Wednesday, October 19, 2011

Lombok -- Day 1

Tanggal 6 Oktober yang lalu aku memulai perjalananku ke Mataram, ibukota propinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di pulau Lombok. Katanya, sebelumnya Mataram termasuk dalam wilayah Lombok Barat sebelum kemudian menjadi daerah kotamadya sendiri. Aku datang untuk memenuhi undangan dari Banjar PU (dinas PU) untuk dharma tula di sana. Meskipun merasa aneh, karena timbul pikiran seharusnya yang mengundang untuk acara semacam ini adalah PHDI, aku tetap memenuhi undangan tersebut. (Belakangan aku tahu bahwa PHDI malah jarang sekali menjadi penggagas acara-acara semacam ini ^-^)

Oleh pihak pengundang yang bekerja di dinas PU, aku telah diberitahu bahwa kehadiranku akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Karena sudah jauh-jauh datang, sayang kalau cuma tampil sekali. Masuk akal. Jadi dijadwalkan aku akan hadir dalam 3 acara –belakangan menjadi 4—dan 1 hari khusus untuk tirta yatra. Walhasil ditambah dengan lama perjalanan aku harus 5 hari berada di Lombok.

Aku sih senang-senang saja. Yang agak repot justru menyiapkan anak-anak –Pragyaa dan Chitta--yang harus kutinggal. Belum pernah aku harus meninggalkan mereka selama ini. Ditambah sebelumnya aku juga sudah setuju untuk hadir di Banjarmasin dalam acara bedah bukuku tanggal 17 Oktober. Hitung-hitung aku akan hanya punya 1 hari istirahat di rumah dan harus berangkat lagi. Tapi semua sudah diputuskan. Aku harus menjalaninya.

Aku sendiri excited dengan acara tirta yatra-nya yang juga telah dijadwalkan sejak awal dibanding tugas dharma tulanya sendiri. Secara spesifik bapak yang mengundangku ini menyampaikan pesan apa yang dia ingin kusampaikan dalam dharma tula ini, yaitu mengajak -orang untuk lebih mengenal dan mencintai agamanya sendiri, untuk membangkitkan ke-Hindu-an mereka agar tidak mudah berpaling ke tetangga. Permintaan ini lahir berdasarkan fakta bahwa di Lombok dalam setahun 2 orang pemuda akan menyeberang---pindah agama.

Beliau juga memberikan rincian siapa saja jenis audience yang harus kuhadapi dalam 3 sesi (belakangan menjadi 4) yang sudah direncanakan. Pertama audienceku adalah para PNS sekota Mataram, yang kedua adalah pelajar SMA dan mahasiswa se kota Mataram dan yang ketiga adalah warga banjar Sraya yang belakangan aku tahu adalah banjar yang paling ‘makmur’ di kota Mataram. (Sedangkan sesi keempat yang adalah jadwal dadakan yang ditambahkan saat aku baru selesai dengan sesi pertama adalah dengan warga Banjar di Praya, Lombok Tengah).

Jadilah aku harus berpikir bagaimana menyiapkan poin-poin penting yang harus kusampaikan dalam 3 kesempatan yang berbeda ini. Karena audience berbeda, gaya bahasa harus berbeda dan poin penting yang ditekankan juga berbeda.

Aku bingung. Seperti biasa. Suamiku cuma senyum-senyum. Enteng. Bikin jengkel.

Aku sadar kemudian, aku sudah tegang. Tidak rileks. Bagaimana bisa berpikir jernih jika tegang. Jadi setelah menyadarinya, aku berusaha rileks dan santai menghadapi ini dan ide-ideku kemudian mengalir keluar lebih mudah dari yang kubayangkan. Aku hanya perlu kertas selembar untuk menuliskan poin-poin penting untuk 3 sesi nanti. Dan aku sudah siap.

Tidak lupa aku memohon berkah dari Bapak Sivha dan Bapak Pelindungku Ganesha sebelum keberangkatanku. Juga dari para guruku lainnya, juga pada para tetua yang kuhormati yang selalu kuharapkan berkahnya.

Jadilah tanggal 6 itu, aku, suamiku dan bayiku Kavyaa berangkat ke Mataram. Kami meninggalkan rumah jam 9 pagi dan tiba di Mataram jam setengah 7 malam. Seluruh waktu itu dihabiskan di mobil dari Samarinda ke Balikpapan, di pesawat dengan transit sejenak di Surabaya, plus harus mengalami delay yang kini adalah hal yang lumrah terjadi pada penerbangan di Indonesia.

Kedatangan kami disambut oleh Bapak dan Ibu U katakan saja begitu, yang aku tidak jelas posisinya hingga akhir karena hanya menjelang keberangkatanku ke Mataram barulah beliau mulai menghubungiku, beserta seorang supir yang masih keponakan Pak U dan seorang Ibu yang bekerja di PU, jadi adalah anggota banjar PU. Belakangan barulah aku tahu kalau ibu ini justru adalah panitia resminya. Sedangkan Pak U seperti yang kukatakan tadi posisinya tidak jelas sampai aku meninggalkan Mataram, meskipun sebagian besar waktuku dihabiskan bersamanya.

Dalam perjalanan menuju hotel—atau paling tidak kukira begitu, aku sudah mulai merasa hal yang tidak nyaman. Bapak dan Ibu U ini terus bicara tentang agama. Ponakannya juga ikut-ikutan. Yang tidak menyenangkan itu mungkin karena aku merasa digurui. Terutama ponakannya itu, yang terasa sekali senang ngoceh, tapi ndak bisa ngukur lawan. Heeehhhh…

Terus terang aku sudah lelah malam itu, dan terutama aku khawatir pada anakku Kavyaa yang telah kelelahan menempuh perjalanan seharian. Tetapi harapanku untuk segera di antar ke hotel ternyata sia-sia. Karena aku diajak singgah dulu ke rumah Pak U. Rupanya beliau ingin aku melihat kamar sucinya. Dan setelah melihat kamar sucinya aku tahu beliau adalah pengikut Sai Baba.

Yang fanatik.

Sampai aku menulis ini aku masih tidak paham maksud beliau memperlihatkan kamar sucinya ini padaku. Apakah maksudnya supaya aku tertarik dengan Sai Baba atau apa lagi tujuan lainnya yang mungkin? Aku heran saja jika benar demikian. Baru saja bertemu, belum kenal baik, kok sudah seperti ini? Tapi sudahlah. Aku sebenarnya di Samarinda pun banyak punya teman yang pengikut Sai Baba. Tapi hingga kini tidak ada getar hatiku ingin menjadi pengikutnya. Jadi bagaimanapun hebohnya malam itu aku diperlihatkan bahwa mereka telah mengalami berbagai keajaiban, aku mendengarkan begitu saja sambil berharap bisa segera ke hotel.

Tapi harapanku sia-sia. Kami malah diajak ngobrol sejenak, dan aku harus bertemu dengan moderatorku untuk acara besoknya. Bagian bertemu dengan moderator ini masih oke. Tapi kemudian beberapa anggota KMHDI juga datang bergabung. Wa……aku mulai cemas. Kavyaa yang tadinya sudah terkantuk-kantuk, matanya berat hampir menutup jadi segar lagi. Dan terakhir daripada dia teriak-teriak kubiarkan dia mainan buah jeruk sampai mengotori seluruh pakaiannya.

Terus terang sebenarnya bagian penting dari bincang-bincang ini tidaklah lama. Bumbunya yang terlalu banyak. Dan aku mulai jenuh dengan Pak U ini yang tidak hentinya bicara. Belakangan kejenuhanku memuncak. Bagaimana tidak. Aku seolah anak kemaren sore yang tidak tahu apa-apa. Sepertinya dari pagi hingga menutup mata di malam hari yang dibincangkan agamaaaaaaaaaaaaaaaaaa terus. Dan ‘lagu’nya itu lho yang tidak menarik. Seolah kita sedang mendengarkan ceramah agama. Aduh, capek deh. Parahnya lagi, yang disampaikan itu bukannya aku tidak tahu. Duh Gusti..paringana sugih!

Akhirnya menjelang jam 10 malam itu aku berhasil pulang ke hotel. Ibu dari dinas PU—sebut saja ibu I-- datang menjemput dan mengantar kami ke hotel. Aku lega bukan kepalang. Sesungguhnya waktu itu aku cemas dengan rangkaian acara di hari-hari mendatang yang harus kulalui. Bukan karena aku tidak siap. Tapi aku punya bayi yang tidak bisa diduga apakah pada hari-H dia mau bekerja sama atau tidak. Apalagi kalau dia lelah seperti ini. Khawatirku dua kali lipat.

Sampai di hotel, kami segera membersihkan diri dan istirahat. Untunglah hotelnya nyaman. Feels like home. Kavyaa segar sekali matanya, karena saat ngantuknya sudah dihabiskan di rumah Pak U tadi. Walhasil aku dan suamiku jatur tertidur duluan sementara Kavyaa masih mainan. Kurasa dia tidur juga akhirnya setelah melihat kami berdua tidak ada reaksi di ajak bermain.

Di hari pertama ini sebenarnya aku sudah mulai merasa exhausted menghadapi Bp dan Ibu U beserta ponakannya. Tetapi ternyata itu belum apa-apa. Karena kejadian-kejadian di hari-hari berikutnya betul-betul menghabiskan tenaga dan kesabaranku. Tapi yang kuingat malam itu adalah aku harus mengumpulkan tenaga untuk menghadapi acara keesokan paginya (*)

No comments: