Tuesday, September 13, 2011

Pelajaran dari Balikpapan

Hari Minggu tanggal 11 September yang lalu aku menghadiri undangan dari PHDI Balikpapan untuk mengisi acara dharma tula di sana. Tentunya berkaitan dengan buku yang kutulis. Semula acara itu digagas oleh WHDI Kota Balikpapan, tapi entah bagaimana kemudian diambil alih dan menjadi acara PHDI Kota Balikpapan.

Perubahan siapa yang menjadi penyelenggara tidak mempengaruhi acara dharma tula yang sedianya akan dilaksanakan. Mungkin yang berubah adalah audience-nya. Sebelumnya kuperkirakan yang hadir adalah para ibu anggota WHDI, kini audience-nya terdiri dari berbagai lapisan--bapak, ibu, remaja dan anak-anak, karena acara ini sekaligus digabung dengan arisan bersama sebulan sekali (arisan suka duka).

Mengetahui ada anak-anak yang ikut hadir aku merasa agak skeptis karena materiku kurasa terlalu berat untuk mereka. Mungkin. (Belakangan aku terkejut karena meskipun kehadiran mereka dengan keributan yang mereka timbulkan sedikit mengganggu konsentrasiku, tapi ada juga satu di antara sekian banyak anak itu yang ikut mengajukan pertanyaan kepadaku).

Dari jumlah keseluruhan yang hadir dari berbagai tingkat umur itu bisa dikatakan audience-ku banyak. Tapi sampai aku kembali ke Samarinda aku tidak yakin berapa dari mereka yang sungguh-sungguh mendengarkan dan tertarik dengan apa yang kusampaikan.

Karena meskipun ketua PHDI Kota Balikpapan dalam pengantarnya menyampaikan harapan semoga apa yang akan kusampaikan akan dapat membangkitkan rasa kebanggaan pada ke-Hinduan terutama bagi generasi muda, tetapi saat penyampaian materi ada sedikit gangguan yang kurasakan karena tiba-tiba ditengah penyampaian materi aku disela karena ada ‘pesanan’ agar aku berhati-hati dengan tidak secara spesifik menyebut agama tertentu.

Aduh. Aku berharap kelebatan rasa marah dan kecewa di dalam hatiku tidak sampai muncul ke permukaan. Dalam sepersekian detik itu ada keinginan untuk menghentikan seketika apa yang tengah kulakukan. Untung aku berhasil menguasai diri. Masih dengan rasa kecewa yang menyelinap di hati aku menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan, lebih cepat dari yang seharusnya. Banyak kisah yang ku-skip. Banyak hal yang ingin kusampaikan urung kusampaikan. Mood-ku lenyap seketika. Sebenarnya aku masih sanggup menyelesaikan materiku saja, sudah luar biasa.

Kenapa?


Karena aslinya aku pemarah. Dan aku paling tidak tahan dengan sikap seperti ini. Ketakutan yang tidak jelas. Rasa tidak percaya diri. Inilah justru yang tengah kuperjuangkan untuk kuhapuskan dari bawah sadar seluruh umat Hindu. Oh Tuhan….beri aku kekuatan.

Pun begitu, aku bersyukur, dengan mengabaikan interupsi itu, acara bisa dikatakan berjalan lancar. Aku menyampaikan materi tidak sampai 1 jam kelihatannya. Sedangkan pada sesi tanya jawab meskipun agak tersendat karena sepertinya tidak ada yang ingin bertanya, berlangsung sekitar 1 jam. Sedikit hiburan yang kurasakan setelah disiram rasa kecewa adalah pada saat selesai acara, beberapa bapak, ibu, remaja bahkan anak-anak datang dan bersalaman sekaligus mengucapkan terima kasih padaku. Aku tahu, mereka adalah sedikit yang mendengarkanku sungguh-sungguh. Cukup sudah bagiku sebagai pengobat hati.

Dan setelah makan siang bersama beberapa pejabat PHDI Kota Balikpapan yang hanya 2 orang yang aku ingat namanya dengan baik, kami –aku, ketua WHDI Propinsi Kaltim yang menemaniku ke Balikpapan, Bendahara PHDI Propinsi Kaltim yang selama ini selalu menjadi suporterku yang penuh semangat serta suami dan anakku Kavyaa—segera kembali ke Samarinda.

Tetapi sayang, diperjalanan kekecewaanku malah berlipat ganda, karena ibu ketua WHDI yang menemaniku ini menyampaikan pesan dari Ratu Peranda, pesan yang sama dengan yang kuterima di tengah penyampaian materiku tadi. Aku mengangguk-angguk saja mendengarkan. Tetapi di dalam hati aku menjerit. Jika Beliau juga berpikir seperti ini, apa yang ada di pikiran umat. Sementara, pastinya kata-kata dari seorang Peranda didengarkan dan diikuti oleh umat. Pantas saja, secara umum umat Hindu begitu toleran (baca: penakut) dan sangat tidak percaya diri saat berhadapan dengan umat lain. Duh Gusti!!!

Hingga tiba di rumah, aku masih merasakan kekecewaan itu. Kecewa karena aku merasa tidak mendapat dukungan justru dari mereka yang amat sangat kuharap dukungannya.

Kecewa tinggal kecewa. Senin dini hari selesai aku melakukan sadhana-ku aku mengadu pada Bappa Ganesha dan menyerahkan diriku pada-Nya. Aku menangis. Tapi segera aku menyadari. Aku hanyalah alat ditangan-Nya. Aku tidak punya kekuasaan apapun, tidak punya kekuatan apapun tanpa kehendak-Nya. Pastilah ada maksud dari segala kejadian ini. Aku menunggu untuk diriku mampu memahami artinya. Dan kekecewaan di hatiku berangsur lenyap. Dan sungguh-sungguh lenyap saat besok siangnya, Senin sekitar jam 2, aku mendapat telpon dari Balikpapan lagi.

Dari seorang Bapak.

Dia memulai percakapannya dengan memohon maaf atas kejadian aku ‘disela’ kemarin, menyayangkan hal itu dan menyatakan bahwa banyak teman-teman di Balikpapan yang justru merasakan banyak manfaat dengan mengetahui informasi yang kusampaikan. Bahwa apa yang kusampaikan membuka hati dan pikiran mereka tentang keadaan di dunia ‘luar’. Dan mereka menyatakan mereka mendukung apa yang tengah kulakukan. Apa yang tengah kuperjuangkan.

Oh Tuhan…..apalagi yang harus kukatakan. Kau selalu punya rencana tersembunyi yang selalu tak mampu kupahami. Berilah aku kebijaksanaan untuk memahaminya agar aku tidak salah memilih, tidak salah memilah, tidak salah melangkah.

Hatiku sangat terhibur mendengar apa yang dia sampaikan. Semangatku kembali bangkit. Dia juga mengatakan beberapa hal yang sebaiknya tidak kutuliskan di sini. Hal-hal yang dapat memperkuat keyakinanku untuk teguh pada apa yang tengah kulakukan tetapi sekaligus juga dapat mengipasiku egoku. Hal yang sangat kuhindari. Jadi biarlah kusimpan tentang itu.

Tetapi mengetahui bahwa ada yang sungguh-sungguh mendapat manfaat, memperoleh inspirasi dan keyakinan baru setelah mendengar apa yang kusampaikan betul-betul memulihkan semangatku dan sangat membahagiakan diriku.

Bagaimanapun aku mendapat banyak pelajaran dari kejadian ini. Lain kali bila aku diminta bicara lagi di tempat lain, aku harus melihat situasi dengan lebih seksama. Aku harus bertanya lebih dahulu pada penyelenggara apakah aku memiliki batasan atau aku bebas menyampaikan apa yang harus kusampaikan. Inipun pelajaran penting buatku jika memang ini ‘tugasku’. Jika memang ini panggilan jiwaku.

Sehari kecewa. Sehari puas dan senang. Ah manusia. Begitu terpengaruh dengan dualitas. Sebentar senang, sebentar sedih.

Sedapatnya aku berusaha menikmati saat berada dalam salah satu dari dua keadaan itu. dan sedapatnya aku berusaha untuk kembali ke keadaan seimbang.

Perasaanku yang semula skeptis dengan saudara-saudara Hinduku di Balikpapan, telah berubah juga menjadi penuh harapan.

Semoga. Semoga.

Om Jai Gurudev
Om MahaGanapataye Namaha


No comments: