Wednesday, November 2, 2011

Lombok Day 5 -- Part 1

Hari ke-lima di Lombok ini aku tidak punya jadwal khusus. Oh leganya ……. setelah 4 hari terakhir kegiatan terus full dari pagi sampai malam. Puncaknya tadi malam, aku betul-betul merasa exhausted. Jadi, sejak tadi malam memang sudah kurencanakan hari ini istirahat saja sebanyak-banyaknya. Baru besok aku terbang lagi ke Bali. Tapi ternyata rencana cuma mau leyeh-leyeh di hotel seharian gagal juga. Pak U yang sejak kedatangan kami di Lombok sudah memberiku macam-macam, --ada patung Shiva, gambar Shiva portable (gambarnya kecil, jadi mudah dibawa-bawa gitchu loh!), buku-buku, vibhuti, pelita sekaligus sumbu dan pelampungnya—setengah memaksa untuk mengirim via paket saja barang-barang pemberiannya itu. Niatnya sih sebenarnya baik, supaya kami tidak kerentelan membawa bermacam-macam barang. Mana punya bayi. Mungkin begitulah pikir beliau. Kami paham maksud baiknya. Yang membuat kami tidak nyaman justru maksanya itu lho.

Suamiku sendiri sudah bilang padaku bahwa kami tidak perlu merepotkan Pak U, bahwa dia bisa mengepak seluruh barang-barang itu dengan rapi, ringkes. Dan itu dia buktikan besok paginya.

Sejak dini hari, suamiku sudah mulai mengepak barang untuk melihat berapa banyak sebenarnya barang bawaan kami. Memang kami banyak membawa tirta. Masing-masing tirta dari Narmada, Suranadi, Lingsar, dan Batu Bolong kami taruh di botol aqua dan diberi label. Hehehe…..berat juga nih air. Tapi masih sangguplah kami bawa sendiri. Kalau dibanding-banding, sama saja bawaan kami waktu datang ke Lombok dengan besok pulang ini.

Tapi kemudian Pak U sekitar jam 9 pagi mampir ke hotel, persis ketika kami baru selesai berkemas dan sarapan. Beliau kembali (memaksa) untuk mengambil kembali barang-barang yang sudah diberinya untuk dipaketkan saja. Padahal semua sudah dikemas rapi oleh suamiku. Tapi karena maksa banget, dan aku tidak ingin ribut, aku menyerah saja. Kuberi tanda suamiku agar menurut saja kali ini. Kuserahkan lagi semua pemberian Pak U plus beberapa buah buku yang kudapatkan juga dari salah seorang Ibu saat dharma tula di Mayura Jumat lalu. Ibu itu suaminya penulis juga. Buku yang diberi padaku adalah tulisan suaminya. Dia sendiri sering menulis di Media Hindu. Lumayan berat tuh paketnya bakalan, karena banyak bukunya.

Sebenarnya bagian ini lho yang aku khawatirkan. Kirim paket kan mahal. Mending kami bawa sendiri. Aku sudah mikir-mikir, masak Pak U harus kuberi ongkos kirim. Padahal justru itu yang kuhindari, mahalnya itu. Nggak enak juga kan? Serba salah rasanya. Aku jadi bingung. Lagian aku tidak yakin mereka bisa mengemasnya dengan baik. Salah-salah patungnya malah hancur. Hmmm….

Tapi begitulah. Pak U berhasil meminta dari kami semuanya itu untuk dikirim via paket dan setelah itu mengajak kami menghabiskan hari itu berjalan-jalan di kota Mataram. Aku agak terkejut juga. Hebat Pak U ini. Tidak ada capeknya. Tapi aku sendiri sudah punya janji siang itu untuk ngobrol dengan Ibu E, jadi supaya semua bisa dipenuhi, kuminta Pak U datang menjemput kami setelah makan siang saja.

Ibu E sesuai janji datang ke hotel pada jam istirahat kantor. Dia PNS dan Senin ini tentu sudah harus bekerja. Jadi cuma itu waktu yang dia miliki untuk bisa bertemu lagi denganku. Kami baru mengobrol sekitar setengah jam. Rasanya masih belum puas, belum apa-apa, dan masih banyak pembicaraan yang menggantung, eeh… Pak U ternyata sudah menjemput lagi.

Aku hanya bisa menghela napas. Aku tidak paham maksud Tuhan dengan kejadian ini. Masih ada yang harus kubahas dengan Ibu E --menurutku. Tapi mungkin memang aku tidak perlu membahasnya lagi waktu itu. Mungkin kami masing-masing lebih perlu merenungkannya daripada membicarakannya. Kurasa itu juga yang dirasakan Ibu E. Dia segera pamit. Aku tidak tahu, kapankah lagi aku bisa bertemu dengannya. Belakangan aku baru sadar, bahwa meskipun lokasi kami berjauhan, kami tetap bisa saling terhubung. Melalui cincin yang diberikannya padaku di Narmada. Tentu saja kontaknya hanya akan terjadi, atau tepatnya hanya dapat kurasakan di saat-saat yang tidak menguntungkan. Tapi kurasa bagi Ibu E, dia terus dapat mengetahui keadaanku dengan mata batinnya. Hmm…

Kami segera bersiap untuk memenuhi ajakan Pak U. Kami diajak makan siang. Kembali makan sate dan gule di H. Imran. Aku ketawa dalam hati. Pak U itu vegetarian. Tapi bela-belain ngajak kami makan di H Imran ini lagi. Aku jadi tidak enak juga. Mungkin karena tadi malam dia melihatku makan lahap sekali. Dan memang benar. Itu makanku yang paling lahap selama 4 hari di Mataram. Mungkin dia menyimpulkan aku suka sekali sate kambing. Sebenarnya aku nggak doyan-doyan amat sih sama sate kambing, kecuali badanku memang lagi perlu.Tapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, sate kambingnya memang enak. Aku yang nggak lapar aja merasakan enaknya. apalagi kalau yang makan sedang lapar berat. Woo hooo....bisa enak banget tuh. Apa boleh buat, biar pulang nanti saja badanku balancing lagi dengan semua makanan yang sudah kadung masuk ini. Hehehe……


Setelah makan, kami keliling kota sebentar sebelum kemudian singgah di Unram, Universitas Mataram. Seperti biasa. Suamiku itu baru marem kalau sudah ambil foto di depan rektoratnya. Dibanding dengan Unhalu di Kendari, di sini lebih gersang kampusnya. Luas juga sih. Yah..paling tidak masih ada pohon besarnya. Kalau di Unmul (Universitas Mulawarman) kayaknya kan sudah nggak ada pohon besarnya lagi. Sudah jadi ladang beton semua. Keluh!

Setelah mengambil beberapa foto, kami minta diantar ke hotel lagi. Sedianya sore itu ada upacara Mepeed, yaitu semacam parade yang diikuti oleh para perempuan Bali(?)-- Karena mungkin ada juga yang non Bali. Mungkin. Aku ndak tahu-- yang mengusung gebogan. Gebogan adalah rangkaian buah dan aneka jajanan tradisional yang dihiasi dengan aneka janur setinggi kurang lebih 1 meter yang dibawa secara berjalan kaki. Masing-masing banjar yang ada di kota Mataram --semoga tidak salah ingat ada 32 banjar—membentuk rombongan-rombongan kecil berjalan beriringan maing-masing mengusung tempat tirta yang aku sudah lupa lagi namanya. Di Mataram ini, kalau aku tidak salah ingat, parade ini dimulai dari pura Meru sore hari sekitar jam 4, melewati beberapa ruas jalanan kota dan berakhir di pura Meru lagi. Aduh….sayang sekali ingatanku super parah mengenai hal ini. Yang kuingat mepeed itu adalah bagian dari rangkaian acara piodalan pura Meru, pura terbesar di Lombok. (Oh…terlalu banyak yang harus kuingat, yang harus kupelajari selama di Lombok ini, Sampai-sampai pengalaman semacam menonton mepeed ini tidak sempat kuingat dengan baik rinciannya. Seandainya kunjungan ke Lombok ini hanya sebagai liburan biasa, pasti ceritaku tentang ini lebih komplit).


Dalam perjalanan kembali ke hotel, aku ingat bahwa aku belum sempat membeli sesuatu selama di Lombok ini. Selintas aku membaca tulisan tenun di salah satu papan reklame besar di salah satu ruas jalan. Tanpa berpikir lagi aku katakan pada Pak U bahwa aku ingin membeli selendang tenun. Aku sendiri heran dengan diriku sendiri. Aku ini sudah lelah, kok masih mau belanja. Tapi hatiku menghibur diriku sendiri. Belum tentu aku akan mendapat kesempatan ke Lombok lagi lain kali. Jadi sebaiknya kusempatkan saja. Sebentar saja. Toh cuma beli selendang. Berapa lama sih itu?

Pak U bilang dia tahu tempat yang menjual tenun seperti itu. Yang asli. Harganya bervariatif. Informasi yang terakhir ini agak melegakan hatiku. Aku berharap akan ada yang sanggup kubeli. Tapi, cerita selanjutnya nanti ya.........To be continued....... ^_^

No comments: