Sunday, November 6, 2011

From Lombok To Bali

Tanggal 11 Oktober 2011 ini berakhirlah kunjunganku ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aku bergairah menghadapi kemungkinan pengalamanku yang lain di Bali. Tadinya aku tidak punya rencana ke Bali. Tetapi setelah pikir-pikir betapa dekatnya Mataram dengan Bali, aku berusaha agar kami bisa mampir di Bali. Astungkara! Ternyata bisa.

Pagi-pagi masih jam 7, Bapak dan ibu U mampir ke hotel untuk mengucapkan selamat jalan. Terus terang aku merasa sedikit tidak enak pada mereka. Aku tahu mereka kecewa dengan kejadian malam sebelumnya dimana kami menolak usul mereka untuk ikut sembahyang odalan di Sraya. Tetapi aku juga berpikir, mungkin baik juga bagi mereka jika mereka mulai mau mendengarkan kebutuhan orang lain. Jadi kubuang saja jauh-jauh perasaan tidak enakku itu. Kami saling mengucapkan salam perpisahan. Aku berterima kasih pada mereka karena bagaimanapun juga banyak sekali yang telah mereka lakukan dan berikan pada kami selama kunjungan kami di Lombok ini.

Setelah mereka meninggalkan hotel, aku dan suamiku langsung sarapan. Ternyata di kafe hotel kami bertemu lagi dengan Pak W yang baru kemaren malam mengisi acara dharma tula di Sraya. Pak W ini sering sekali menulis di Media Hindu. Beliau juga kalau tidak salah adalah ketua sabha walaka PHDI Pusat. Kami sudah bertemu kemaren siang sebelum aku bersiap lagi ke Praya. Beliau menginap di hotel tempat kami menginap juga. Tapi kemaren kami hanya sempat bersalaman dan bincang-bincang sejenak. Jadi pagi ini begitu melihat beliau ada di salah satu meja sedang sarapan sendirian, langsung kami dekati.

Kami sarapan bersamalah jadinya. Pak W ternyata pulang lebih dulu dari kami. Pesawatnya lebih pagi. Selama sarapan banyak yang kami obrolkan. Tetapi semua percakapan ringan. Jadi begitu selesai, beliau langsung bersiap berangkat. Kami sendiri tidak menunggu lama juga, karena Ibu G dan Ibu I ternyata juga menjemput dan segera mengantar kami ke bandara.

Sebelumnya ke bandara Selaparang yang memang posisinya di tengah kota Mataram tidak memerlukan waktu lama. Kini setelah bandara yang digunakan adalah Bandara International Lombok, mereka masih belum yakin apakah benar-benar hanya memerlukan waktu 1 jam untuk tiba di sana. Daripada terlambat kami memutuskan lebih cepat saja pergi ke bandara.


Di bandara, mereka sempat menunggui kami sejenak. Tapi kami putuskan kami segera masuk ruang tunggu saja, supaya mereka bisa kembali bekerja. Masak pake pakaian dinas jalan-jalan. Hehehe…..

Dengan sedikit delay (Indonesia gitu loh! #delay.mode.on#) ^_^, hanya setengah jam, akhirnya kami berangkat juga. Sementara itu temanku Made Suwangsa sudah menunggu di bandara Ngurah Rai Denpasar. Aku sendiri sudah capek membayangkan bagaimana kira-kira kejadian hari ini, jadi aku berhenti berpikir, berkhayal. Kunikmati saja tiap waktu yang berlalu.

Terlambat hampir 1 jam di luar rencana semula akhirnya kami keluar juga dari bandara Ngurah Rai. Akhirnya bisa juga aku bertemu dengan Mas Made ini. Begitu dia biasa kupanggil di email-emailku. Ternyata wajahnya dan perawakannya tidak jauh berbeda dari foto yang memang baru dia kirim sebulan sebelumnya. Hehehe….

Kami langsung cabut menuju hotel. Ternyata Denpasar kini berbeda sekali dengan Denpasar 3 tahun yang lalu sewaktu aku berkunjung ke Bali tahun 2008. Sekarang macet dimana-mana. Perlu 1 jam juga untuk tiba di hotel. Padahal perkiraanku, namanya Bali pulau kecil, harusnya kemana-mana deket. Eh..ternyata lama juga.

Dan ternyata Mas Made ini meskipun sudah kuwanti-wanti supaya aku dicarikan hotel kelas melati saja, hotel yang biasa-biasa aja, eh kok malah booking hotel yang kelas mawar. Yah…..
Sudah gitu ternyata sudah dibayar lunas juga sama dia. Yah dua kali deh. Aku mencatat dalam hati. besok-besok aku ke Bali lagi, urusan penginapan ini kuurus sendiri. Hmmm….

Terus terang meskipun hotelnya kelas mawar, (ini penggolongan hotel menurut seleraku sendiri lho ya…kelas mawar ini lebih mahal dari kelas melati gitu….) tapi aku tidak merasa nyaman dengan interiornya. Lebih enak interior hotelku di Mataram. Hotelku di Mataram itu hotel baru. Saat aku menginap, katanya hotel itu baru diresmikan satu minggu. Biasa saja modelnya. Perabotnya. Desainnya. Tidak ada yang canggih-canggih, tapi nyaman. Feels like home. Aku sering sekali berucap aku mau pulang ke rumah saja, selama aku di Mataram. Betul-betul serasa pulang ke rumah sih, bukan ke hotel.

Kalau yang di Bali ini tidak. Aku betul-betul merasa sedang menginap di tempat lain. Tapi aku sangat menghargai apa yang dilakukan Mas Made. Aku rasakan ketulusan di sini. Jadi I had no complain. Kami bergegas mandi begitu check in dan menghabiskan malam itu dengan berkunjung ke rumah kenalan lama. Sempat mengobrol juga dengan Mas Made dan istrinya yang agak aneh untuk pasangan Bali menurutku. Hehehe....tahu anehnya? mereka salaing mendengarkan satu sama lain. Hehehe....senang melihat mereka seperti itu. Aku ikut bahagia untuk mereka. Tapi Mas made menyadari kami lelah, tidak lama mengobrol dengan kami di hotel. Dia dan istrinya cepat pamit, kami toh punya janji untuk acara besok lagi. Jadi harus simpan tenaga.

Aku tak sabar menunggu besok.

No comments: