Friday, July 22, 2011

Kendari - day 3

Hari ketiga aku di Kendari, Senin pagi. Bangun agak santai karena pagi ini rencananya hanya keliling-keliling kota. Pak Made Guyasa menjemput kami sekitar jam 9 pagi. Beliau jadinya tidak masuk kantor karena mesti bertugas menemani kami sepanjang hari itu. Setelah dijemput kami langsung mulai jalan-jalan di kota Kendari.

Pertama sekali kami dibawa ke salah satu tempat pengrajin gembol, kerajinan dari akar kayu jati. Masih di Wua Wua. Aduh bagusnya. Jati asli. Bukan jati-jatian yang sering sampe Samarinda meskipun ngakunya dari Jepara. Bukan juga jati muda. Ini masih jati yang bagus. Aku tidak tahu jenis kayu jati itu apa saja. Tapi aku tahu kayu yang bagus. Yang ini bagus. Bagus sekali. Aku sampai tidak berani tanya harganya. Benar saja. Malamnya saat aku cerita pada Ibu Ketut Puspa kalau aku sudah diajak melihat kerajinan gembol, dia bilang harganya selangit. Dalam hati aku berkata,” Kalau Ibu Ketut saja bilang harganya selangit, kalau buatku bisa jadi langitnya sampai langit ke-tujuh. Halah”. Cepat aku mengiyakan sendiri, makanya tadi pagi aku ndak nanya.

Setelah puas melihat-lihat berbagai model gembol, kami lanjut mengelilingi kota. Kesanku tentang kota Kendari adalah kota ini bersih dan hijau. Pepohonan masih banyak. Pohon lho ya. Pohon lokal. Pohon tropis. Bukan pohon palem. Ini pohon yang rindang. Jadi kota tidak gersang. (Terbayang aku di Samarinda yang panas, taman buatannya hanya ditanami palem dan ketapang. Sampai-sampai Pulau Kumala yang sedianya jadi tempat wisata saja hutannya digunduli lalu ditanami palem yang tidak ada rindang-rindangnya. Gila ndak tuh? Malas deh kalau berwisata kesana. Cukup sekali kesana .Tak kan terulang kedua kali. Aduh! Samarinda ini selera penata kotanya yang payah, atau malasnya bukan main membersihkan dedaunan yang jatuh. Entahlah.)

Kota juga terlihat tertata dan terencana. Paling tidak bangunan betul-betul masuk, berjarak dari jalan. Tidak ada yang buka pintu toko langsung jalan. Areal perkantoran dan pertokoan juga terlihat dibedakan. Hutan kota juga ada meskipun di sana-sini sebenarnya masih hijau. (Di Samarinda, hutan kota malah jadi mal hik hik hik…).

Kami dibawa berkeliling menyusuri Teluk Kendari. Air permukaannya sangat tenang. Dari sisi sini ke sisi sana lebarnya kurang lebih lebar sungai Mahakam. Paling tidak sama lebar dengan jarak lebar sungai yang terbesar. Sempat melintas di pasar tradisional. Masih ada becak di sana, meskipun tidak beroperasi di semua ruas jalan. Hanya di sekitar pasar. Kulihat irama kotanya juga masih santai. Kelihatannya orang-orang masih menikmati hidup. Tidak dikejar-kejar hidup.


Terakhir kami singgah ke Kampus Haluoleo. Unhalu-Universitas Haluoleo. Kampusnya luas. Mungkin seluas kampus UI Depok atau malah lebih besar. Dan hijau. Terdapat berjenis-jenis pepohonan termasuk Eucalyptus yang bisa dibuat minyak kayu putih itu. Rumput-rumputnya dipangkas rapi. Di salah satu taman di depan rektorat malah pepohonan rindang itu terlihat seperti di film-film. Jadilah kami berpose sejenak di sana. Di bagian lain ada kolam yang dipenuhi teratai. Hmm….sepertinya nyaman kalau berkampus di sana. Lagi-lagi aku membandingkan dengan kampus Unmul di Samarinda, yang tadinya juga hijau, terletak di perbukitan, asri, indah. Tetapi kini bangunan fisiknya tumbuh dimana-mana. Tidak nyaman lagi. Seolah-olah bangunan-bangunan itu hanya mengejar proyek saja. Auk ah gelap!

Setelah puas berpose, termasuk di depan bunga-bungaan cantik yang baru kulihat di sana, kami balik ke hotel sejenak. Rencananya jam 12 kami akan langsung menuju Desa Endanga dan Desa Tri Dana Mulia di Kecamatan Landono. Dan sesuai rencana kami berangkat jam 12 setelah sebelumnya makan di rumah makan nasi kapau yang menunya ternyata tidak ada nasi kapaunya (suami saya orang Minang, jadi dia tahu persis seharusnya nasi kapau seperti apa).


Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di rumah ketua PHDI kec Landono, Bapak Gusti Sukadana istirahat sejenak di sana, tidak lama kemudian Bapak dan Ibu Ketut Puspa juga tiba. Setelah beberapa waktu kami berangkat menuju pura kecil di desa Endanga dimana di sana telah menanti sekitar 50-an orang, siap untuk mendengarkan dharma duta berbicara. Halah. Aku baru tahu di situ, Pak Ketut memperkenalkanku sebagai Dharma Duta. Aku tidak bisa berpikir lagi. “Sudahlah”, dalam hati aku berkata. “Ngomong aja se-keluarnya bagaimana”.

Kavyaa sebenarnya mulai rewel. Mungkin sudah lelah di hari ketiga ini. Tetapi relatif masih bisa di atasi. Sesungguhnya dia cuma ngantuk. Tetapi karena jarak tempat yang didatangi dekat-dekat, baru tidur sebentar, dia harus bangun lagi. Tidur lagi sebentar, eh harus bangun lagi. Ndak kenyang tidurnya. Rewel deh.
Di Endanga ini, aku kembali menangis haru seperti kemarin di Kendari sebelum mulai bicara. Tetapi tidak sesulit waktu di Kendari mengatasinya. Jumlah yang hadir tidak terlalu banyak jadi mungkin aku merasa lebih mudah. Aku bicara juga sekitar 1 jam. Setelah itu aku harus segera memegang Kavyaa yang mulai mengamuk. Gantian suamiku yang diberi kesempatan bicara sekaligus menjawab beberapa pertanyaan dari yang hadir. Aku sempat memberi 2 buah buku di sana.


Hanya 1,5 jam di sana, kami kemudian kembali istirahat di rumah Pak Gusti Sukadana. Sempat diajak makan siang atau makan sore karena waktu sudah menunjukkan pukul 3. Sempat menikmati buah jeruk baby yang manis itu. Mencicipi kue-kue khas Kendari, pisang rebus dan emping goreng. “Ah…ini sih niat menjamu memang”, aku menggumam sendiri. Dan meskipun tidak kuucapkan aku memberi penghargaan pada tuan rumah yang sudah bersusah payah mempersiapkan penyambutan seperti ini.

Sekitar jam setengah lima sore kami menuju pura yang terletak di desa Tri Dana Mulia. Hanya berjarak sekitar 10 menit dari rumah Pak Gusti tadi. Tiba di sana, di luar dugaanku umat yang menunggu sudah banyak. Ada lebih kurang 100-an orang. Wuih….aku tidak menyangka. Dan menyayangkan kondisiku dan Kavyaa yang tidak optimal lagi.

Pura ini besar dan luas karena memang umatnya cukup banyak. Sepintas tadi di jalan menuju pura,melewati rumah-rumah mereka, aku serasa masuk desa-desa di Bali. Model rumah, pagar rumah, lengkap dengan merajan mendominasi rumah-rumah di sana. Aku bergumam dalam hati,”Selama mereka tinggal di lingkungan begini, mereka steril. Makanya tantangan datang pada anak-anak muda yang merantau, yang tidak lagi bersentuhan dengan tradisi. Hmmm …rasanya aku menangkap satu dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi generasi muda Hindu”.

Semula acara akan diadakan di utama mandala. Cepat aku beritahu mereka bahwa aku sedang cuntaka, jadi kemudian acara dialihkan ke nista mandala. Tetapi pemindahan ini memakan waktu. Pelajaran buatku; lain kali jika kondisiku sedang begitu ditanya atau tidak aku harus memberitahu panitia. Akibatnya waktu terbuang hampir setengah jam. Sehingga di tengah-tengah penyampaianku, suamiku sudah tidak sanggup membujuk Kavyaa yang memang sudah rewel sejak siang tadi. Dan terjadilah hal yang lucu.

Suamiku kemudian mengambil alih, melanjutkan ceritaku. Ya..tentu saja dia tahu ceritanya. Tetapi bagaimanapun kepalanya kan berbeda dengan kepalaku. Jadi sambil menjaga Kavyaa dan mendengarkannya, aku menyayangkan dalam hati, karena ada beberapa bagian yang ingin aku beri penekanan jadi terlewat. Tetapi nyatanya jalan cerita hari ini harus begitu. Pembicaranya harus digantikan sementara dulu. Dalam hati aku berharap Pak Ketut bisa memaklumi situasi dan kondisiku yang begini.

Mungkin sekitar 15-20 menit suamiku menggantikanku sebelum aku bisa mengambil alih lagi forum. Aku melanjutkan dengan rasa yang kurang nyaman, karena harus mencari irama masuk yang pas. Sementara hari juga mulai gelap, menjelang pukul 7 malam. Tidak panjang-panjang, kemudian aku akhiri penyampaianku dengan harapan di dalam hati bahwa mereka yang hadir sore itu sedikit banyak mendapat manfaat dari apa yang kusampaikan—dari apa yang kami sampaikan.


Aku sulit menilai audience-ku di sini karena mereka tertib sekali. Mereka hening. Mendengarkan sungguh-sungguh kelihatannya. Tetapi aku juga tidak yakin sepenuhnya, apa mereka sungguh-sungguh mendengarkan? Karena seperti Pak Ketut sampaikan belakangan, mereka ini termasuk desa yang paling sering mendapat kunjungan setiap ada pembicara dari luar yang hadir di Kendari. Nah…nanti karena sudah terbiasa makanya mereka bereaksi seperti itu.

Tapi, aku putuskan dalam hati, dengan segala keterbatasan kondisiku, aku sudah berusaha memberi yang terbaik yang aku bisa. Aku tidak perlu memusingkan hasilnya. Mengapa aku meragukan kasih Tuhan yang telah membimbingku sejak pertama aku melakukan perjalanan ini? Jadi setelah mampu meyakinkan hatiku sendiri, aku habiskan waktu setelahnya dengan lebih lega.

Selepas acara, karena ini sifatnya dharma wacana, tidak ada sesi tanya jawab, kami langsung kembali ke Kendari melihat kondisi Kavyaa yang betul-betul rewel dan hari juga sudah malam. Sebelum pulang aku sempat memberi 2 buah buku juga di desa ini. Kami tidak ikut persembahyangan. Betul saja, begitu naik mobil, Kavyaa langsung tidur. Kami tiba di Kendari sekitar jam 8 dan Pak Ketut mengajak makan malam di restoran.

Lega merasa telah menyelesaikan semua tugas, besok hanya tinggal pulang ke Samarinda, aku merasa rileks. Kavyaa rupanya cukup puas tidur di mobil, dia bangun dengan hati senang. Makan malamnya agak lambat, tetapi sekali pesanan datang, ukuran ikan yang dipesan Pak Ketut membuat kami semua tertawa. Saking besarnya ikannya jadi mirip buaya. Melihat ukurannya justru menghilangkan selera makan. Semangat makanku jadi terbang.


Rupanya semua menu di restoran itu porsi besar, porsi untuk dimakan bersama, bukan porsi sendiri. Suamiku yang pesan bihun kuah juga tidak sanggup menghabiskan bihunnya. Banyak makanan yang tersisa, yang kemudian dibungkus untuk dibawa pulang oleh Ibu Ketut. Dan selain kepala ikan yang buesar itu, bungkusannya diberikan kepadaku untuk sarapan pagi karena besok sedianya jam 5 aku sudah harus check in di bandara. Ah, benar-benar enak makan malam hari itu.

Selesai makan malam kami kembali ke hotel . Ibu Sri sudah menunggu di hotel sejak tadi. Ternyata dia membawakan oleh-oleh untukku. Kami berbincang-bincang sementara suamiku, Pak Made, Pak Ketut dan seorang Bapak lagi yang menguruskan tiket kepulanganku di meja lainnya mengurus tiket dan sebagainya.

Jam 11 malam barulah semua urusan selesai dan kami masuk kamar. Malam itu juga aku berkemas karena benar besok kami harus check in bandara jam 5 pagi. Segera setelah selesai berkemas, kami pergi tidur. Yang ternyata tidak lama karena aku sudah bangun lagi jam 2 dini hari itu.

No comments: