Saturday, July 23, 2011

Kendari - day 4

Tidak banyak yang dapat kuceritakan di hari ke-4 perjalananku ke Kendari ini. Karena rencananya kami jam 5 dini hari harus sudah check in di bandara.

Aku dan suamiku sudah bangun sejak jam 2 dini hari. Mengerjakan rutinitas kami dan mandi. Ketika jam 5 lewat sedikit Pak Ketut Puspa menjemput kami untuk mengantar kami ke bandara, kami sudah siap.

Masih dengan mata setengah mengantuk ternyata ibu Ketut juga ikut mengantar kami, aku tahu kemudian. Dan ternyata lagi sia-sia juga kami datang sepagi itu, karena bandaranya baru buka pukul 6!

Rupanya selama ini mereka belum ada yang punya pengalaman berangkat dengan pesawat pertama seperti aku ^_^, jadi tidak tahu kalau bandara Haluoleo ini baru buka pukul 6 pagi.

Jadi Bapak dan Ibu Ketut Puspa tidak lama menungguku, setelah duduk sebentar bersama kami menunggu hari terang, mereka berpamitan. Aku mengucapkan terima kasih yang sungguh-sungguh pada mereka, pada penyambutan dan penerimaan yang luar biasa tulus.

Setelah Bapak dan Ibu Ketut menghilang dari pandangan, kami duduklah menunggu di bandara itu sampai satu persatu para petugas berdatangan. Satu persatu loket penjualan tiket di bandara buka. Kavyaa belum punya tiket, karena untuk dia tiket harus dibeli saat berangkat. Hal ini memperlambat proses check in kami karena petugas penjualan tiket Sriwijaya Air –pesawat yang kami tumpangi—belum tiba hingga jam 06.20 pagi. Halah!!

Ketika akhirnya Kavyaa mendapat tiket dan kami selesai check in, kami betul-betul tidak perlu menunggu lama di ruang tunggu karena pesawat langsung berangkat. Hanya sekitar 35 menit perjalanan kami telah tiba di bandara Hasanuddin Makasar. Di sini pun sedianya kami hanya punya waktu sekitar 45 menit, pesawat ke Balikpapan segera berangkat. Yang kami tidak tahu sebelumnya adalah, ternyata untuk menuju Balikpapan ini kami transit dulu ke Palu.

Perjalanan ke Palu juga lebih kurang 35 menit. Tidak pernah terpikir bakal menyinggahi Palu, kupikir asyik juga kami bisa menginjak Palu meskipun hanya sampai bandara. Yah, sekarang sampai bandara, who knows besok-besok jalan-jalan di Palu beneran?

Transit di Palu hanya 20 menit tapi kami harus turun dari pesawat, menjalani pemeriksaan segala macam. Untung bandaranya kecil. Jadi sempat semua. Atau mungkin karena bandaranya kecil, makanya penumpang diminta turun dengan semua barang bawaannya? Nggak tahu deh. Yang jelas baru duduk 5 menit di ruang tunggu, kami sudah diminta naik pesawat lagi.

Sekali ini kami betul-betul terbang ke Balikpapan. Penerbangan tidak lama juga, mungkin sekitar 35 menit lagi, kami sudah tiba kembali di Balikpapan. Pokoknya hari ini rasanya tidak puas terbang. Baru duduk sebentar, turun lagi. Naik lagi, duduk sebentar, turun lagi. Yang pasti sekitar jam 12 siang itu kami sudah selesai ambil bagasi di Balikpapan dan langsung carter taksi menuju Samarinda.

Saat ini barulah aku sadar apa yang kurasakan kurang pada diriku sejak aku melangkah turun dari lantai 2 hotel di Kendari dini hari ini. Selendangku!!

Selendang adalah salah satu propertiku saat keluar rumah. Jadi bepergian tanpa selendang melilit di leher rasanya aneh. Sejak pagi ini aku merasa ada yang aneh, ada yang kurang pada diriku, tapi aku tidak sadar. Baru di mobil ini aku sadar, selendangku tidak ada. Padahal semua pakaian yang akan dipakai untuk perjalanan pulang sudah kusiapkan pada malam sebelum berangkat itu. Aku yakin selendangku masih tertinggal di lemari hotel, karena di situlah aku menggantungnya semalam.

Aku tidak terlalu menyayangkan selendangku yang tertinggal itu. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan hingga selendangku tertinggal di Kendari? Aku telah ceroboh, tidak teliti, itu pasti. Itu satu hal. Tapi aku yakin ada hal yang lain lagi. Ada pesan dibalik peristiwa ketinggaln selendang ini.

Setengah bercanda suamiku bilang,”Mungkin kita disuruh mengunjungi Kendari lagi tuh?”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tapi mungkin ada benarnya yang dikatakannya. Mungkin kejadian ini hanya ingin menunjukkan bahwa memang ada yang tertinggal di sana. Bukan hanya selendang. Tapi hatiku pun tertinggal di sana. Terus teringat pada sahabat-sahabat baruku yang begitu baik dan hangat. Mungkin. Terus teringat pada kota Kendari yang hijau dan udaranya masih sejuk di pagi hari. Mungkin.

Perlu waktu untuk benar-benar bisa melihat makna kejadian ini. Tapi aku punya banyak waktu. So, just wait and see.

Salam Kendari. Wish you luck. Wish me luck. Till we meet again.

No comments: