Tuesday, July 5, 2011

Bedah Buku "Perjalananku Menjadi Hindu"


Tanggal 3 Juli 2011 kemarin telah dilangsungkan acara “Bedah Buku Perjalananku Menjadi Hindu”. Acara ini diselenggarakan oleh PHDI Propinsi Kalimantan Timur dalam rangka Pasraman Kilat tingkat SLTA se-Kalimantan Timur yang berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 1-3 Juli 2011. Acara ini mengambil tempat di Bapelkes Propinsi Kalimantan Timur Jl Anggur Samarinda.

Secara khusus peserta pasraman yang merupakan siswa SLTA se-Kalimantan Timur berjumlah 28 orang dari 40 orang yang direncanakan hadir. Meskipun begitu, acara ini tetap berlangsung lancar dan cukup mendapat perhatian dari mereka meskipun bisa dibilang buku ini mengangkat tema yang jauh dari hura-hura anak SMA.

Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku mengikuti acara Bedah Buku, apalagi peranku justru sebagai penulis buku, bukan sebagai peserta, membuatku agak berdebar menunggu hari H. Tetapi, astungkara semua berjalan baik. Bisa dikatakan persiapanku ternyata cukup. Dan aku berani mengatakan setelah pengalaman pertama ini, bila ada lagi acara semacam ini, maka aku merasa lebih siap.

Bahkan dengan audience yang boleh dibilang belum memiliki ketertarikan dengan masalah spiritual, aku berhasil mencuri sedikit perhatian. Anakku yang paling besar, --seorang tutor bahasa Inggris selama hampir dua tahun ini, dan bertugas mengantar dan menemaniku ke tempat acara karena suamiku harus menjaga anak kami yang paling kecil--, begitu acara selesai langsung mendekatiku dan berkomentar, “Mama sudah bagus kok, cuma belum bisa menarik perhatian mereka kembali saat sebagian dari mereka kelihatan mulai jenuh. Tidak apa-apa, baru pertama, Ma”, katanya. Ah ya,….tentu saja. Dia lebih berpengalaman dibandingku dalam menghadapi audience semacam ini.

Terus terang aku geli di dalam hati sekaligus lega. Kurasa anakku akan berkomentar jujur atas penampilanku. Dan jika menurutnya penampilanku sudah bagus, bisa jadi benar begitu. Aku berterima kasih atas dukungan anakku ini dan berjanji di dalam hati, di lain kesempatan aku akan lebih pandai membaca situasi agar sepanjang acara terhindar dari suasana monoton.


Tetapi seperti kusampaikan sebelumnya, meskipun audienceku belum sepenuhnya paham atau tertarik dengan masalah spiritual, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ternyata cukup tajam. Contohnya ada yang bertanya,”Apa kesamaan Islam dan Kristen? Mengapa Islam dan Kristen selalu bergejolak? Bagaimana dengan Hindu?”

Sementara temannya yang lain bertanya,” Apakah Ibu menyesal telah memilih menjadi Hindu?” “Sebenarnya apa yang Ibu maksud dengan jati diri?”, “Apakah setelah masuk Hindu mengalami kesulitan atau kebingungan?” “Apa yang Ibu maksud dengan kesiapan diri untuk berguru?”

Saya cukup senang mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu cukup menarik bagi saya. Sementara itu sepanjang acara berlangsung hingga selesai sekitar 2 jam kemudian, sambil terus berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya juga memperhatikan reaksi dan bahasa tubuh audience saya. Saya tahu, 3-4 orang dari 28 orang peserta pasraman yang hadir (karena sebagian panitia juga ikut menjadi pendengar) betul-betul terusik, betul-betul merasa ‘kena’ dengan apa yang saya sampaikan.

Bagi saya itu cukup. Memuaskan.

Saya bersyukur, setelah 3 tahun terakhir ini saya tidak pernah lagi berbicara di depan orang banyak, ternyata dalam acara kemarin semua berjalan baik dan lancar. Saya tidak tergagap-gagap. Saya bersyukur karena saya merasa tujuan saya tercapai, tujuan saya untuk ‘menyentuh’ beberapa dari pendengar saya tercapai.
Tapi dari manakah semua keberhasilan ini berasal?

Mari saya bagikan satu rahasia.

Saya katakan sebelumnya bahwa saya begitu gugup menghadapi acara sepele ini. Jadi saya mohon pada Bapak Pelindung saya; Ganesha, pada pembimbing saya Bapak Ganesha yang saya yakini selama saya memutuskan menjadi penulis telah membimbing setiap langkah saya. Membimbing saya dalam setiap kalimat yang saya tuliskan, dalam setiap kata yang saya ucapkan agar tidak salah. Saya memohon berkat-Nya setiap memulai satu proyek menulis saya, saya berterima kasih saat apa yang saya lakukan selesai. Jadi saya memohon berkat-Nya saat menghadapi acara bedah buku kemarin.

Saya sadar bahwa saya hanyalah alat di tangan-Nya. Karena diri saya sendiri tidak mempunyai kemampuan apa-apa tanpa bimbingan-Nya. Ketenangan yang saya rasakan menjelang dan selama acara itu adalah hasil penyerahan diri saya pada kehendak-Nya. Itulah rahasia saya.

Saya juga harus berterima kasih pada suami dan anak saya yang paling kecil –Kavyaa, yang saat ini belum berumur 2 tahun. Acara kemarin adalah pertama kalinya saya meninggalkan dia selama hampir 3 jam. Belum pernah sebelumnya saya harus pergi berpisah dari anak saya ini begitu lama. Menurut suami saya dia tidak terlalu kerepotan saat menjaga Kavyaa. Rewelnya hanya di saat-saat terakhir menjelang saya pulang. Dan suami saya selama 3 jam itu telah berupaya keras berperan menjadi pengasuh yang baik, memberi kesempatan pada saya untuk berkarya. Oh betapa beruntungnya saya. Terima kasih Tuhan.

Inilah kesan-kesan saya tentang acara bedah buku saya yang pertama. Ada satu-dua teman yang menyampaikan bahwa di kota lain ada juga sahabat-sahabat Hindu yang ingin menghadirkan saya dalam acara yang sama. Sungguh, saya berharap saya dapat memenuhi undangannya. Tapi saya tidak bisa berjanji, karena harus melihat situasi dan kondisi. Terutama karena saya memilki anak kecil seperti sekarang ini.

Tapi saya selalu yakin, jika memang saya harus hadir dimanapun saya diminta hadir, pasti akan ada jalan pada waktu itu. Pasti ada caranya. Saya hanya perlu awas melihat keadaan dan sabar menunggu.

Terima kasih pada seluruh pembaca buku saya. Dan tetaplah semangat!

Satyam Vada, Dharmam Chara

4 comments:

dexdio said...

saya sudah membaca buku ini dalam -\+ 4 jam dari jam *8 ampe 12 siang dan memang bener2 cerita yang sangat menarik,saya sangat salut dengan perjalanan Ibu Sikha untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya dijalan Dharma.semoga dengan jalan ini keluarga Ibu Sikha semakin diberkahi .saya sangat salut sekali
salam..

Belati said...

Om Swastiastu
Dear Ibu Sikha,

Saat saya meraih buku tulisan ibu di gramedia, saya langsung tertarik untuk membaca belakangnya terlebih dahulu sebelum saya memutuskan untuk membelinya.

Ternyata di Jiwa ibu ada kemiripan dengan latar belakang saya, ayah saya orang Kal Teng dan Ibu saya Orang Banjarmasin, begitupun agama yang ada di keluarga kami berbeda beda, ayah saya Kristen Protestan dan Ibu saya Muslim, dan saudara laki laki saya Katolik, dan adik perempuan saya muslim, saya beragama Hindu sekarang. saya memahami betul apa yang anda rasakan betapa bebasnya sekarang dalam keagamaan, setelah membaca isi buku anda, saya merasa bahwa saya bukanlah orang yang aneh, yang selama ini saya pikir, kenapa saya tidak suka dengan hukum hukum yang mengatas dasarkan sebuah agama, dan itu wajib di patuhi setuju tidak setuju. saya lega setelah mebaca perjalanan kehidupan agama Ibu, karna saya tidak merasa sendirian merasakan hal seperti itu. Apalagi ada kalimat dimana murid siap, di situ guru akan datang", that's good word, teruslah menulis....karna sebenarnya jiwa kita tidak boleh terkekang oleh siapa pun dan apapun itu.

Om Cantih...cantih....cantih om

Artikelku said...

om swastiastu
ibu sikha

saat pertama melihat buku ibu di toko buku saya memang sudah sangat tertarik dan ingin membaca, tapi apa daya saya tak mempunyai cukup uang untuk membelinya. namun memang tuhan selalu sayang dengan umatnya hingga akhirnya saya mendapatkan buku ibu secara cuma-cuma dari teman yang kebetulan bekerja didirjen.
cerita ibu memang sangat menarik, pengalaman hidup yang mengesankan. ada bagian yang saya sangat suka yakni awal cerita hingga bagian saat ibu merasa lega setelah membaca buku anand Krishna. namun juga ada bagian yang membuat hati saya kecewa yaitu saat ibu mulai belajar spiritual bersama kawan guru ibu, hingga cerita saat ibu memenluk hindu.
lama saya merenung mengapa saya kecewa membaca bagian itu.namun akhirnya saya menemukannya.terlalu banyak hal-hal yang berbau gaib disana seolah-olah ibu memeluk agama hindu karena pengalaman gaib bukan karena kebenaran nilai tatwa hindunya. padahal jika dilihat persoalan pertama yang ibu cemaskan dibuku ibu adalah tentang tatwa.(yah.. ini hanya sekedar ungkapan hati seorang penikmat cerita, jangan dianggap serius).
yang kedua yang membuat saya kecewa adalah judul buku.. kenapa harus "perjalananku menjadi hindu" itu terlalu fulgar pasti nantinya hanya orang hindu yang mau membaca buku ini dan umat yang lain tidak mau( ini pendapat gila saya..) padahal sasaran buku ini seharusnya untuk umum dan hrus dibaca umat non hindu...
ya.. itu sekedar pendapat saya jangan dianggap serius..
trimakasih karena ibu sudi membacanya

om shanti shanti shanti om

Sikha Satyadevi Vahnikanya said...

untuk artikelku:
saya memang banyak menerima ungkapan kecewa orang-orang muda yang mengatakan bahwa saya terlalu banyak mengungkap hal gaib, saya masuk hindu krn hal gaib. Lucu sekali. apa salahnya dgn hal gaib. Hal gaib ada 2, gaib spt yg sering dilihat di tv, yg konyol, bodoh dan penuh ketidaktahuan. Dengan gaib yg suci, yg mengangkat yg membahagiakan. Saya mengalami gaib yg kedua. Dan itu pengalaman yg tdk semua org bs mendapatkannya. saya tdk malu sama sekali dgn pengalaman itu. Saya rasa artikelku blm banyak belajar spritual, baru belajar agama. makanya kecewa membaca pengalaman spiritual saya.
kedua, tentang judul. Tidak benar hanya org HIndu yang membaca buku saya. Banyak org non Hindu yg membacanya juga karena gerah kok bisa org muslim masuk Hindu. Lagipula seandainya buku saya hanya dibaca org Hindu saja, jg tidak apa-apa. Tujuan saya semula mmg utk orang Hindu. Krn banyak sekali org Hindu yg tidak pede dgn agamanya. Banyak sekali yg mudah beralih agama. Jadi, saya hanya berusaha berbagi dgn sedikit org Hindu yang sedang goyah ini.
Saya yakin artikelku tdk termasuk yg goyah. Dan terima kasih sdh membaca buku itu dan memberi apresiasi.