molornya hampir 3 jam dari jadwal semula. Biasalah orang Indonesia, tunggu-tungguan. Kupikir, aku aja datang terlambat. Sekalinya masih ditunggu-tunggu, jadi belum mulai-mulai. Oohh….


Akibatnya aku tidak bisa bergabung lama-lama juga. Kavyaa mulai rewel. Dia memang sudah mengantuk sejak sore tadi dan sama sekali belum mendapat kesempatan tidur. Sekarang acaranya ‘cuma’ ngomong-ngomong dalam suasana yang remang, yah..ngantuknya datang lagi rupanya ^-^. Rewellah dia ingin segera leyeh-leyeh di kasur. Terpaksa aku mohon ijin untuk pulang lebih dahulu. Jadinya hanya 1 jam aku bergabung dengan mereka. Mas Made dan istri yang juga ikut hadir bersamaku juga mulai mengantuk
kelihatannya. Jadi sangat bijaksana kami segera pamit pulang.

Sampai di hotel, memang aku segera bablas sampai pagi. Sebelum berpisah Mas Made hanya berpesan bahwa dia akan menjemput kami pagi untuk mengantar kami ke bandara. Aku berpisah dengan Mbak Putu malam ini, karena besok dia tidak akan ikut mengantar kami ke bandara. Ah…belum puas rasanya menghabiskan waktu bersama keluarga kecil ini. Tapi aku menghibur diri. Aku toh sudah berencana libur sekolah tahun depan akan ke Bali lagi bersama anak-anak. Dan untuk waktu yang cukup lama. Tidak seperti sekarang. Jadi aku tidak lama bersedih hati.

Besok paginya, tanggal 13 Oktober kami balik ke Samarinda transit Makasar. Perjalanan yang ternyata memerlukan waktu 18 jam untuk tiba di rumah lagi. Ya, karena jam 12 malam baru aku tiba di Samarinda. Biasalah, karena naik ‘delay air’. Sudah memang transitnya lama –4 jam—tambah delay 2 jam, lengkaplah sudah penderitaan. Kavyaa sampai berguling-guling di ruang tunggu bandara. Gelisah. Capek. Kubiarkan saja dia seperti itu daripada menangis rewel mengganggu calon penumpang lain yang memang semua sudah terganggu oleh kebiasaan delay maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia ini. Oh…..negeriku….

Saat aku tiba di pintu rumahku tepat jam 12 malam, aku menarik napas lega. Ah…selesai juga perjalananku ke Lombok dan tuntas juga niat singgah ke Bali. Tapi….ah aku baru ingat, tanggal 17 ini aku harus terbang lagi ke Banjarmasin Kalimantan Selatan. Menyambangi tanah kelahiranku. Memenuhi undangan dari Pak Cok Anom, mantan ketua PHDI Kalsel. Hmmm…..ternyata leganya tidak bisa lama-lama. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan memikirkan cara yang paling baik untuk menenangkan hati anak-anakku yang selama ini sudah harus mengurus dirinya sendiri selama aku di Lombok ini yang akan segera kutinggal sekali lagi: Pragyaa dan Chitta.

No comments: