Friday, October 28, 2011

Lombok day 4 -- Part 2

Aku hanya punya waktu sejam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Aku berusaha hening sambil berbaring, meluruskan punggung. Dan ternyata itu membantu sekali. Saat aku bangun, aku sudah tahu apa yang harus kusampaikan di Praya. Pendekatan apa yang akan kupakai. Sepertinya pikiranku cemerlang lagi. Petunjuk-petunjuk datang dengan mudah. Gangguan yang kurasakan siang tadi hilang dari pikiranku. Dan saat jemputan tiba, kami yang sudah siap langsung berangkat. Aku sadar, besar sekali pengaruh dari rileksasi bagi tubuh kitam juga pada kondisi mental dan emosional kita.

Ke Praya yang berada di Lombok Tengah ini kira-kira memerlukan waktu 1 jam. Sekitar jam 5 sore aku tiba di pura Praya. Disambut oleh pemangku yang aku lupa lagi namanya, tapi aku ingat wajahnya. Orang Jawa. Aku senang melihatnya memakai blangkon. Saat aku tiba yang hadir belum terlalu banyak. Tidak sampai 40 orang. Jadi kuminta mereka duduk melingkar saja, supaya lebih enak bisa ngomong bebas tanpa mikrophone. Tapi ternyata setelah acara dimulai, --aku memakai mikrophone--satu-persatu datang peserta lain hingga saat acara selesai sekitar jam 7 malam seluruh peserta mungkin mencapai 75 orang. Not bad…..


Tambahan lagi di sini aku senang karena pendengarku antusias dan menaruh minat dengan apa yang kusampaikan. Pertanyaannya praktis, bukan teoritis atau sekedar mengetes kemampuanku. Bagiku sendiri adalah lebih penting jika apa yang kubagikan bisa dipraktekkan juga oleh orang lain. Jadi bagi diriku sendiri, aku puas dengan acara di Praya ini. Sayang aku sedikit merasa terburu-buru karena rencananya harus bicara lagi di Banjar Sraya. Jadi sesi tanya jawab ditutup paksa, padahal seandainya waktuku lebih longgar, masih ada lagi yang ingin bertanya.

Oh ya di Praya ini aku sempat dikenalkan dengan Mangku Murba. Beliau sering tampil di Bali TV, sering memberi penataran pemangku, dan menulis buku juga. Jadilah aku mendapat satu buah buku dari beliau. 2 anak perempuan beliau ikut hadir dalam acara ini, dan salah satunya mengajukan pertanyaan yang bagus padaku.

Saat aku meninggalkan Praya, aku tersenyum. Aku tahu, seperti yang kutulis di atas, aku memerlukan keheningan diriku untuk bisa menyampaikan sesuatu, untuk bisa menuliskan sesuatu. Makin berisik pikiranku, makin kisruh hatiku, makin buruk kemampuanku untuk bicara. Makin tidak ada yang bisa kusampaikan. Penting bagiku untuk menjaga ketenangan hati dan pikiranku. Penting bagiku untuk menjaga kedamaian diriku sendiri. Hmm…inilah pelajaran penting yang kudapat hari ini.

Di perjalanan menuju Sraya, balik ke kota Mataram, aku diberitahu bahwa malam ini aku batal tampil di Sraya. Acaraku besok saja, katanya. Aku lega mengingat bahwa kami semua sudah meninggalkan kamar hotel sejak jam setengah enam pagi dan hanya sempat istirahat 1 jam hingga malam ini. Bayiku ini lho yang jadi pikiran. Kalau aku dan suamiku sih cukup diberi doping pakai antangin, beres. Lha Kavyaa…??? Jadi informasi pembatalan ini melegakan hatiku. Kami bisa langsung pulang istirahat, begitulah pikiranku semula.

Tapi sebelumnya kami diajak makan malam. Ada yang lupa kusampaikan. Di Lombok ini aku tidak pernah sempat lapar. Kenyang terus rasanya. Belum lapar, sudah jadwal makan lagi. Begitu terus. Malam itupun aku belum merasa lapar. Tapi kemudian ternyata aku dibawa ke warung sate kambing H Imran. Wa….aku ingat namanya. Soalnya sate dan gulenya uenak….!!. Meskipun tubuhku sudah menjerit karena hampir seminggu ini terlalu banyak makan daging, berhubung yang ini enak banget, jadi habis juga satu porsi sate dan satu porsi gule plus sepiring nasi kumakan dengan lahap. Setelah kenyang bangeeett….akhirnya kami balik ke hotel.

Ternyata oh ternyata…pihak Sraya sudah menunggu di hotel. Aku akan tetap tampil di Sraya malam ini katanya. Semula melihat waktu yang sudah menunjukkan jam 9 malam, aku minta agar acaraku ditunda besok saja. Sekali lagi aku ingat Kavyaa. Pasti sudah capek sekali dia. Tapi menurut mereka, besokpun acaraku akan tetap malam juga. Bisa jadi malah bakal lebih malam daripada hari ini. Jadi kuputuskan malam itu saja kuselesaikan kewajibanku, karena besokpun tetap saja acaranya tidak bisa dimajukan jamnya agar lebih sore.

Pun begitu, saat aku tiba di Sraya, persembahyangan belum selesai. Jadi aku masih harus menunggu lagi.Duh… Aku mulai gelisah. Kavyaa sudah mengantuk dan mulai rewel. Sungguh aku tidak yakin kewajibanku bisa kuselesaikan dengan baik. Dan memang benar.


Aku bicara lebih kurang 1 jam seperti biasa. Kavyaa duduk di pangkuanku. Dia sudah tidak mau lagi ikut suamiku. Belum selesai yang 1 jam itu dia sudah menangis. Jadilah buru-buru kututup pemaparanku. Setelah itu dia harus kubawa menjauh karena menjerit keras. Terpaksa suamiku menggantikanku dalam sesi tanya jawab. Itupun tidak lama. Hanya beberapa pertanyaan, setelah itu kami harus pamit pulang. Untunglah kelihatannya para hadirinnya paham dengan kondisiku.

Masih Tuhan berbaik hati pada kami. Di tengah situasi seperti itu, aku masih diberi kesempatan metirta dengan menggunakan sangkul dari abad 12 atau 13 itu. Informasi yang kudapat kemudian, sangkul itu terbuat dari emas, meskipun warnanya mirip tembaga. Aku diijinkan memegang dan meneliti ukiran pada sangkul itu setelah metirta. What a bless!. Kavyaa seperti biasa, kalau metirta langsung diam. Anteng. Begitu metirta selesai, nangis lagi. Jadi dengan rasa terburu-buru setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pamit dan meninggalkan tempat.

Sungguh, aku tidak puas dengan acara di Sraya ini. Tidak puas karena aku merasa tidak bisa memberikan penampilan maksimal kepada mereka yang mengundangku karena keterbatasanku seperti itu. Tapi kelihatannya mereka memang sebelumnya tidak tahu kalau aku punya bayi. Makanya enteng saja mereka mengundangku untuk acara malam hari. Apa mau dikata. Aku berharap yang baik saja. Baik bagiku, baik bagi mereka.

Tapi di Sraya inilah aku mendapat kesempatan melihat kemegahan suatu upacara adat Bali. Aku tampil itu sebenarnya sebagai salah satu mata acara dalam rangkaian acara piodalan pura Sraya. Piodalan masih besok harinya. Jadi aku sempat melihat persiapan upacara mereka yang begitu megah. Menyilaukan. Bling bling. Wow…Dengar-dengar Sraya ini memang banjar paling makmur di kota Mataram. Mmm….tidak heran deh.

Kami tiba di hotel lagi jam 11 malam. Kemudian segera mandi dan pergi tidur. Lelah sekali rasanya hari itu. Aku ingat, besok aku tidak punya acara khusus.” Aku ingin istirahat saja”. Begitulah pikiran terakhir melintas di kepalaku sebelum semuanya hilang lenyap di balik bantal hotel yang empuk. Aku bahkan tidak sempat menoleh lagi ke Kavyaa yang sudah tidur lebih dulu. Suamiku? apalagi.....auk ah …gelap. Besok ceritanya besok lagi. Oaehmm....

Thursday, October 27, 2011

Lombok Day 4 -- Part 1

Hari ini dan seperti biasanya, selelah apapun malamnya, tetap saja kami bangun jam 3-an pagi. Kemudian sadhana dan melek terus sampai pagi. Setelah aku siap untuk acara hari itu, yang aku khawatirkan justru Kavyaa. Masih nyenyak sekali tidurnya.

Jam setengah enam sesuai janji Pak Lurah menjemputku. Kami langsung berangkat. Kavyaa kuangkat saja. Dia bangun sebentar, lalu tidur lagi selama perjalanan ke Senggigi yang menempuh waktu sekitar 30 menit dari hotel tempat kami menginap.

Pak Lurah yang sudah biasa yogasana di Senggigi memimpin jalan. Arena yang dipilih untuk latihan lokasinya di belakang hotel mewah yang aku lupa namanya. Tidak perhatian sih. Terus terang terlalu banyak yang harus kuperhatikan dan kuingat selama di Lombok ini, jadi yang seperti ini lewat deh… Tapi kalau disuruh menunjukkan tempatnya, aku tahulah.
Pak Lurah memilih tanjung kecil yang sudah diberam dengan batu-batu sebagai tempat kami berlatih. Indah memang. Badanku yang mulai terasa kaku karena beberapa hari tidak yoga, bergairah mengantisipasi acara ini. Kavyaa semula menangis. Mungkin terkejut saat membuka mata kok sudah ada di pantai. Hehehe…..tapi setelah kuijinkan membongkar isi tasku, dia mau tenang, duduk saja di matras sementara mamanya jungklat jungklit bergerak mengikuti instruksi Pak Lurah.

Tidak lupa kami juga mengambil foto beberapa postur yoga untuk di upload di fb. Dan aku cukup gembira karena ternyata meskipun sejak pertama kali aku mengenal yoga, aku belajar secara otodidak, hanya dari buku atau nonton di You Tube, dan memulainya di usia yang tidak muda lagi, --setelah punya 2 anak malah-- (walah..!!^-^), ternyata posturku bisa dinilai bagus. Sudah sama bagusnya dengan postur sang instruktur yang telah yogasana sejak muda. Benar-benar memuaskan! Maksudnya aku puas dengan diriku sendiri, gitu loh!

Setelah puas ber-asana ria di Senggigi, kami memutuskan pulang jam setengah delapan karena aku telah ada janji dengan seorang pemuda, salah seorang peserta pada dharma tula di Mayura. Dia ingin ngobrol lebih leluasa denganku, katanya. Seandainya tidak ada janji itu, mungkin aku ingin lebih lama lagi di Senggigi.

Saat aku tiba di hotel, ternyata pemuda itu sudah menunggu. Surprisingly, dia datang bersama ibunya. Merasa aku telah terlambat sekitar 15 menit dari janji, dia segera kuajak ke kamar supaya bisa lebih bebas mengobrol. Ibunya menyertai. Aku memperhatikan dengan heran pada sikap tubuh ibunya yang kaku dan tegang. Sama sekali tidak rileks.

Begitulah, dengan menagabaikan itu, aku memulai obrolan. Anak ini yang patah semangat karena gagal menjadi ketua OSIS karena dia seorang Hindu, kembali menceritakan kisahnya padaku. Dia sudah berkisah sekilas tentang dirinya saat sesi foto-foto bersama seusai dharma tula di Mayura Jumat sore yang lalu, tapi mungkin dia tidak puas. Karena itu dia berusaha membuat janji bertemu denganku. Kejadian ini sangat menyakitkan baginya. Dia telah gagal menjadi ‘seseorang’ meskipun dia telah memenangkan pemilihan dengan cara yang adil dan sesuai aturan hanya karena dia seorang Hindu! Menyedihkan bukan? Dan kejadian ini terjadi di seluruh Indonesia di segala lapisan. Tidak hanya di sekolah, di kampus, tetapi juga di dinas-dinas, departemen-departemen. Entahlah kalau di swasta. Kurasa untuk swasta kebijaksanaannya tergantung pemiliknya. Tapi kondisinya juga tidak lebih baik.

Aku mendengarkan, memberi semangat sebisanya. Tapi di dalam hati merintih sekaligus berharap dan berdoa. Semoga semangatnya bisa kembali. Aku merasa hatinya terluka parah dengan kejadian ini. Hmm….kemudian ibunya ikut bicara. Dan luar biasa! Ibu anak ini malah bisa menjadi sepertiku juga, seandainya suka menulis. Pengetahuannya bagus dan yang penting, semua yang dia tahu dia lakoni. Di bagian tertentu bahkan saat bercerita dia sampai menitikkan air mata sangking emosionalnya.Hanya saja, karena dalam kesehariannya dia tidak bisa lari dan terikat begitu kuat dengan adat (Bali), membuatnya kelihatan rapuh dan selalu bersikap defensif. Aku bisa maklumi. Seandainya aku dalam posisinya, bisa jadi aku akan bersikap yang sama.

Dan, sekali lagi aku tercengang. Dalam perjalananku ke Lombok ini, begitu banyak aku melihat sendiri, sebagai pengalaman, bagaimana adat (Bali) begitu menyulitkan dan memberatkan bagi yang disebut pemeluk Hindu ini. Banyak yang berontak diam-diam. Ibu anak ini termasuk yang berani berontak dalam tindakan nyata. Tapi begitulah. Dia merasa sendirian. Nyatanya dia berjuang sendirian. Aku berdoa yang terbaik baginya. Hingga hari ini aku masih merenung-renung pesan apa gerangan yang harus kuterima dari pertemuanku dengannya. Dengan ibu dan anak ini karena cukup lama kami mengobrol. Cukup banyak kami saling berbagi selama hampir 2 jam itu.

Akhirnya, setelah dirasa cukup puas, dan karena aku juga harus menghadiri undangan makan siang oleh Bapak S yang telah menjadi moderatorku juga pada acara di Mayura Jumat pagi, pertemuan kami harus diakhiri. Mereka pamit. Dan aku bengong di kamarku, berusaha mencerna apa saja yang baru kudengar dari mereka. Wow…! Cuma itu yang bisa kukatakan. I was speechless.

Tapi aku tidak bisa bengong lama-lama. Jemputanku telah tiba. Kami mengobrol berjenak-jenak di lobby hotel sebelum berangkat. Aku heran dalam hati, kenapa penjemputku ini sengaja berlama-lama di lobby, padahal tadinya undangannya agak cepat. Belakangan aku tahu, Pak S yang mengundangku harus njebur kolam menangkap ikan sendiri, karena yang berjanji untuk membantunya menangkap ikan ternyata ingkar. Wkwkwkkk…aku kira-kira tahu kenapa kejadiannya seperti itu. Tapi itu bukanlah hal yang bagus untuk diceritakan. Jadi biarlah cukup begini saja. Kedatanganku ke rumah Pak S jadinya dilambat-lambatin supaya aku nunggu makannya nggak kelamaan nanti.

Rumah Pak S lokasinya seolah agak keluar kota. Meskipun bisa jadi masih di dalam kota. Hanya kesannya asri, hijau, seperti suasana di desa. Rumahnya cukup besar, dengan beberapa kolam ikan dan taman juga ada bale bengong khas Bali. Rumahnya memang full interior Bali. Setahuku sedianya aku akan diinapkan di rumah beliau ini, tapi entah bagaimana kok jadinya aku malah diinapkan di hotel. Tapi bagus juga untukku. Aku baru menyadari lebih mudah aku menginap di hotel daripada di rumah Pak S ini. Pelajaran pentingku dari peristiwa ini jika aku harus melakukan perjalanan lagi adalah; karena aku kemana-mana membawa Kavyaa, aku harus memastikan Kavyaa bisa tidur dengan nyaman malamnya supaya mudah bekerja sama saat aku harus bekerja. Wkwkwkkk…

Sama seperti di rumah paman Ibu I, di sini pun Pak S memang sengaja menjamuku. Beliau menangkap ikan sendiri dari kolamnya. Ada yang digoreng, ada yang dibakar. Enak. Tapi aku tak bisa sepenuhnya menikmati karena pikiranku malah melantur ke acara berikutnya di Praya. Aku merasa sedikit kelelahan dan meragukan apakah aku bisa tampil baik nantinya. Jadi aku sengaja sedikit menjauhkan diri dari keramaian dan menghindari diskusi. Ternyata agak sulit untuk menghindar.Malah ada hal yang lebih buruk terjadi.

Aku sebenarnya sudah mendapat waktu cukup lama dan berhasil mengasingkan diri dari perbincangan ringan yang menemani makan siang itu, ketika Ibu U mendekatiku dan dengan serius memberi tips padaku agar mudah memberikan dharma tula di lain waktu. Dia menyampaikan itu persis di saat aku sedang diam menikmati pikiranku yang sedang kosong begitu saja. Aku diminta fokus pada salah satu topik dan betul-betul mendalaminya. Radarku berdering. Aku langsung mengelak. Aku katakan biar itu jadi urusan para ahli agama, karena aku tidak berniat menjadi pedharma wacana. Di sini, saat ini, aku hanya berbagi pengalaman, begitulah kukatakan padanya. Mendengarku menyahut agak ketus (mungkin), beliau buru-buru menambahkan bahwa itu untuk tahun-tahun mendatang jika aku diminta orang bicara lagi, aku kan harus mengembangkan diri. Aduh..., aku jadi males deh. Aku berharap wajahku tidak menunjukkan kejengkelan hatiku. Tapi aku tidak yakin. Karena nada suaraku saat menyahut sudah berubah. Untunglah obrolan ini segera berhenti. Tapi toh sudah terlambat. Mood yang telah berusaha kupelihara sejak tadi agar tetap tenang untuk dharma tula nanti langsung hancur berantakan.

Hingga aku pulang ke rumah lagi, berkali-kali aku merenungkan mengapa aku selalu terganggu kalau dinasihati semacam itu oleh mereka (Pak dan Ibu U ini). Kurasa karena aku tidak ingin di atur-atur orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku berhasil atau gagal itu karena diriku sendiri. Aku tidak mengijinkan mereka menunjukkan mana yang baik untukku. Lagi pula, aku merasa mereka tidak benar-benar ‘tahu’ diriku, tapi menasehatiku seolah aku anak sekolahan yang tidak tahu apa-apa. Padahal dengan orang lain, aku mudah sekali berlagak pilon, menjadi pendengar yang baik. Dan dalam banyak kasus dengan suka hati menurut pada nasehat yang diberikan orang lain. Tapi dengan yang ini…??? Entahlah…kupikir sebenarnya inti masalahnya adalah pada egoku. Egoku terusik karena mereka menganggap aku tidak tahu apa-apa. Heehhh…

Bukti, bahwa aku belum sepenuhnya mengenal diriku sendiri.


Jadilah siang itu berlalu dengan menyisakan kejengkelan di hatiku. Setelah berfoto-foto sejenak di halaman rumah Pak S, kami pamit karena harus persiapan lagi ke Praya. Di perjalanan aku diam saja. Tapi setiba di kamar hotel, aku mengeluh pada suamiku. Aku mengeluh karena merasa buntu. Tidak yakin aku bisa tampil sore nanti.

Aku tahu aku harus menenangkan diri. Rasanya otakku mampet, padat seperti batu. Energiku habis. Jadi setelah mandi--untunglah Kavyaa segera tidur—aku pun berbaring. Savasana. Rileks…rileks…. Dan ceritanya harus kulanjutkan di bagian kedua. ^_^

Tuesday, October 25, 2011

Lombok Day 3 -- Part 2

Setelah beberapa waktu terkantuk-kantuk di mobil karena kekenyangan, akhirnya kami tiba di Lingsar sekitar jam 2 siang. Kompleksnya luas. Terdapat kolam besar di bagian belakang, dekat pura balian. Sayangnya karena ada miss comunication dan miss leading dari para pengantar kami, jadinya kami hanya sembahyang di pura balian ini. Pura paling kecil dan terletak di ujung. Pura lainnya adalah pura Gaduh yang paling besar, Kemaliq, Pesiraman dan Lingsar Wulon.

Ada 5 pancuran mata air di pura balian ini, pancurannya kecil. Tidak sebesar yang di Tirta Empul. Aku hanya mencuci muka di salah satu pancuran. Karena seolah sudah lama tidak dikunjungi atau tidak dirawat, lantainya licin sekali. Aku takut terpeleset. Lagipula aku merasa aku cukup melakukannya seperti itu saja. Suamiku mencuci wajah di kelima pancurannya, sementara aku duduk bersama Kavyaa menunggu sambil berusaha meresapi sekelilingku.


Tidak ada yang istimewa rasanya, atau apa karena aku sudah lelah juga? Tidak tahulah. Sebelum persembahyangan dimulai, Ibu U dan Ibu G mekidung. Rupanya kalau di Lingsar memang sebaiknya kita mekidung. Penjelasannya ada. Tapi sayangnya aku sudah lupa-lupa ingat penjelasan dari Ibu G tentang hal itu. Hanya ingat sebaiknya kita melakukannya. Selesai persembahyangan, kami keluar pura Balian. Aku menyempatkan berfoto sejenak di dekat kolam besaaaar itu karena rencananya kami akan segera meluncur menuju pura Batu Bolong.

Sambil berjalan perlahan keluar kompleks pura, Ibu G dan Ibu E yang menjejeriku bercerita sedikit tentang pura Kemaliq yang kami lewati. Suamiku masuk kesana sebentar, tapi aku tidak. Aku terus berjalan melewati pura Pesiraman (?) Tidak ada cerita tentang pura ini.Saat kami melewati pintu pura yang paling besar--pura Gaduh-- suamiku menunjukkan minat untuk masuk. Ibu E langsung menawarkan diri untuk mengantar dan langsung membukakan pintu. Ibu G segera menyusul. Aku memilih duduk-duduk di bale bengong di luar pura sambil melihat-lihat dagangan penjual mutiara asongan. Tapi tak lama kemudian aku dipanggil oleh Ibu E. Aku mendekat dan masuk juga pura itu. Di dalam pura yang cukup luas ini terdapat tiga bangunan yakni Pelinggih Gunung Agung di sebelah barat yang melambangkan Gunung Agung, kemudian ada semacam pelinggih juga di tengah dan dan Pelinggih Gunung Rinjani yang melambangkan Gunung Rinjani di sebelah timur. Di sinilah titik pertemuan antara kedua gunung suci itu.


Ibu G yang menjelaskan panjang lebar pada kami. Terutama pada suamiku. Sayang tidak banyak yang bisa kuingat sekarang. Yang kucatat hanya, jika kita tidak sanggup ke Gunung Agung atau ke Gunung Rinjani, maka cukup kita sembahyang di Lingsar ini. Ibu E diam saja mendengarkan, hanya sesekali menimpali. Setelah puas berada di dalam areal pura ini, meskipun tidak sembahyang, barulah kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Belakangan Ibu E bilang bahwa seharusnya pura Gaduh ini tidak boleh kami lewatkan. Karena itulah begitu suamiku ingin memasukinya, dia langsung membukakan pintu. Begitu juga, saat dia ‘mendengar’ bahwa aku juga harus memasukinya, Ibu E segera memanggilku. Ibu G ternyata juga kecewa dalam perjalanan tirta yatra ini karena banyak sekali pura dan prosesi yang dilewatkan karena dianggap tidak perlu oleh Pak U. Hmm….mendengar itu aku juga merasa sedikit kecewa. Tapi aku juga yakin, bahwa meskipun bisa dikatakan perjalanan tirta yatra ini tidak sempurna, tetapi bagian-bagian yang HARUS kami jalani sudah kami jalani. Hanya saja, tidak ada bonus yang kami peroleh dalam perjalanan ini. Betul-betul yang penting-penting saja. Tapi aku yakin dengan kebijaksanaan Tuhan. Jadi aku tidak berkecil hati.

Perjalanan kembali menuju parkiran mobil kami sepertinya menempuh rute yang berbeda dari waktu masuk. Kini hamparan sawah yang sedang menghijau membentang di samping kami sepanjang perjalanan keluar komplek pura. Inilah yang namanya pura mewah --mepet sawah-- hehehe…..Kami juga sempat berfoto sejenak dengan latar belakang sawah-sawah tadi. Setelah itu, kami segera bergegas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju pura Batu Bolong.

Nah…sekali ini perjalanan terasa lumayan lama. Mungkin sekitar 30-45 menit barulah kami tiba di garis pantai. Mungkin. Karena aku yang sudah lelah, bertambah lelah rasanya diajak mengobrol terus sepanjang perjalanan. Padahal mauku kami diam-diaman saja. Kadang aku heran dengan Pak dan Ibu U ini yang seolah tidak ada lelahnya berbicara. Apa karena itu perjalanannya terasa lebih lama. Entahlah. Tapi kelihatannya rutenya memang jauh kok. Jadi sambil berusaha mengabaikan pembicaraan yang terus berlangsung pikiranku menerawang sendiri. Pantai Senggigi. Oh Tuhan….tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari aku akan menginjakkan kaki ke pantai ini yang biasanya hanya kusaksikan di foto-foto wisata saja. Hari ini aku akan menyapa dan menikmati panoramanya dari dekat. What a bless!


Pura Batu Bolong indah. Kami tiba di sana sekitar jam 4 sore. Ada beberapa orang yang tengah sembahyang sambil ditonton turis bule. Aku berpikir, bagi para bule itu pemandangan orang sembahyang ini eksotis. Bagaimana bagi kami sendiri? Adakah kami bangga dan mensyukuri ke-eksotis-an itu? Lagi-lagi Ibu G menggerutu perlahan karena kami melewati pura kecil di bawah dan langsung menuju atas. Tapi aku sempat bertanya, tidakkah kami bersembahyang dulu di pura bawah? Jadilah Ibu E menarikku ke dalam pura bawah ini dan mencakupkan tangan, berdoa sejenak. Aku mengikuti jejaknya. Ibu G ternyata juga ada di belakangku. Dan besok-besoknya baru aku tahu juga bahwa seharusnya kami sembahyang dulu di pura bawah baru di pura atas. Ada aturan dalam setiap ritual persembahyangan di setiap pura. Tapi terlalu banyak yang di-skip dalam tirta yatraku kali ini. Untunglah dalam ketidaktahuanku, petunjuk selalu datang meskipun petunjuk itu hanya mampu kuikuti dengan seadanya.

Sambil menunggu mereka yang masih sembahyang di atas –puranya kecil di atas karang, jadi harus sembahyang bergantian—aku menyempatkan diri berfoto ria di depan batu bolongnya. Sempat jeprat-jepret cukup banyak juga sebelum kami mulai sembahyang. Angin bertiup sangat kencang waktu kami mau mulai. Setelahnya Ibu G bercerita, jika terasa seperti itu, artinya Bhatara yang mbahureksa berkenan. Aku sempat menempuk batu besar, yang karena terburu-buru oleh keadaan tidak sempat kuperhatikan apa itu. Apakah kaki salah sebuah pratima atau memang batu saja. Kurasa kaki pratima di sebelah Pelinggih utama. Ibu G yang memintaku melakukannya. Diapun memberi pengantar dengan bahasa Bali. Intinya minta keselamatan. Itulah yang dapat kutangkap.

Persis selesai persembahyangan datang seorang pemangku… eh pedanda (karena kuingat dia sudah membawa tongkat). Aku diperkenalkan, tapi oh… aku lupa namanya sekarang. Wajahnya sih aku ingat. Wajahnya menyenangkan. Menggambarkan hati yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa beliau sudah baca bukuku juga. Wah….hebat. Hehehe….

Kami berfoto bersama juga. Lantas pulang. Semula ku kira begitu. Sudah capek nih seharian. Aku banyak menggendong Kavyaa. Kavyaa juga kelihatan lelah. Tapi setelah duduk-duduk sebentar di bale-bale di sana, ternyata Pak U malah mau mengajakku menonton sunset di Senggigi. Walah! Padahal kami bilang pulang saja ke hotel. Tapi dia tetap ngotot mengajak. Ya sudahlah….


Terus terang kami ragu apakah sunsetnya bakal kelihatan karena kami melihat mataharinya tertutup awan. Tapi untuk sopan santun kami mengikuti ajakannya. Kami kan tamu. Keluar dari pura Batu Bolong, Pak U mencari lokasi pantai yang kira-kira enak untuk melihat sunset. Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit di sana.

Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak yakin kami akan dapat melihat sunset—yang mana pada akhirnya terbukti, matahari tetap tertutup awan hingga mendekati malam—. Aku juga sudah lelah, Kavyaa terutama yang kupikirkan, bagaimana dibalik keceriaanya bermain pasir sebenarnya dia sudah lelah sekali. Plus angin laut yang bertiup kencang begitu membuat aku khawatir aku bakalan masuk angin. Kami semua masih memakai kebaya yang tipis. Hmmm….

Jadi setelah berbasa-basi ngobrol dan memaksa diri menghabiskan 1 buah kelapa muda yang kumakan bersama suamiku, akhirnya kami berhasil meyakinkan Pak U bahwa kami ingin pulang saja dan istirahat menyiapkan diri untuk besok. Tentu saja malamnya masih ada jadwal makan bersama. Tapi aku berpikir harusnya tidak lama.


Kembali ke hotel kami segera bebersih badan. Saat jemputan datang untuk makan malam, kami semua sudah siap. Malam itu kami diundang oleh pamannya Ibu I untuk makan malam di rumah beliau. Bapak dan Ibu U menyertai. Menu makan malamnya enak. Kelihatan kalau itu jamuan khusus bagi kami. Tapi aku merasa agak aneh selama di sana, karena kami bahkan tidak ngobrol apa-apa. Pak U menguasai topik pembicaraan. Aku sampai bingung dan sambil berbisik bilang pada suamiku, untuk apa sebenarnya paman Ibu I ini mengundang kami, kalau kami bahkan tidak bisa ngomong apa-apa di sana?. Tapi aku yang sudah lelah seharian, bertambah lelah lagi jadinya mendengarkan obrolan yang tengah berlangsung. Pura-pura menjaga Kavyaa, suamiku kabur. Aku sendiri cekikikan ngobrol yang tidak-tidak dengan Ibu I agar tidak jatuh tertidur. Untunglah tidak lama kemudian kami berhasil mengajak pulang. Jadi dengan keheranan menggandul di hati kami dengan perasaan lega pamit pulang.

Ternyata oh ternyata keheranan kami beralasan. Sesungguhnya paman Ibu I memang sengaja mengundang kami makan malam di rumahnya agar dapat mengobrol dan mendengar kisah kami langsung dari mulut kami. Tapi rencana mereka gagal karena malam itu justru Pak U yang malah banyak bercerita. Aku merasa menyesal karena paman Ibu I kecewa dengan acara malam itu. Hingga jadwal kepulanganku beberapa kali aku mencoba mencari waktu untuk mengulang kunjungan kami ke sana, tapi selalu gagal. Mau apalagi? Aku sudah berusaha. Berarti memang belum waktunya sekarang ini.

Oh ya, sebenarnya ada ceritaku yang terlewat. Di hari kedua malam, Pak Lurah (orang ini beneran Lurah) mengirim pesan bahwa jika boleh dia ingin berkunjung ke hotel. Kami tidak menolak. Dan sekitar jam setengah sembilan malam Pak Lurah tiba di hotel bersama seorang temannya, N.

Kami mengobrol panjang lebar. Wuoo…kami senang sekali karena bertemu orang yang omongannya bisa nyambung dengan enak. Kami saling berbagi cerita, saling mendengarkan. Waktu memang tidak terasa kalau sharingnya mencerahkan, jadi tahu-tahu hari sudah menjelang tengah malam. Mereka pamit. Dan kami senang karena bisa juga bertemu orang yang ‘sehati’.

Sebelum pulang Pak Lurah sempat mengajakku untuk yogasana di Senggigi yang langsung ku iyakan. Omong-omong Pak Lurah ini sempat cukup lama menjadi instruktur yoga di Mataram ini. Asyikkan..? kami membuat janji untuk hari Minggu paginya.

Jadi saat aku pulang ke hotel lagi dari rumah paman Ibu I malam itu, pikiranku sudah dipenuhi lagi dengan impian bakal yogasana besok paginya. Sudah dua hari ini aku tidak berlatih yogasana. Jadi ajakan yoga bersama ini betul-betul menyenangkan. Aku malam itu tidur dengan perasaan senang. Kami hanya sedikit membahas tentang acara makan malam yang “aneh” itu sebelum benar-benar larut dalam tidur yang nyenyak.

Saturday, October 22, 2011

Lombok - Day 3 (Part 1)

Hari ini jadwalnya Tirta Yatra. I feel excited. Aku belum pernah tirta yatra. Jadi ini adalah pengalaman pertama untukku. Kami berangkat pagi sekitar jam 9. Tujuan ada 4 yaitu Narmada, Suranadi, Lingsar dan Batu Bolong. Segala bebantenan telah dipersiapkan oleh Ibu U maupun Ibu G yang menyertai kami. Juga ada Ibu E yang kukenal pada acara pagi di Mayura juga menyertai. Aku agak terkejut mengetahui Ibu E ikut serta. Ada perasaan aneh di hatiku yang segera terjawab tak lama kemudian.

Ternyata lokasi pura yang 4 ini tidak ada yang jauh-jauh. Semua di Lombok barat. Yang memerlukan waktu agak lama hanya saat ke pura Batu Bolong. Tiga yang lain paling lama 15 menit waktu tempuh sudah tiba di lokasi. Jadi sekitar 10 menit dari rumah Ibu U tempat kami berkumpul saat berangkat, kami telah tiba di Narmada.

Dari informasi sekilas yang kudapatkan dari guide dadakanku ini, Narmada tadinya dikelola oleh keluarga keturunan raja (raja apa ya?) tetapi kini telah dikelola pemerintah daerah. Jadi meskipun masih digunakan untuk tempat persembahyangan, wilayah pura yang luas beserta kolam dan taman-tamannya ini menjadi objek wisata juga.


Karena tujuan perjalananku untuk tirta yatra, kami tidak lama berkeliling menikmati keindahan taman di sini. Kami langsung menuju tempat di mana mata air Narmada yang terkenal itu berada. Mata air awet muda: Tirta Amrta. Air Kehidupan Abadi. Kami sembahyang di pimpin pemangku setempat. Aku dan suami serta anakku menyempatkan cuci muka dan minum tirta amrta ini. Di sinilah Ibu E menyerahkan cincinnya kepadaku seperti pesan yang telah diterimanya. “Untuk keselamatan”, katanya. Saat menerima cincin itu aku teringat, saat acara pagi di Mayura juga ada seorang Bapak yang menyalamiku sambil komat kamit berdoa. Waktu itu aku merasa aneh, sekaligus merasakan niat baiknya. Jadi kubiarkan. Ah…sudah ada beberapa orang yang secara khusus mendoakan keselamatanku. Betapa perjalananku ini penuh berkah, bukan?


Selesai persembahyangan, kami segera menuju Suranadi, tempat dimana rencananya aku melaksanakan mandi suci. Mandi pebersihan. Karena memiliki pengalaman 3 tahun yang lalu di Tirta Empul, kali ini persiapanku lebih baik. Sekitar 10 menit perjalanan dari Narmada kami tiba di Suranadi. Aku langsung diajak menuju kolam pebersihan yang terletak di seberang pura Ulon/Gaduh. Ada 5 mata air di sini, dengan masing-masing fungsinya. Satu tirta pebersihan, tirta penglukatan, tirta pengentas, tirta tabah dan tirta yang biasa digunakan untuk prasadam /tirta wangsuh pada.(Aduh….moga-moga aku nggak salah ingat). Konon 5 mata air ini muncul dari ujung tongkat Dang Hyang Dwijendra atau di Lombok dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rawuh dalam kunjungannya yang kedua ke Lombok agar umat Hindu yang ditinggalkan dapat melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan.

Kolam tirta pebersihan terletak paling ujung dengan satu mata air yang sangat deras keluar dari pipa bermuara besar pulan. Kolamnya cukup luas. Kain-kain putih terbentang di jemur di batang-batang bambu. Memang, jika mandi di sini kita harus memakai kain putih. Aku segera bersiap membalut diri dengan kain putih. Suamiku juga bersiap. Ibu G yang akan memandu kami disini. Beliau sudah masuk air duluan dan mandi duluan, menunggu kami di dalam kolam.


Diputuskan aku yang masuk lebih dulu baru suamiku, jadi ada yang memegang Kavyaa. Pertama aku menjejakkan kaki ke dalam kolam, rasanya nafasku putus. Airnya ddiiiiinnnggiiinnnnn sekali. Seperti air es. Rasanya aku tidak sanggup meneruskan langkah. Tapi aku menguatkan hati dan memohon ijin agar aku diperbolehkan mendekat, dan berjalan menuju mulut pancuran. Saat aku rasa perjalananku yang hanya beberapa meter itu tetap terasa berat, aku sadar aku belum sepenuhnya ikhlas dan pasrah saat datang kesini. Banyak kondisi dan bayangan-bayangan yang kuciptakan dalam pikiranku sendiri berdasarkan pengalaman yang sebelumnya pernah kudapatkan di Tirta Empul. Jadi setelah menyadari hal itu, kubersihkan pikiranku dan kubuang segala macam pikiran yang berseliweran juga egoku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya untuk menghadap dengan segala kerendahan hati. Benar saja. Setelah itu langkahku menjadi lancar menuju mulut pancuran. Air yang semula terasa dingin menggigit dadaku dan menghimpit nafasku menjadi tertahankan. Aku tiba di mulut pancuran dan disuruh berdoa oleh Ibu G. Aku selalu blank jika disuruh berdoa dalam situasi seperti itu. Jadi aku berdoa sebisa-bisanya. Hanya berkah dan keselamatan yang kumohonkan. Aku disuruh mencelupkan kepala kedalam air sambil menghadap ke 4 penjuru. Ke-5 kalinya kembali ke posisi semula menghadap mulut pancuran. Terakhir Ibu G menyuruhku mendekati mulut pancuran dengan airnya yang deras itu dan menaruh kepalaku persis dibawah semburan airnya. Aku berpikir aku tak akan bisa. Tapi ternyata aku berhasil juga. Lega dan bahagia rasanya karena aku berhasil melakukan dan menyelesaikan mandiku ini. Aku segera kembali ke tepi kolam, karena sekarang suamiku lagi yang harus mandi. Aku akan menjaga Kavyaa. Bahkan sesungguhnya mandi di Suranadi ini lebih penting bagi suamiku daripada diriku sendiri. Ini sama pentingnya bagi diriku di Tirta Empul pada waktu itu dibanding suamiku. Perjalanan kali ini untuk dia.

Aku menunggu di tepi kolam sambil meyiramkan air kolam pada Kavyaa yang diam saja merasakan air dingin mengenai tubuhnya. Suamiku mengulang prosesi yang tadi sudah kujalani. Bedanya, ternyata Ibu G melihat kedatangan Budha lengkap dengan segala atiributnya di hadapan suamiku. Suamiku tentu saja tidak melihatnya. Hehehe…maklum kami ini memang buta tuli. Sampai sekarang penglihatan dan pendengaran kami belum tajam juga. “Perasaan” kami saja yang seringnya sudah betul. Hehehe….

Tentu saja kami lagi-lagi merasa terberkati. Jadi setelah suamiku keluar dari kolam, berganti pakaian lagi dan menuju pura Ulon untuk sembahyang, kami merasa lega. Bagian paling penting dari keseluruhan tirta yatra hari ini sudah selesai kami jalani. Persembahyangan di pura Ulon dipimpin oleh Pak U. Aku dibawakan tirta dan tirta penglukatan yang dicampur dalam 1 jirigen.



Perjalanan ke Suranadi ditutup dengan makan siang bersama. Ada tempat semacam terminal (atau itu memang terminal?) di sana. Aku tidak terlalu memperhatikan kemaren itu, dan tidak juga bertanya sebenarnya itu lokasi apa. Yang jelas di sana banyak yang berjualan sate, dodol nangka, stoberi dan dodol-dodol rasa yang lain. Dan salah satu yang ada di sana adalah warung pecel ini. Pecel kangkung kalau aku bilang, karena sayur utamanya kangkung. Kangkungnya lembut, tidak bikin kelolotan. Enak sekali. Terus terang 3 hari di Lombok, baru kali ini ada menu yang pas di lidahku. Tanpa daging dan banyak sayur. Hore…….

Begitulah, perjalanan ke Suranadi ditutup dengan makan siang sampai kenyang (porsi pecelnya banyak bo…) Jadi saat menuju Lingsar di mobil mataku setengah terkantuk-kantuk. Kebetulan menuju Lingsar juga lebih lama di banding perjalanan ke Narmada atau Suranadi. Tambah ngantuk deh. Apalagi kalau selama di perjalanan yang di bahas masalah agamaaaaaaa terus. Tambah ngantuk deh….;p

Dan sepertinya cerita tirta yatra berikut ini kuceritakan di part 2 aja ah…..hari sudah pagi, tugas harian telah menunggu ^-^

Friday, October 21, 2011

Lombok - Day 2

Acara hari ini adalah dharma tula dengan pns sekota Mataram paginya dan dengan anak-anak KMHDI dan pelajar sekolah menengah atas sekota Mataram sore harinya. Keduanya diadakan di tempat yang sama, yaitu Pura Mayura.

Hotelku tidak jauh letaknya dari pura, tapi lucu sekali, 5 hari kami di Mataram tidak juga aku kunjung hapal dengan jalan-jalan di kota Mataram. Padahal tiap hari yang dilalui ya jalan yang itu-itu saja. Bahkan suamiku yang biasanya punya kemampuan pemetaan yang lebih baik ternyata kesulitan juga mengingat jalan-jalan di kota ini.

Seperti biasa, yang menjadi masalah terbesarku adalah Kavyaa. Bagaimana ‘melarikannya’ selama aku mengisi acara ini. Sebelumnya, ada hal sepele yang menarik selama kedatanganku ke Mataram ini. Sewaktu aku tiba di BIL (Bandara Internasional Lombok –yang baru saja beroperasi per tanggal 1 Oktober 2011 menggantikan bandar udara Selaparang yang kini dikelola oleh AU), tiba-tiba cuaca berubah mendung. Waktu aku bertanya apakah sudah lama Lombok kekeringan karena kulihat dari atas pesawat lahan-lahan yang kering kerontang, mereka jawab ya memang sudah lama sekali tidak hujan. Jadi setengah bercanda mereka mengatakan kedatanganku membawa berkah karena cuaca berubah sejuk dan hujan gerimis turun.

Rupanya tidak sekedar gerimis. Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Aku tidak mendengar gemuruh hujan dari kamar hotelku. Tetapi pihak pengundangku betul-betul khawatir dengan hujan lebat ini hingga pagi-pagi sekali mereka sibuk mencari pawang hujan untuk meredakan hujan. Saat aku tiba di halaman pura Mayura pagi itu, langit sudah terang. Matahari bersinar cemerlang meskipun memang nampak bekas-bekas guyuran hujan di sana-sini. Aku yang belum tahu cerita kepanikan panitia santai-santai saja. Belakangan aku diberitahu bahwa panitia sempat panik dan khawatir jika hujan terus mengguyur maka tidak akan ada yang hadir. Karena itu mereka memanggil pawang hujan. Entahlah apakah pawangnya sempat betul-betul bekerja. Yang jelas pagi itu tidak hujan lagi. Dan seperti yang kusebut di atas, aku yang tidak tahu menahu hal itu, hanya sibuk mengkhawatirkan Kavyaa.

Waktu aku tiba, sekitar 20 menit kemudian acara segera dimulai. Kavyaa dilarikan suamiku, diajak main menjauh dari lokasi. Suara jeritan tangisnya terdengar sayup-sayup. Ah, ini bagian terberat dari tugasku yang harus kuhadapi setiap waktu. Aku tidak punya solusi jitu hingga hari ini. Ini adalah pilihan yang sulit tiap kali aku diundang untuk hadir dalam suatu acara. Apakah aku akan memenuhi undangan itu atau tidak?. Aku selalu bingung bagaimana Kavyaa nantinya di acara itu.


Jadi, kututup pendengaranku sementara dari suara tangis Kavyaa dan aku mencoba fokus pada hadirin di hadapanku. Yang hadir sekitar 150-200 orang. Wajah-wajah orang tua, para pegawai negeri. Aku memberikan materi sekitar 1 jam seperti biasa dan setelah itu sesi tanya jawab. Acara berlangsung cukup lama, karena sekali ini aku tidak dibatasi waktu. Biasanya Imtaq ini (di acara itu aku sempat menjelaskan tentang imtaq –iman dan taqwa-- dan apa bedanya dengan sraba –sraddha dan bakti—yang biasanya digunakan umat Hindu sebagai pengganti istilah itu) hanya berlangsung sekitar 1,5 jam tiap jumat pagi. Jadi seharusnya acara selesai jam 09.30. tapi nyatanya pagi itu acaraku baru selesai jam 11.00.

Hanya sekitar 5 orang yang meninggalkan tempat duduknya dan kembali ke kantor sebelum acara berakhir. Mereka yang mungkin tidak bisa datang terlambat untuk kembali ke kantor. Pertanyaan yang diajukan cukup beragam, cukup menarik. Sebenarnya yang membuatku tidak nyaman, --mungkin ini karena egoku—malah sikap Pak U, yang sejak awal mewanti-wanti ‘jenis’ pertanyaan apa yang boleh diajukan kepadaku. Seperti yang kukatakan tadi ini mungkin egoku, baru kali ini ada yang meragukan kemampuanku. Padahal aku lebih suka hadirin boleh bertanya apa saja, karena aku toh tidak malu jika harus menjawab ‘aku tidak tahu’ jika memang aku tidak tahu. Terlepas dari itu, acara berlangsung baik. Dan lagi-lagi ada bagian yang aku terharu sehingga menitikkan air mata saat berorasi. Hmmm…..

Selesai acara pagi itu, setelah foto-foto dan ngobrol sejenak dengan peserta, kami diajak makan siang di salah satu restoran Bali. Saat makan, kami bertemu lagi dengan salah satu peserta dari Praya, yang belakangan aku ketahui dia salah seorang pemangku di Praya, yang bertanya apa aku masih punya waktu bebas karena mereka ingin mengundangku ke Praya. Karena memang ada waktu luang 1 hari sebelum jadwal kepulanganku, aku iyakan saja waktu mereka minta aku bicara di Praya. Inilah sesi ke-4 yang kumaksud.

Setelah makan, kami diantar ke hotel karena harus kembali ke Mayura lagi sore harinya untuk sesi ke-2 dharma tula dengan pelajar.

Sore itu aku harus memakai pakaian adat, karena acara dilangsungkan di utama mandala. Untung aku bawa 2 stel kebaya untuk ke Lombok ini. Kami berangkat menuju pura jam 4 sore. Ternyata ada acara persembahyangan dulu di awal acara. Yang luar biasa itu yang hadir, banyak sekali. Mungkin hampir seribu orang. Wuih…..baru kali ini aku harus bicara di hadapan orang sebanyak itu. Tapi……sayang di sayang, lagi-lagi aku harus menghadapi situasi yang membuatku ill-tempered.

Tepat saat aku akan memulai bicara, keponakan Pak U yang sejak penjemputan kemaren sudah membuat eneg dengan ‘ceramahnya’ selama di perjalanan, duduk menghadapku dengan serius, dan berpesan ‘apa-apa saja yang harus kusampaikan dalam ceramahku kali ini, poin-poin penting apa yang harus kutekankan’. Wuih…..aku gusar bukan kepalang. Seandainya dia bisa membaca situasi, pasti dia bisa melihat perubahan air mukaku. Tapi, sepertinya tidak. Orang seperti itu mana bisa membaca situasi? Menyadari itu membuatku mual mendadak menahan amarah. Pertama, aku merasa dia sama sekali tidak kompeten untuk bisa menasehatiku seperti itu. Kedua, itu bukan urusannya sama sekali karena entah dia itu siapa dan apa posisinya dalam acara ini. Ketiga, kenapa bukan dia saja yang memberi ceramah kok ndadak pake ngundang aku segala yang harus datang dari jauh? Terus terang, waktu itu aku mendadak hilang selera untuk bicara. Tapi aku kan harus bicara? Jadi dengan menguat-nguatkan hati aku melangkah ke panggung sederhana yang sudah disiapkan.

Aku tahu tidak seharusnya aku terpengaruh seperti itu, tapi nyatanya aku terpengaruh. Emosi. Dua kali sudah aku dibikin ill-tempered oleh ponakannya Pak U ini. Belum lagi aku sudah harus menahan diri sepanjang waktu menghadapi Pak U suami istri, yang masih kuhormati hanya karena memandang usianya sehingga memang dalam posisinya untuk memberi nasehat dan karena aku adalah tamu mereka, Masalahnya kan seharusnya mereka lihat-lihat dulu, siapa yang seharusnya perlu diberi nasehat dan kapan memberi nasehat. Masak sepanjang waktu? Ah……

Aku sudah tahu aku tidak akan puas dengan acara sore ini karena aku punya perasaan tidak nyaman saat memulai. Jadi begitulah. Aku tidak tahu apa pendapat anak-anak itu mendengar ceramahku, yang pasti aku sendiri tidak puas dengan hasil yang kukerjakan. Beberapa kali aku menyindir orang-orang tua ini, tapi aku yakin mereka yang kusindir ini tidak ada yang sadar. Nyatanya hingga besok-besoknya tidak ada perubahan sama sekali. Aku juga sempat emosi dalam acara itu dengan ponakannya Pak U saat ada pertanyaan yang dia yakin aku akan terpojok. Tentu saja harapannya tidak berhasil. Dan karena aku tahu dia duduk di belakangku, aku sempat membalikkan badan dan langsung menjawab ke wajahnya. Not good…not good…. Lain kali aku harus lebih pandai mengendalikan emosiku.


Walaupun begitu, acara tetap berlangsung. Kavyaa yang tadi sempat dilarikan suamiku dan lagi-lagi menjerit keras, kembali ke pangkuanku saat sesi tanya jawab termin kedua. Aku merasa lebih santai saat Kavyaa sudah bersamaku lagi. Di penghujung acara, seperti biasa ada acara foto-foto. Juga ada penyerahan kenang-kenangan dari KMHDI. Dan karena sekali ini yang dihadapi ABG, acara foto-foto ini berlangsung seru dan lama. Ada acara penandatanganan buku juga. Meskipun yang ini sih acara dadakan. Malah ada yang sempat curhat sambil duduk di sampingku. Sepertinya acara foto-foto dan ngobrol dengan mereka ini berlangsung hampir sejam.

Dan sesi ini adalah sesi pelipur kegusaran hatiku. Aku berharap dalam hati, semoga ada yang cukup berharga yang akan mereka bawa pulang, mengingat tadi aku betul-betul ill-tempered saat dharma tula itu. Ada rasa sesal di hati, mengapa aku begitu cepat terpengaruh seperti itu. Setelah kurenungkan lama kemudian kesimpulanku adalah, sebenarnya aku marah tadi. Hmm….


Walau begitu, nyatanya satu hari telah berlalu lagi. Kami diajak makan malam. Kemudian di antar ke hotel karena besok pagi kami akan diajak tirta yatra. Ini dia acara utama yang kami tunggu-tunggu dalam kunjungan ke Lombok ini. Saat menjelang tidur malam itu, kami berusaha mendengarkan pesan Tuhan pada kami. Apa saja yang tidak boleh kami lewatkan dalam acara tirta yatra besok. Jadi dengan perasaan gembira membayangkan perjalanan besok, kami tidur nyenyak malam itu.

Wednesday, October 19, 2011

Lombok -- Day 1

Tanggal 6 Oktober yang lalu aku memulai perjalananku ke Mataram, ibukota propinsi Nusa Tenggara Barat yang terletak di pulau Lombok. Katanya, sebelumnya Mataram termasuk dalam wilayah Lombok Barat sebelum kemudian menjadi daerah kotamadya sendiri. Aku datang untuk memenuhi undangan dari Banjar PU (dinas PU) untuk dharma tula di sana. Meskipun merasa aneh, karena timbul pikiran seharusnya yang mengundang untuk acara semacam ini adalah PHDI, aku tetap memenuhi undangan tersebut. (Belakangan aku tahu bahwa PHDI malah jarang sekali menjadi penggagas acara-acara semacam ini ^-^)

Oleh pihak pengundang yang bekerja di dinas PU, aku telah diberitahu bahwa kehadiranku akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Karena sudah jauh-jauh datang, sayang kalau cuma tampil sekali. Masuk akal. Jadi dijadwalkan aku akan hadir dalam 3 acara –belakangan menjadi 4—dan 1 hari khusus untuk tirta yatra. Walhasil ditambah dengan lama perjalanan aku harus 5 hari berada di Lombok.

Aku sih senang-senang saja. Yang agak repot justru menyiapkan anak-anak –Pragyaa dan Chitta--yang harus kutinggal. Belum pernah aku harus meninggalkan mereka selama ini. Ditambah sebelumnya aku juga sudah setuju untuk hadir di Banjarmasin dalam acara bedah bukuku tanggal 17 Oktober. Hitung-hitung aku akan hanya punya 1 hari istirahat di rumah dan harus berangkat lagi. Tapi semua sudah diputuskan. Aku harus menjalaninya.

Aku sendiri excited dengan acara tirta yatra-nya yang juga telah dijadwalkan sejak awal dibanding tugas dharma tulanya sendiri. Secara spesifik bapak yang mengundangku ini menyampaikan pesan apa yang dia ingin kusampaikan dalam dharma tula ini, yaitu mengajak -orang untuk lebih mengenal dan mencintai agamanya sendiri, untuk membangkitkan ke-Hindu-an mereka agar tidak mudah berpaling ke tetangga. Permintaan ini lahir berdasarkan fakta bahwa di Lombok dalam setahun 2 orang pemuda akan menyeberang---pindah agama.

Beliau juga memberikan rincian siapa saja jenis audience yang harus kuhadapi dalam 3 sesi (belakangan menjadi 4) yang sudah direncanakan. Pertama audienceku adalah para PNS sekota Mataram, yang kedua adalah pelajar SMA dan mahasiswa se kota Mataram dan yang ketiga adalah warga banjar Sraya yang belakangan aku tahu adalah banjar yang paling ‘makmur’ di kota Mataram. (Sedangkan sesi keempat yang adalah jadwal dadakan yang ditambahkan saat aku baru selesai dengan sesi pertama adalah dengan warga Banjar di Praya, Lombok Tengah).

Jadilah aku harus berpikir bagaimana menyiapkan poin-poin penting yang harus kusampaikan dalam 3 kesempatan yang berbeda ini. Karena audience berbeda, gaya bahasa harus berbeda dan poin penting yang ditekankan juga berbeda.

Aku bingung. Seperti biasa. Suamiku cuma senyum-senyum. Enteng. Bikin jengkel.

Aku sadar kemudian, aku sudah tegang. Tidak rileks. Bagaimana bisa berpikir jernih jika tegang. Jadi setelah menyadarinya, aku berusaha rileks dan santai menghadapi ini dan ide-ideku kemudian mengalir keluar lebih mudah dari yang kubayangkan. Aku hanya perlu kertas selembar untuk menuliskan poin-poin penting untuk 3 sesi nanti. Dan aku sudah siap.

Tidak lupa aku memohon berkah dari Bapak Sivha dan Bapak Pelindungku Ganesha sebelum keberangkatanku. Juga dari para guruku lainnya, juga pada para tetua yang kuhormati yang selalu kuharapkan berkahnya.

Jadilah tanggal 6 itu, aku, suamiku dan bayiku Kavyaa berangkat ke Mataram. Kami meninggalkan rumah jam 9 pagi dan tiba di Mataram jam setengah 7 malam. Seluruh waktu itu dihabiskan di mobil dari Samarinda ke Balikpapan, di pesawat dengan transit sejenak di Surabaya, plus harus mengalami delay yang kini adalah hal yang lumrah terjadi pada penerbangan di Indonesia.

Kedatangan kami disambut oleh Bapak dan Ibu U katakan saja begitu, yang aku tidak jelas posisinya hingga akhir karena hanya menjelang keberangkatanku ke Mataram barulah beliau mulai menghubungiku, beserta seorang supir yang masih keponakan Pak U dan seorang Ibu yang bekerja di PU, jadi adalah anggota banjar PU. Belakangan barulah aku tahu kalau ibu ini justru adalah panitia resminya. Sedangkan Pak U seperti yang kukatakan tadi posisinya tidak jelas sampai aku meninggalkan Mataram, meskipun sebagian besar waktuku dihabiskan bersamanya.

Dalam perjalanan menuju hotel—atau paling tidak kukira begitu, aku sudah mulai merasa hal yang tidak nyaman. Bapak dan Ibu U ini terus bicara tentang agama. Ponakannya juga ikut-ikutan. Yang tidak menyenangkan itu mungkin karena aku merasa digurui. Terutama ponakannya itu, yang terasa sekali senang ngoceh, tapi ndak bisa ngukur lawan. Heeehhhh…

Terus terang aku sudah lelah malam itu, dan terutama aku khawatir pada anakku Kavyaa yang telah kelelahan menempuh perjalanan seharian. Tetapi harapanku untuk segera di antar ke hotel ternyata sia-sia. Karena aku diajak singgah dulu ke rumah Pak U. Rupanya beliau ingin aku melihat kamar sucinya. Dan setelah melihat kamar sucinya aku tahu beliau adalah pengikut Sai Baba.

Yang fanatik.

Sampai aku menulis ini aku masih tidak paham maksud beliau memperlihatkan kamar sucinya ini padaku. Apakah maksudnya supaya aku tertarik dengan Sai Baba atau apa lagi tujuan lainnya yang mungkin? Aku heran saja jika benar demikian. Baru saja bertemu, belum kenal baik, kok sudah seperti ini? Tapi sudahlah. Aku sebenarnya di Samarinda pun banyak punya teman yang pengikut Sai Baba. Tapi hingga kini tidak ada getar hatiku ingin menjadi pengikutnya. Jadi bagaimanapun hebohnya malam itu aku diperlihatkan bahwa mereka telah mengalami berbagai keajaiban, aku mendengarkan begitu saja sambil berharap bisa segera ke hotel.

Tapi harapanku sia-sia. Kami malah diajak ngobrol sejenak, dan aku harus bertemu dengan moderatorku untuk acara besoknya. Bagian bertemu dengan moderator ini masih oke. Tapi kemudian beberapa anggota KMHDI juga datang bergabung. Wa……aku mulai cemas. Kavyaa yang tadinya sudah terkantuk-kantuk, matanya berat hampir menutup jadi segar lagi. Dan terakhir daripada dia teriak-teriak kubiarkan dia mainan buah jeruk sampai mengotori seluruh pakaiannya.

Terus terang sebenarnya bagian penting dari bincang-bincang ini tidaklah lama. Bumbunya yang terlalu banyak. Dan aku mulai jenuh dengan Pak U ini yang tidak hentinya bicara. Belakangan kejenuhanku memuncak. Bagaimana tidak. Aku seolah anak kemaren sore yang tidak tahu apa-apa. Sepertinya dari pagi hingga menutup mata di malam hari yang dibincangkan agamaaaaaaaaaaaaaaaaaa terus. Dan ‘lagu’nya itu lho yang tidak menarik. Seolah kita sedang mendengarkan ceramah agama. Aduh, capek deh. Parahnya lagi, yang disampaikan itu bukannya aku tidak tahu. Duh Gusti..paringana sugih!

Akhirnya menjelang jam 10 malam itu aku berhasil pulang ke hotel. Ibu dari dinas PU—sebut saja ibu I-- datang menjemput dan mengantar kami ke hotel. Aku lega bukan kepalang. Sesungguhnya waktu itu aku cemas dengan rangkaian acara di hari-hari mendatang yang harus kulalui. Bukan karena aku tidak siap. Tapi aku punya bayi yang tidak bisa diduga apakah pada hari-H dia mau bekerja sama atau tidak. Apalagi kalau dia lelah seperti ini. Khawatirku dua kali lipat.

Sampai di hotel, kami segera membersihkan diri dan istirahat. Untunglah hotelnya nyaman. Feels like home. Kavyaa segar sekali matanya, karena saat ngantuknya sudah dihabiskan di rumah Pak U tadi. Walhasil aku dan suamiku jatur tertidur duluan sementara Kavyaa masih mainan. Kurasa dia tidur juga akhirnya setelah melihat kami berdua tidak ada reaksi di ajak bermain.

Di hari pertama ini sebenarnya aku sudah mulai merasa exhausted menghadapi Bp dan Ibu U beserta ponakannya. Tetapi ternyata itu belum apa-apa. Karena kejadian-kejadian di hari-hari berikutnya betul-betul menghabiskan tenaga dan kesabaranku. Tapi yang kuingat malam itu adalah aku harus mengumpulkan tenaga untuk menghadapi acara keesokan paginya (*)

Sunday, October 2, 2011

Bedah Buku di Pesamuhan Madya Kaltim



Tanggal 30 September hingga 2 Oktober PHDI Propinsi Kalimantan Timur mengadakan Pesamuhan Madya. Bertempat di Aula Bapelkes Kalimantan Timur Jalan Anggur Samarinda. Pesamuhan Madya ini diselenggarakan untuk persiapan menyambut Mahasabha yang akan dilangsukan di Bali bulan Oktober ini. Aku tidak punya urusan dengan Pesamuhan Madya, tetapi panitia Pesamuhan memintaku untuk mengisi waktu sela pada hari pembukaan dengan bedah buku ‘Perjalananku Menjadi Hindu’.

Semula aku enggan. Bukan karena apa. Bingung saja. Pesamuhan ini kan pertemuan para pengurus PHDI tingkat kabupaten/kota se-Kalimantan Timur. Mau ngomong apa aku disana? Tapi aku diyakinkan dan diminta berkisah saja tentang isi bukuku. Jadi akhirnya permintaannya kupenuhi.

Tetapi ternyata lagi-lagi ada kejadian yang bikin aku ill-tempered. Seperti yang pernah kualami sebelumnya, menjelang hari-H aku diingatkan untuk berhati-hati bicara, untuk tidak menyebut-nyebut agama tertentu. Hedeh..hedeh…hedeh ……capek deh……aku harus mengurut dada. Duh Gusti…paringana sugih….!

Semula aku berniat mundur saja. Aku merasa tidak senang jika harus dibatasi. Lagipula ini kan forum Hindu sendiri, yang seharusnya aku bebas bicara apa saja. Aku kan tidak bicara di forum umum, dengan audience umum. Ini audience tertutup. Tapi masih saja aku dapat “pesanan” seperti itu.

Jadi aku sempat bimbang apakah akan meneruskan bicara atau mundur saja. Tetapi pihak panitia mengatakan agar aku tetap hadir di acara itu dan bicara saja apapun yang ingin disampaikan . tetapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku sudah ill-tempered. Annoyed.

Akhirnya acara tetap berlangsung. Aku bersikap defensif dengan cara mengajukan dasar-dasar alasan hingga aku memutuskan menulis buku itu saat membuka pembicaraan. Untuk menutup kemungkinan keberatan lebih lanjut. Aku berhasil. Tidak ada interupsi. Tetapi aneh sekali, tiap menyebut agama tertentu, otomatis suaraku menjadi lebih rendah. Hahahaha……defensif sih defensif….annoyed sih annooyed. Tapai ternyata bawah sadarku tetap menyesuaikan dengan keadaan. Lucu sekali….

Dan karena dasarnya sudah ill-tempered duluan, meskipun bisa dikatakan acaraku cukup sukses, tapi aku sendiri merasa tidak puas.

Dalam waktu dekat aku akan mengisi acara di tempat lain. Semoga bisa berlangsung dalam situasi dan kondisi yang lebih baik dan lebih mendukung. Supaya aku bisa bercerita di sini dengan penuh semangat. Wooohoooo…….

I am happy, anyway. So…be happy. And share your happiness to others.

Buku Keduaku Telah Terbit


Oh senangnya…!!! Setelah menunggu lebih kurang 3 bulan, akhirnya buku keduaku naik cetak dan terbit tgl 21 September yang lalu. Beberapa minggu sebelum naik cetak, aku diinformasikan oleh pihak sirkulasi penerbit Media Hindu bahwa bukuku akan dicetak. Aku senang mendengarnya, dan mulai membayang-bayangkan cover bukunya. Aku senang dengan disain cover buku-buku dari MH. Makanya cover bukuku juga kutunggu-tunggu bentuk rupanya. Suamiku bertaruh warnanya hijau. (Ternyata dia salah! ^-^ )
Aku sendiri tidak ingin bertaruh. Aku lebih suka menunggu saja. Dan ternyata covernya bagus sekali. Paling tidak menurutku. Lebih elegan daripada buku yang pertama. Foto kembang yang dipilih pun kok ya kebetulan kembang wingit. Huahahaha…….aku senang. Terima kasih kepada Bapak Ketut Rudita Marta. Disain covernya selalu bagus. Selalu pas. Dan selalu sesuai seleraku :p

Aku menulis buku keduaku itu selama lebih kurang 3 minggu di tambah 1 minggu istirahat ditengah-tengah penulisan karena exhausted. Kehabisan tenaga. Jadi total 4 minggu. Mulai tanggal 10 Mei sampai 10 Juni 2011. Menulis sampai exhausted? Iya. Itu aku alami dan kutuliskan juga dalam pengantar buku itu. Aku kehabisan tenaga seperti itu terutama saat menulis bagian 9. Mungkin orang tidak akan percaya dengan hal semacam ini dan mencari alasan-alasan logis lainnya. Bagiku alasannya jelas. Di situ aku bercerita tentang perjalanan spiritual menuju puncak yang belum sepenuhnya ku alami sendiri. ‘Pengalamanku’ masih kurang. Masih jauuuuhhhhhh dari sempurna. Sehingga aku kesulitan menuliskannya. Hanya karena berkah Tuhan sajalah yang membuat aku mampu menyelesaikannya juga pada akhirnya.

Begitu selesai langsung kukirim ke penerbit, dan sekitar 2 hari kemudian langsung dijawab bahwa bukuku akan diterbitkan tetapi harus menunggu jadwat terbit. Buku pertamaku –Perjalananku Menjadi Hindu—telah banyak menggeser jadwal terbit buku lainnya, jadi yang sekali ini aku harus menunggu. Buatku sendiri tidak masalah. Aku sudah senang dan bahagia bahwa penerbit MH tetap menilai buku keduaku ini layak terbit. Itu sudah cukup. Aku bisa sabar menunggu.

Ada perbedaan besar antara buku pertama dan kedua. Perbedaan rasa. Buku pertama sepenuhnya mengisahkan pengalaman hidupku. Buku kedua tidak hanya mengisahkan pengalaman, tetapi juga menuliskan pengetahuan. Hmmm….ternyata aku lebih suka berkisah tentang pengalaman –(yaitu) pengetahuan yang juga sudah kualami sendiri-- daripada pengetahuan saja nil pengalaman. Hanya sedikit bagian yang belum kualami sendiri yang kutuliskan di buku kedua, dan aku sudah exhausted. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku ngotot menuliskan hal-hal yang hanya kuketahui saja, mungkin rambutku kaku berdiri, atau aku malah tidak bisa bangun lagi. Wakwakakwwkwkwk…(Kini aku tahu penyebab aku sampai exhausted. Karena memang memerlukan energi yang besar untuk menuliskan Kebenaran. Tidak hanya energi yang besar, tapi juga kesucian diri. Jika diri tidak suci, Kebenaran tidak bisa melewati diri kita. Artinya, waktu aku menulis buku itu aku belum suci-suci amat dan energiku masih kecil. Hehehe...)

Aku sepenuhnya sadar bahwa pencapaianku hingga hari ini adalah hasil usahaku dan sejumput berkah Tuhan. Sejumput berkah yang sangat menentukan. Sejumput berkah yang selalu kusyukuri. Sejumput berkah yang kuharap bisa tersebar dinikmati oleh semua orang, semua makhluk.

Di atas semua itu, kembali di sini, aku berharap bahwa buku keduaku ini tetap dapat memberi inspirasi dan manfaat bagi semua orang yang membacanya dan memberi nuansa baru dalam dunia perbukuan Hindu di Indonesia. (Ah…..muluk banget kali ye…..qiqiqiiqi…..).

Terima kasih Bappa Ganesha
Terima kasih Guruji

Ah….Aku sedang bahagia. Semoga siapa saja yang membaca tulisan ini berbahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.