Tuesday, October 25, 2011

Lombok Day 3 -- Part 2

Setelah beberapa waktu terkantuk-kantuk di mobil karena kekenyangan, akhirnya kami tiba di Lingsar sekitar jam 2 siang. Kompleksnya luas. Terdapat kolam besar di bagian belakang, dekat pura balian. Sayangnya karena ada miss comunication dan miss leading dari para pengantar kami, jadinya kami hanya sembahyang di pura balian ini. Pura paling kecil dan terletak di ujung. Pura lainnya adalah pura Gaduh yang paling besar, Kemaliq, Pesiraman dan Lingsar Wulon.

Ada 5 pancuran mata air di pura balian ini, pancurannya kecil. Tidak sebesar yang di Tirta Empul. Aku hanya mencuci muka di salah satu pancuran. Karena seolah sudah lama tidak dikunjungi atau tidak dirawat, lantainya licin sekali. Aku takut terpeleset. Lagipula aku merasa aku cukup melakukannya seperti itu saja. Suamiku mencuci wajah di kelima pancurannya, sementara aku duduk bersama Kavyaa menunggu sambil berusaha meresapi sekelilingku.


Tidak ada yang istimewa rasanya, atau apa karena aku sudah lelah juga? Tidak tahulah. Sebelum persembahyangan dimulai, Ibu U dan Ibu G mekidung. Rupanya kalau di Lingsar memang sebaiknya kita mekidung. Penjelasannya ada. Tapi sayangnya aku sudah lupa-lupa ingat penjelasan dari Ibu G tentang hal itu. Hanya ingat sebaiknya kita melakukannya. Selesai persembahyangan, kami keluar pura Balian. Aku menyempatkan berfoto sejenak di dekat kolam besaaaar itu karena rencananya kami akan segera meluncur menuju pura Batu Bolong.

Sambil berjalan perlahan keluar kompleks pura, Ibu G dan Ibu E yang menjejeriku bercerita sedikit tentang pura Kemaliq yang kami lewati. Suamiku masuk kesana sebentar, tapi aku tidak. Aku terus berjalan melewati pura Pesiraman (?) Tidak ada cerita tentang pura ini.Saat kami melewati pintu pura yang paling besar--pura Gaduh-- suamiku menunjukkan minat untuk masuk. Ibu E langsung menawarkan diri untuk mengantar dan langsung membukakan pintu. Ibu G segera menyusul. Aku memilih duduk-duduk di bale bengong di luar pura sambil melihat-lihat dagangan penjual mutiara asongan. Tapi tak lama kemudian aku dipanggil oleh Ibu E. Aku mendekat dan masuk juga pura itu. Di dalam pura yang cukup luas ini terdapat tiga bangunan yakni Pelinggih Gunung Agung di sebelah barat yang melambangkan Gunung Agung, kemudian ada semacam pelinggih juga di tengah dan dan Pelinggih Gunung Rinjani yang melambangkan Gunung Rinjani di sebelah timur. Di sinilah titik pertemuan antara kedua gunung suci itu.


Ibu G yang menjelaskan panjang lebar pada kami. Terutama pada suamiku. Sayang tidak banyak yang bisa kuingat sekarang. Yang kucatat hanya, jika kita tidak sanggup ke Gunung Agung atau ke Gunung Rinjani, maka cukup kita sembahyang di Lingsar ini. Ibu E diam saja mendengarkan, hanya sesekali menimpali. Setelah puas berada di dalam areal pura ini, meskipun tidak sembahyang, barulah kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Belakangan Ibu E bilang bahwa seharusnya pura Gaduh ini tidak boleh kami lewatkan. Karena itulah begitu suamiku ingin memasukinya, dia langsung membukakan pintu. Begitu juga, saat dia ‘mendengar’ bahwa aku juga harus memasukinya, Ibu E segera memanggilku. Ibu G ternyata juga kecewa dalam perjalanan tirta yatra ini karena banyak sekali pura dan prosesi yang dilewatkan karena dianggap tidak perlu oleh Pak U. Hmm….mendengar itu aku juga merasa sedikit kecewa. Tapi aku juga yakin, bahwa meskipun bisa dikatakan perjalanan tirta yatra ini tidak sempurna, tetapi bagian-bagian yang HARUS kami jalani sudah kami jalani. Hanya saja, tidak ada bonus yang kami peroleh dalam perjalanan ini. Betul-betul yang penting-penting saja. Tapi aku yakin dengan kebijaksanaan Tuhan. Jadi aku tidak berkecil hati.

Perjalanan kembali menuju parkiran mobil kami sepertinya menempuh rute yang berbeda dari waktu masuk. Kini hamparan sawah yang sedang menghijau membentang di samping kami sepanjang perjalanan keluar komplek pura. Inilah yang namanya pura mewah --mepet sawah-- hehehe…..Kami juga sempat berfoto sejenak dengan latar belakang sawah-sawah tadi. Setelah itu, kami segera bergegas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju pura Batu Bolong.

Nah…sekali ini perjalanan terasa lumayan lama. Mungkin sekitar 30-45 menit barulah kami tiba di garis pantai. Mungkin. Karena aku yang sudah lelah, bertambah lelah rasanya diajak mengobrol terus sepanjang perjalanan. Padahal mauku kami diam-diaman saja. Kadang aku heran dengan Pak dan Ibu U ini yang seolah tidak ada lelahnya berbicara. Apa karena itu perjalanannya terasa lebih lama. Entahlah. Tapi kelihatannya rutenya memang jauh kok. Jadi sambil berusaha mengabaikan pembicaraan yang terus berlangsung pikiranku menerawang sendiri. Pantai Senggigi. Oh Tuhan….tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari aku akan menginjakkan kaki ke pantai ini yang biasanya hanya kusaksikan di foto-foto wisata saja. Hari ini aku akan menyapa dan menikmati panoramanya dari dekat. What a bless!


Pura Batu Bolong indah. Kami tiba di sana sekitar jam 4 sore. Ada beberapa orang yang tengah sembahyang sambil ditonton turis bule. Aku berpikir, bagi para bule itu pemandangan orang sembahyang ini eksotis. Bagaimana bagi kami sendiri? Adakah kami bangga dan mensyukuri ke-eksotis-an itu? Lagi-lagi Ibu G menggerutu perlahan karena kami melewati pura kecil di bawah dan langsung menuju atas. Tapi aku sempat bertanya, tidakkah kami bersembahyang dulu di pura bawah? Jadilah Ibu E menarikku ke dalam pura bawah ini dan mencakupkan tangan, berdoa sejenak. Aku mengikuti jejaknya. Ibu G ternyata juga ada di belakangku. Dan besok-besoknya baru aku tahu juga bahwa seharusnya kami sembahyang dulu di pura bawah baru di pura atas. Ada aturan dalam setiap ritual persembahyangan di setiap pura. Tapi terlalu banyak yang di-skip dalam tirta yatraku kali ini. Untunglah dalam ketidaktahuanku, petunjuk selalu datang meskipun petunjuk itu hanya mampu kuikuti dengan seadanya.

Sambil menunggu mereka yang masih sembahyang di atas –puranya kecil di atas karang, jadi harus sembahyang bergantian—aku menyempatkan diri berfoto ria di depan batu bolongnya. Sempat jeprat-jepret cukup banyak juga sebelum kami mulai sembahyang. Angin bertiup sangat kencang waktu kami mau mulai. Setelahnya Ibu G bercerita, jika terasa seperti itu, artinya Bhatara yang mbahureksa berkenan. Aku sempat menempuk batu besar, yang karena terburu-buru oleh keadaan tidak sempat kuperhatikan apa itu. Apakah kaki salah sebuah pratima atau memang batu saja. Kurasa kaki pratima di sebelah Pelinggih utama. Ibu G yang memintaku melakukannya. Diapun memberi pengantar dengan bahasa Bali. Intinya minta keselamatan. Itulah yang dapat kutangkap.

Persis selesai persembahyangan datang seorang pemangku… eh pedanda (karena kuingat dia sudah membawa tongkat). Aku diperkenalkan, tapi oh… aku lupa namanya sekarang. Wajahnya sih aku ingat. Wajahnya menyenangkan. Menggambarkan hati yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa beliau sudah baca bukuku juga. Wah….hebat. Hehehe….

Kami berfoto bersama juga. Lantas pulang. Semula ku kira begitu. Sudah capek nih seharian. Aku banyak menggendong Kavyaa. Kavyaa juga kelihatan lelah. Tapi setelah duduk-duduk sebentar di bale-bale di sana, ternyata Pak U malah mau mengajakku menonton sunset di Senggigi. Walah! Padahal kami bilang pulang saja ke hotel. Tapi dia tetap ngotot mengajak. Ya sudahlah….


Terus terang kami ragu apakah sunsetnya bakal kelihatan karena kami melihat mataharinya tertutup awan. Tapi untuk sopan santun kami mengikuti ajakannya. Kami kan tamu. Keluar dari pura Batu Bolong, Pak U mencari lokasi pantai yang kira-kira enak untuk melihat sunset. Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit di sana.

Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak yakin kami akan dapat melihat sunset—yang mana pada akhirnya terbukti, matahari tetap tertutup awan hingga mendekati malam—. Aku juga sudah lelah, Kavyaa terutama yang kupikirkan, bagaimana dibalik keceriaanya bermain pasir sebenarnya dia sudah lelah sekali. Plus angin laut yang bertiup kencang begitu membuat aku khawatir aku bakalan masuk angin. Kami semua masih memakai kebaya yang tipis. Hmmm….

Jadi setelah berbasa-basi ngobrol dan memaksa diri menghabiskan 1 buah kelapa muda yang kumakan bersama suamiku, akhirnya kami berhasil meyakinkan Pak U bahwa kami ingin pulang saja dan istirahat menyiapkan diri untuk besok. Tentu saja malamnya masih ada jadwal makan bersama. Tapi aku berpikir harusnya tidak lama.


Kembali ke hotel kami segera bebersih badan. Saat jemputan datang untuk makan malam, kami semua sudah siap. Malam itu kami diundang oleh pamannya Ibu I untuk makan malam di rumah beliau. Bapak dan Ibu U menyertai. Menu makan malamnya enak. Kelihatan kalau itu jamuan khusus bagi kami. Tapi aku merasa agak aneh selama di sana, karena kami bahkan tidak ngobrol apa-apa. Pak U menguasai topik pembicaraan. Aku sampai bingung dan sambil berbisik bilang pada suamiku, untuk apa sebenarnya paman Ibu I ini mengundang kami, kalau kami bahkan tidak bisa ngomong apa-apa di sana?. Tapi aku yang sudah lelah seharian, bertambah lelah lagi jadinya mendengarkan obrolan yang tengah berlangsung. Pura-pura menjaga Kavyaa, suamiku kabur. Aku sendiri cekikikan ngobrol yang tidak-tidak dengan Ibu I agar tidak jatuh tertidur. Untunglah tidak lama kemudian kami berhasil mengajak pulang. Jadi dengan keheranan menggandul di hati kami dengan perasaan lega pamit pulang.

Ternyata oh ternyata keheranan kami beralasan. Sesungguhnya paman Ibu I memang sengaja mengundang kami makan malam di rumahnya agar dapat mengobrol dan mendengar kisah kami langsung dari mulut kami. Tapi rencana mereka gagal karena malam itu justru Pak U yang malah banyak bercerita. Aku merasa menyesal karena paman Ibu I kecewa dengan acara malam itu. Hingga jadwal kepulanganku beberapa kali aku mencoba mencari waktu untuk mengulang kunjungan kami ke sana, tapi selalu gagal. Mau apalagi? Aku sudah berusaha. Berarti memang belum waktunya sekarang ini.

Oh ya, sebenarnya ada ceritaku yang terlewat. Di hari kedua malam, Pak Lurah (orang ini beneran Lurah) mengirim pesan bahwa jika boleh dia ingin berkunjung ke hotel. Kami tidak menolak. Dan sekitar jam setengah sembilan malam Pak Lurah tiba di hotel bersama seorang temannya, N.

Kami mengobrol panjang lebar. Wuoo…kami senang sekali karena bertemu orang yang omongannya bisa nyambung dengan enak. Kami saling berbagi cerita, saling mendengarkan. Waktu memang tidak terasa kalau sharingnya mencerahkan, jadi tahu-tahu hari sudah menjelang tengah malam. Mereka pamit. Dan kami senang karena bisa juga bertemu orang yang ‘sehati’.

Sebelum pulang Pak Lurah sempat mengajakku untuk yogasana di Senggigi yang langsung ku iyakan. Omong-omong Pak Lurah ini sempat cukup lama menjadi instruktur yoga di Mataram ini. Asyikkan..? kami membuat janji untuk hari Minggu paginya.

Jadi saat aku pulang ke hotel lagi dari rumah paman Ibu I malam itu, pikiranku sudah dipenuhi lagi dengan impian bakal yogasana besok paginya. Sudah dua hari ini aku tidak berlatih yogasana. Jadi ajakan yoga bersama ini betul-betul menyenangkan. Aku malam itu tidur dengan perasaan senang. Kami hanya sedikit membahas tentang acara makan malam yang “aneh” itu sebelum benar-benar larut dalam tidur yang nyenyak.

No comments: