Friday, October 21, 2011

Lombok - Day 2

Acara hari ini adalah dharma tula dengan pns sekota Mataram paginya dan dengan anak-anak KMHDI dan pelajar sekolah menengah atas sekota Mataram sore harinya. Keduanya diadakan di tempat yang sama, yaitu Pura Mayura.

Hotelku tidak jauh letaknya dari pura, tapi lucu sekali, 5 hari kami di Mataram tidak juga aku kunjung hapal dengan jalan-jalan di kota Mataram. Padahal tiap hari yang dilalui ya jalan yang itu-itu saja. Bahkan suamiku yang biasanya punya kemampuan pemetaan yang lebih baik ternyata kesulitan juga mengingat jalan-jalan di kota ini.

Seperti biasa, yang menjadi masalah terbesarku adalah Kavyaa. Bagaimana ‘melarikannya’ selama aku mengisi acara ini. Sebelumnya, ada hal sepele yang menarik selama kedatanganku ke Mataram ini. Sewaktu aku tiba di BIL (Bandara Internasional Lombok –yang baru saja beroperasi per tanggal 1 Oktober 2011 menggantikan bandar udara Selaparang yang kini dikelola oleh AU), tiba-tiba cuaca berubah mendung. Waktu aku bertanya apakah sudah lama Lombok kekeringan karena kulihat dari atas pesawat lahan-lahan yang kering kerontang, mereka jawab ya memang sudah lama sekali tidak hujan. Jadi setengah bercanda mereka mengatakan kedatanganku membawa berkah karena cuaca berubah sejuk dan hujan gerimis turun.

Rupanya tidak sekedar gerimis. Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Aku tidak mendengar gemuruh hujan dari kamar hotelku. Tetapi pihak pengundangku betul-betul khawatir dengan hujan lebat ini hingga pagi-pagi sekali mereka sibuk mencari pawang hujan untuk meredakan hujan. Saat aku tiba di halaman pura Mayura pagi itu, langit sudah terang. Matahari bersinar cemerlang meskipun memang nampak bekas-bekas guyuran hujan di sana-sini. Aku yang belum tahu cerita kepanikan panitia santai-santai saja. Belakangan aku diberitahu bahwa panitia sempat panik dan khawatir jika hujan terus mengguyur maka tidak akan ada yang hadir. Karena itu mereka memanggil pawang hujan. Entahlah apakah pawangnya sempat betul-betul bekerja. Yang jelas pagi itu tidak hujan lagi. Dan seperti yang kusebut di atas, aku yang tidak tahu menahu hal itu, hanya sibuk mengkhawatirkan Kavyaa.

Waktu aku tiba, sekitar 20 menit kemudian acara segera dimulai. Kavyaa dilarikan suamiku, diajak main menjauh dari lokasi. Suara jeritan tangisnya terdengar sayup-sayup. Ah, ini bagian terberat dari tugasku yang harus kuhadapi setiap waktu. Aku tidak punya solusi jitu hingga hari ini. Ini adalah pilihan yang sulit tiap kali aku diundang untuk hadir dalam suatu acara. Apakah aku akan memenuhi undangan itu atau tidak?. Aku selalu bingung bagaimana Kavyaa nantinya di acara itu.


Jadi, kututup pendengaranku sementara dari suara tangis Kavyaa dan aku mencoba fokus pada hadirin di hadapanku. Yang hadir sekitar 150-200 orang. Wajah-wajah orang tua, para pegawai negeri. Aku memberikan materi sekitar 1 jam seperti biasa dan setelah itu sesi tanya jawab. Acara berlangsung cukup lama, karena sekali ini aku tidak dibatasi waktu. Biasanya Imtaq ini (di acara itu aku sempat menjelaskan tentang imtaq –iman dan taqwa-- dan apa bedanya dengan sraba –sraddha dan bakti—yang biasanya digunakan umat Hindu sebagai pengganti istilah itu) hanya berlangsung sekitar 1,5 jam tiap jumat pagi. Jadi seharusnya acara selesai jam 09.30. tapi nyatanya pagi itu acaraku baru selesai jam 11.00.

Hanya sekitar 5 orang yang meninggalkan tempat duduknya dan kembali ke kantor sebelum acara berakhir. Mereka yang mungkin tidak bisa datang terlambat untuk kembali ke kantor. Pertanyaan yang diajukan cukup beragam, cukup menarik. Sebenarnya yang membuatku tidak nyaman, --mungkin ini karena egoku—malah sikap Pak U, yang sejak awal mewanti-wanti ‘jenis’ pertanyaan apa yang boleh diajukan kepadaku. Seperti yang kukatakan tadi ini mungkin egoku, baru kali ini ada yang meragukan kemampuanku. Padahal aku lebih suka hadirin boleh bertanya apa saja, karena aku toh tidak malu jika harus menjawab ‘aku tidak tahu’ jika memang aku tidak tahu. Terlepas dari itu, acara berlangsung baik. Dan lagi-lagi ada bagian yang aku terharu sehingga menitikkan air mata saat berorasi. Hmmm…..

Selesai acara pagi itu, setelah foto-foto dan ngobrol sejenak dengan peserta, kami diajak makan siang di salah satu restoran Bali. Saat makan, kami bertemu lagi dengan salah satu peserta dari Praya, yang belakangan aku ketahui dia salah seorang pemangku di Praya, yang bertanya apa aku masih punya waktu bebas karena mereka ingin mengundangku ke Praya. Karena memang ada waktu luang 1 hari sebelum jadwal kepulanganku, aku iyakan saja waktu mereka minta aku bicara di Praya. Inilah sesi ke-4 yang kumaksud.

Setelah makan, kami diantar ke hotel karena harus kembali ke Mayura lagi sore harinya untuk sesi ke-2 dharma tula dengan pelajar.

Sore itu aku harus memakai pakaian adat, karena acara dilangsungkan di utama mandala. Untung aku bawa 2 stel kebaya untuk ke Lombok ini. Kami berangkat menuju pura jam 4 sore. Ternyata ada acara persembahyangan dulu di awal acara. Yang luar biasa itu yang hadir, banyak sekali. Mungkin hampir seribu orang. Wuih…..baru kali ini aku harus bicara di hadapan orang sebanyak itu. Tapi……sayang di sayang, lagi-lagi aku harus menghadapi situasi yang membuatku ill-tempered.

Tepat saat aku akan memulai bicara, keponakan Pak U yang sejak penjemputan kemaren sudah membuat eneg dengan ‘ceramahnya’ selama di perjalanan, duduk menghadapku dengan serius, dan berpesan ‘apa-apa saja yang harus kusampaikan dalam ceramahku kali ini, poin-poin penting apa yang harus kutekankan’. Wuih…..aku gusar bukan kepalang. Seandainya dia bisa membaca situasi, pasti dia bisa melihat perubahan air mukaku. Tapi, sepertinya tidak. Orang seperti itu mana bisa membaca situasi? Menyadari itu membuatku mual mendadak menahan amarah. Pertama, aku merasa dia sama sekali tidak kompeten untuk bisa menasehatiku seperti itu. Kedua, itu bukan urusannya sama sekali karena entah dia itu siapa dan apa posisinya dalam acara ini. Ketiga, kenapa bukan dia saja yang memberi ceramah kok ndadak pake ngundang aku segala yang harus datang dari jauh? Terus terang, waktu itu aku mendadak hilang selera untuk bicara. Tapi aku kan harus bicara? Jadi dengan menguat-nguatkan hati aku melangkah ke panggung sederhana yang sudah disiapkan.

Aku tahu tidak seharusnya aku terpengaruh seperti itu, tapi nyatanya aku terpengaruh. Emosi. Dua kali sudah aku dibikin ill-tempered oleh ponakannya Pak U ini. Belum lagi aku sudah harus menahan diri sepanjang waktu menghadapi Pak U suami istri, yang masih kuhormati hanya karena memandang usianya sehingga memang dalam posisinya untuk memberi nasehat dan karena aku adalah tamu mereka, Masalahnya kan seharusnya mereka lihat-lihat dulu, siapa yang seharusnya perlu diberi nasehat dan kapan memberi nasehat. Masak sepanjang waktu? Ah……

Aku sudah tahu aku tidak akan puas dengan acara sore ini karena aku punya perasaan tidak nyaman saat memulai. Jadi begitulah. Aku tidak tahu apa pendapat anak-anak itu mendengar ceramahku, yang pasti aku sendiri tidak puas dengan hasil yang kukerjakan. Beberapa kali aku menyindir orang-orang tua ini, tapi aku yakin mereka yang kusindir ini tidak ada yang sadar. Nyatanya hingga besok-besoknya tidak ada perubahan sama sekali. Aku juga sempat emosi dalam acara itu dengan ponakannya Pak U saat ada pertanyaan yang dia yakin aku akan terpojok. Tentu saja harapannya tidak berhasil. Dan karena aku tahu dia duduk di belakangku, aku sempat membalikkan badan dan langsung menjawab ke wajahnya. Not good…not good…. Lain kali aku harus lebih pandai mengendalikan emosiku.


Walaupun begitu, acara tetap berlangsung. Kavyaa yang tadi sempat dilarikan suamiku dan lagi-lagi menjerit keras, kembali ke pangkuanku saat sesi tanya jawab termin kedua. Aku merasa lebih santai saat Kavyaa sudah bersamaku lagi. Di penghujung acara, seperti biasa ada acara foto-foto. Juga ada penyerahan kenang-kenangan dari KMHDI. Dan karena sekali ini yang dihadapi ABG, acara foto-foto ini berlangsung seru dan lama. Ada acara penandatanganan buku juga. Meskipun yang ini sih acara dadakan. Malah ada yang sempat curhat sambil duduk di sampingku. Sepertinya acara foto-foto dan ngobrol dengan mereka ini berlangsung hampir sejam.

Dan sesi ini adalah sesi pelipur kegusaran hatiku. Aku berharap dalam hati, semoga ada yang cukup berharga yang akan mereka bawa pulang, mengingat tadi aku betul-betul ill-tempered saat dharma tula itu. Ada rasa sesal di hati, mengapa aku begitu cepat terpengaruh seperti itu. Setelah kurenungkan lama kemudian kesimpulanku adalah, sebenarnya aku marah tadi. Hmm….


Walau begitu, nyatanya satu hari telah berlalu lagi. Kami diajak makan malam. Kemudian di antar ke hotel karena besok pagi kami akan diajak tirta yatra. Ini dia acara utama yang kami tunggu-tunggu dalam kunjungan ke Lombok ini. Saat menjelang tidur malam itu, kami berusaha mendengarkan pesan Tuhan pada kami. Apa saja yang tidak boleh kami lewatkan dalam acara tirta yatra besok. Jadi dengan perasaan gembira membayangkan perjalanan besok, kami tidur nyenyak malam itu.

No comments: