Wednesday, July 20, 2011

Kendari - day 1

Hari Selasa tanggal 12 Juli yang lalu, suamiku di telpon oleh Bp Agung Raka Pembimas Hindu Kaltim untuk datang ke kantornya. Semula suamiku berpikir mereka akan membicarakan tentang materi yang akan diberikan pada pelatihan guru agama se-Kaltim yang sedianya akan diselenggarakan akhir bulan ini, dimana suamiku rencananya adalah juga salah satu nara sumbernya. Tetapi kemudian kami agak heran karena Pak Agung juga meminta suamiku untuk juga membawaku serta.

Jadi kami pergilah menemui Pak Agung dengan perasaan sedikit bingung. Untuk apa aku dipanggil juga? Rasanya tidak mungkin jika aku ikutan menjadi nara sumber untuk pelatihan guru agama itu. Aku bisa mengajari apa? Masak tentang menulis? Hiihihi….Tapi ada urusan apa gerangan hingga aku juga diminta datang.

Kantor Kementrian Agama tidak jauh dari rumahku. Tidak sampai 10 menit, kami sudah tiba di ruang kerja Pak Agung. Pak Agung langsung menyapaku dan dengan semangat penuh seperti kebiasaannya, lalu berkata, bahwa Ketua PHDI Prov Sulawesi Tenggara, Bp Ketut Puspa telah menelponnya dan berusaha mengontakku untuk memintaku memberi
dharma wacana di sana. Deg….hatiku langsung ciut.

Pertama, Sulawesi Tenggara—Kendari. Dalam mimpipun tidak pernah aku berpikir dan memikirkan tentang Kendari. Kini, aku mendapat telpon dan permintaan untuk pergi ke Kendari. Kedua, Dharma Wacana, “Becanda kali ni orang,” pikirku dalam hati. Dapat ide dari mana dia sehingga berpikir aku bisa memberi dharma wacana. Terus terang aku menilai diriku tidak kompeten untuk menjadi seorang pe-dharma wacana. Jadi saat Pak Agung menceritakan asal mula Pak Ketut Puspa mengetahui tentang bukuku (PMH) saat Pesamuhan Agung yang berlangsung beberapa waktu sebelumnya di Bali, hingga kemudian tertarik untuk mengubungiku, aku tidak terlalu mendengarkan. Pikiranku berkelana sendiri. Berloncatan. Sebentar-sebentar malah blank. Pak Mangku Kardi yang juga adalah pegawai Kementrian Agama dan ada bersama kami saat itu hanya senyum-senyum aneh. Membuat perasaanku tambah tidak menentu. Pak Mangku ini geli melihatku kebingungan atau geli karena apa?

Aku tersadar kembali saat Pak Agung menyerahkan telponnya agar aku bisa berbicara langsung dengan Pak Ketut Puspa. Jadilah aku bicara lewat telpon. Suara Pak Ketut ini lembut tertata. Menunjukkan kualitasnya. Dan tambah menciutkan hatiku. Ya, beliau memintaku untuk datang ke Kendari dan memberi dharma wacana. Beliau katakan telah membaca bukuku saat Pesamuhan Agung di Bali beberapa waktu sebelumnya. Saat itu, lagi-lagi sambil terus mendengarkan Pak Ketut bicara, pikiranku nyangkut pada kata dharma wacana. Tapi aku tetap dapat menangkap kalimatnya yang terakhir bahwa aku diminta datang akhir minggu itu, tanggal 16 Juli. Karena sedianya acaraku ini masuk dalam rangkaian acara piodalan Pura Penataran Agung Jagadhita di Kendari yang berlangsung mulai tanggal 15 hingga 17 Juli. Aku potong kalimatnya dan aku katakan, “Dharma Wacana Pak? Ehm…(aku bingung, ragu, dan tidak dapat memutuskan apa yang harus kukatakan. Jadi aku cari aman)…waktunya mepet sekali Pak, saya harus bicarakan dulu dengan suami saya untuk melihat jadwal apakah saya bisa memenuhi undangan Bapak ini”, begitulah kataku waktu itu. Sejujurnya, waktu itu bukan hanya masalah jadwal yang mengganjal pikiranku, ada masalah lainnya seperti, tidak mungkin aku pergi sendiri ke Kendari karena masih punya bayi. Aku harus pergi ber-3, beserta suami dan bayiku. Apa mereka bersedia menerimaku ber-3. Bagaimana biayanya? Aku sendiri tidak sanggup jika harus membiayai ‘muatan ekstra’ ini. Jadi aku sungguh tidak yakin waktu itu. Harapan dan rasa putus asa posisinya 50:50. Undangannya sungguh menarik, tapi aku juga ragu apakah aku sanggup penuhi apalagi dengan syarat yang kuajukan. Belum lagi bila ingat permintaannya agar aku memberi Dharma Wacana. Ah…bikin takut saja.

Jadi setelah mengakhiri telepon, dan sekaligus kemudian aku mendapat nomor Pak Ketut Puspa dari Pak Agung, aku pulang untuk berdiskusi dengan suamiku. Suamiku saat aku bicara dengan Pak Ketut tadi sibuk membantu Pak Mangku Kardi mencetak sertifikat pelatihan guru agama yang berlangsung bulan lalu. Jadi tidak terlalu mendengarkan pembicaraanku.

Sesampai di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya pada suamiku, tentang undangan ke Kendari, tentang dharma wacana, tentang jadwalnya. Dan……ternyata yang menjadi masalah bagi suamiku sama. Kami harus berangkat bertiga, apakah pihak yang mengundang akan setuju? Dia mengabaikan keluhanku tentang ‘dharma wacana’. Setengah mengolokku, dia mengingatkan apa yang disampaikan Bapak Adi Suripto saat bulan Maret yang lalu datang di Samarinda memberikan dharma wacana saat piodalan pura Jagad Hita Karana di Samarinda ini. Waktu itu aku dan suamiku sempat mengunjungi beliau di penginapannya dan mengobrol hampir 2 jam. Memang beliau sempat berkata bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama aku akan bisa menjadi seorang pe-dharma wacana. Waktu itu aku tertawa geli-geli. Itu adalah suatu hil yang mustahal bagiku. Kalau beliau mengatakan aku akan menjadi penulis handal, ya bolehlah. Rasanya aku punya basic skill di situ. Tapi pe-dharma wacana? He must be kidding!

Tapi lihatlah sekarang. Baru berjarak 4 bulan, apa yang dikatakannya sudah terjadi. Ah…aku ini kualat sudah mentertawakan orang tua. Aku memutuskan besok-besok akan menelpon Pak Adi. Lantas aku mengubungi Pak Ketut Puspa lagi dan menyampaikan bahwa aku bisa memenuhi undangannya, hanya saja aku harus pergi bertiga karena kondisiku yang masih punya bayi ini. Dan tiba-tiba Pak Ketut mengatakan acaraku adalah dharma tula, diskusi. Wih….aku lebih senang sekarang. Dan kukatakan padanya, “Yah..kalau dharma tula saya berani Pak. Tapi kalau dharma wacana, sepertinya saya tidak kompeten untuk itu’. Beliau tertawa saja. Dan begitulah. Aku menangkap kesan Pak Ketut tidak mempermasalahkan yang aku harus pergi bertiga. Jadi keputusannya waktu itu, aku menunggu kabar selanjutnya dari beliau.

Dan ternyata kabar baik. Tanggal 16 Juli aku betul-betul berangkat ke Kendari bersama suami dan anakku yang baru berumur 20 bln. Tidak banyak persiapan yang kulakukan berkaitan keberangkatanku. Tapi tentu saja, aku memohon pada Bapak Ganesha untuk memberkati perjalananku ini. Aku memohon sungguh-sungguh hingga berlinang air mata.

Yang aku agak heran, aku hanya mendapat tiket keberangkatan saja. Karena rencananya aku berangkat tgl 16, mengisi acara tgl 17 dan pulang tgl 18. Waktu itu aku sudah punya feeling, Pak Ketut ini punya rencana lain untukku. Bisa jadi aku harus memperpanjang satu hari. Tapi feeling tinggal feeling. Aku excited dengan keberangkatanku ini. Aku belum pernah ke Kendari. Sekarang undangan ini terasa seperti mimpi. Apa gerangan yang harus kupelajari di tempat ini.

Oh ya, sebelumnya Pak Ketut mengatakan bahwa dalam acara dharma tula ini sedianya akan hadir pula Ida Pedanda Sebali Tianyar, Dharma Adhyaksa Pandita. Juga 2 orang pandita lainnya. Membayangkan acara ini nanti dihadiri para pandita, apalagi panditanya seorang dharma adhyaksa, betul-betul membuatku gugup. Bagaimana jika aku salah kata, salah ucap, atau salah mengerti. Tapi gugup tinggal gugup, saat aku sampaikan ke Pak Ketut tentang kegugupanku, sepertinya diabaikan saja. Beliau malah berkata tentang keuntunganku bisa mendapatkan vibrasi dari Ida Pedanda. Aku tidak terlalu paham maksud Pak Ketut dengan vibrasi ini. Paham tak paham. Rasanya paham, tapi apa sama yang dimaksud dengan yang kupahami?

Jadi setelah berpikir tidak ada gunanya lagi sekarang untuk gugup, aku menguatkan hati dan memberanikan diri. Lagipula aku yakin, Tuhan selalu bersamaku. Apa lagi yang harus aku khawatirkan?

Perjalananku dimulai tgl 16 Juli itu. Sempat harus ganti pesawat 2 kali, karena pesawat pertamaku (Lion Air) harus delay, aku dipindah ke Merpati. Ada 9 orang yang juga berangkat dengan tujuan Kendari dan ikut dipindah-pindah bersamaku. Baru selesai dengan urusan bagasi, ternyata kami ber-9 harus pindah lagi ke Sriwijaya Air karena Merpati juga delay. Siiip. Mungkin maskapai itu baiknya diganti namanya menjadi Delay Air, karena dari dulu sering delay. Tapi toh akhirnya kami tiba juga di Makasar. Dan lanjut ke Kendari dengan penerbangan semula, Lion Air.

Aku tiba di Kendari sekitar jam 7 malam. Sudah ada yang menjemputku di bandara. Ketua dan sekretaris WHDI serta wakil ketua dan sekretaris PHDI. Begitu sms dari Pak Ketut kepadaku. Lagi-lagi aku merasakan bahwa aku telah dilayani berlebihan. Mengapa para pejabat ini yang harus menjemputku? Tentu saja ini merupakan kehormatan besar buatku. Tapi aku bertanya pada diriku sendiri, apa aku memang pantas dihormati seperti ini? Aku merasa mereka terlalu berlebihan.

Saat berkenalan dengan mereka (aku harus berupaya keras memasang kupingku untuk mendengar dan mengingat nama-nama mereka karena hingga kini aku masih kesulitan mengingat nama-nama orang Bali ini, hehehe…..), berbasa-basi sejenak. Mereka bilang aku beruntung bisa mendarat. Karena dengan cuaca hujan seperti itu, (saat aku turun pesawat memang kelihatannya Kendari baru diguyur hujan) kadang-kadang pesawat mesti menunda pendaratan dan kembali ke Makasar. Aduh……leganya aku bahwa aku betul-betul bisa tiba di Kendari sesuai jadwal dengan segala kesulitan yang telah dihadapi ini.

Setelah urusan bagasi selesai, kami langsung berangkat menuju rumah Pak Ketut Puspa yang hanya sekitar 20 menit dari bandara. Kami dijamu makan malam di sana. Mengobrol santai sejenak, Pak Ketut mengundang untuk ikut acara Agni Hotra di rumahnya ini besok paginya. Kemudian kami diantar ke hotel yang juga hanya berjarak 1 km dari rumah Pak Ketut.

Selama perbincangan malam itu dan pertemuan pertama dengan mereka, ada hal aneh yang kurasakan. Aku tidak merasa baru bertemu dengan mereka. Aku merasa seperti bertemu kawan lama. Mungkin karena mereka sangat bersahabat. Penerimaan mereka baik sekali. Aku bersyukur dan merasa beruntung.

Kami masuk hotel jam 9.30 malam dengan janji akan dijemput untuk acara jam 9 esok paginya. Tapi aku tidak terlalu banyak menganalisa kejadian sepanjang hari itu malam itu. Sudah terlalu lelah. Lagipula aku harus mempersiapkan diri untuk acara besok. Jadi setelah mandi, kami semua tidur. Aku senang sejak berangkat Kavyaa tidak rewel. Dia bersikap baik sekali. Aku berdoa semoga selama di Kendari Kavyaa selalu baik dan kooperatif seperti itu. Dengan harapan besar seperti itu pada Kavyaa dan pada diriku sendiri aku pergi tidur. Esok sudah menanti.

No comments: