Thursday, October 27, 2011

Lombok Day 4 -- Part 1

Hari ini dan seperti biasanya, selelah apapun malamnya, tetap saja kami bangun jam 3-an pagi. Kemudian sadhana dan melek terus sampai pagi. Setelah aku siap untuk acara hari itu, yang aku khawatirkan justru Kavyaa. Masih nyenyak sekali tidurnya.

Jam setengah enam sesuai janji Pak Lurah menjemputku. Kami langsung berangkat. Kavyaa kuangkat saja. Dia bangun sebentar, lalu tidur lagi selama perjalanan ke Senggigi yang menempuh waktu sekitar 30 menit dari hotel tempat kami menginap.

Pak Lurah yang sudah biasa yogasana di Senggigi memimpin jalan. Arena yang dipilih untuk latihan lokasinya di belakang hotel mewah yang aku lupa namanya. Tidak perhatian sih. Terus terang terlalu banyak yang harus kuperhatikan dan kuingat selama di Lombok ini, jadi yang seperti ini lewat deh… Tapi kalau disuruh menunjukkan tempatnya, aku tahulah.
Pak Lurah memilih tanjung kecil yang sudah diberam dengan batu-batu sebagai tempat kami berlatih. Indah memang. Badanku yang mulai terasa kaku karena beberapa hari tidak yoga, bergairah mengantisipasi acara ini. Kavyaa semula menangis. Mungkin terkejut saat membuka mata kok sudah ada di pantai. Hehehe…..tapi setelah kuijinkan membongkar isi tasku, dia mau tenang, duduk saja di matras sementara mamanya jungklat jungklit bergerak mengikuti instruksi Pak Lurah.

Tidak lupa kami juga mengambil foto beberapa postur yoga untuk di upload di fb. Dan aku cukup gembira karena ternyata meskipun sejak pertama kali aku mengenal yoga, aku belajar secara otodidak, hanya dari buku atau nonton di You Tube, dan memulainya di usia yang tidak muda lagi, --setelah punya 2 anak malah-- (walah..!!^-^), ternyata posturku bisa dinilai bagus. Sudah sama bagusnya dengan postur sang instruktur yang telah yogasana sejak muda. Benar-benar memuaskan! Maksudnya aku puas dengan diriku sendiri, gitu loh!

Setelah puas ber-asana ria di Senggigi, kami memutuskan pulang jam setengah delapan karena aku telah ada janji dengan seorang pemuda, salah seorang peserta pada dharma tula di Mayura. Dia ingin ngobrol lebih leluasa denganku, katanya. Seandainya tidak ada janji itu, mungkin aku ingin lebih lama lagi di Senggigi.

Saat aku tiba di hotel, ternyata pemuda itu sudah menunggu. Surprisingly, dia datang bersama ibunya. Merasa aku telah terlambat sekitar 15 menit dari janji, dia segera kuajak ke kamar supaya bisa lebih bebas mengobrol. Ibunya menyertai. Aku memperhatikan dengan heran pada sikap tubuh ibunya yang kaku dan tegang. Sama sekali tidak rileks.

Begitulah, dengan menagabaikan itu, aku memulai obrolan. Anak ini yang patah semangat karena gagal menjadi ketua OSIS karena dia seorang Hindu, kembali menceritakan kisahnya padaku. Dia sudah berkisah sekilas tentang dirinya saat sesi foto-foto bersama seusai dharma tula di Mayura Jumat sore yang lalu, tapi mungkin dia tidak puas. Karena itu dia berusaha membuat janji bertemu denganku. Kejadian ini sangat menyakitkan baginya. Dia telah gagal menjadi ‘seseorang’ meskipun dia telah memenangkan pemilihan dengan cara yang adil dan sesuai aturan hanya karena dia seorang Hindu! Menyedihkan bukan? Dan kejadian ini terjadi di seluruh Indonesia di segala lapisan. Tidak hanya di sekolah, di kampus, tetapi juga di dinas-dinas, departemen-departemen. Entahlah kalau di swasta. Kurasa untuk swasta kebijaksanaannya tergantung pemiliknya. Tapi kondisinya juga tidak lebih baik.

Aku mendengarkan, memberi semangat sebisanya. Tapi di dalam hati merintih sekaligus berharap dan berdoa. Semoga semangatnya bisa kembali. Aku merasa hatinya terluka parah dengan kejadian ini. Hmm….kemudian ibunya ikut bicara. Dan luar biasa! Ibu anak ini malah bisa menjadi sepertiku juga, seandainya suka menulis. Pengetahuannya bagus dan yang penting, semua yang dia tahu dia lakoni. Di bagian tertentu bahkan saat bercerita dia sampai menitikkan air mata sangking emosionalnya.Hanya saja, karena dalam kesehariannya dia tidak bisa lari dan terikat begitu kuat dengan adat (Bali), membuatnya kelihatan rapuh dan selalu bersikap defensif. Aku bisa maklumi. Seandainya aku dalam posisinya, bisa jadi aku akan bersikap yang sama.

Dan, sekali lagi aku tercengang. Dalam perjalananku ke Lombok ini, begitu banyak aku melihat sendiri, sebagai pengalaman, bagaimana adat (Bali) begitu menyulitkan dan memberatkan bagi yang disebut pemeluk Hindu ini. Banyak yang berontak diam-diam. Ibu anak ini termasuk yang berani berontak dalam tindakan nyata. Tapi begitulah. Dia merasa sendirian. Nyatanya dia berjuang sendirian. Aku berdoa yang terbaik baginya. Hingga hari ini aku masih merenung-renung pesan apa gerangan yang harus kuterima dari pertemuanku dengannya. Dengan ibu dan anak ini karena cukup lama kami mengobrol. Cukup banyak kami saling berbagi selama hampir 2 jam itu.

Akhirnya, setelah dirasa cukup puas, dan karena aku juga harus menghadiri undangan makan siang oleh Bapak S yang telah menjadi moderatorku juga pada acara di Mayura Jumat pagi, pertemuan kami harus diakhiri. Mereka pamit. Dan aku bengong di kamarku, berusaha mencerna apa saja yang baru kudengar dari mereka. Wow…! Cuma itu yang bisa kukatakan. I was speechless.

Tapi aku tidak bisa bengong lama-lama. Jemputanku telah tiba. Kami mengobrol berjenak-jenak di lobby hotel sebelum berangkat. Aku heran dalam hati, kenapa penjemputku ini sengaja berlama-lama di lobby, padahal tadinya undangannya agak cepat. Belakangan aku tahu, Pak S yang mengundangku harus njebur kolam menangkap ikan sendiri, karena yang berjanji untuk membantunya menangkap ikan ternyata ingkar. Wkwkwkkk…aku kira-kira tahu kenapa kejadiannya seperti itu. Tapi itu bukanlah hal yang bagus untuk diceritakan. Jadi biarlah cukup begini saja. Kedatanganku ke rumah Pak S jadinya dilambat-lambatin supaya aku nunggu makannya nggak kelamaan nanti.

Rumah Pak S lokasinya seolah agak keluar kota. Meskipun bisa jadi masih di dalam kota. Hanya kesannya asri, hijau, seperti suasana di desa. Rumahnya cukup besar, dengan beberapa kolam ikan dan taman juga ada bale bengong khas Bali. Rumahnya memang full interior Bali. Setahuku sedianya aku akan diinapkan di rumah beliau ini, tapi entah bagaimana kok jadinya aku malah diinapkan di hotel. Tapi bagus juga untukku. Aku baru menyadari lebih mudah aku menginap di hotel daripada di rumah Pak S ini. Pelajaran pentingku dari peristiwa ini jika aku harus melakukan perjalanan lagi adalah; karena aku kemana-mana membawa Kavyaa, aku harus memastikan Kavyaa bisa tidur dengan nyaman malamnya supaya mudah bekerja sama saat aku harus bekerja. Wkwkwkkk…

Sama seperti di rumah paman Ibu I, di sini pun Pak S memang sengaja menjamuku. Beliau menangkap ikan sendiri dari kolamnya. Ada yang digoreng, ada yang dibakar. Enak. Tapi aku tak bisa sepenuhnya menikmati karena pikiranku malah melantur ke acara berikutnya di Praya. Aku merasa sedikit kelelahan dan meragukan apakah aku bisa tampil baik nantinya. Jadi aku sengaja sedikit menjauhkan diri dari keramaian dan menghindari diskusi. Ternyata agak sulit untuk menghindar.Malah ada hal yang lebih buruk terjadi.

Aku sebenarnya sudah mendapat waktu cukup lama dan berhasil mengasingkan diri dari perbincangan ringan yang menemani makan siang itu, ketika Ibu U mendekatiku dan dengan serius memberi tips padaku agar mudah memberikan dharma tula di lain waktu. Dia menyampaikan itu persis di saat aku sedang diam menikmati pikiranku yang sedang kosong begitu saja. Aku diminta fokus pada salah satu topik dan betul-betul mendalaminya. Radarku berdering. Aku langsung mengelak. Aku katakan biar itu jadi urusan para ahli agama, karena aku tidak berniat menjadi pedharma wacana. Di sini, saat ini, aku hanya berbagi pengalaman, begitulah kukatakan padanya. Mendengarku menyahut agak ketus (mungkin), beliau buru-buru menambahkan bahwa itu untuk tahun-tahun mendatang jika aku diminta orang bicara lagi, aku kan harus mengembangkan diri. Aduh..., aku jadi males deh. Aku berharap wajahku tidak menunjukkan kejengkelan hatiku. Tapi aku tidak yakin. Karena nada suaraku saat menyahut sudah berubah. Untunglah obrolan ini segera berhenti. Tapi toh sudah terlambat. Mood yang telah berusaha kupelihara sejak tadi agar tetap tenang untuk dharma tula nanti langsung hancur berantakan.

Hingga aku pulang ke rumah lagi, berkali-kali aku merenungkan mengapa aku selalu terganggu kalau dinasihati semacam itu oleh mereka (Pak dan Ibu U ini). Kurasa karena aku tidak ingin di atur-atur orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku berhasil atau gagal itu karena diriku sendiri. Aku tidak mengijinkan mereka menunjukkan mana yang baik untukku. Lagi pula, aku merasa mereka tidak benar-benar ‘tahu’ diriku, tapi menasehatiku seolah aku anak sekolahan yang tidak tahu apa-apa. Padahal dengan orang lain, aku mudah sekali berlagak pilon, menjadi pendengar yang baik. Dan dalam banyak kasus dengan suka hati menurut pada nasehat yang diberikan orang lain. Tapi dengan yang ini…??? Entahlah…kupikir sebenarnya inti masalahnya adalah pada egoku. Egoku terusik karena mereka menganggap aku tidak tahu apa-apa. Heehhh…

Bukti, bahwa aku belum sepenuhnya mengenal diriku sendiri.


Jadilah siang itu berlalu dengan menyisakan kejengkelan di hatiku. Setelah berfoto-foto sejenak di halaman rumah Pak S, kami pamit karena harus persiapan lagi ke Praya. Di perjalanan aku diam saja. Tapi setiba di kamar hotel, aku mengeluh pada suamiku. Aku mengeluh karena merasa buntu. Tidak yakin aku bisa tampil sore nanti.

Aku tahu aku harus menenangkan diri. Rasanya otakku mampet, padat seperti batu. Energiku habis. Jadi setelah mandi--untunglah Kavyaa segera tidur—aku pun berbaring. Savasana. Rileks…rileks…. Dan ceritanya harus kulanjutkan di bagian kedua. ^_^

No comments: