Friday, September 2, 2011

Shri Sai Satcharita


Buku ini ditulis oleh Anand Krishna yang memakai nama samaran Sai Das (Hamba Tuhan) di sini. Aku sudah mengetahui buku ini terbit mungkin sejak hampir 3 tahun yang lalu. Sejak aku baru berhenti kerja. Dengan alasan itu pula, karena buku ini harganya tidak murah aku belum-belum juga membelinya. Bersama beberapa buah buku lain dari Anand Krishna (yang harganya juga tidak murah) buku ini termasuk dalam daftar Must Have Books-ku.

Kemudian karena menjadi ibu rumah tangga saja yang direpotkan oleh kehadiran seorang bayi, ditambah kesibukanku ‘belajar’ karena waktu ini juga bersamaan dengan saat-saat aku baru pulang ke ‘rumah’ku, buku-buku ini terlupakan. Sejujurnya aku memang menghindari memantau buku-buku yang baru terbit seperti kebiasaanku dulu. Karena dengan kondisi keuanganku saat ini, membeli buku masih termasuk sebuah kemewahan. Jadi kupenuhi paling akhir, bila memang kondisi keuanganku sedang sedikit berlimpah. Dan karena daftar Must Have Books-nya panjang, jadinya yang kubeli yang harganya ‘lebih terjangkau’ dulu. :)

Untungnya kebutuhan membacaku selama ini tetap terpenuhi karena setiap tahun sekali, Bimas Hindu mendapat kiriman buku-buku, dan aku termasuk orang pertama yang membongkar paket itu dan mendapat masing-masing 1 judul. Apapun judulnya. Apapun yang dibahas pasti kubaca. Meskipun setiap kali aku bisa mendapat 15-20 buku, tetap saja ada masa-masa aku tidak punya stok buku untuk dibaca. Jadinya bahkan modul sisa perkuliahan untuk sarjana agama saja kubaca juga, kalau sudah kehabisan buku. :)

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman menawarkan untuk meminjamkan sebuah buku yang bagus sekali, katanya. Tetapi buku ini ada aturan membacanya. Pokoknya dalam 1 minggu harus selesai. Aku mengerenyit. “Buku apa pula ini? Kok pake aturan-aturan segala?” Tapi aku diam saja. Dan namanya ditawari buku, aku langsung mengiyakan saja, tidak berpikir dua kali.

Tapi ternyata perlu mungkin hampir 3 bulan kemudian barulah aku benar-benar dipinjami buku ini. Setelah melihat bukunya, barulah aku sadar ternyata ini adalah buku yang memang mau kubeli. Aku senang saja dipinjami dulu. Temanku mengingatkan ada cara membacanya di bagian belakang buku. Aku iyakan saja. Setelah dia pulang –dia mengantarkan bukunya hari Selasa pagi—aku cek bagian belakang buku. Ternyata tidak ada petunjuk apa-apa. Jadi buku langsung kutaruh saja di rak meja sembahyangku. Ada terbersit rasa heran dihatiku, kenapa aku tidak segera duduk membacanya. Bukankah ini buku yang sudah bertahun-tahun ini ingin kubaca? Sekarang sudah ada di tangan malah kutaruh begitu saja. Tapi hatiku tidak ingin membacanya waktu itu.

Besoknya hari Rabu saat duduk sarapan bersama suamiku aku sempat menyatakan keherananku dengan diriku sendiri. Bukan kebiasaanku menaruh buku baru begitu saja, apalagi itu buku yang benar-benar ingin kubaca sejak lama. Tapi aku memang tidak ingin. Jadi heran tinggal heran. Kami tidak membahas panjang lebar. Suamiku seperti biasa hanya mengingatkanku untuk mengikuti kata hatiku. Saat suamiku sudah beranjak dari hadapanku, aku masih termenung-menung tanpa jawaban memikirkan ‘keanehan’ diriku sendiri.

Besoknya, Kamis jam 4 dinihari. Aku baru selesai sadhana dan meletakkan mala-ku di atas meja sembahyang. Aku berdiri sejenak, dan tiba-tiba tanganku terulur mengambil buku itu. Hatiku masih heran dan kepalaku mengingatkan,”Lho kok mau baca sekarang? Bukannya belum mau baca?”

Toh, buku tetap kuambil, lalu aku melangkah balik ke kamar. Duduk di atas ranjang dan mulai membuka lembar demi lembar. Saat itulah aku sadar. Saat membaca kalimat-kalimat itu muncul rasa haru dan bahagia. Air mataku hampir terbit. Di situ tertulis, bahwa membaca buku ini sebaiknya dimulai pada hari SadGuru, yaitu hari Kamis. Anand Krishna yang menterjemahkan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia memulai membacanya pada hari Kamis dan mengakhirinya seminggu kemudian. Itulah sebenarnya aturan membaca yang dimaksud temanku sebelumnya. Yang membuatku terharu dan bahagia? Tentu saja. Entah untuk yang keberapa kalinya, aku telah dituntun. Tanpa mengetahui atau diberi tahu sebelumnya, aku mulai membaca buku ini tepat seperti seharusnya. Hari Kamis.

Dan seperti yang temanku katakan, buku ini memang bagus. Bagiku buku ini berbicara banyak. Dan mungkin menegaskan satu hal kepadaku. Satu hal yang aku sudah tahu sejak lama, dan selama inipun sudah kuakui juga. Anand Krishna adalah guruku. Ku yakini atau tidak. Dia akui atau tidak. Dan aku juga mulai menyadari tentang lineage guru. Shri Shirdi Sai Baba adalah Guruku juga. Dan yang paling ujung, Babaji. Ah…
Aku menyadari hal ini pada hari kedua – hari Jumat.

Kemudian aku sempat putus membaca 2 hari. Sabtu dan Minggu aku tidak sempat membaca. Aku terlampau sibuk dan terlampau capek.
Senin dinihari, aku membaca lagi. Sekali ini aku punya waktu panjang. Jadi aku membaca lebih banyak bab. Dan sudah hampir berpikir, “Ah tidak ada apa-apa. Mungkin aku membaca terlalu banyak, hingga tidak ada yang meresap di kepala”.

Tiba-tiba saat tiba di satu baris --tentang guru, aku berhenti. Aku duduk bersandar di dinding belakangku dan memejamkan mata. Kemudian di kepalaku terbayang adegan, aku berkunjung ke Anand Ashram. Bapak Anand Krishna duduk di sana. Aku masuk dan melihatnya dari jauh dan langsung berurai air mata. Rasa hatiku tidak dapat kulukiskan. Mungkin semua rasa, haru campur bahagia dan entah perasaan apa lagi. Melihatku menangis, Bapak membuka tangannya dan tersenyum. Aku mendekat, masih menangis, dan menjatuhkan diri di kakinya. Kusapukan debu kakinya ke kepalaku. Bapak menarikku berdiri. Senyum masih tersungging dibibirnya. Sambil tetap berlinang air mata, aku berusaha tersenyum juga. Kemudian seperti seorang bapak yang berusaha menenangkan anaknya, Bapak mengusap-usap punggungku agar aku berhenti menangis. Dan aku tambah menangis! Aku tidak kuat lagi. Aku memelukNya. Dan aku menangis sepuas-puasnya di pelukanNya.

Saat aku bisa melepaskan diri, air mataku belum lagi berhenti. Aku terkejut. Refleks mataku melirik ke jam dinding yang tergantung di hadapanku. Jam 5.15. aku ingat saat aku menyandarkan punggungku tadi jam 5 tepat. Jadi sudah 15 menit aku menangis. Aku bingung dengan keadaanku. Emosiku kuat sekali. Bayanganku juga kuat sekali. Tidak biasanya seperti ini. Aku sering mengkhayal. Jadi aku ragu. Jangan-jangan ini khayalanku juga. Jadi aku teruskan membaca. Dan bunyinya seperti ini:

“Perumpamaan para murid, seperti burung merpati yang terbang tinggi, bisa pergi jauh—tapi, tetap kembali ke orang yang memelihara mereka. Mereka dapat mendengar ‘getaran’ panggilan orang itu. Sekali ‘terpanggil’, dimanapun mereka, mereka pasti kembali. Hendaknya seperti itulah hubungan antara murid dan guru”.

Dan aku menangis lagi. Hatiku berkata,” Akulah merpati itu. Anand Krishna adalah guruku. Aku meninggalkannya beberapa tahun ini. Kini waktunya aku kembali”. (Belakangan aku sadar, yang kulihat sebagai Anand Krishna itu sebenarnya adalah Babaji, guruku pada kehidupanku yang lalu. Guruku yang sesungguhnya. Dialah yang telah menuntunku selama ini, sejak aku mulai berjalan di jalan Dharma).

Tetapi ini hanyalah perasaan hatiku. Aku tidak tahu. Semoga aku selalu dituntun.

Jam 6 pagi dengan mata masih bengkak bekas menangis, aku bilang pada suamiku. Aku ingin memasang foto Anand Krishna lagi. (Beberapa tahun yang lalu, aku sudah memasang fotonya. Fotonya juga kupasang di meja kerjaku. Tapi aku juga sempat ‘mengembara’ selama beberapa tahun dan mengabaikanNya. Kini aku kembali). Seperti biasa suamiku selalu mendukungku.

Setelah menghubungi seorang teman lagi (kalau yang ini memang murid Bapak :D) dan dia berbaik hati mengirim foto Bapak, Shirdi Sai Baba dan Babaji, sekali ini aku sungguh-sungguh menyiapkan sebuah altar Guru untuk mereka.

Setengah mendesak suamiku (mana sanggup aku menggeser-geser meja dan lemari seorang diri), aku—kami--menyiapkan sacred room di rumah kami. Niat ini sudah lama ada, tapi tidak pernah terealisasi dengan alasan” rumahnya memang sulit ditata”. Kini, tidak ada lagi alasan menunda. Ditambah lagi, tinggal menunggu waktu saja, temanku-saudaraku yang ada di Bali, mengirimiku patung Ganesha setelah tahu aku juga seorang pemuja Ganesha --Bapak Pelindungku, Bapak Penuntunku dan Guruku. Aku harus menyiapkan tempat untuk kedatanganNya.

(Omong-omong tentang temanku yang dari Bali, yang sudah seperti saudara ini, dia ini seolah dikirim Tuhan untuk membantuku dalam mempersiapkan upakara. Dia dikirim untuk membantuku mengenali “rumah baru”ku dengan nyaman. Dia menghadiahiku patung Siwa, dan yang akan datang ini, patung Ganesha. Dia membantuku dalam banyak hal, termasuk menyemangati saat aku takut dan bingung dalam “rumah baru”ku ini. Dia bahkan terus menantikan kedatanganku ke Bali, dan menjanjikan akan membawaku tirta yatra ke tempat-tempat suci, persis seperti tempat-tempat yang rencananya ingin kukunjungi. Aku telah punya janji yang sama. Semoga ada jalan untukku memenuhinya. Dan semoga kesejahteraan selalu dilimpahkan Tuhan pada temanku ini dan keluarganya)

Hanya dalam waktu 2 hari –aku sudah menyelesaikan membaca buku tepat pada waktunya, yaitu hari Rabu dinihari—Rabu dan Kamis sore selesailah sacred room kami ditata. Tinggal merapikan sedikit-sedikit. Aku puas sekali. Dan tiba-tiba aku tidak sabar menunggu patung Ganesha-ku datang. :)

Tapi.

Ada sedikit cerita. Semula aku berniat memasang foto Bapak (Anand Krishna), Shri Shirdi Sai Baba dan Babaji. Tetapi aku tidak berani memasang foto Babaji. Aku selalu takut dengan ekspresi Babaji. Masalahnya foto/gambarnya yang ada hanya yang itu. Setelah kutaruh fotonya di altar, aku merasa kemana aku bergerak mataNya selalu mengarah kepadaku. Aku merasa energiNya besar sekali di sekelilingku. Aku agak takut. Kutinggalkan sacred room kami. Aku bercerita pada suamiku. Suamiku cuma bilang, “Iya matanya hidup”. (Belakangan aku juga tahu penjelasannya. Aku pernah melakukan kesalahan pada Babaji, pada Guruku ini dan belum mohon pengampunannya sampai akhir hidupku. Aku adalah muridnya. Hubungan guru-murid tidak terputus hanya karena kematian. Saat Babaji memanggilku lagi, rasa bersalahku mengikutiku).

Tapi menurutku lebih dari itu. Aku bilang padanya, kalau sekarang kamarnya terasa wingit. Mulanya dia tidak percaya. Malamnya, atau tepatnya dini hari menjelang kami latihan, barulah dia mengatakan,”Iya, kamarnya wingit” sambil tersenyum.

Aku ragu. Tapi aku takut. Energi buruk membuatku takut. Tapi dari pengalamanku sebelumnya, energi baikpun bila besar sekali, juga membuatku takut. Aku belum siap.

Jadi akhirnya sebelum memulai latihan kami, kusimpan lagi fotonya. Bagaimana aku bisa tenang latihan, kalau ada perasaan takut dan terus diperhatikan menyelimuti. Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, saat kami masih sering meditasi bersama dengan kelompok kecil kami dulu, Babaji pernah berkunjung. Yang melihatNya teman kami. Dia mendiskripsikan apa yang dia lihat, kemudian saat kami beri foto Babaji dia langung mengatakan, ya itulah yang dia lihat tadi. Jadi kenapa sekarang aku malah takut?

Ah, ….aku harus bertanya tentang hal ini pada mereka yang lebih tahu. Mengapa aku merasakan hal seperti ini? Aku jadi bingung.

Semoga ada jawaban yang akan datang kepadaku. Aku yakin akan ada jawaban. Sementara ini aku puas dengan sacred room kami. (Jawabannya datang beberapa waktu kemudian. Aku hanya perlu mohon pengampunan dari guruku, dari Babaji. Dia langsung mengampuni pada saat pertama aku memohon padanya. Kini gambarnya terpasang di altar guruku. Hanya gambarnya dan Patung Shiva, Guru Deva-ku).

1 September 2011 ini adalah hari istimewa. Ini adalah hari ulang tahun Bapak. Yang juga ditetapkan sebagai hari Bhakti bagi Ibu Periwi. Ini juga hari Ganesh Chaturti. Aku baru membaca kisah/sejarah tentang Ganesh Chaturti. Dan aku bahagia sekali bahwa dengan kemampuan yang ada padaku, aku juga bisa merayakannya. Hahaha….hehehe…….pesta sendiri.

Aku tak tahu banyak tentang ritual, tentang tradisi. Aku hanya punya niat dan hati yang tulus untuk melakukan semua yang kulakukan. Semoga Tuhan menerima persembahanku.

Om Jai Ganesh Deva
Om Jai Gurudev
Vande Mataram

No comments: