Friday, October 28, 2011

Lombok day 4 -- Part 2

Aku hanya punya waktu sejam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Aku berusaha hening sambil berbaring, meluruskan punggung. Dan ternyata itu membantu sekali. Saat aku bangun, aku sudah tahu apa yang harus kusampaikan di Praya. Pendekatan apa yang akan kupakai. Sepertinya pikiranku cemerlang lagi. Petunjuk-petunjuk datang dengan mudah. Gangguan yang kurasakan siang tadi hilang dari pikiranku. Dan saat jemputan tiba, kami yang sudah siap langsung berangkat. Aku sadar, besar sekali pengaruh dari rileksasi bagi tubuh kitam juga pada kondisi mental dan emosional kita.

Ke Praya yang berada di Lombok Tengah ini kira-kira memerlukan waktu 1 jam. Sekitar jam 5 sore aku tiba di pura Praya. Disambut oleh pemangku yang aku lupa lagi namanya, tapi aku ingat wajahnya. Orang Jawa. Aku senang melihatnya memakai blangkon. Saat aku tiba yang hadir belum terlalu banyak. Tidak sampai 40 orang. Jadi kuminta mereka duduk melingkar saja, supaya lebih enak bisa ngomong bebas tanpa mikrophone. Tapi ternyata setelah acara dimulai, --aku memakai mikrophone--satu-persatu datang peserta lain hingga saat acara selesai sekitar jam 7 malam seluruh peserta mungkin mencapai 75 orang. Not bad…..


Tambahan lagi di sini aku senang karena pendengarku antusias dan menaruh minat dengan apa yang kusampaikan. Pertanyaannya praktis, bukan teoritis atau sekedar mengetes kemampuanku. Bagiku sendiri adalah lebih penting jika apa yang kubagikan bisa dipraktekkan juga oleh orang lain. Jadi bagi diriku sendiri, aku puas dengan acara di Praya ini. Sayang aku sedikit merasa terburu-buru karena rencananya harus bicara lagi di Banjar Sraya. Jadi sesi tanya jawab ditutup paksa, padahal seandainya waktuku lebih longgar, masih ada lagi yang ingin bertanya.

Oh ya di Praya ini aku sempat dikenalkan dengan Mangku Murba. Beliau sering tampil di Bali TV, sering memberi penataran pemangku, dan menulis buku juga. Jadilah aku mendapat satu buah buku dari beliau. 2 anak perempuan beliau ikut hadir dalam acara ini, dan salah satunya mengajukan pertanyaan yang bagus padaku.

Saat aku meninggalkan Praya, aku tersenyum. Aku tahu, seperti yang kutulis di atas, aku memerlukan keheningan diriku untuk bisa menyampaikan sesuatu, untuk bisa menuliskan sesuatu. Makin berisik pikiranku, makin kisruh hatiku, makin buruk kemampuanku untuk bicara. Makin tidak ada yang bisa kusampaikan. Penting bagiku untuk menjaga ketenangan hati dan pikiranku. Penting bagiku untuk menjaga kedamaian diriku sendiri. Hmm…inilah pelajaran penting yang kudapat hari ini.

Di perjalanan menuju Sraya, balik ke kota Mataram, aku diberitahu bahwa malam ini aku batal tampil di Sraya. Acaraku besok saja, katanya. Aku lega mengingat bahwa kami semua sudah meninggalkan kamar hotel sejak jam setengah enam pagi dan hanya sempat istirahat 1 jam hingga malam ini. Bayiku ini lho yang jadi pikiran. Kalau aku dan suamiku sih cukup diberi doping pakai antangin, beres. Lha Kavyaa…??? Jadi informasi pembatalan ini melegakan hatiku. Kami bisa langsung pulang istirahat, begitulah pikiranku semula.

Tapi sebelumnya kami diajak makan malam. Ada yang lupa kusampaikan. Di Lombok ini aku tidak pernah sempat lapar. Kenyang terus rasanya. Belum lapar, sudah jadwal makan lagi. Begitu terus. Malam itupun aku belum merasa lapar. Tapi kemudian ternyata aku dibawa ke warung sate kambing H Imran. Wa….aku ingat namanya. Soalnya sate dan gulenya uenak….!!. Meskipun tubuhku sudah menjerit karena hampir seminggu ini terlalu banyak makan daging, berhubung yang ini enak banget, jadi habis juga satu porsi sate dan satu porsi gule plus sepiring nasi kumakan dengan lahap. Setelah kenyang bangeeett….akhirnya kami balik ke hotel.

Ternyata oh ternyata…pihak Sraya sudah menunggu di hotel. Aku akan tetap tampil di Sraya malam ini katanya. Semula melihat waktu yang sudah menunjukkan jam 9 malam, aku minta agar acaraku ditunda besok saja. Sekali lagi aku ingat Kavyaa. Pasti sudah capek sekali dia. Tapi menurut mereka, besokpun acaraku akan tetap malam juga. Bisa jadi malah bakal lebih malam daripada hari ini. Jadi kuputuskan malam itu saja kuselesaikan kewajibanku, karena besokpun tetap saja acaranya tidak bisa dimajukan jamnya agar lebih sore.

Pun begitu, saat aku tiba di Sraya, persembahyangan belum selesai. Jadi aku masih harus menunggu lagi.Duh… Aku mulai gelisah. Kavyaa sudah mengantuk dan mulai rewel. Sungguh aku tidak yakin kewajibanku bisa kuselesaikan dengan baik. Dan memang benar.


Aku bicara lebih kurang 1 jam seperti biasa. Kavyaa duduk di pangkuanku. Dia sudah tidak mau lagi ikut suamiku. Belum selesai yang 1 jam itu dia sudah menangis. Jadilah buru-buru kututup pemaparanku. Setelah itu dia harus kubawa menjauh karena menjerit keras. Terpaksa suamiku menggantikanku dalam sesi tanya jawab. Itupun tidak lama. Hanya beberapa pertanyaan, setelah itu kami harus pamit pulang. Untunglah kelihatannya para hadirinnya paham dengan kondisiku.

Masih Tuhan berbaik hati pada kami. Di tengah situasi seperti itu, aku masih diberi kesempatan metirta dengan menggunakan sangkul dari abad 12 atau 13 itu. Informasi yang kudapat kemudian, sangkul itu terbuat dari emas, meskipun warnanya mirip tembaga. Aku diijinkan memegang dan meneliti ukiran pada sangkul itu setelah metirta. What a bless!. Kavyaa seperti biasa, kalau metirta langsung diam. Anteng. Begitu metirta selesai, nangis lagi. Jadi dengan rasa terburu-buru setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pamit dan meninggalkan tempat.

Sungguh, aku tidak puas dengan acara di Sraya ini. Tidak puas karena aku merasa tidak bisa memberikan penampilan maksimal kepada mereka yang mengundangku karena keterbatasanku seperti itu. Tapi kelihatannya mereka memang sebelumnya tidak tahu kalau aku punya bayi. Makanya enteng saja mereka mengundangku untuk acara malam hari. Apa mau dikata. Aku berharap yang baik saja. Baik bagiku, baik bagi mereka.

Tapi di Sraya inilah aku mendapat kesempatan melihat kemegahan suatu upacara adat Bali. Aku tampil itu sebenarnya sebagai salah satu mata acara dalam rangkaian acara piodalan pura Sraya. Piodalan masih besok harinya. Jadi aku sempat melihat persiapan upacara mereka yang begitu megah. Menyilaukan. Bling bling. Wow…Dengar-dengar Sraya ini memang banjar paling makmur di kota Mataram. Mmm….tidak heran deh.

Kami tiba di hotel lagi jam 11 malam. Kemudian segera mandi dan pergi tidur. Lelah sekali rasanya hari itu. Aku ingat, besok aku tidak punya acara khusus.” Aku ingin istirahat saja”. Begitulah pikiran terakhir melintas di kepalaku sebelum semuanya hilang lenyap di balik bantal hotel yang empuk. Aku bahkan tidak sempat menoleh lagi ke Kavyaa yang sudah tidur lebih dulu. Suamiku? apalagi.....auk ah …gelap. Besok ceritanya besok lagi. Oaehmm....

No comments: