Wednesday, November 30, 2011

Bedah Buku PMH -- Banjarmasin 17/10/2011

Hanya 2 hari aku bisa beristirahat di rumah sepulang perjalanan dari Lombok-Bali yang hampir 10 hari. Kini aku harus berangkat lagi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jauh-jauh hari, undangan dari Banjarmasin ini lebih dulu datang daripada undangan ke Lombok. Pak Cok Anom, Ketua PHDI Propinsi Kalsel periode yang baru lalu yang telah menghubungiku. Jadi jadwal ke Banjarmasin ini sudah pasti.

Kami berangkat sore tanggal 16 Oktober dan tiba sekitar pukul 7 malam di Banjarmasin. Dijemput oleh Pak Cok Anom sendiri dan isteri. Ibu Cok ini orangnya ceria dan senang guyon. Jadi bersama beliau itu kalau ngobrol kita bisa ketawa terus. Malam itu setiba kami di Banjarmasin, kami hanya makan malam dan langsung diantar menuju hotel untuk istirahat. Aku lega, karena besok acara bedah buku itu rencananya pukul 10 pagi. Kupikir, lebih baik Kavyaa malam ini diajak tidur lebih banyak.

Rasanya dari bandara, ke tempat makan, hingga ke hotel, semua itu terletak di satu jalan saja, di jalan A Yani. Hehehe…..dan ternyata sejak kunjunganku yang terakhir ke Banjarmasin tahun 2005, selain jalan Veteran di mana bekas rumah masa kecilku berdiri, hanya jalan A Yani inilah yang kuingat. Oh ya, saat makan malam tadi, Pak Cok sempat memperlihatkan koran hari itu yang memuat berita tentang kedatanganku di Banjarmasin untuk acara bedah buku ini. Surprise!! Baru ini ada berita kegiatan Hindu yang dimuat di koran umum. Aku seakan tak percaya. Kok bisa? Selidik punya selidik, pimpinan redaksi Banjarmasin Post ternyata tidak hanya memiliki hubungan yang baik dengan Pak Cok, tetapi juga seorang Nasrani, dan yang paling penting—seorang penulis juga. Oh….tidak heran deh kalau dia lebih bisa menghormati dan mengapresiasi orang lain….^-^ Besoknya berita tentang Bedah Bukunya juga dimuat lagi. Masuk koran beh..??? ^-^

17 Oktober 2011. Pagi aku sudah bangun. Ya iyalah..aku mengerjakan sadhana kan lebih pagi lagi. Tapi sebenarnya aku bisa saja tiduran lagi selesai sadhana, kan tidak sedang di rumah. Hanya ini lho, samping kamarku kok ada keributan dan bau-bau sate ayam menyusup masuk kamar….Hheh….ternyata samping kamarku persis ini pasar. Jadi setelah sarapan di hotel (yang kusesali kemudian) kami berjalan-jalan di pasar Ahad ini. Tidak tepat sih kalau dibilang berjalan-jalan. Lebih tepat kalau dibilang berjejalan. Aku sampai membatin di dalam hati,” Orang-orang ini kok mau berjejal-jejal begini di pasar. Kayak nggak ada hari lain aja?”

Untuk pertanyaan itu, aku tahu jawabannnya keesokan harinya. Sama juga untuk jawaban kenapa kok aku menyesal sarapan di hotel? Sebab di pasar ini jajannya banyak sekali. Jajan masa kecilku. Makanan khas Banjar. Aaahhhh…perutku sudah tidak muat!!! Jadi aku bilang sama suamiku besok pagi kita tidak usah sarapan di hotel, cukup jajan di pasar saja. Eh..itulah yang bikin aku menyesal. Namanya juga pasar Ahad, pasar Minggu. Adanya ya cuma di hari Minggu. Jadi besok paginya, meskipun dengan semangat 45 aku melangkah keluar kamar menuju pasar, pasar lengang…..”Aadduoh….kenapa nggak jajan kemaren aja,” dalam hati aku merutuk. Dan itu juga jawabannya kenapa mereka semua kemaren rela berjejal-jejal di pasar. Oh..oh….

Tak apa. Itu kan hanya selingan. Tujuan utama ke Banjarmasin kan untuk bedah buku. Sekitar jam 10 pagi aku tiba di wantilan pura Jagatnatha Banjarmasin. Tidak menunggu lama, acara kemudian dimulai. Peserta yang hadir sekitar 150-an orang. Tapi menurut Pak Cok itu sudah jauh melebihi perkiraan. Wah...astungkara kalau begitu. Dan baru di Banjarmasin inilah bedah bukunya paling mirip dengan bedah buku beneran. Paling mirip, karena belakangan ada acara bedah bukuku yang lebih serius lagi. Tapi dibanding seluruh perjalananku sebelum ke Banjarmasin ini, ya inilah yang paling serius bedah bukunya. Biasanya yang ditinjau dan dibahas hanya isinya saja, tetapi di sini juga dikritisi cara penulisannya, apa lagi ya?? yah….apa-apalah yang sifatnya teori begitu. Hmm….


Seperti biasa, karena wantilan ini atapnya rendah dan udara terasa panas, Kavyaa dibawa lari ayahnya. Jadi aku bisa agak tenang menyajikan materi pengantar sebelum memasuki diskusi. Meskipun, karena ada break makan siang, Kavyaa yang sudah kembali dengan ayahnya tepat saat break, tidak mau lepas lagi dariku, dan ngantuk juga dia plus kepanasan, jadinya pada sesi tanya jawab kedua, seperti biasa suamikulah yang harus menggantikanku. Untunglah peserta akan menerima inti jawaban yang sama dengan bila aku menyampaikannya sendiri. Bedanya mungkin, kalau suamiku yang menyampaikannya tidak dramatis sepertiku. Hehehe....

Saat sesi diskusi dimulai sekitar 1 jam setelah pemaparanku, nah ini yang seru. Pertanyaannya banyak. Beberapa benar-benar bertanya karena ingin tahu, beberapa bertanya karena tidak puas dengan apa yang kutulis di buku, beberapa bertanya untuk mengetesku, beberapa memberi apresiasi dan saran saja, dan ada satu yang membuat alarmku berdiri. Satu orang yang mencoba menghanyutkanku, dengan pujian agar bisa dibanting kemudian. Ada penyusup di acaraku ini. Atau yang lebih parah lagi ada penyusup di tubuh keluarga Hinduku di Kalimantan Selatan ini. Aku membaca rencana besar di belakang penyusupan ini. Tetapi justru pengalaman inilah yang telah membuatku ‘naik kelas’. Hah…perlu guncangan besar untuk membuat lonjakan besar. Karena peristiwa inilah aku menemukan: Dharma Raksitah Raksatah! Siapa yang melindungi Kebenaran, maka dia akan dilindungi oleh Kebenaran!


Bagaimanapun, aku sempat marah dengan keadaan ini pada waktu itu. Karena itulah aku menunda cukup lama sebelum mulai menuliskan cerita di Banjarmasin ini agar aku punya cukup waktu untuk tenang dan mampu berpikir jernih. Meskipun sebenarnya itu ternyata tidak terlalu perlu, karena dalam sebulan terakhir ini aku mendapat begitu banyak pelajaran spiritual yang nyaris membuatku tak sanggup berpikir lagi. The situatian was so perfect. Tuhan memang baik.

Jadi cukuplah itu yang kukatakan disini. Secara pribadi aku cukup puas dengan acara di Banjarmasin. Semoga peserta bedah buku (yang belakangan aku tahu juga ada rombongan dari Palangkaraya sekitar 7 orang, yang di saat break acara memintaku untuk ke Palangkaraya, dan ternyata memang terjadi demikian) juga mendapat sesuatu yang bermanfaat dengan menghadiri acara itu.


Malamnya kami diajak makan malam oleh seorang dokter, yang telah menjadi salah satu sponsor juga untuk kedatanganku ke Banjarmasin. Sebelum pergi makan, aku juga sempat bertemu dengan Airini dan suaminya. Mereka pasangan muda dari daerah Lok Sado dekat pegunungan Meratus, yang sangat concern dengan keadaan masyarakat Lok Sado yang ‘tidak terurus’. Ya..masyarakatnya ingin berintegrasi dengan Hindu, tapi kelihatannya pejabat Hindunya malah tidak terlalu peduli. Hmmm……dimana-mana inilah yang kutemui. Kami sempat berbincang sekitar 1 jam tanpa solusi yan memuaskan sebelum bergabung dengan acara makan malam ini.


Kurasa pengalamanku paling penting di Banjarmasin ini adalah bertemu atau berhadapan dengan ‘penyusup’ tadi yang berkat bantuannya itu seperti yang kukatakan malah membuatku ‘naik kelas’. Malah membuat pemahamanku tentang ajaran Dharma ini makin jelas dan mantap. Jadi pengalaman itu meskipun sepintas terlihat buruk, sebenarnya tidak buruk juga. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya saja.

Sampai sekitar 2 atau 3 minggu setelah aku kembali ke rumah, si penyusup tadi masih menguhubungiku via sms meskipun menggunakan nomor yang berbeda dan nama yang berbeda. Dan aku tahu, aku tidak berminat melayani orang ini, lagi pula aku yakin selama aku selalu berjalan di jalan Dharma, maka yang Adharma tidak bisa mendekatiku. Dan ini telah kubuktikan berkali-kali!

Kembali dengan kisahku di Banjarmasin. Setelah makan malam kami balik ke hotel. Besoknya karena pesawatku pesawat sore, sepanjang hari itu kami di antar Ibu Cok melihat-lihat kota Banjarmasin. Ke jembatan yang mirip jembatan San Fransisco itu, dan makan soto Banjar yang uenak….sekali di daerah Kuin kalau ndak salah ya?? Suamiku yang tidak tahan dengan aroma masakan ayam saja dan juga tidak makan ayam, bisa makan di sana cukup dengan menyingkirkan suiran ayam dari mangkok sotonya. Hmm…
Oh ya, pagi itu sebelum jalan-jalan, ibu moderatorku kemaren juga sempat mampir ke hotel. Kami mengobrol sekitar 1 jam dan dia juga membawakanku oleh-oleh makanan khas Kalsel yang dimasukkan dalam tas jinjing cantik. Tadinya kukira dia mau berangkat 1-2 hari kemana gitu, ternyata tasnya itu untukku beserta segala makanan di dalamnya. Oh oh….Airini juga membawakanku jajanan dan ikan saluang goreng. Hmmm orang Banjar ini memang senang makan. Hahaha…..

Sore sekitar pukul 6 Pak Cok mengantarku lagi ke bandara dan kami bersiap pulang kembali ke rumah. Aku berharap ada jeda waktu yang cukup sebelum ada undangan lagi ke tempat lain, karena aku mulai mengkhawatirkan proyek-proyekku yang terbengkalai selama 2 minggu ini.

Tapi daripada pusing memikirkan proyek-proyekku itu, lebih baik kuserahkan semua urusan ini kepada Tuhan, seperti biasa. Dia akan mengaturkan segala sesuatunya hingga hanya yang terbaik yang terjadi padaku. Jadi, setelah ingat dengan hal itu, aku tidak khawatir lagi.

Selamat tinggal Banjarmasin. Aku mendapat beberapa teman yang namanya bisa kuingat selain Pak Cok, yaitu pak Ngurah Sugiri dan Pak Wayan Landep. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan mereka di lain waktu.

No comments: