Saturday, October 22, 2011

Lombok - Day 3 (Part 1)

Hari ini jadwalnya Tirta Yatra. I feel excited. Aku belum pernah tirta yatra. Jadi ini adalah pengalaman pertama untukku. Kami berangkat pagi sekitar jam 9. Tujuan ada 4 yaitu Narmada, Suranadi, Lingsar dan Batu Bolong. Segala bebantenan telah dipersiapkan oleh Ibu U maupun Ibu G yang menyertai kami. Juga ada Ibu E yang kukenal pada acara pagi di Mayura juga menyertai. Aku agak terkejut mengetahui Ibu E ikut serta. Ada perasaan aneh di hatiku yang segera terjawab tak lama kemudian.

Ternyata lokasi pura yang 4 ini tidak ada yang jauh-jauh. Semua di Lombok barat. Yang memerlukan waktu agak lama hanya saat ke pura Batu Bolong. Tiga yang lain paling lama 15 menit waktu tempuh sudah tiba di lokasi. Jadi sekitar 10 menit dari rumah Ibu U tempat kami berkumpul saat berangkat, kami telah tiba di Narmada.

Dari informasi sekilas yang kudapatkan dari guide dadakanku ini, Narmada tadinya dikelola oleh keluarga keturunan raja (raja apa ya?) tetapi kini telah dikelola pemerintah daerah. Jadi meskipun masih digunakan untuk tempat persembahyangan, wilayah pura yang luas beserta kolam dan taman-tamannya ini menjadi objek wisata juga.


Karena tujuan perjalananku untuk tirta yatra, kami tidak lama berkeliling menikmati keindahan taman di sini. Kami langsung menuju tempat di mana mata air Narmada yang terkenal itu berada. Mata air awet muda: Tirta Amrta. Air Kehidupan Abadi. Kami sembahyang di pimpin pemangku setempat. Aku dan suami serta anakku menyempatkan cuci muka dan minum tirta amrta ini. Di sinilah Ibu E menyerahkan cincinnya kepadaku seperti pesan yang telah diterimanya. “Untuk keselamatan”, katanya. Saat menerima cincin itu aku teringat, saat acara pagi di Mayura juga ada seorang Bapak yang menyalamiku sambil komat kamit berdoa. Waktu itu aku merasa aneh, sekaligus merasakan niat baiknya. Jadi kubiarkan. Ah…sudah ada beberapa orang yang secara khusus mendoakan keselamatanku. Betapa perjalananku ini penuh berkah, bukan?


Selesai persembahyangan, kami segera menuju Suranadi, tempat dimana rencananya aku melaksanakan mandi suci. Mandi pebersihan. Karena memiliki pengalaman 3 tahun yang lalu di Tirta Empul, kali ini persiapanku lebih baik. Sekitar 10 menit perjalanan dari Narmada kami tiba di Suranadi. Aku langsung diajak menuju kolam pebersihan yang terletak di seberang pura Ulon/Gaduh. Ada 5 mata air di sini, dengan masing-masing fungsinya. Satu tirta pebersihan, tirta penglukatan, tirta pengentas, tirta tabah dan tirta yang biasa digunakan untuk prasadam /tirta wangsuh pada.(Aduh….moga-moga aku nggak salah ingat). Konon 5 mata air ini muncul dari ujung tongkat Dang Hyang Dwijendra atau di Lombok dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rawuh dalam kunjungannya yang kedua ke Lombok agar umat Hindu yang ditinggalkan dapat melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan.

Kolam tirta pebersihan terletak paling ujung dengan satu mata air yang sangat deras keluar dari pipa bermuara besar pulan. Kolamnya cukup luas. Kain-kain putih terbentang di jemur di batang-batang bambu. Memang, jika mandi di sini kita harus memakai kain putih. Aku segera bersiap membalut diri dengan kain putih. Suamiku juga bersiap. Ibu G yang akan memandu kami disini. Beliau sudah masuk air duluan dan mandi duluan, menunggu kami di dalam kolam.


Diputuskan aku yang masuk lebih dulu baru suamiku, jadi ada yang memegang Kavyaa. Pertama aku menjejakkan kaki ke dalam kolam, rasanya nafasku putus. Airnya ddiiiiinnnggiiinnnnn sekali. Seperti air es. Rasanya aku tidak sanggup meneruskan langkah. Tapi aku menguatkan hati dan memohon ijin agar aku diperbolehkan mendekat, dan berjalan menuju mulut pancuran. Saat aku rasa perjalananku yang hanya beberapa meter itu tetap terasa berat, aku sadar aku belum sepenuhnya ikhlas dan pasrah saat datang kesini. Banyak kondisi dan bayangan-bayangan yang kuciptakan dalam pikiranku sendiri berdasarkan pengalaman yang sebelumnya pernah kudapatkan di Tirta Empul. Jadi setelah menyadari hal itu, kubersihkan pikiranku dan kubuang segala macam pikiran yang berseliweran juga egoku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya untuk menghadap dengan segala kerendahan hati. Benar saja. Setelah itu langkahku menjadi lancar menuju mulut pancuran. Air yang semula terasa dingin menggigit dadaku dan menghimpit nafasku menjadi tertahankan. Aku tiba di mulut pancuran dan disuruh berdoa oleh Ibu G. Aku selalu blank jika disuruh berdoa dalam situasi seperti itu. Jadi aku berdoa sebisa-bisanya. Hanya berkah dan keselamatan yang kumohonkan. Aku disuruh mencelupkan kepala kedalam air sambil menghadap ke 4 penjuru. Ke-5 kalinya kembali ke posisi semula menghadap mulut pancuran. Terakhir Ibu G menyuruhku mendekati mulut pancuran dengan airnya yang deras itu dan menaruh kepalaku persis dibawah semburan airnya. Aku berpikir aku tak akan bisa. Tapi ternyata aku berhasil juga. Lega dan bahagia rasanya karena aku berhasil melakukan dan menyelesaikan mandiku ini. Aku segera kembali ke tepi kolam, karena sekarang suamiku lagi yang harus mandi. Aku akan menjaga Kavyaa. Bahkan sesungguhnya mandi di Suranadi ini lebih penting bagi suamiku daripada diriku sendiri. Ini sama pentingnya bagi diriku di Tirta Empul pada waktu itu dibanding suamiku. Perjalanan kali ini untuk dia.

Aku menunggu di tepi kolam sambil meyiramkan air kolam pada Kavyaa yang diam saja merasakan air dingin mengenai tubuhnya. Suamiku mengulang prosesi yang tadi sudah kujalani. Bedanya, ternyata Ibu G melihat kedatangan Budha lengkap dengan segala atiributnya di hadapan suamiku. Suamiku tentu saja tidak melihatnya. Hehehe…maklum kami ini memang buta tuli. Sampai sekarang penglihatan dan pendengaran kami belum tajam juga. “Perasaan” kami saja yang seringnya sudah betul. Hehehe….

Tentu saja kami lagi-lagi merasa terberkati. Jadi setelah suamiku keluar dari kolam, berganti pakaian lagi dan menuju pura Ulon untuk sembahyang, kami merasa lega. Bagian paling penting dari keseluruhan tirta yatra hari ini sudah selesai kami jalani. Persembahyangan di pura Ulon dipimpin oleh Pak U. Aku dibawakan tirta dan tirta penglukatan yang dicampur dalam 1 jirigen.



Perjalanan ke Suranadi ditutup dengan makan siang bersama. Ada tempat semacam terminal (atau itu memang terminal?) di sana. Aku tidak terlalu memperhatikan kemaren itu, dan tidak juga bertanya sebenarnya itu lokasi apa. Yang jelas di sana banyak yang berjualan sate, dodol nangka, stoberi dan dodol-dodol rasa yang lain. Dan salah satu yang ada di sana adalah warung pecel ini. Pecel kangkung kalau aku bilang, karena sayur utamanya kangkung. Kangkungnya lembut, tidak bikin kelolotan. Enak sekali. Terus terang 3 hari di Lombok, baru kali ini ada menu yang pas di lidahku. Tanpa daging dan banyak sayur. Hore…….

Begitulah, perjalanan ke Suranadi ditutup dengan makan siang sampai kenyang (porsi pecelnya banyak bo…) Jadi saat menuju Lingsar di mobil mataku setengah terkantuk-kantuk. Kebetulan menuju Lingsar juga lebih lama di banding perjalanan ke Narmada atau Suranadi. Tambah ngantuk deh. Apalagi kalau selama di perjalanan yang di bahas masalah agamaaaaaaa terus. Tambah ngantuk deh….;p

Dan sepertinya cerita tirta yatra berikut ini kuceritakan di part 2 aja ah…..hari sudah pagi, tugas harian telah menunggu ^-^

No comments: