Saturday, July 23, 2011

Kendari - day 4

Tidak banyak yang dapat kuceritakan di hari ke-4 perjalananku ke Kendari ini. Karena rencananya kami jam 5 dini hari harus sudah check in di bandara.

Aku dan suamiku sudah bangun sejak jam 2 dini hari. Mengerjakan rutinitas kami dan mandi. Ketika jam 5 lewat sedikit Pak Ketut Puspa menjemput kami untuk mengantar kami ke bandara, kami sudah siap.

Masih dengan mata setengah mengantuk ternyata ibu Ketut juga ikut mengantar kami, aku tahu kemudian. Dan ternyata lagi sia-sia juga kami datang sepagi itu, karena bandaranya baru buka pukul 6!

Rupanya selama ini mereka belum ada yang punya pengalaman berangkat dengan pesawat pertama seperti aku ^_^, jadi tidak tahu kalau bandara Haluoleo ini baru buka pukul 6 pagi.

Jadi Bapak dan Ibu Ketut Puspa tidak lama menungguku, setelah duduk sebentar bersama kami menunggu hari terang, mereka berpamitan. Aku mengucapkan terima kasih yang sungguh-sungguh pada mereka, pada penyambutan dan penerimaan yang luar biasa tulus.

Setelah Bapak dan Ibu Ketut menghilang dari pandangan, kami duduklah menunggu di bandara itu sampai satu persatu para petugas berdatangan. Satu persatu loket penjualan tiket di bandara buka. Kavyaa belum punya tiket, karena untuk dia tiket harus dibeli saat berangkat. Hal ini memperlambat proses check in kami karena petugas penjualan tiket Sriwijaya Air –pesawat yang kami tumpangi—belum tiba hingga jam 06.20 pagi. Halah!!

Ketika akhirnya Kavyaa mendapat tiket dan kami selesai check in, kami betul-betul tidak perlu menunggu lama di ruang tunggu karena pesawat langsung berangkat. Hanya sekitar 35 menit perjalanan kami telah tiba di bandara Hasanuddin Makasar. Di sini pun sedianya kami hanya punya waktu sekitar 45 menit, pesawat ke Balikpapan segera berangkat. Yang kami tidak tahu sebelumnya adalah, ternyata untuk menuju Balikpapan ini kami transit dulu ke Palu.

Perjalanan ke Palu juga lebih kurang 35 menit. Tidak pernah terpikir bakal menyinggahi Palu, kupikir asyik juga kami bisa menginjak Palu meskipun hanya sampai bandara. Yah, sekarang sampai bandara, who knows besok-besok jalan-jalan di Palu beneran?

Transit di Palu hanya 20 menit tapi kami harus turun dari pesawat, menjalani pemeriksaan segala macam. Untung bandaranya kecil. Jadi sempat semua. Atau mungkin karena bandaranya kecil, makanya penumpang diminta turun dengan semua barang bawaannya? Nggak tahu deh. Yang jelas baru duduk 5 menit di ruang tunggu, kami sudah diminta naik pesawat lagi.

Sekali ini kami betul-betul terbang ke Balikpapan. Penerbangan tidak lama juga, mungkin sekitar 35 menit lagi, kami sudah tiba kembali di Balikpapan. Pokoknya hari ini rasanya tidak puas terbang. Baru duduk sebentar, turun lagi. Naik lagi, duduk sebentar, turun lagi. Yang pasti sekitar jam 12 siang itu kami sudah selesai ambil bagasi di Balikpapan dan langsung carter taksi menuju Samarinda.

Saat ini barulah aku sadar apa yang kurasakan kurang pada diriku sejak aku melangkah turun dari lantai 2 hotel di Kendari dini hari ini. Selendangku!!

Selendang adalah salah satu propertiku saat keluar rumah. Jadi bepergian tanpa selendang melilit di leher rasanya aneh. Sejak pagi ini aku merasa ada yang aneh, ada yang kurang pada diriku, tapi aku tidak sadar. Baru di mobil ini aku sadar, selendangku tidak ada. Padahal semua pakaian yang akan dipakai untuk perjalanan pulang sudah kusiapkan pada malam sebelum berangkat itu. Aku yakin selendangku masih tertinggal di lemari hotel, karena di situlah aku menggantungnya semalam.

Aku tidak terlalu menyayangkan selendangku yang tertinggal itu. Aku hanya bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan hingga selendangku tertinggal di Kendari? Aku telah ceroboh, tidak teliti, itu pasti. Itu satu hal. Tapi aku yakin ada hal yang lain lagi. Ada pesan dibalik peristiwa ketinggaln selendang ini.

Setengah bercanda suamiku bilang,”Mungkin kita disuruh mengunjungi Kendari lagi tuh?”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tapi mungkin ada benarnya yang dikatakannya. Mungkin kejadian ini hanya ingin menunjukkan bahwa memang ada yang tertinggal di sana. Bukan hanya selendang. Tapi hatiku pun tertinggal di sana. Terus teringat pada sahabat-sahabat baruku yang begitu baik dan hangat. Mungkin. Terus teringat pada kota Kendari yang hijau dan udaranya masih sejuk di pagi hari. Mungkin.

Perlu waktu untuk benar-benar bisa melihat makna kejadian ini. Tapi aku punya banyak waktu. So, just wait and see.

Salam Kendari. Wish you luck. Wish me luck. Till we meet again.

Friday, July 22, 2011

Kendari - day 3

Hari ketiga aku di Kendari, Senin pagi. Bangun agak santai karena pagi ini rencananya hanya keliling-keliling kota. Pak Made Guyasa menjemput kami sekitar jam 9 pagi. Beliau jadinya tidak masuk kantor karena mesti bertugas menemani kami sepanjang hari itu. Setelah dijemput kami langsung mulai jalan-jalan di kota Kendari.

Pertama sekali kami dibawa ke salah satu tempat pengrajin gembol, kerajinan dari akar kayu jati. Masih di Wua Wua. Aduh bagusnya. Jati asli. Bukan jati-jatian yang sering sampe Samarinda meskipun ngakunya dari Jepara. Bukan juga jati muda. Ini masih jati yang bagus. Aku tidak tahu jenis kayu jati itu apa saja. Tapi aku tahu kayu yang bagus. Yang ini bagus. Bagus sekali. Aku sampai tidak berani tanya harganya. Benar saja. Malamnya saat aku cerita pada Ibu Ketut Puspa kalau aku sudah diajak melihat kerajinan gembol, dia bilang harganya selangit. Dalam hati aku berkata,” Kalau Ibu Ketut saja bilang harganya selangit, kalau buatku bisa jadi langitnya sampai langit ke-tujuh. Halah”. Cepat aku mengiyakan sendiri, makanya tadi pagi aku ndak nanya.

Setelah puas melihat-lihat berbagai model gembol, kami lanjut mengelilingi kota. Kesanku tentang kota Kendari adalah kota ini bersih dan hijau. Pepohonan masih banyak. Pohon lho ya. Pohon lokal. Pohon tropis. Bukan pohon palem. Ini pohon yang rindang. Jadi kota tidak gersang. (Terbayang aku di Samarinda yang panas, taman buatannya hanya ditanami palem dan ketapang. Sampai-sampai Pulau Kumala yang sedianya jadi tempat wisata saja hutannya digunduli lalu ditanami palem yang tidak ada rindang-rindangnya. Gila ndak tuh? Malas deh kalau berwisata kesana. Cukup sekali kesana .Tak kan terulang kedua kali. Aduh! Samarinda ini selera penata kotanya yang payah, atau malasnya bukan main membersihkan dedaunan yang jatuh. Entahlah.)

Kota juga terlihat tertata dan terencana. Paling tidak bangunan betul-betul masuk, berjarak dari jalan. Tidak ada yang buka pintu toko langsung jalan. Areal perkantoran dan pertokoan juga terlihat dibedakan. Hutan kota juga ada meskipun di sana-sini sebenarnya masih hijau. (Di Samarinda, hutan kota malah jadi mal hik hik hik…).

Kami dibawa berkeliling menyusuri Teluk Kendari. Air permukaannya sangat tenang. Dari sisi sini ke sisi sana lebarnya kurang lebih lebar sungai Mahakam. Paling tidak sama lebar dengan jarak lebar sungai yang terbesar. Sempat melintas di pasar tradisional. Masih ada becak di sana, meskipun tidak beroperasi di semua ruas jalan. Hanya di sekitar pasar. Kulihat irama kotanya juga masih santai. Kelihatannya orang-orang masih menikmati hidup. Tidak dikejar-kejar hidup.


Terakhir kami singgah ke Kampus Haluoleo. Unhalu-Universitas Haluoleo. Kampusnya luas. Mungkin seluas kampus UI Depok atau malah lebih besar. Dan hijau. Terdapat berjenis-jenis pepohonan termasuk Eucalyptus yang bisa dibuat minyak kayu putih itu. Rumput-rumputnya dipangkas rapi. Di salah satu taman di depan rektorat malah pepohonan rindang itu terlihat seperti di film-film. Jadilah kami berpose sejenak di sana. Di bagian lain ada kolam yang dipenuhi teratai. Hmm….sepertinya nyaman kalau berkampus di sana. Lagi-lagi aku membandingkan dengan kampus Unmul di Samarinda, yang tadinya juga hijau, terletak di perbukitan, asri, indah. Tetapi kini bangunan fisiknya tumbuh dimana-mana. Tidak nyaman lagi. Seolah-olah bangunan-bangunan itu hanya mengejar proyek saja. Auk ah gelap!

Setelah puas berpose, termasuk di depan bunga-bungaan cantik yang baru kulihat di sana, kami balik ke hotel sejenak. Rencananya jam 12 kami akan langsung menuju Desa Endanga dan Desa Tri Dana Mulia di Kecamatan Landono. Dan sesuai rencana kami berangkat jam 12 setelah sebelumnya makan di rumah makan nasi kapau yang menunya ternyata tidak ada nasi kapaunya (suami saya orang Minang, jadi dia tahu persis seharusnya nasi kapau seperti apa).


Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di rumah ketua PHDI kec Landono, Bapak Gusti Sukadana istirahat sejenak di sana, tidak lama kemudian Bapak dan Ibu Ketut Puspa juga tiba. Setelah beberapa waktu kami berangkat menuju pura kecil di desa Endanga dimana di sana telah menanti sekitar 50-an orang, siap untuk mendengarkan dharma duta berbicara. Halah. Aku baru tahu di situ, Pak Ketut memperkenalkanku sebagai Dharma Duta. Aku tidak bisa berpikir lagi. “Sudahlah”, dalam hati aku berkata. “Ngomong aja se-keluarnya bagaimana”.

Kavyaa sebenarnya mulai rewel. Mungkin sudah lelah di hari ketiga ini. Tetapi relatif masih bisa di atasi. Sesungguhnya dia cuma ngantuk. Tetapi karena jarak tempat yang didatangi dekat-dekat, baru tidur sebentar, dia harus bangun lagi. Tidur lagi sebentar, eh harus bangun lagi. Ndak kenyang tidurnya. Rewel deh.
Di Endanga ini, aku kembali menangis haru seperti kemarin di Kendari sebelum mulai bicara. Tetapi tidak sesulit waktu di Kendari mengatasinya. Jumlah yang hadir tidak terlalu banyak jadi mungkin aku merasa lebih mudah. Aku bicara juga sekitar 1 jam. Setelah itu aku harus segera memegang Kavyaa yang mulai mengamuk. Gantian suamiku yang diberi kesempatan bicara sekaligus menjawab beberapa pertanyaan dari yang hadir. Aku sempat memberi 2 buah buku di sana.


Hanya 1,5 jam di sana, kami kemudian kembali istirahat di rumah Pak Gusti Sukadana. Sempat diajak makan siang atau makan sore karena waktu sudah menunjukkan pukul 3. Sempat menikmati buah jeruk baby yang manis itu. Mencicipi kue-kue khas Kendari, pisang rebus dan emping goreng. “Ah…ini sih niat menjamu memang”, aku menggumam sendiri. Dan meskipun tidak kuucapkan aku memberi penghargaan pada tuan rumah yang sudah bersusah payah mempersiapkan penyambutan seperti ini.

Sekitar jam setengah lima sore kami menuju pura yang terletak di desa Tri Dana Mulia. Hanya berjarak sekitar 10 menit dari rumah Pak Gusti tadi. Tiba di sana, di luar dugaanku umat yang menunggu sudah banyak. Ada lebih kurang 100-an orang. Wuih….aku tidak menyangka. Dan menyayangkan kondisiku dan Kavyaa yang tidak optimal lagi.

Pura ini besar dan luas karena memang umatnya cukup banyak. Sepintas tadi di jalan menuju pura,melewati rumah-rumah mereka, aku serasa masuk desa-desa di Bali. Model rumah, pagar rumah, lengkap dengan merajan mendominasi rumah-rumah di sana. Aku bergumam dalam hati,”Selama mereka tinggal di lingkungan begini, mereka steril. Makanya tantangan datang pada anak-anak muda yang merantau, yang tidak lagi bersentuhan dengan tradisi. Hmmm …rasanya aku menangkap satu dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi generasi muda Hindu”.

Semula acara akan diadakan di utama mandala. Cepat aku beritahu mereka bahwa aku sedang cuntaka, jadi kemudian acara dialihkan ke nista mandala. Tetapi pemindahan ini memakan waktu. Pelajaran buatku; lain kali jika kondisiku sedang begitu ditanya atau tidak aku harus memberitahu panitia. Akibatnya waktu terbuang hampir setengah jam. Sehingga di tengah-tengah penyampaianku, suamiku sudah tidak sanggup membujuk Kavyaa yang memang sudah rewel sejak siang tadi. Dan terjadilah hal yang lucu.

Suamiku kemudian mengambil alih, melanjutkan ceritaku. Ya..tentu saja dia tahu ceritanya. Tetapi bagaimanapun kepalanya kan berbeda dengan kepalaku. Jadi sambil menjaga Kavyaa dan mendengarkannya, aku menyayangkan dalam hati, karena ada beberapa bagian yang ingin aku beri penekanan jadi terlewat. Tetapi nyatanya jalan cerita hari ini harus begitu. Pembicaranya harus digantikan sementara dulu. Dalam hati aku berharap Pak Ketut bisa memaklumi situasi dan kondisiku yang begini.

Mungkin sekitar 15-20 menit suamiku menggantikanku sebelum aku bisa mengambil alih lagi forum. Aku melanjutkan dengan rasa yang kurang nyaman, karena harus mencari irama masuk yang pas. Sementara hari juga mulai gelap, menjelang pukul 7 malam. Tidak panjang-panjang, kemudian aku akhiri penyampaianku dengan harapan di dalam hati bahwa mereka yang hadir sore itu sedikit banyak mendapat manfaat dari apa yang kusampaikan—dari apa yang kami sampaikan.


Aku sulit menilai audience-ku di sini karena mereka tertib sekali. Mereka hening. Mendengarkan sungguh-sungguh kelihatannya. Tetapi aku juga tidak yakin sepenuhnya, apa mereka sungguh-sungguh mendengarkan? Karena seperti Pak Ketut sampaikan belakangan, mereka ini termasuk desa yang paling sering mendapat kunjungan setiap ada pembicara dari luar yang hadir di Kendari. Nah…nanti karena sudah terbiasa makanya mereka bereaksi seperti itu.

Tapi, aku putuskan dalam hati, dengan segala keterbatasan kondisiku, aku sudah berusaha memberi yang terbaik yang aku bisa. Aku tidak perlu memusingkan hasilnya. Mengapa aku meragukan kasih Tuhan yang telah membimbingku sejak pertama aku melakukan perjalanan ini? Jadi setelah mampu meyakinkan hatiku sendiri, aku habiskan waktu setelahnya dengan lebih lega.

Selepas acara, karena ini sifatnya dharma wacana, tidak ada sesi tanya jawab, kami langsung kembali ke Kendari melihat kondisi Kavyaa yang betul-betul rewel dan hari juga sudah malam. Sebelum pulang aku sempat memberi 2 buah buku juga di desa ini. Kami tidak ikut persembahyangan. Betul saja, begitu naik mobil, Kavyaa langsung tidur. Kami tiba di Kendari sekitar jam 8 dan Pak Ketut mengajak makan malam di restoran.

Lega merasa telah menyelesaikan semua tugas, besok hanya tinggal pulang ke Samarinda, aku merasa rileks. Kavyaa rupanya cukup puas tidur di mobil, dia bangun dengan hati senang. Makan malamnya agak lambat, tetapi sekali pesanan datang, ukuran ikan yang dipesan Pak Ketut membuat kami semua tertawa. Saking besarnya ikannya jadi mirip buaya. Melihat ukurannya justru menghilangkan selera makan. Semangat makanku jadi terbang.


Rupanya semua menu di restoran itu porsi besar, porsi untuk dimakan bersama, bukan porsi sendiri. Suamiku yang pesan bihun kuah juga tidak sanggup menghabiskan bihunnya. Banyak makanan yang tersisa, yang kemudian dibungkus untuk dibawa pulang oleh Ibu Ketut. Dan selain kepala ikan yang buesar itu, bungkusannya diberikan kepadaku untuk sarapan pagi karena besok sedianya jam 5 aku sudah harus check in di bandara. Ah, benar-benar enak makan malam hari itu.

Selesai makan malam kami kembali ke hotel . Ibu Sri sudah menunggu di hotel sejak tadi. Ternyata dia membawakan oleh-oleh untukku. Kami berbincang-bincang sementara suamiku, Pak Made, Pak Ketut dan seorang Bapak lagi yang menguruskan tiket kepulanganku di meja lainnya mengurus tiket dan sebagainya.

Jam 11 malam barulah semua urusan selesai dan kami masuk kamar. Malam itu juga aku berkemas karena benar besok kami harus check in bandara jam 5 pagi. Segera setelah selesai berkemas, kami pergi tidur. Yang ternyata tidak lama karena aku sudah bangun lagi jam 2 dini hari itu.

Thursday, July 21, 2011

Kendari - day 2

Meskipun kami baru tidur hampir jam 12 malam, aku tetap bangun seperti biasa sekitar jam 4 dini hari. Suamiku malah bangunnya lebih awal lagi, karena dia tetap melakukan sadhana-nya seperti biasa. Cuma katanya dia kedinginan di Kendari ini. Aku juga merasa kedinginan. Sampai-sampai AC di kamar sempat kumatikan saat aku mandi pagi dini hari itu. Aku juga melakukan latihanku dan bersiap sarapan saat Pak Ketut mengirim sms mengingatkan tentang acara agni hotra. Ah ya….

Aku memutuskan tidak ikut. Suamiku saja yang ikut upacara itu, supaya kami bisa bergantian menjaga Kavyaa. Supaya Kavyaa saat harus kutinggalkan sudah cukup puas bermain denganku. Jadi jam setengah tujuh pagi suamiku pergi ke rumah Pak Ketut Puspa, sementara aku tetap tinggal di hotel, meneruskan niat semula untuk sarapan dan bermain dengan Kavyaa hingga hampir jam 9 saat jemputanku tiba.

Gantian suamiku yang kembali ke hotel menunggui Kavyaa, aku kali ini yang pergi ke tempat acara dharma tula yang diselenggarakan di wantilan pura Penataran Agung Jagadhita Kendari. Ternyata hotel tempatku menginap lokasinya tidak jauh dari pura. Hanya sekitar 10 menit atau kurang kami telah tiba di jaba sisi pura.

Hmm…….areal pura terletak di bukit, cukup luas dan masih asri. Pepohonan masih ada sehingga angin sejuklah yang bertiup di tengah cuaca panas. Ikut menjemputku ke hotel selain Pak Made Guyasa, Sekretaris PHDI dan Ibu yang juga sekretaris WHDI, adalah Pak Made Suardana, yang tinggalnya di Kolaka, sekitar 200 km dari Kendari, yang menunda pulang ke Kolaka karena mendengar aku datang. Pak Made yang ini setelah memperkenalkanku dengan beberapa orang yang telah hadir di sana, kemudian bertanya apakah aku ingin sembahyang. Aku iyakan dengan segera. Mengapa tidak? Aku sudah sampai di sini.


Jadilah kami semua ke utama mandala. Sementara itu di sana masih ada satu keluarga yang melakukan persembahyangan. Kami menunggu. Sambil mengobrol, aku juga meresapi suasana sekeliling. Hari itu adalah hari ketiga acara odalan pura Jagadhita. Sisa-sisa upacara malam sebelumnya masih tersisa. Persembahyangan dalam rangkaian odalan masih diadakan sekali lagi, malam itu. Jadi aku mengisi acara siang harinya.

Pura ini luas dan tampak asri. Untuk duduk dibuat lajur-lajur berselang-seling dengan tanah berumput. Dinding pura dibuat dari batu hitam, yang belakangan aku tahu sengaja didatangkan dari Bali. Kalau kubandingkan dengan Pura Jagat Hita Karana di Samarinda, pura di sini kelihatan kalah megah. Tetapi di sini energinya nyaman. Setelah keluarga tadi selesai, gantian kami yang mengambil tempat. Sementara itu umat-umat lain berdatangan dan sebagian ikut persembahyangan juga.

Sementara duduk, aku mengobrol dengan ibu yang duduk di sampingku yang aku sudah lupa lagi namanya sekarang. Ya hingga kini aku mengalami kesulitan mengingat nama-nama orang Bali ini dengan cepat. Habis, namanya terdengar mirip-mirip di telingaku. Ternyata tidak lama kemudian Ida Pedanda Sebali Tianyar datang, dan duduk juga 2 lajur di belakangku. Umat yang lain, lantas berdiri dan mundur di belakang Ida Pedanda. Aku sendiri masih bengong-bengong. Kemudian Pak Ketut memberiku tanda supaya aku duduk di samping Ida Pedanda. Aku lantas ingat soal vibrasi. Jadi aku cepat duduk di sebelahnya. Tidak dekat sekali sih. Takut tidak sopan. Hehehe….jadi dudukku agak jauh. Sebelum duduk aku menyalami Ida Pedanda yang langsung menyapaku, dan bertanya,” Masih gugup sekarang?”.

Aku tertawa mendengarnya tetapi dalam hati berkata,”Wah…ketahuan deh..”.
Lantas aku segera duduk di sampingnya. Aku duduk tenang bersila. Tidak lama kemudian kulihat dari sudut mataku Ida Pedanda menutup mata dan kelihatan mulai meditasi, jadi aku juga mengambil sikap yang sama.Kebetulan selama itu tidak ada lagi yang mengajakku mengobrol. Tenang rasanya duduk begitu di sebelah Ida Pedanda sambil menanti persiapan sembahyang. Tapi tentu saja pikiranku masih saja sesekali seliweran. Aku berusaha menenangkan diri. Tidak lama kemudian aku merasa tubuh sisi kiriku seperti bertemu dengan tumpukan energi tebal. Lembut tetapi tebal. Aku merasakan energi itu persis pada separuh tubuhku sisi kiri. Sisi tubuh yang bersisian dengan Ida Pedanda. Aku berpikir-pikir, apa yang kurasakan ini energi Ida Pedanda. Tapi tidak tahulah. Jadi aku tetap mengatur napas, tetap tenang, atau tepatnya tetap berusaha tenang seperti itu hingga persembahyangan dimulai.

Setelah persembahyangan selesai, mendapat tirta dan bija, kami kemudian langsung menuju wantilan. Ternyata umat sudah banyak berdatangan. Ada sekitar 250 orang mungkin yang hadir. Padahal seorang ibu yang berjalan di sebelahku saat menuju wantilan tadi sempat mengatakan bahwa sekarang ini piodalannya sepi, banyak warga yang pulang kampung karena odalan bertepatan dengan Kuningan juga. Wah, dalam hati aku berkata, kalau sepinya saja sebanyak ini, ramenya seperti apa?

Bangunan wantilan ini masih setengah jadi, tapi sudah bisa digunakan. Cukup besar, bila diatur duduk rapi mungkin bisa memuat 500-750 orang. Jadi separuh penuh saat itu. Yang menarik saat itu adalah , ternyata Ida Pedanda memilih duduk di bawah bersama peserta lainnya.Bersamanya duduk juga beberapa pandita dan pinandita lainnya. Sementara aku beserta moderator duduk di panggung, di atas kursi. Pak Ketut Puspa setelah memberi kata pengantar dan sedikit pengarahan, bersama pejabat PHDI lainnya duduk lesehan di kiri kanan panggung bersama peserta lainnya yang lebih dahulu duduk di sana. “Waduh, waduh….,” pikirku. Yah….atasannya membumi, jadi bawahannya membumi semua. Hebat.

Waktu menunjukkan hampir pukul 10 pagi saat acara dimulai, dan rencananya berakhir pukul 1 siang. Ida Pedanda akan berperan sebagai nara sumber apabila ada hal-hal yang tak terjawab dalam diskusi nanti. Setelah moderator memperkenalkanku, aku langsung memulai. Dan terjadilah hal yang benar-benar di luar perkiraan dan rencanaku.

Saat moderator (--Omong-omong moderatorku ini, Ibu Made sekretaris WHDI adalah seorang doktor, begitu juga ketua WHDI-nya. Dari obrolan kami semalam kami tahu ada sekitar 13 orang doktor di sana. Lagi-lagi…hebat..hebat…luar biasa… Begitupun Pak Ketut Puspa, juga seorang doktor. Tidak lama lagi akan ada professor juga tentunya. Hanya masalah waktu. Nah!.Yang luar biasa adalah mereka semua bersahaja dan rendah hati. Jika ingin dicari bukti yang menunjukkan bahwa mereka berpendidikan tinggi adalah cara berpikir mereka yang runtut, bahasa mereka yang tertata rapi dan wawasan mereka yang luas--) masih memberi pengantar, pikiranku sendiri melayang menyaksikan audience-ku yang dalam ukuranku jumlahnya banyak sekali.Kemudian masih memandang mereka, tiba-tiba timbul rasa haru dalam hatiku. Rasa haru bercampur bahagia bahwa aku bisa berada bersama mereka di tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Rasa haru yang tidak dapat kutahan.

Saat mulai bicara, aku masih belum berhasil menguasai perasaan hatiku. Aku terisak. Ada rasa malu pada semua yang hadir, tapi aku juga sadar hal ini tidak dapat kutahan. Jadi aku lepaskan saja sambil minta maaf pada mereka karena aku tiba-tiba menangis seperti itu. Aku katakan aku tidak tahu mengapa aku ingin menangis. Aku katakan aku hanya merasa sangat terharu. Dua kali aku mencoba bicara, dan selalu terhenti karena rasanya tangisku malah mau meledak. Pada usaha ketiga baru aku berhasil. Suaraku masih terdengar bergetar, tapi perlahan-lahan aku berhasil menguasai diri, dan melanjutkan apa yang ingin kusampaikan.

Setelah itu mungkin aku bicara sekitar 1 jam. Dan surprisingly beberapa kali mendapat applause dari para hadirin. Dalam beberapa kali applause aku malah tidak ingat barusan aku berkata apa. Tetapi setiap kali ternyata tepuk tangan dari mereka itu malah memberiku semangat dan keyakinan. Begitulah, setelah selesai penyampaianku, maka sesi diskusi dimulai. Ada 3 orang penanya dalam termin pertama. Tapi mereka masing-masing bertanya 3 pertanyaan. Jadi dalam termin pertama aku harus menjawab 9 pertanyaan. Itu perlu 1 jam. Dan pertanyaannya adalah pertanyaan ringan yang jawabannya berat. Aku harus betul-betul memikirkan jawabannya dan mencari pendekatan apa yang paling mudah bagiku untuk menjawab pertanyaan itu. Betul-betul menguras tenagaku untuk berpikir.

Setelah termin pertama selesai, acara dihentikan sejenak untuk sembahyang bersama dan dilanjutkan mendengarkan pembacaan sloka oleh anak yang beberapa waktu yang lalu telah memenangkan medali emas dalam Utsawa Dharma Gita yang diadakan di Bali.


Saat termin kedua dibuka, diberi kesempatan lagi pada 3 orang penanya, dimana penanya terakhir malah mengajukan 7 pertanyaan, penanya kedua menanyakan hal yang sulit dijawab karena dia mempertanyakan tentang cinta dan penanya pertama selain bertanya juga curhat atas perlakuan yang diterimanya sebagai mahasisiwa karena harus mendengarkan ” ceramah agama” dari sang dosen dalam 10 menit pertama sebelum kuliah dimulai—hal yang saya alami juga saat saya kuliah dulu--. Bedanya dulu saat mengalaminya status saya muslim dan saya terganggu. Jadi saya sangat maklum bila dia Hindu dan dia SANGAT terganggu.

Aku berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebisaku. Ada satu yang tidak tuntas yaitu pertanyaan tentang ritual dan upakara. Jadi moderator menyerahkan pada nara sumber yaitu Ida Pedanda Sebali Tianyar untuk memberikan penjelasan lebih jauh.
Sementara itu karena memang waktu sudah menunjukkan jam 1 lewat, lebih dari jadwal semula, suami dan anakku sudah dijemput dari hotel menyusulku di tempat acara seperti yang sudah direncanakan. Aku langsung memangku anakku yang kemudian menangis, jadi harus kutenangkan dulu dan kubawa ke belakang panggung. Sementara suamiku ikut duduk di samping moderator di panggung. Akibatnya aku tidak sepenuhnya mendengarkan wejangan dari Ida Pedanda.

Mungkin Ida Pedanda memberi wejangan hampir 20 menit, sebelum moderator memberi kesempatan pada suamiku untuk berbagi rasa bagaimana rasanya mendampingiku dalam perjalanan yang penuh liku-liku ini. Suamiku tidak bicara banyak, meskipun saat itu aku dan Kavyaa sudah duduk kembali di panggung. Waktu aku tanya kenapa dia singkat sekali bercerita sampai kesannya mengantung begitu, belakangan dia bilang, dia bingung mau ngomong apa, karena dia sama sekali tidak tahu sebelumnya aku ngomong apa. Hehehe……betul juga.

Setelah suamiku menutup pembicaraannya yang tidak sampai 5 menit itu, moderator juga menutup acara. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Sebenarnya, seandainya waktu lebih leluasa dan dibuka termin ke-3 penanyanya masih banyak. Karena masih banyak tadi yang mengacungkan tangan tapi belum mendapat giliran bertanya. Setidaknya ada dua orang yang protes karena tidak diberi kesempatan bertanya.

Setelah acara ditutup, aku meminta waktu pada moderator untuk acara foto bersama. Jadi kami kemudian mengambil foto bersama, para pejabat PHDI dan Ida Pedanda. Kemudian bergantian para peserta yang lain berfoto bersamaku. Lama-lama semua minta foto bersamaku, baik para pemuda maupun pemudi serta anak-anak. Ramai sekali. Aku tidak tahu lagi siapa-siapa saja yang mengajakku berfoto. Wah…wah….aku merasa kayak jadi slebriti saja. Sambil merasa geli di dalam hati aku berpikir, mungkin begini rasanya jadi selebriti itu ya? Hihihi…..Mereka juga menyalamiku, mengucap salam dan terima kasih. Aku balik berterima kasih pada mereka dengan setulus-tulusnya karena sambutan dan antusiasme mereka yang luar biasa.


Kukira sudah selesai, ternyata mereka masih juga minta tanda tangan di buku PMH yang mereka terima. Memang untuk acara ini Pak Ketut Puspa telah mendatangkan bukuku 100 eksemplar. Buku itu kemudian dibagi pada para hadirin dengan penggantian berupa punia yang dibawah harga buku. Tidak semua mendapat buku, tetapi mereka yang dapat ini sebagian berebut minta tanda tanganku. Heboh sekali. Di sela-sela menandatangani buku, aku ditarik lagi keluar oleh seorang Bapak dari Kolaka. Rupanya dia satu rombongan dengan Pak Made Suardana, yang ini kalau tidak salah menyebut namanya Made Margi, orangnya tinggi sekali. Seperti Pak Made Suardana, dia juga mengundangku ke Kolaka. Kukatakan mungkin lain kali, karena yang kali ini aku belum bisa ke sana. Kami bicara sejenak dan kemudian dia pamit pulang langsung menuju Kolaka. Aku sendiri kembali lanjut menandatangani buku.

Sementara itu peserta lain yang urusannya sudah selesai langsung menuju meja di baris belakang untuk makan bersama. Aku sendiri setelah selesai dengan semua urusan foto dan tanda tangan, kemudian di ajak makan juga bersama dengan Ida Pedanda dan istri yang saat itu juga tengah makan. Kami makan sambil duduk di sisi kiri panggung. Mungkin sekitar setengah jam kami duduk makan sambil mengobrol dengan Ida Pedanda. Ida Pedanda ini orangnya santai sekali. Begitulah kesanku. Sederhana. Kami bicara banyak dari yang setengah serius sampai yang serius. Ida Pedanda mengundangku ke Griya-nya jika berkunjung ke Bali. Beliau juga bertanya apa aku tidak ingin sekolah lagi. Terus terang, aku tidak jelas maksudnya sekolah apa. Dalam pikiranku sih yang dia maksudkan sekolah agama. Belakangan aku tanya suamiku, dia juga menangkapnya begitu. Tapi waktu itu aku tidak kejar. Ya..ya….sekolah agama. Pernah sih terpikir olehku. Tapi belum. Kurasa belum sekarang. Hehehe….

Masih ada beberapa hal yang kami bicarakan, termasuk situasi politik negeri ini. Sekitar jam 3 aku sudah merasa lelah. Kavyaa juga. para pejabat PHDI juga harus rapat. Jadi aku diantar kembali ke hotel. Sebelumnya Pak Ketut Puspa bertanya apa aku jadi pulang besok, atau tunda sehari lagi. Aku tersenyum. Sejak awal saat aku hanya mendapat tiket berangkat ke Kendari aku sudah punya feeling, bahwa beliau berharap aku bisa lebih dari sehari di sini. Jadi kukatakan, aku tidak keberatan menambah sehari. Toh, aku sudah di Kendari. Jadilah, kepulanganku di tunda sehari. Aku pulang hari Selasa jadinya.

Setelah pembicaraan kepulanganku selesai, aku diantar ke hotel dengan janji akan di ajak makan malam bersama. Aku iyakan saja. Entah kenapa aku lupa. Mereka kan masih harus sembahyang odalan hari ketiga.

Jadi saat menjelang malam Pak Made sms mengabarkan tidak bisa makan malam bersama kami karena harus sembahyang, langsung aku iyakan. Aku tidak apa-apa. Aku malah menyesal kok bisa lupa tadi siang kalau mereka masih harus sembahyang. Aku diminta untuk pesan makan di hotel saja. Tapi melihat daftar menu dengan harga yang menurutku ndak sembodo, aku memilih jalan-jalan cari makan di luar sambil melihat-lihat suasana. Meskipun ternyata tidak banyak yang dapat kulihat. Kata petugas hotel, kalau hari Minggu toko-toko di Kendari memang banyak yang tutup. Hehehe….rupanya di Kendari orang-orang masih santai. Tidak seperti Samarinda yang rasanya semua orang terburu-buru sekarang. Entah buru-buru mengejar apa.

Semula kukira hari itu akan kami habiskan bersantai saja. Tetapi ternyata menjelang jam 9 malam, Kavyaa sudah tidur, Ibu Shri beserta suaminya berkunjung ke hotel. Kami mengobrol seru di kamar. Ibu Shri banyak bertanya tentang perjalananku yang kutuiis dalam buku. Wah, jadi mirip bedah buku juga. Bedah buku pribadi. Karena pribadi jadinya malah lebih intens. Yang dibicarakan malah lebih luas. Suami Ibu Shri—yang aku lupa lagi namanya—juga terlihat bersemangat. Seandainya tidak ingat waktu, sudah jam setengah 11 malam, mungkin pembicaraan seru ini masih bisa berlanjut.
Saat mereka pamit pulang, Kavyaa malah bangun. Jadi kembali malam itu aku tidur setelah jam 12 malam.

Malam itu aku belum tahu apa rencana besok. Kalau aku tidak salah tangkap, aku akan diajak mengunjungi desa Endanga atau apa namanya. Lokasinya tidak terlalu jauh, hanya setengah jam perjalanan. Supaya aku bisa melihat kondisi umat di Kendari, begitu kata Pak Ketut Puspa padaku. Aku tidak yakin apa yang diminta dariku saat mengunjungi desa itu. Yang pasti aku harus ngomonglah. Tapi belum terbayang bagaimana olehku. Hanya saja, sudah mendapat kepercayaan diri dari pengalaman siangnya, malam itu aku pergi tidur dengan tenang. Tidak gugup lagi.

Yang pasti malam ini aku sangat senang melihat antusiasme umat di Kendari. Mengingat acaraku siang tadi yang bisa dibilang berhasil, sukses. Malah melebihi apa yang kuharapkan. Itu semua benar-benar membuatku bahagia. Aku juga bahagia dan senang jika Pak Ketut Puspa yang mengundangku juga puas melihat acara berlangsung dengan baik.

Jadi akhir hari itu, aku tidur dengan senyuman. Terlalu banyak kebahagiaan yang kurasakan, aku tidak bsia cemberut. Bahkan roti keras yang dibeli suamiku tidak berhasil membuatku jengkel. Aku toh tidak lapar. Sepertinya kalau sedang bahagia begitu, aku tidak lapar-lapar.

Bagus juga. Jadi untuk menjaga berat tubuh tetap ideal, berbahagialah.

Ya berbahagialah. Semoga besok sama baiknya dengan hari ini. Begitu doaku saat kelat mataku tidak dapat kutahan lagi.

Wednesday, July 20, 2011

Kendari - day 1

Hari Selasa tanggal 12 Juli yang lalu, suamiku di telpon oleh Bp Agung Raka Pembimas Hindu Kaltim untuk datang ke kantornya. Semula suamiku berpikir mereka akan membicarakan tentang materi yang akan diberikan pada pelatihan guru agama se-Kaltim yang sedianya akan diselenggarakan akhir bulan ini, dimana suamiku rencananya adalah juga salah satu nara sumbernya. Tetapi kemudian kami agak heran karena Pak Agung juga meminta suamiku untuk juga membawaku serta.

Jadi kami pergilah menemui Pak Agung dengan perasaan sedikit bingung. Untuk apa aku dipanggil juga? Rasanya tidak mungkin jika aku ikutan menjadi nara sumber untuk pelatihan guru agama itu. Aku bisa mengajari apa? Masak tentang menulis? Hiihihi….Tapi ada urusan apa gerangan hingga aku juga diminta datang.

Kantor Kementrian Agama tidak jauh dari rumahku. Tidak sampai 10 menit, kami sudah tiba di ruang kerja Pak Agung. Pak Agung langsung menyapaku dan dengan semangat penuh seperti kebiasaannya, lalu berkata, bahwa Ketua PHDI Prov Sulawesi Tenggara, Bp Ketut Puspa telah menelponnya dan berusaha mengontakku untuk memintaku memberi
dharma wacana di sana. Deg….hatiku langsung ciut.

Pertama, Sulawesi Tenggara—Kendari. Dalam mimpipun tidak pernah aku berpikir dan memikirkan tentang Kendari. Kini, aku mendapat telpon dan permintaan untuk pergi ke Kendari. Kedua, Dharma Wacana, “Becanda kali ni orang,” pikirku dalam hati. Dapat ide dari mana dia sehingga berpikir aku bisa memberi dharma wacana. Terus terang aku menilai diriku tidak kompeten untuk menjadi seorang pe-dharma wacana. Jadi saat Pak Agung menceritakan asal mula Pak Ketut Puspa mengetahui tentang bukuku (PMH) saat Pesamuhan Agung yang berlangsung beberapa waktu sebelumnya di Bali, hingga kemudian tertarik untuk mengubungiku, aku tidak terlalu mendengarkan. Pikiranku berkelana sendiri. Berloncatan. Sebentar-sebentar malah blank. Pak Mangku Kardi yang juga adalah pegawai Kementrian Agama dan ada bersama kami saat itu hanya senyum-senyum aneh. Membuat perasaanku tambah tidak menentu. Pak Mangku ini geli melihatku kebingungan atau geli karena apa?

Aku tersadar kembali saat Pak Agung menyerahkan telponnya agar aku bisa berbicara langsung dengan Pak Ketut Puspa. Jadilah aku bicara lewat telpon. Suara Pak Ketut ini lembut tertata. Menunjukkan kualitasnya. Dan tambah menciutkan hatiku. Ya, beliau memintaku untuk datang ke Kendari dan memberi dharma wacana. Beliau katakan telah membaca bukuku saat Pesamuhan Agung di Bali beberapa waktu sebelumnya. Saat itu, lagi-lagi sambil terus mendengarkan Pak Ketut bicara, pikiranku nyangkut pada kata dharma wacana. Tapi aku tetap dapat menangkap kalimatnya yang terakhir bahwa aku diminta datang akhir minggu itu, tanggal 16 Juli. Karena sedianya acaraku ini masuk dalam rangkaian acara piodalan Pura Penataran Agung Jagadhita di Kendari yang berlangsung mulai tanggal 15 hingga 17 Juli. Aku potong kalimatnya dan aku katakan, “Dharma Wacana Pak? Ehm…(aku bingung, ragu, dan tidak dapat memutuskan apa yang harus kukatakan. Jadi aku cari aman)…waktunya mepet sekali Pak, saya harus bicarakan dulu dengan suami saya untuk melihat jadwal apakah saya bisa memenuhi undangan Bapak ini”, begitulah kataku waktu itu. Sejujurnya, waktu itu bukan hanya masalah jadwal yang mengganjal pikiranku, ada masalah lainnya seperti, tidak mungkin aku pergi sendiri ke Kendari karena masih punya bayi. Aku harus pergi ber-3, beserta suami dan bayiku. Apa mereka bersedia menerimaku ber-3. Bagaimana biayanya? Aku sendiri tidak sanggup jika harus membiayai ‘muatan ekstra’ ini. Jadi aku sungguh tidak yakin waktu itu. Harapan dan rasa putus asa posisinya 50:50. Undangannya sungguh menarik, tapi aku juga ragu apakah aku sanggup penuhi apalagi dengan syarat yang kuajukan. Belum lagi bila ingat permintaannya agar aku memberi Dharma Wacana. Ah…bikin takut saja.

Jadi setelah mengakhiri telepon, dan sekaligus kemudian aku mendapat nomor Pak Ketut Puspa dari Pak Agung, aku pulang untuk berdiskusi dengan suamiku. Suamiku saat aku bicara dengan Pak Ketut tadi sibuk membantu Pak Mangku Kardi mencetak sertifikat pelatihan guru agama yang berlangsung bulan lalu. Jadi tidak terlalu mendengarkan pembicaraanku.

Sesampai di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya pada suamiku, tentang undangan ke Kendari, tentang dharma wacana, tentang jadwalnya. Dan……ternyata yang menjadi masalah bagi suamiku sama. Kami harus berangkat bertiga, apakah pihak yang mengundang akan setuju? Dia mengabaikan keluhanku tentang ‘dharma wacana’. Setengah mengolokku, dia mengingatkan apa yang disampaikan Bapak Adi Suripto saat bulan Maret yang lalu datang di Samarinda memberikan dharma wacana saat piodalan pura Jagad Hita Karana di Samarinda ini. Waktu itu aku dan suamiku sempat mengunjungi beliau di penginapannya dan mengobrol hampir 2 jam. Memang beliau sempat berkata bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama aku akan bisa menjadi seorang pe-dharma wacana. Waktu itu aku tertawa geli-geli. Itu adalah suatu hil yang mustahal bagiku. Kalau beliau mengatakan aku akan menjadi penulis handal, ya bolehlah. Rasanya aku punya basic skill di situ. Tapi pe-dharma wacana? He must be kidding!

Tapi lihatlah sekarang. Baru berjarak 4 bulan, apa yang dikatakannya sudah terjadi. Ah…aku ini kualat sudah mentertawakan orang tua. Aku memutuskan besok-besok akan menelpon Pak Adi. Lantas aku mengubungi Pak Ketut Puspa lagi dan menyampaikan bahwa aku bisa memenuhi undangannya, hanya saja aku harus pergi bertiga karena kondisiku yang masih punya bayi ini. Dan tiba-tiba Pak Ketut mengatakan acaraku adalah dharma tula, diskusi. Wih….aku lebih senang sekarang. Dan kukatakan padanya, “Yah..kalau dharma tula saya berani Pak. Tapi kalau dharma wacana, sepertinya saya tidak kompeten untuk itu’. Beliau tertawa saja. Dan begitulah. Aku menangkap kesan Pak Ketut tidak mempermasalahkan yang aku harus pergi bertiga. Jadi keputusannya waktu itu, aku menunggu kabar selanjutnya dari beliau.

Dan ternyata kabar baik. Tanggal 16 Juli aku betul-betul berangkat ke Kendari bersama suami dan anakku yang baru berumur 20 bln. Tidak banyak persiapan yang kulakukan berkaitan keberangkatanku. Tapi tentu saja, aku memohon pada Bapak Ganesha untuk memberkati perjalananku ini. Aku memohon sungguh-sungguh hingga berlinang air mata.

Yang aku agak heran, aku hanya mendapat tiket keberangkatan saja. Karena rencananya aku berangkat tgl 16, mengisi acara tgl 17 dan pulang tgl 18. Waktu itu aku sudah punya feeling, Pak Ketut ini punya rencana lain untukku. Bisa jadi aku harus memperpanjang satu hari. Tapi feeling tinggal feeling. Aku excited dengan keberangkatanku ini. Aku belum pernah ke Kendari. Sekarang undangan ini terasa seperti mimpi. Apa gerangan yang harus kupelajari di tempat ini.

Oh ya, sebelumnya Pak Ketut mengatakan bahwa dalam acara dharma tula ini sedianya akan hadir pula Ida Pedanda Sebali Tianyar, Dharma Adhyaksa Pandita. Juga 2 orang pandita lainnya. Membayangkan acara ini nanti dihadiri para pandita, apalagi panditanya seorang dharma adhyaksa, betul-betul membuatku gugup. Bagaimana jika aku salah kata, salah ucap, atau salah mengerti. Tapi gugup tinggal gugup, saat aku sampaikan ke Pak Ketut tentang kegugupanku, sepertinya diabaikan saja. Beliau malah berkata tentang keuntunganku bisa mendapatkan vibrasi dari Ida Pedanda. Aku tidak terlalu paham maksud Pak Ketut dengan vibrasi ini. Paham tak paham. Rasanya paham, tapi apa sama yang dimaksud dengan yang kupahami?

Jadi setelah berpikir tidak ada gunanya lagi sekarang untuk gugup, aku menguatkan hati dan memberanikan diri. Lagipula aku yakin, Tuhan selalu bersamaku. Apa lagi yang harus aku khawatirkan?

Perjalananku dimulai tgl 16 Juli itu. Sempat harus ganti pesawat 2 kali, karena pesawat pertamaku (Lion Air) harus delay, aku dipindah ke Merpati. Ada 9 orang yang juga berangkat dengan tujuan Kendari dan ikut dipindah-pindah bersamaku. Baru selesai dengan urusan bagasi, ternyata kami ber-9 harus pindah lagi ke Sriwijaya Air karena Merpati juga delay. Siiip. Mungkin maskapai itu baiknya diganti namanya menjadi Delay Air, karena dari dulu sering delay. Tapi toh akhirnya kami tiba juga di Makasar. Dan lanjut ke Kendari dengan penerbangan semula, Lion Air.

Aku tiba di Kendari sekitar jam 7 malam. Sudah ada yang menjemputku di bandara. Ketua dan sekretaris WHDI serta wakil ketua dan sekretaris PHDI. Begitu sms dari Pak Ketut kepadaku. Lagi-lagi aku merasakan bahwa aku telah dilayani berlebihan. Mengapa para pejabat ini yang harus menjemputku? Tentu saja ini merupakan kehormatan besar buatku. Tapi aku bertanya pada diriku sendiri, apa aku memang pantas dihormati seperti ini? Aku merasa mereka terlalu berlebihan.

Saat berkenalan dengan mereka (aku harus berupaya keras memasang kupingku untuk mendengar dan mengingat nama-nama mereka karena hingga kini aku masih kesulitan mengingat nama-nama orang Bali ini, hehehe…..), berbasa-basi sejenak. Mereka bilang aku beruntung bisa mendarat. Karena dengan cuaca hujan seperti itu, (saat aku turun pesawat memang kelihatannya Kendari baru diguyur hujan) kadang-kadang pesawat mesti menunda pendaratan dan kembali ke Makasar. Aduh……leganya aku bahwa aku betul-betul bisa tiba di Kendari sesuai jadwal dengan segala kesulitan yang telah dihadapi ini.

Setelah urusan bagasi selesai, kami langsung berangkat menuju rumah Pak Ketut Puspa yang hanya sekitar 20 menit dari bandara. Kami dijamu makan malam di sana. Mengobrol santai sejenak, Pak Ketut mengundang untuk ikut acara Agni Hotra di rumahnya ini besok paginya. Kemudian kami diantar ke hotel yang juga hanya berjarak 1 km dari rumah Pak Ketut.

Selama perbincangan malam itu dan pertemuan pertama dengan mereka, ada hal aneh yang kurasakan. Aku tidak merasa baru bertemu dengan mereka. Aku merasa seperti bertemu kawan lama. Mungkin karena mereka sangat bersahabat. Penerimaan mereka baik sekali. Aku bersyukur dan merasa beruntung.

Kami masuk hotel jam 9.30 malam dengan janji akan dijemput untuk acara jam 9 esok paginya. Tapi aku tidak terlalu banyak menganalisa kejadian sepanjang hari itu malam itu. Sudah terlalu lelah. Lagipula aku harus mempersiapkan diri untuk acara besok. Jadi setelah mandi, kami semua tidur. Aku senang sejak berangkat Kavyaa tidak rewel. Dia bersikap baik sekali. Aku berdoa semoga selama di Kendari Kavyaa selalu baik dan kooperatif seperti itu. Dengan harapan besar seperti itu pada Kavyaa dan pada diriku sendiri aku pergi tidur. Esok sudah menanti.

Tuesday, July 5, 2011

Bedah Buku "Perjalananku Menjadi Hindu"


Tanggal 3 Juli 2011 kemarin telah dilangsungkan acara “Bedah Buku Perjalananku Menjadi Hindu”. Acara ini diselenggarakan oleh PHDI Propinsi Kalimantan Timur dalam rangka Pasraman Kilat tingkat SLTA se-Kalimantan Timur yang berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 1-3 Juli 2011. Acara ini mengambil tempat di Bapelkes Propinsi Kalimantan Timur Jl Anggur Samarinda.

Secara khusus peserta pasraman yang merupakan siswa SLTA se-Kalimantan Timur berjumlah 28 orang dari 40 orang yang direncanakan hadir. Meskipun begitu, acara ini tetap berlangsung lancar dan cukup mendapat perhatian dari mereka meskipun bisa dibilang buku ini mengangkat tema yang jauh dari hura-hura anak SMA.

Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku mengikuti acara Bedah Buku, apalagi peranku justru sebagai penulis buku, bukan sebagai peserta, membuatku agak berdebar menunggu hari H. Tetapi, astungkara semua berjalan baik. Bisa dikatakan persiapanku ternyata cukup. Dan aku berani mengatakan setelah pengalaman pertama ini, bila ada lagi acara semacam ini, maka aku merasa lebih siap.

Bahkan dengan audience yang boleh dibilang belum memiliki ketertarikan dengan masalah spiritual, aku berhasil mencuri sedikit perhatian. Anakku yang paling besar, --seorang tutor bahasa Inggris selama hampir dua tahun ini, dan bertugas mengantar dan menemaniku ke tempat acara karena suamiku harus menjaga anak kami yang paling kecil--, begitu acara selesai langsung mendekatiku dan berkomentar, “Mama sudah bagus kok, cuma belum bisa menarik perhatian mereka kembali saat sebagian dari mereka kelihatan mulai jenuh. Tidak apa-apa, baru pertama, Ma”, katanya. Ah ya,….tentu saja. Dia lebih berpengalaman dibandingku dalam menghadapi audience semacam ini.

Terus terang aku geli di dalam hati sekaligus lega. Kurasa anakku akan berkomentar jujur atas penampilanku. Dan jika menurutnya penampilanku sudah bagus, bisa jadi benar begitu. Aku berterima kasih atas dukungan anakku ini dan berjanji di dalam hati, di lain kesempatan aku akan lebih pandai membaca situasi agar sepanjang acara terhindar dari suasana monoton.


Tetapi seperti kusampaikan sebelumnya, meskipun audienceku belum sepenuhnya paham atau tertarik dengan masalah spiritual, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ternyata cukup tajam. Contohnya ada yang bertanya,”Apa kesamaan Islam dan Kristen? Mengapa Islam dan Kristen selalu bergejolak? Bagaimana dengan Hindu?”

Sementara temannya yang lain bertanya,” Apakah Ibu menyesal telah memilih menjadi Hindu?” “Sebenarnya apa yang Ibu maksud dengan jati diri?”, “Apakah setelah masuk Hindu mengalami kesulitan atau kebingungan?” “Apa yang Ibu maksud dengan kesiapan diri untuk berguru?”

Saya cukup senang mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu cukup menarik bagi saya. Sementara itu sepanjang acara berlangsung hingga selesai sekitar 2 jam kemudian, sambil terus berbicara dan menjawab pertanyaan-pertanyaan, saya juga memperhatikan reaksi dan bahasa tubuh audience saya. Saya tahu, 3-4 orang dari 28 orang peserta pasraman yang hadir (karena sebagian panitia juga ikut menjadi pendengar) betul-betul terusik, betul-betul merasa ‘kena’ dengan apa yang saya sampaikan.

Bagi saya itu cukup. Memuaskan.

Saya bersyukur, setelah 3 tahun terakhir ini saya tidak pernah lagi berbicara di depan orang banyak, ternyata dalam acara kemarin semua berjalan baik dan lancar. Saya tidak tergagap-gagap. Saya bersyukur karena saya merasa tujuan saya tercapai, tujuan saya untuk ‘menyentuh’ beberapa dari pendengar saya tercapai.
Tapi dari manakah semua keberhasilan ini berasal?

Mari saya bagikan satu rahasia.

Saya katakan sebelumnya bahwa saya begitu gugup menghadapi acara sepele ini. Jadi saya mohon pada Bapak Pelindung saya; Ganesha, pada pembimbing saya Bapak Ganesha yang saya yakini selama saya memutuskan menjadi penulis telah membimbing setiap langkah saya. Membimbing saya dalam setiap kalimat yang saya tuliskan, dalam setiap kata yang saya ucapkan agar tidak salah. Saya memohon berkat-Nya setiap memulai satu proyek menulis saya, saya berterima kasih saat apa yang saya lakukan selesai. Jadi saya memohon berkat-Nya saat menghadapi acara bedah buku kemarin.

Saya sadar bahwa saya hanyalah alat di tangan-Nya. Karena diri saya sendiri tidak mempunyai kemampuan apa-apa tanpa bimbingan-Nya. Ketenangan yang saya rasakan menjelang dan selama acara itu adalah hasil penyerahan diri saya pada kehendak-Nya. Itulah rahasia saya.

Saya juga harus berterima kasih pada suami dan anak saya yang paling kecil –Kavyaa, yang saat ini belum berumur 2 tahun. Acara kemarin adalah pertama kalinya saya meninggalkan dia selama hampir 3 jam. Belum pernah sebelumnya saya harus pergi berpisah dari anak saya ini begitu lama. Menurut suami saya dia tidak terlalu kerepotan saat menjaga Kavyaa. Rewelnya hanya di saat-saat terakhir menjelang saya pulang. Dan suami saya selama 3 jam itu telah berupaya keras berperan menjadi pengasuh yang baik, memberi kesempatan pada saya untuk berkarya. Oh betapa beruntungnya saya. Terima kasih Tuhan.

Inilah kesan-kesan saya tentang acara bedah buku saya yang pertama. Ada satu-dua teman yang menyampaikan bahwa di kota lain ada juga sahabat-sahabat Hindu yang ingin menghadirkan saya dalam acara yang sama. Sungguh, saya berharap saya dapat memenuhi undangannya. Tapi saya tidak bisa berjanji, karena harus melihat situasi dan kondisi. Terutama karena saya memilki anak kecil seperti sekarang ini.

Tapi saya selalu yakin, jika memang saya harus hadir dimanapun saya diminta hadir, pasti akan ada jalan pada waktu itu. Pasti ada caranya. Saya hanya perlu awas melihat keadaan dan sabar menunggu.

Terima kasih pada seluruh pembaca buku saya. Dan tetaplah semangat!

Satyam Vada, Dharmam Chara