Thursday, July 21, 2011

Kendari - day 2

Meskipun kami baru tidur hampir jam 12 malam, aku tetap bangun seperti biasa sekitar jam 4 dini hari. Suamiku malah bangunnya lebih awal lagi, karena dia tetap melakukan sadhana-nya seperti biasa. Cuma katanya dia kedinginan di Kendari ini. Aku juga merasa kedinginan. Sampai-sampai AC di kamar sempat kumatikan saat aku mandi pagi dini hari itu. Aku juga melakukan latihanku dan bersiap sarapan saat Pak Ketut mengirim sms mengingatkan tentang acara agni hotra. Ah ya….

Aku memutuskan tidak ikut. Suamiku saja yang ikut upacara itu, supaya kami bisa bergantian menjaga Kavyaa. Supaya Kavyaa saat harus kutinggalkan sudah cukup puas bermain denganku. Jadi jam setengah tujuh pagi suamiku pergi ke rumah Pak Ketut Puspa, sementara aku tetap tinggal di hotel, meneruskan niat semula untuk sarapan dan bermain dengan Kavyaa hingga hampir jam 9 saat jemputanku tiba.

Gantian suamiku yang kembali ke hotel menunggui Kavyaa, aku kali ini yang pergi ke tempat acara dharma tula yang diselenggarakan di wantilan pura Penataran Agung Jagadhita Kendari. Ternyata hotel tempatku menginap lokasinya tidak jauh dari pura. Hanya sekitar 10 menit atau kurang kami telah tiba di jaba sisi pura.

Hmm…….areal pura terletak di bukit, cukup luas dan masih asri. Pepohonan masih ada sehingga angin sejuklah yang bertiup di tengah cuaca panas. Ikut menjemputku ke hotel selain Pak Made Guyasa, Sekretaris PHDI dan Ibu yang juga sekretaris WHDI, adalah Pak Made Suardana, yang tinggalnya di Kolaka, sekitar 200 km dari Kendari, yang menunda pulang ke Kolaka karena mendengar aku datang. Pak Made yang ini setelah memperkenalkanku dengan beberapa orang yang telah hadir di sana, kemudian bertanya apakah aku ingin sembahyang. Aku iyakan dengan segera. Mengapa tidak? Aku sudah sampai di sini.


Jadilah kami semua ke utama mandala. Sementara itu di sana masih ada satu keluarga yang melakukan persembahyangan. Kami menunggu. Sambil mengobrol, aku juga meresapi suasana sekeliling. Hari itu adalah hari ketiga acara odalan pura Jagadhita. Sisa-sisa upacara malam sebelumnya masih tersisa. Persembahyangan dalam rangkaian odalan masih diadakan sekali lagi, malam itu. Jadi aku mengisi acara siang harinya.

Pura ini luas dan tampak asri. Untuk duduk dibuat lajur-lajur berselang-seling dengan tanah berumput. Dinding pura dibuat dari batu hitam, yang belakangan aku tahu sengaja didatangkan dari Bali. Kalau kubandingkan dengan Pura Jagat Hita Karana di Samarinda, pura di sini kelihatan kalah megah. Tetapi di sini energinya nyaman. Setelah keluarga tadi selesai, gantian kami yang mengambil tempat. Sementara itu umat-umat lain berdatangan dan sebagian ikut persembahyangan juga.

Sementara duduk, aku mengobrol dengan ibu yang duduk di sampingku yang aku sudah lupa lagi namanya sekarang. Ya hingga kini aku mengalami kesulitan mengingat nama-nama orang Bali ini dengan cepat. Habis, namanya terdengar mirip-mirip di telingaku. Ternyata tidak lama kemudian Ida Pedanda Sebali Tianyar datang, dan duduk juga 2 lajur di belakangku. Umat yang lain, lantas berdiri dan mundur di belakang Ida Pedanda. Aku sendiri masih bengong-bengong. Kemudian Pak Ketut memberiku tanda supaya aku duduk di samping Ida Pedanda. Aku lantas ingat soal vibrasi. Jadi aku cepat duduk di sebelahnya. Tidak dekat sekali sih. Takut tidak sopan. Hehehe….jadi dudukku agak jauh. Sebelum duduk aku menyalami Ida Pedanda yang langsung menyapaku, dan bertanya,” Masih gugup sekarang?”.

Aku tertawa mendengarnya tetapi dalam hati berkata,”Wah…ketahuan deh..”.
Lantas aku segera duduk di sampingnya. Aku duduk tenang bersila. Tidak lama kemudian kulihat dari sudut mataku Ida Pedanda menutup mata dan kelihatan mulai meditasi, jadi aku juga mengambil sikap yang sama.Kebetulan selama itu tidak ada lagi yang mengajakku mengobrol. Tenang rasanya duduk begitu di sebelah Ida Pedanda sambil menanti persiapan sembahyang. Tapi tentu saja pikiranku masih saja sesekali seliweran. Aku berusaha menenangkan diri. Tidak lama kemudian aku merasa tubuh sisi kiriku seperti bertemu dengan tumpukan energi tebal. Lembut tetapi tebal. Aku merasakan energi itu persis pada separuh tubuhku sisi kiri. Sisi tubuh yang bersisian dengan Ida Pedanda. Aku berpikir-pikir, apa yang kurasakan ini energi Ida Pedanda. Tapi tidak tahulah. Jadi aku tetap mengatur napas, tetap tenang, atau tepatnya tetap berusaha tenang seperti itu hingga persembahyangan dimulai.

Setelah persembahyangan selesai, mendapat tirta dan bija, kami kemudian langsung menuju wantilan. Ternyata umat sudah banyak berdatangan. Ada sekitar 250 orang mungkin yang hadir. Padahal seorang ibu yang berjalan di sebelahku saat menuju wantilan tadi sempat mengatakan bahwa sekarang ini piodalannya sepi, banyak warga yang pulang kampung karena odalan bertepatan dengan Kuningan juga. Wah, dalam hati aku berkata, kalau sepinya saja sebanyak ini, ramenya seperti apa?

Bangunan wantilan ini masih setengah jadi, tapi sudah bisa digunakan. Cukup besar, bila diatur duduk rapi mungkin bisa memuat 500-750 orang. Jadi separuh penuh saat itu. Yang menarik saat itu adalah , ternyata Ida Pedanda memilih duduk di bawah bersama peserta lainnya.Bersamanya duduk juga beberapa pandita dan pinandita lainnya. Sementara aku beserta moderator duduk di panggung, di atas kursi. Pak Ketut Puspa setelah memberi kata pengantar dan sedikit pengarahan, bersama pejabat PHDI lainnya duduk lesehan di kiri kanan panggung bersama peserta lainnya yang lebih dahulu duduk di sana. “Waduh, waduh….,” pikirku. Yah….atasannya membumi, jadi bawahannya membumi semua. Hebat.

Waktu menunjukkan hampir pukul 10 pagi saat acara dimulai, dan rencananya berakhir pukul 1 siang. Ida Pedanda akan berperan sebagai nara sumber apabila ada hal-hal yang tak terjawab dalam diskusi nanti. Setelah moderator memperkenalkanku, aku langsung memulai. Dan terjadilah hal yang benar-benar di luar perkiraan dan rencanaku.

Saat moderator (--Omong-omong moderatorku ini, Ibu Made sekretaris WHDI adalah seorang doktor, begitu juga ketua WHDI-nya. Dari obrolan kami semalam kami tahu ada sekitar 13 orang doktor di sana. Lagi-lagi…hebat..hebat…luar biasa… Begitupun Pak Ketut Puspa, juga seorang doktor. Tidak lama lagi akan ada professor juga tentunya. Hanya masalah waktu. Nah!.Yang luar biasa adalah mereka semua bersahaja dan rendah hati. Jika ingin dicari bukti yang menunjukkan bahwa mereka berpendidikan tinggi adalah cara berpikir mereka yang runtut, bahasa mereka yang tertata rapi dan wawasan mereka yang luas--) masih memberi pengantar, pikiranku sendiri melayang menyaksikan audience-ku yang dalam ukuranku jumlahnya banyak sekali.Kemudian masih memandang mereka, tiba-tiba timbul rasa haru dalam hatiku. Rasa haru bercampur bahagia bahwa aku bisa berada bersama mereka di tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Rasa haru yang tidak dapat kutahan.

Saat mulai bicara, aku masih belum berhasil menguasai perasaan hatiku. Aku terisak. Ada rasa malu pada semua yang hadir, tapi aku juga sadar hal ini tidak dapat kutahan. Jadi aku lepaskan saja sambil minta maaf pada mereka karena aku tiba-tiba menangis seperti itu. Aku katakan aku tidak tahu mengapa aku ingin menangis. Aku katakan aku hanya merasa sangat terharu. Dua kali aku mencoba bicara, dan selalu terhenti karena rasanya tangisku malah mau meledak. Pada usaha ketiga baru aku berhasil. Suaraku masih terdengar bergetar, tapi perlahan-lahan aku berhasil menguasai diri, dan melanjutkan apa yang ingin kusampaikan.

Setelah itu mungkin aku bicara sekitar 1 jam. Dan surprisingly beberapa kali mendapat applause dari para hadirin. Dalam beberapa kali applause aku malah tidak ingat barusan aku berkata apa. Tetapi setiap kali ternyata tepuk tangan dari mereka itu malah memberiku semangat dan keyakinan. Begitulah, setelah selesai penyampaianku, maka sesi diskusi dimulai. Ada 3 orang penanya dalam termin pertama. Tapi mereka masing-masing bertanya 3 pertanyaan. Jadi dalam termin pertama aku harus menjawab 9 pertanyaan. Itu perlu 1 jam. Dan pertanyaannya adalah pertanyaan ringan yang jawabannya berat. Aku harus betul-betul memikirkan jawabannya dan mencari pendekatan apa yang paling mudah bagiku untuk menjawab pertanyaan itu. Betul-betul menguras tenagaku untuk berpikir.

Setelah termin pertama selesai, acara dihentikan sejenak untuk sembahyang bersama dan dilanjutkan mendengarkan pembacaan sloka oleh anak yang beberapa waktu yang lalu telah memenangkan medali emas dalam Utsawa Dharma Gita yang diadakan di Bali.


Saat termin kedua dibuka, diberi kesempatan lagi pada 3 orang penanya, dimana penanya terakhir malah mengajukan 7 pertanyaan, penanya kedua menanyakan hal yang sulit dijawab karena dia mempertanyakan tentang cinta dan penanya pertama selain bertanya juga curhat atas perlakuan yang diterimanya sebagai mahasisiwa karena harus mendengarkan ” ceramah agama” dari sang dosen dalam 10 menit pertama sebelum kuliah dimulai—hal yang saya alami juga saat saya kuliah dulu--. Bedanya dulu saat mengalaminya status saya muslim dan saya terganggu. Jadi saya sangat maklum bila dia Hindu dan dia SANGAT terganggu.

Aku berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebisaku. Ada satu yang tidak tuntas yaitu pertanyaan tentang ritual dan upakara. Jadi moderator menyerahkan pada nara sumber yaitu Ida Pedanda Sebali Tianyar untuk memberikan penjelasan lebih jauh.
Sementara itu karena memang waktu sudah menunjukkan jam 1 lewat, lebih dari jadwal semula, suami dan anakku sudah dijemput dari hotel menyusulku di tempat acara seperti yang sudah direncanakan. Aku langsung memangku anakku yang kemudian menangis, jadi harus kutenangkan dulu dan kubawa ke belakang panggung. Sementara suamiku ikut duduk di samping moderator di panggung. Akibatnya aku tidak sepenuhnya mendengarkan wejangan dari Ida Pedanda.

Mungkin Ida Pedanda memberi wejangan hampir 20 menit, sebelum moderator memberi kesempatan pada suamiku untuk berbagi rasa bagaimana rasanya mendampingiku dalam perjalanan yang penuh liku-liku ini. Suamiku tidak bicara banyak, meskipun saat itu aku dan Kavyaa sudah duduk kembali di panggung. Waktu aku tanya kenapa dia singkat sekali bercerita sampai kesannya mengantung begitu, belakangan dia bilang, dia bingung mau ngomong apa, karena dia sama sekali tidak tahu sebelumnya aku ngomong apa. Hehehe……betul juga.

Setelah suamiku menutup pembicaraannya yang tidak sampai 5 menit itu, moderator juga menutup acara. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Sebenarnya, seandainya waktu lebih leluasa dan dibuka termin ke-3 penanyanya masih banyak. Karena masih banyak tadi yang mengacungkan tangan tapi belum mendapat giliran bertanya. Setidaknya ada dua orang yang protes karena tidak diberi kesempatan bertanya.

Setelah acara ditutup, aku meminta waktu pada moderator untuk acara foto bersama. Jadi kami kemudian mengambil foto bersama, para pejabat PHDI dan Ida Pedanda. Kemudian bergantian para peserta yang lain berfoto bersamaku. Lama-lama semua minta foto bersamaku, baik para pemuda maupun pemudi serta anak-anak. Ramai sekali. Aku tidak tahu lagi siapa-siapa saja yang mengajakku berfoto. Wah…wah….aku merasa kayak jadi slebriti saja. Sambil merasa geli di dalam hati aku berpikir, mungkin begini rasanya jadi selebriti itu ya? Hihihi…..Mereka juga menyalamiku, mengucap salam dan terima kasih. Aku balik berterima kasih pada mereka dengan setulus-tulusnya karena sambutan dan antusiasme mereka yang luar biasa.


Kukira sudah selesai, ternyata mereka masih juga minta tanda tangan di buku PMH yang mereka terima. Memang untuk acara ini Pak Ketut Puspa telah mendatangkan bukuku 100 eksemplar. Buku itu kemudian dibagi pada para hadirin dengan penggantian berupa punia yang dibawah harga buku. Tidak semua mendapat buku, tetapi mereka yang dapat ini sebagian berebut minta tanda tanganku. Heboh sekali. Di sela-sela menandatangani buku, aku ditarik lagi keluar oleh seorang Bapak dari Kolaka. Rupanya dia satu rombongan dengan Pak Made Suardana, yang ini kalau tidak salah menyebut namanya Made Margi, orangnya tinggi sekali. Seperti Pak Made Suardana, dia juga mengundangku ke Kolaka. Kukatakan mungkin lain kali, karena yang kali ini aku belum bisa ke sana. Kami bicara sejenak dan kemudian dia pamit pulang langsung menuju Kolaka. Aku sendiri kembali lanjut menandatangani buku.

Sementara itu peserta lain yang urusannya sudah selesai langsung menuju meja di baris belakang untuk makan bersama. Aku sendiri setelah selesai dengan semua urusan foto dan tanda tangan, kemudian di ajak makan juga bersama dengan Ida Pedanda dan istri yang saat itu juga tengah makan. Kami makan sambil duduk di sisi kiri panggung. Mungkin sekitar setengah jam kami duduk makan sambil mengobrol dengan Ida Pedanda. Ida Pedanda ini orangnya santai sekali. Begitulah kesanku. Sederhana. Kami bicara banyak dari yang setengah serius sampai yang serius. Ida Pedanda mengundangku ke Griya-nya jika berkunjung ke Bali. Beliau juga bertanya apa aku tidak ingin sekolah lagi. Terus terang, aku tidak jelas maksudnya sekolah apa. Dalam pikiranku sih yang dia maksudkan sekolah agama. Belakangan aku tanya suamiku, dia juga menangkapnya begitu. Tapi waktu itu aku tidak kejar. Ya..ya….sekolah agama. Pernah sih terpikir olehku. Tapi belum. Kurasa belum sekarang. Hehehe….

Masih ada beberapa hal yang kami bicarakan, termasuk situasi politik negeri ini. Sekitar jam 3 aku sudah merasa lelah. Kavyaa juga. para pejabat PHDI juga harus rapat. Jadi aku diantar kembali ke hotel. Sebelumnya Pak Ketut Puspa bertanya apa aku jadi pulang besok, atau tunda sehari lagi. Aku tersenyum. Sejak awal saat aku hanya mendapat tiket berangkat ke Kendari aku sudah punya feeling, bahwa beliau berharap aku bisa lebih dari sehari di sini. Jadi kukatakan, aku tidak keberatan menambah sehari. Toh, aku sudah di Kendari. Jadilah, kepulanganku di tunda sehari. Aku pulang hari Selasa jadinya.

Setelah pembicaraan kepulanganku selesai, aku diantar ke hotel dengan janji akan di ajak makan malam bersama. Aku iyakan saja. Entah kenapa aku lupa. Mereka kan masih harus sembahyang odalan hari ketiga.

Jadi saat menjelang malam Pak Made sms mengabarkan tidak bisa makan malam bersama kami karena harus sembahyang, langsung aku iyakan. Aku tidak apa-apa. Aku malah menyesal kok bisa lupa tadi siang kalau mereka masih harus sembahyang. Aku diminta untuk pesan makan di hotel saja. Tapi melihat daftar menu dengan harga yang menurutku ndak sembodo, aku memilih jalan-jalan cari makan di luar sambil melihat-lihat suasana. Meskipun ternyata tidak banyak yang dapat kulihat. Kata petugas hotel, kalau hari Minggu toko-toko di Kendari memang banyak yang tutup. Hehehe….rupanya di Kendari orang-orang masih santai. Tidak seperti Samarinda yang rasanya semua orang terburu-buru sekarang. Entah buru-buru mengejar apa.

Semula kukira hari itu akan kami habiskan bersantai saja. Tetapi ternyata menjelang jam 9 malam, Kavyaa sudah tidur, Ibu Shri beserta suaminya berkunjung ke hotel. Kami mengobrol seru di kamar. Ibu Shri banyak bertanya tentang perjalananku yang kutuiis dalam buku. Wah, jadi mirip bedah buku juga. Bedah buku pribadi. Karena pribadi jadinya malah lebih intens. Yang dibicarakan malah lebih luas. Suami Ibu Shri—yang aku lupa lagi namanya—juga terlihat bersemangat. Seandainya tidak ingat waktu, sudah jam setengah 11 malam, mungkin pembicaraan seru ini masih bisa berlanjut.
Saat mereka pamit pulang, Kavyaa malah bangun. Jadi kembali malam itu aku tidur setelah jam 12 malam.

Malam itu aku belum tahu apa rencana besok. Kalau aku tidak salah tangkap, aku akan diajak mengunjungi desa Endanga atau apa namanya. Lokasinya tidak terlalu jauh, hanya setengah jam perjalanan. Supaya aku bisa melihat kondisi umat di Kendari, begitu kata Pak Ketut Puspa padaku. Aku tidak yakin apa yang diminta dariku saat mengunjungi desa itu. Yang pasti aku harus ngomonglah. Tapi belum terbayang bagaimana olehku. Hanya saja, sudah mendapat kepercayaan diri dari pengalaman siangnya, malam itu aku pergi tidur dengan tenang. Tidak gugup lagi.

Yang pasti malam ini aku sangat senang melihat antusiasme umat di Kendari. Mengingat acaraku siang tadi yang bisa dibilang berhasil, sukses. Malah melebihi apa yang kuharapkan. Itu semua benar-benar membuatku bahagia. Aku juga bahagia dan senang jika Pak Ketut Puspa yang mengundangku juga puas melihat acara berlangsung dengan baik.

Jadi akhir hari itu, aku tidur dengan senyuman. Terlalu banyak kebahagiaan yang kurasakan, aku tidak bsia cemberut. Bahkan roti keras yang dibeli suamiku tidak berhasil membuatku jengkel. Aku toh tidak lapar. Sepertinya kalau sedang bahagia begitu, aku tidak lapar-lapar.

Bagus juga. Jadi untuk menjaga berat tubuh tetap ideal, berbahagialah.

Ya berbahagialah. Semoga besok sama baiknya dengan hari ini. Begitu doaku saat kelat mataku tidak dapat kutahan lagi.

1 comment:

bhakti pertiwi said...

Bu Siska, terima kasih telah berkenan hadir ke kota kami, Kendari. Paling tidak perjalanan Bu Siska akan menambah percaya diri bagi kaum muda Hindu atas Agama yang dianutnya saat ini. Sebagai inspirasi untuk terus berkembang dan tidak mudah goyah, apalagi hanya karena ikut istri atau suami...atau bahkan hanya karena janji mendapatkan suatu jabatan....yang dibumbui dengan jaminan Sorga...saya berharap Buku yang Ibu tulis dipasarkan juga di wilayah yang penduduknya bukan berbasis Hindu, sehingga mereka juga membaca kisah ini...agar mereka dapat mengenal Hindu....terima kasih sehat n sukses slalu