Saturday, June 18, 2011

Stunning Day

Hari ini bolehlah diberi judul Stunning Day karena aku sudah terpesona hingga tidak mampu berkata-kata dua kali dalam sehari ini. Satu untuk hal yang serius, penting dan membahagiakan. Satu lagi untuk hal remeh temeh, tidak penting dan tidak memiliki pengaruh apa-apa pada diriku. Tapi kedua kejadian ini bagi diriku memberi efek yang sama, I was stunned!

Pertama, tanpa disangka-sangka, bahkan mimpiku tadi malam rasanya tidak mungkin memberi makna sebagus ini (aku mimpi naik rakit berbentuk daun menyeberang lautan dan mimpi merasa kesal pada suamiku—halah---), aku dihubungi oleh seseorang bernama Pak Gusti yang mengaku temannya Anand Krishna (ANAND KRISHNA!!!!!!). Katanya Anand Krishna telah membaca bukuku dan ingin mengundangku untuk berkunjung ke Ashramnya di Ciawi.

Aku mulai salting. Aku masih di jalan waktu menerima telpon dari Pak Gusti dan masih harus berbelanja keperluan rumah tangga di supermarket. Dan telpon itu sudah membuatku stunned. Aku blank. Tidak bisa berpikir koheren lagi. Walhasil aku lupa aku harus berbelanja apa saja. Bahkan catatan daftar belanjaan yang harus kubeli yang sudah kusiapkan dari rumah lupa kuselipkan dimana. Aku langsung berkeringat. Cuaca Samarinda yang sejuk sejak pagi tidak terasa lagi.

Sambil menunggu telpon yang dijanjikan aku mengingat-ingat masa 10 tahun terakhir ini, mengingat-ingat bahwa ada masanya aku ingin sekali bertemu dengan Anand Krishna, tapi tidak pernah kesampaian. Bahkan waktu ke Bali aku menyempatkan untuk mampir dan menginap di Anand Krishna Centre Bali dengan harapan bertemu dengannya, dan ternyata juga tidak bisa.

Selama di supermarket aku ditelpon lagi oleh Pak Yudha dari One Earth di Jakarta yang juga menyampaikan undangan padaku untuk singgah ke One Earth apabila berkunjung ke Jakarta. Aku kenal pak Yudha ini lewat postingannya di milis Anand Ashram. Aku-kan anggota pasif. Ciiiyee… pasif aja bangga. Yah… paling tidak aku kenal nama-nama mereka sementara aku tetap invisible. Hehehe…

Meskipun tidak bisa berpikir lurus, akhirnya aku selesai berbelanja dan berhasil pulang ke rumah dengan selamat. Sekitar jam 12.50 waktu Samarinda, eh maksudku WITA, ada telpon dari Lini, asisten Anand Krishna. Lini Tjeris. Aku tahu lagi siapa dia meskipun dia hanya menyebut namanya Lini. Aku perhatian sih……^_^. Tidak lama kemudian aku sudah menerima telpon dari Anand Krishna sendiri.

Wuih……..I was stunned. Nervous. Happy………………untung aku masih bisa ngomong. Entah aku ngoceh apa saja dengannya. Yang pasti apa yang semula kurencanakan untuk kusampaikan padanya malah tidak kusampaikan. Tapi aku sempat menanyakan perkembangan kasus yang menimpanya, dan terima kasih Tuhan, ada perkembangan yang baik.

Ada niat untuk menyampaikan bahwa aku telah menulis satu buku lagi yang sudah masuk penerbit, dimana salah satu bagian dalam buku itu bersumber dari buku yang dia tulis, tapi beberapa kali aku mau ngomong tentang hal itu, tertahan lagi. Seolah-olah aku disuruh tutup mulut dulu. Jadi ya pada akhirnya sampai percakapan kami berakhir aku tidak sempat ngomong tentang hal itu.

Mengetahui Anand Krishna membaca bukuku saja sudah surprised. Dia menghubungiku by phone ini surprise yang lain lagi. Dia sempat berpesan padaku untuk berhati-hati, jangan terlalu provokatif dalam tulisanku karena masyarakat Indonesia ini belum terbuka. Ah ya…..tentu saja. Kurasa aku memang tidak seberani itu. Tidak seberani dia. Tapi itu masalah lain.

Masalah yang lebih utama adalah sesungguhnya aku belum paham sekali mengapa Anand Krishna sampai memerlukan menelponku langsung seperti ini. Tentu saja bagiku ini sebuah berkah. Dia adalah guruku. Guruku yang pertama. Tetapi jika ada pesan lain yang ingin dia sampaikan padaku melalui kejadian ini, jujur hingga aku menulis ini, aku belum bisa menangkap apa pesannya. Kurasa aku perlu berjarak waktu dari kejadian hari ini untuk bisa melihat lebih jelas. Yang pasti aku bahagia sekali hari ini. Aku bahagia sampai sulit berkata-kata. Aku bahagia.

Lalu apa gerangan yang membuatku stunned yang kedua? Ah ..hanya kejadian remeh temeh waktu aku berbelanja cemilan lagi di malam hari sepulang mengantar Chitta les. Di sebelah toko tempat aku berbelanja ada lapak warung nasi kuning, dan dibelakang lapak yang berupa meja panjang itu telah digelar ambal-ambal di sepanjang emperan 5 buah toko, jadi sekitar 25-30 meter terpasang ambal-ambal itu lengkap dengan tenda-tenda. Ada pengeras suara yang saat itu memutar musik entah apa.

Jadi karena heran, aku bertanya pada empunya toko ada apa gerangan? Katanya itu adalah acara pembukaan warung nasi kuning yang akan dihadiri oleh walikota. Iya, WALIKOTA! Lagi-lagi aku stunned. Apa aku tidak salah dengar? Tapi jawabannya jelas. Jadi aku manggut-manggut saja. Warung itu bukan restauran mewah, hanya lapak biasa. Tapi pembukaannya akan dihadiri oleh bapak walikota. Wow…..ini baru berita.

Sewaktu pulang, aku sempatkan membaca spanduk di belakang lapak tadi. Memang tulisannya adalah warung nasi kuning……………. Ada di sebut Pinrang dalam spanduk itu, sebuah nama daerah di Sulawesi Selatan. Aku bingung lagi. Walikotaku ini orang Dayak kalau aku tidak salah. Istri walikota ini orang Jawa. Apa hubungannya dengan Pinrang yang di Sulawesi Selatan?

Tapi kita tinggalkan saja masalah pembukaan warung nasi kuning yang akan dihadiri oleh walikota ini. Yang pasti bagiku kedua kejadian ini cukup untuk membuatku blank dengan kadarnya masing-masing, dengan kualitasnya masing-masing. Sampai-sampai tiap kali suamiku harus menepuk punggungku untuk membangunkanku dari kondisi blank dan menggodaku sambil berkata “Stunned,eh….????”

Sekali lagi, aku bahagia dan bersyukur dengan berkat yang kuterima hari ini bahwa aku telah dihubungi dan diundang untuk hadir di Ashram Anand Krishna di Ciawi oleh Anand Krishna sendiri. Sayangnya kemungkinan besar aku belum bisa memenuhi undangannya dalam waktu dekat. Situasi dan kondisiku belum memungkinkan untuk itu.

Tapi seperti halnya semua kejadian dalam hidupku, aku yakin dan percaya bahwa, apabila memang aku harus bertemu dengannya segera, maka akan ada jalan di hadapanku yang akan mengantarku kesana. Aku pasrahkan semua urusan ini pada Tuhan. Tuhan tahu aku selalu berusaha yang terbaik yang aku bisa, tapi ada batas yang tidak bisa kulewati tanpa ijin-Nya. Karena itu aku serahkan lagi semua kepada-Nya. Aku telah membuktikan hal ini berkali-kali. Jika Tuhan menghendaki sesuatu itu terjadi, hal yang paling tidak mungkinpun akan terjadi.

Jadi jika aku harus bertemu Anand Krishna dalam waktu dekat ini, Tuhan akan menunjukkan jalannya padaku. Tidak ada yang harus kukhawatirkan.
Terima kasih Tuhan untuk berkat ini. Terima kasih Guruji Anand Krishna yang telah berkenan ‘menghubungiku’ dan menyuntikkan semangat di hatiku. Terima kasih pada semua pembaca bukuku yang telah memberi apresiasi yang membahagiakan.

Terima kasih