Thursday, November 3, 2011

Lombok Day 5 -- Part 2

Benar saja. Aku dibawa ke salah satu pabrik tenun yang masih tersisa di Lombok. Pabrik tenun ini terletak di tengah kota. Pabrik tenun Slamet Riyadi. Setelah memilih-milih selendang—aku kan memang hanya berniat membeli selendang—Pak U menawarkan untuk melihat-lihat pabriknya. Sayangnya karena sudah sore pekerjanya sudah pulang semua. Tetapi kami tetap diijinkan untuk melihat ‘ruang kerja’nya.


Belasan alat tenun berjajar. Benang-benang yang masih dalam proses pengeringan dijemur langsung dibawah matahari dan perlu berminggu-minggu sebelum benar-benar kering dan boleh dilanjutkan prosesnya. Aku baru tahu bahwa untuk menyelesaikan satu helai kain tenun itu membutuhkan waktu lebih kurang 3 bulan. Itu kalau cuaca panas, sehingga benang bisa cepat kering. Karena proses yang memakan waktu paling lama justru menyiapkan benangnya. Seperti yang kukatakan tadi, benangnya harus benar-benar kering sebelum boleh memasuki tahap selanjutnya. Belum lagi menyiapkan papan pola. Perebusan benang berkali-kali. Justru waktu yang paling singkat adalah saat benang sudah berada di mesin tenunnya sendiri. Hanya butuh seminggu di mesin tenun untuk menyelesaikan satu helai kain. Proses menuju kesana itulah yang lama. Perlu kesabaran, ketelitian, kecintaan dan pengabdian untuk menyelesaikan satu helai kain tenun itu. Wooww……..


Kurasa karena alasan itu pulalah aku hanya bisa menggunakan tenun asli. Oh, aku belum cerita. Aku suka memakai selendang. Tetapi untuk acara spesial atau penting, aku hanya boleh mengenakan selendang tenun asli. Kini aku baru tahu alasannya. Ada energi yang begitu besar yang tercurah dalam menghasilkan satu helai selendang itu. Ada usaha, emosi, dedikasi, cinta, pengabdian yang begitu besar yang terekam dalam sebuah kain tenun. Itu semua memberi energi pada kain. Memberi energi pada pemakainya. Hmmm…..orang jaman sekarang mana peduli dengan hal seperti ini. Mereka lebih senang dengan apa-apa yang diproduksi secara masal meskipun hasilnya kering, tidak berjiwa.


Pemilik pabrik ini mengatakan padaku, bahwa kemungkinan mereka akan bisa bertahan hanya sampai 5 tahun ke depan. Sekarang ini penenun termuda mereka berusia 40 tahun. Generasi muda sekarang tidak tertarik lagi menekuni pekerjaan ini. Di tambah lagi situasi pasar yang tidak mendukung. Pemerintah daerah juga tidak ada perhatian. Komplitlah penderitaan industri rakyat semacam ini. Dalam 10 tahun terakhir yang tadinya mereka memiliki ratusan penenun, kini hanya tersisa belasan saja. Itupun katanya masih untung karena mereka masih bisa bertahan. Banyak usaha sejenis sekarang ini hanya tinggal kenangan.

Mendengar itu aku hanya bisa merintih dalam hati. Seperti biasa, Indonesia ini selalu seperti itu. Tidak bisa menghargai kekayaan dirinya sendiri. Tidak pandai menghargai kepandaian dan kehebatan yang diwariskan dari leluhurnya sendiri. Nanti kalau sudah diambil orang kepandaiannya itu dan orang bisa mengemas dan menjualnya lebih baik, barulah dia kelimpungan menuntut pengakuan bahwa sesungguhnya itu miliknya. Ah…kita ini tidak pernah belajar. Pengalaman dengan batik yang diaku-aku oleh negara lain belum cukup untuk menyadarkan kita.

Sebenarnya jika dituruti, pemilik pabrik ini pengin curhat lebih lama lagi. Dia malah menawarkan aku untuk investasi. Aku tertawa dan berbisik dalam hati. Jalanku bukan disitu. Aku berharap yang terbaik untuk keadaan ini. Jadi dengan setengah memaksa diri untuk bergegas, kami segera pamit dan kali ini benar-benar langsung balik ke hotel.

Untuk malam itu Pak U sudah punya rencana lain lagi. Dia mengajak kami ikut sembahyang odalan di Sraya. Hari itu memang puncak acara odalan di pura Sraya. Kami tidak antusias mendengarnya. Di hotel aku berunding dengan suamiku bagaimana cara menolak ajakan ini agar tidak terlihat kasar. Sebenarnya telah berkali-kali kami katakan bahwa kami lebih memilih istirahat saja, kami ingin jalan-jalan sendiri saja—toh hotel kami terletak di tengah kota--. Tapi rupanya apa yang kami katakan tidak didengarkan. Pak U tetap ngotot memajukan rencananya sendiri, seperti apa yang telah dilakukanya selama beberapa hari kami disini. Sewaktu kami di kamar hotel, keputusan kami sudah bulat. Kami tidak ingin ikut sembahyang odalan di Sraya. Hanya saja sampai detik itu kami belum tahu bagaimana cara menolaknya.


Menjelang jam 6 sore, kami melupakan hal itu sejenak dan larut dalam kegembiraan mepeed. Kami hanya perlu keluar hotel dan jalan kaki tidak sampai 3 menit untuk bisa melihat arak-arakan mepeed. Suamiku sempat jeprat-jepret sana-sini. Sayang Kavyaa tidak terlalu bekerja sama. Dia lebih tertarik keluar masuk kios pedagang kaki lima yang memang mulai menggelar dagangannya di sepanjang jalan itu. Sekitar setengah jam kemudian kami sudah balik lagi ke hotel.

Tidak lama kemudian Ibu I dan Ibu G tiba. Mereka ingin mengajak kami keliling-keliling kota. Ah….inilah yang kami tunggu-tunggu (--bebas dari Pak U hehehe.....). Suamiku akhirnya berkeras dengan Pak U hanya untuk mengatakan bahwa kami tidak ingin ikut sembahyang odalan. Aku agak cemas. Suamiku itu kadang-kadang bisa ketus ngomongnya. Tapi dia menelepon di luar kamar. Jadi aku tidak persis bagaimana cara dia bicara. Yang pasti waktu kembali dia bilang kami bisa jalan-jalan sendiri malam ini. Horee……

Kami keluar hotel tidak lama kemudian. Ibu G bicara tentang pura Gunung Sari dan bertanya apa aku ingin kesana. Kubilang ya.

Heran juga. Aku mati-matian menghindar sembahyang odalan di Sraya. Diajakin ke pura Gunung Sari malah bilang iya nggak pake mikir. Tapi terlalu sering kejadian begitu kualami jadi aku ikuti saja meskipun di dalam hati tetap saja aku heran-heran dengan diriku sendiri.

Kami semua malam itu berpakaian santai. Tidak memakai baju adat. Hanya t-shirt dan celana jeans. Aku heran di dalam hati. Ibu G ini pemangku estri, tapi bisa santai begitu. “Asyik juga nih orang”, pikirku. Kami beli bunga di penjual bunga yang tetap buka sampai malam hari dan langsung menuju pura Gunung Sari.

Mungkin perlu setengah jam, baru kami tiba di pura itu. Puranya gelap. Aku berbisik dalam hati, kalau aku sendirian datang kesini, pasti aku tidak berani. Tambahan lagi, walaupun masih berada di luar halaman pura, aku sudah bisa merasakan energinya. Tetapi ternyata puranya gelap begitu karena pemangkunya sedang pergi menghadiri kaacara di tempat lain. Tidak lama kemudian ada seorang Ibu yang membantu kami menyalakan penerangan disana. Mungkin dia istri pemangku disini. Tapi aku tidak banyak bertanya. Aku dan suamiku meresapi saja keadaan sekeliling kami.

Halaman pura itu pasir. Aneh juga. Aku sempat bertanya tentang pasir itu. Katanya dari dulu dulu dulu ya sudah begitu. Hmmm…

Sementara ibu G menyiapkan segala sesuatunya, aku perlahan menaiki tangga pura. Sempat aku terkejut di bawah anak tangga. Aku terhenti sejenak melihat ada patung Ganesha di sisi kiriku. Hatiku berdesir. Tapi aku tidak paham. Aku diam saja. Terus terang aku sangat merasakan energi besar dari pura itu. Energi itu awalnya juga membuatku sedikit merasa tidak nyaman, hampir takut. Heehhh…susah memang kalau bawaan asli penakut begini. Tapi kemudian Ibu G memanggilku, mengajakku menaiki tangga sambil mepamit atas namaku. Segera aku merasakan perubahan. Seolah kedatanganku diterima dengan tangan terbuka sekarang. Ah….lagi-lagi aku baru nyadar. Aku ini orang baru nggak permisi-permisi, datang kok langsung mau nyelonong aja. Dasar beleguk..!

Kami sembahyang di atas persis di depan padmasana. Suasana tenang membuat sembahyang betul-betul nyaman. Kavyaa yang selalu tertarik dengan tangga dan sudah sejak tadi ingin naik turun tangga sendiri sedikit mengganggu konsentrasiku. Akhirnya kubiarkan dia membongkar isi tasku agar aku bisa sembahyang tanpa gangguan. Setelah selesai kami turun kembali. Ibu G kemudian menyuruhku untuk sembahyang di depan Ganesha. Hanya aku yang disuruh, yang lain tidak. Ah….ini dia getar hatiku tadi pikirku. Jadi tanpa disuruh dua kali aku langsung sembahyang lagi di sana.


Barengan denganku ada sebuah keluarga kecil yang sembahyang juga di depan Ganesha. Mereka sudah selesai, sedang bersiap pulang waktu aku baru mulai. Jadi setelah aku selesai juga, kami sempat berfoto bersama sejenak.

Setelah merasa cukup kami mepamit pulang. Sebelum kembali ke hotel, kami diajak makan mie kuah di warung pinggir jalan. Hore……akhirnya aku makan makanan yang biasa kumakan. Kami makan di warung mi langganan ibu G. Tapi Kavyaa sudah mulai ngantuk dan mulai rewel. Jadi setelah makan, meskipun ibu G menawarkan kembali untuk keliling-keliling melihat Mataram di waktu malam, kami menolaknya. Cukuplah sudah. Lebih memuaskan tadi ke pura Gunung Sari daripada diajak keliling kota.

Begitulah, saat kami tiba di hotel, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kami merasa puas dan lega. Setelah mandi kami semua pergi tidur. Berkemas? Nanti saja. Toh masih ada waktu besok pagi, karena pesawat kami agak siang. Rencananya Ibu G juga yang akan mengantar kami ke bandara. Beres sudah.

Malam itu aku lelap. Tapi sebelum betul-betul lenyap tenggelam di balik bantal aku sempat membayang-bayangkan bagaimana kedatanganku besok di Bali. Sedianya temanku Made Suwangsa yang akan menjemput. Dia juga yang mengatur penginapanku. Aku sudah berteman lama dengannya. Sejak pertama aku menulis di Media Hindu. Dan kini 2,5 tahun sudah pertemanan yang terjalin via email itu berjalan dengan puncaknya copy darat kami besok. Aku membayang-bayangkan bagaimana pertemuan kami besok. Aku sudah pernah melihat fotonya sih. Tapi seringnya foto sama aslinya kan tetap berbeda. Bagaimana ya istrinya? Bagaimana tanggapannya, aku tidur dimana, sempatkah waktu yang hanya sebentar di Bali untuk menyelesaikan semua rencana? Dan segala macam pikiran melintas silih berganti, Aku tidak ingat aku bertanya apa saja dan membayangkan apa saja. Tapi mungkin tidak banyak juga karena aku sudah lelap duluan.

Tenang saja. Cerita masih berlanjut besok. ^-^

No comments: