Monday, December 5, 2011

Saraswati di L4 Teluk Dalam Tenggarong

Tanggal 19 November yang lalu, hari Sabtu, bertepatan dengan perayaan Hari Saraswati aku diminta untuk memberikan dharma wacana di L4 daerah Teluk Dalam, sekitar 45 menit berkendara dari Samarinda. Sorenya sedianya aku berangkat ke Bontang, karena akan mengisi acara dharma tula yang merupakan bedah bukuku yang pertama dan kedua, juga untuk ikut sembahyang odalan karena kebetulan odalannya jatuh pada hari raya Saraswati ini.

Kebetulan kupikir, jadi aku menyewa kendaraan sekalian untuk 2 hari, (maklum belum punya kendaraan sendiri) karena anak-anakku ingin ikut ke Bontang. Mereka memang belum pernah ke Bontang. Biasanya jika libur sekolah kuajak ke pantai di Balikpapan saja. Jadi sekalian lah….

Masalah itu beres. Tapi sebenarnya aku punya masalah lain, masalah yang lebih besar. Aku belum pernah memberikan dharma wacana sebelumnya, apalagi ini dharma wacana bertepatan perayaan Saraswati. Untungnya mereka mengundangku sekitar 2 minggu sebelum acara. Jadi aku punya cukup waktu untuk belajar, untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan perayaan hari Saraswati ini.

Mulanya hanya begitu. Tetapi setelah 2-3 hari aku mempelajari makna hari Saraswati, barulah aku menyadari, bahwa sebenarnya dengan datangnya undangan ini adalah sekaligus ‘teguran’ bagiku dari Ibu Saraswati karena aku selama ini memang hampir tidak pernah menyapa beliau.

Ada gambar beliau di meja sembahyangku, tapi tak pernah kusapa sungguh-sungguh. Jadi ini adalah sebuah teguran khusus bagiku. Selama ini aku menulis buku, aku membaca berbagai macam kitab yang berisi pengetahuan suci, tapi sekalipun tidak pernah memohon berkah Beliau. Aduh duh duh…aku ini lancang sekali. Belakangan aku tahu lagi bahwa yang berstana di Pura Bontang adalah Ibu Saraswati. Ah…….ternyata MEMANG Beliau telah ‘memanggilku’, mengingatkanku. Aku menyimpulkan, sebenarnya undangan yang kuterima baik dari Bontang maupun dari L4 itu hanyalah sarana Ibu Saraswati untuk mengingatkanku. Apa yang kurang, apa yang selama ini belum kulakukan. Oh…terima kasih Ibu

Segera setelah menyadari hal itu, aku mulai ‘menyapa’ Ibu Saraswati juga setiap kali aku sadhana di pagi hari. Dan Beliau menerimaku, dan menuntunku. Itulah yang kurasakan kemudian.

Jadi, saat hari H tiba, aku pergi ke L4, aku merasa sudah punya bekal lumayan untuk disampaikan.

Tetapi setiba aku di L4 pagi itu, aku merasa hal yang berbeda. Pak Wayan Sudira, yang selama ini menjadi contact person menyambutku di sana. Sebelum memasuki jeroan pura, aku sempat bertanya apa sebenarnya yang beliau ingin aku sampaikan pada hari ini. Ternyata seperti biasa, terutama yang diminta adalah agar aku bisa membangkitkan semangat kehinduan terutama di kalangan generasi muda mereka. Oh oh….

Ternyata tidak khusus tentang Saraswati…hahaha... aku geli sendiri dengan kepanikanku beberapa hari ini.


Aku melihat persiapan untuk perayaan odalan mereka sudah dimulai. Mereka memang akan merayakan odalan di bulan Desember ini. Karya besar. Jadi persiapannya jauh-jauh hari. Aku mencari posisi duduk, dan dalam waktu singkat yang kumiliki berusaha menyusun kerangka besar apa yang bisa kusampaikan nanti.

Saat aku tiba, persembahyangan baru akan dimulai. Aku duduk di depan, di sebelahku adalah Pak Dewa Alit yang adalah salah seorang anggota paruman walaka. Beliau sudah sepuh, tapi seperti yang kebanyakan kulihat selama ini di kalangan orang Hindu, biar sudah sepuh tetap segar dan sehat. Selama persiapan sembahyang beliau menerangkan apa-apa yang kulihat di hadapanku itu. Tentang pelinggih-pelinggih yang ada di hadapanku. Tentang pura desa, pura puseh. Cukup banyak menambah wawasanku tentang praktik keagamaan Hindu di Bali.

Tidak heran. Dari komentar-komentar yang kudengar dari teman-temanku di Samarinda, L4 ini dijuluki Bali Kecil, karena memang seluruh praktek keagamaannya mirip sekali dengan di Bali. Biasanya mereka yang berada di luar Bali, prakteknya agak berubah sedikit menyesuaikan dengan keadaan lingkungan. Tapi di L4 karena memang orang Bali mungkin mayoritas, jadi segala adat istiadat dan tata cara seperti yang di Bali masih mungkin dilaksanakan. Tak mengapa. Aku senang bicara dengan Pak Dewa Alit ini. Beliau tahu banyak. Tapi saat memberi tahuku tidak terasa menggurui. Jadi aku senang-senang saja. Belakangan aku tahu, ternyata beliau senang ‘laku’ juga. hehehe……


Saat tiba giliranku untuk menyampaikan dharma wacana, aku sempat blank. Sejenak, karena sebentar kemudian malah bingung bagaimana mendiamkan Kavyaa. Tadi pagi di rumah Kavyaa kuangkat saja, belum mandi, langsung berangkat kesini. Lah, duduk sembahyang tadi kena sorot matahari kenceng, keringatanlah dia, dan ngamuklah sekarang…..hemmm.

Ayahnya langsung kuberi kode untuk sejenak melarikan Kavyaa. Jadi diiringi suara tangis Kavyaa aku memulai dharma wacana. Selain memenuhi permintaan Pak Wayan Sudira tentu saja aku juga menyinggung tentang Ibu Saraswati. Pas hari Saraswati je…… Inti yang harus kusampaikan tentang hari raya Saraswati adalah agar pada tiap perayaan Saraswati ini benar-benar dimaknai sebagai sarana untuk mendapatkan berkah dari Ibu Saraswati agar kita dapat menerima dan memahami pengetahuan suci.

Tidak lama aku bicara. Bingung juga kalau ngomong sendiri. Kata suamiku sepertinya tidak sampai setengah jam. Rasanya memang hanya sebentar sih. Tapi kuharap pendengarku puas. Jadi tidak perlu lama, tapi apa yang sedikit disampaikan itu betul-betul ‘kena’ dan bermanfaat. Kurasa begitu lebih baik. Aku senang, pendengarku juga senang. Tidak ada orang yang senang mendengarkan dharma wacana lama-lama kan? Hehehe…


Setelah selesai, aku sudah bersiap pamit pulang, eh ternyata diajak makan dulu. Makanlah kami bersama para pinandita. Eh tidak, suamiku kan pas puasa wetonnya, jadi dia tidak ikut makan, hanya duduk menemani saja. Kami sempat foto-foto setelah itu. Sayangnya tadi pas acara malah tidak ada fotonya, karena suamiku harus membawa Kavyaa pergi.

Sebelum pulang, pak Wayan Sudira menawarkan agar aku ikut pawintenan saat odalan mereka. Aku iyakan saja. Rencananya tanggal 3 Desember kemaren pawintenannya. Tapi aku kok tidak enak menguhubungi beliau lebih dahulu. Entahlah aku jadi diwinten atau tidak. Seperi biasa, aku selalu yakin bahwa, jika aku harus ikut pawintenan, pasti nanti ada caranya. Hehehe…..so just wait and see…..hehehe…..

Jadi, setelah kami kembali ke Samarinda, aku bersiap lagi berkemas untuk berangkat ke Bontang sore itu juga.

Wednesday, November 30, 2011

Bedah Buku PMH -- Banjarmasin 17/10/2011

Hanya 2 hari aku bisa beristirahat di rumah sepulang perjalanan dari Lombok-Bali yang hampir 10 hari. Kini aku harus berangkat lagi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jauh-jauh hari, undangan dari Banjarmasin ini lebih dulu datang daripada undangan ke Lombok. Pak Cok Anom, Ketua PHDI Propinsi Kalsel periode yang baru lalu yang telah menghubungiku. Jadi jadwal ke Banjarmasin ini sudah pasti.

Kami berangkat sore tanggal 16 Oktober dan tiba sekitar pukul 7 malam di Banjarmasin. Dijemput oleh Pak Cok Anom sendiri dan isteri. Ibu Cok ini orangnya ceria dan senang guyon. Jadi bersama beliau itu kalau ngobrol kita bisa ketawa terus. Malam itu setiba kami di Banjarmasin, kami hanya makan malam dan langsung diantar menuju hotel untuk istirahat. Aku lega, karena besok acara bedah buku itu rencananya pukul 10 pagi. Kupikir, lebih baik Kavyaa malam ini diajak tidur lebih banyak.

Rasanya dari bandara, ke tempat makan, hingga ke hotel, semua itu terletak di satu jalan saja, di jalan A Yani. Hehehe…..dan ternyata sejak kunjunganku yang terakhir ke Banjarmasin tahun 2005, selain jalan Veteran di mana bekas rumah masa kecilku berdiri, hanya jalan A Yani inilah yang kuingat. Oh ya, saat makan malam tadi, Pak Cok sempat memperlihatkan koran hari itu yang memuat berita tentang kedatanganku di Banjarmasin untuk acara bedah buku ini. Surprise!! Baru ini ada berita kegiatan Hindu yang dimuat di koran umum. Aku seakan tak percaya. Kok bisa? Selidik punya selidik, pimpinan redaksi Banjarmasin Post ternyata tidak hanya memiliki hubungan yang baik dengan Pak Cok, tetapi juga seorang Nasrani, dan yang paling penting—seorang penulis juga. Oh….tidak heran deh kalau dia lebih bisa menghormati dan mengapresiasi orang lain….^-^ Besoknya berita tentang Bedah Bukunya juga dimuat lagi. Masuk koran beh..??? ^-^

17 Oktober 2011. Pagi aku sudah bangun. Ya iyalah..aku mengerjakan sadhana kan lebih pagi lagi. Tapi sebenarnya aku bisa saja tiduran lagi selesai sadhana, kan tidak sedang di rumah. Hanya ini lho, samping kamarku kok ada keributan dan bau-bau sate ayam menyusup masuk kamar….Hheh….ternyata samping kamarku persis ini pasar. Jadi setelah sarapan di hotel (yang kusesali kemudian) kami berjalan-jalan di pasar Ahad ini. Tidak tepat sih kalau dibilang berjalan-jalan. Lebih tepat kalau dibilang berjejalan. Aku sampai membatin di dalam hati,” Orang-orang ini kok mau berjejal-jejal begini di pasar. Kayak nggak ada hari lain aja?”

Untuk pertanyaan itu, aku tahu jawabannnya keesokan harinya. Sama juga untuk jawaban kenapa kok aku menyesal sarapan di hotel? Sebab di pasar ini jajannya banyak sekali. Jajan masa kecilku. Makanan khas Banjar. Aaahhhh…perutku sudah tidak muat!!! Jadi aku bilang sama suamiku besok pagi kita tidak usah sarapan di hotel, cukup jajan di pasar saja. Eh..itulah yang bikin aku menyesal. Namanya juga pasar Ahad, pasar Minggu. Adanya ya cuma di hari Minggu. Jadi besok paginya, meskipun dengan semangat 45 aku melangkah keluar kamar menuju pasar, pasar lengang…..”Aadduoh….kenapa nggak jajan kemaren aja,” dalam hati aku merutuk. Dan itu juga jawabannya kenapa mereka semua kemaren rela berjejal-jejal di pasar. Oh..oh….

Tak apa. Itu kan hanya selingan. Tujuan utama ke Banjarmasin kan untuk bedah buku. Sekitar jam 10 pagi aku tiba di wantilan pura Jagatnatha Banjarmasin. Tidak menunggu lama, acara kemudian dimulai. Peserta yang hadir sekitar 150-an orang. Tapi menurut Pak Cok itu sudah jauh melebihi perkiraan. Wah...astungkara kalau begitu. Dan baru di Banjarmasin inilah bedah bukunya paling mirip dengan bedah buku beneran. Paling mirip, karena belakangan ada acara bedah bukuku yang lebih serius lagi. Tapi dibanding seluruh perjalananku sebelum ke Banjarmasin ini, ya inilah yang paling serius bedah bukunya. Biasanya yang ditinjau dan dibahas hanya isinya saja, tetapi di sini juga dikritisi cara penulisannya, apa lagi ya?? yah….apa-apalah yang sifatnya teori begitu. Hmm….


Seperti biasa, karena wantilan ini atapnya rendah dan udara terasa panas, Kavyaa dibawa lari ayahnya. Jadi aku bisa agak tenang menyajikan materi pengantar sebelum memasuki diskusi. Meskipun, karena ada break makan siang, Kavyaa yang sudah kembali dengan ayahnya tepat saat break, tidak mau lepas lagi dariku, dan ngantuk juga dia plus kepanasan, jadinya pada sesi tanya jawab kedua, seperti biasa suamikulah yang harus menggantikanku. Untunglah peserta akan menerima inti jawaban yang sama dengan bila aku menyampaikannya sendiri. Bedanya mungkin, kalau suamiku yang menyampaikannya tidak dramatis sepertiku. Hehehe....

Saat sesi diskusi dimulai sekitar 1 jam setelah pemaparanku, nah ini yang seru. Pertanyaannya banyak. Beberapa benar-benar bertanya karena ingin tahu, beberapa bertanya karena tidak puas dengan apa yang kutulis di buku, beberapa bertanya untuk mengetesku, beberapa memberi apresiasi dan saran saja, dan ada satu yang membuat alarmku berdiri. Satu orang yang mencoba menghanyutkanku, dengan pujian agar bisa dibanting kemudian. Ada penyusup di acaraku ini. Atau yang lebih parah lagi ada penyusup di tubuh keluarga Hinduku di Kalimantan Selatan ini. Aku membaca rencana besar di belakang penyusupan ini. Tetapi justru pengalaman inilah yang telah membuatku ‘naik kelas’. Hah…perlu guncangan besar untuk membuat lonjakan besar. Karena peristiwa inilah aku menemukan: Dharma Raksitah Raksatah! Siapa yang melindungi Kebenaran, maka dia akan dilindungi oleh Kebenaran!


Bagaimanapun, aku sempat marah dengan keadaan ini pada waktu itu. Karena itulah aku menunda cukup lama sebelum mulai menuliskan cerita di Banjarmasin ini agar aku punya cukup waktu untuk tenang dan mampu berpikir jernih. Meskipun sebenarnya itu ternyata tidak terlalu perlu, karena dalam sebulan terakhir ini aku mendapat begitu banyak pelajaran spiritual yang nyaris membuatku tak sanggup berpikir lagi. The situatian was so perfect. Tuhan memang baik.

Jadi cukuplah itu yang kukatakan disini. Secara pribadi aku cukup puas dengan acara di Banjarmasin. Semoga peserta bedah buku (yang belakangan aku tahu juga ada rombongan dari Palangkaraya sekitar 7 orang, yang di saat break acara memintaku untuk ke Palangkaraya, dan ternyata memang terjadi demikian) juga mendapat sesuatu yang bermanfaat dengan menghadiri acara itu.


Malamnya kami diajak makan malam oleh seorang dokter, yang telah menjadi salah satu sponsor juga untuk kedatanganku ke Banjarmasin. Sebelum pergi makan, aku juga sempat bertemu dengan Airini dan suaminya. Mereka pasangan muda dari daerah Lok Sado dekat pegunungan Meratus, yang sangat concern dengan keadaan masyarakat Lok Sado yang ‘tidak terurus’. Ya..masyarakatnya ingin berintegrasi dengan Hindu, tapi kelihatannya pejabat Hindunya malah tidak terlalu peduli. Hmmm……dimana-mana inilah yang kutemui. Kami sempat berbincang sekitar 1 jam tanpa solusi yan memuaskan sebelum bergabung dengan acara makan malam ini.


Kurasa pengalamanku paling penting di Banjarmasin ini adalah bertemu atau berhadapan dengan ‘penyusup’ tadi yang berkat bantuannya itu seperti yang kukatakan malah membuatku ‘naik kelas’. Malah membuat pemahamanku tentang ajaran Dharma ini makin jelas dan mantap. Jadi pengalaman itu meskipun sepintas terlihat buruk, sebenarnya tidak buruk juga. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya saja.

Sampai sekitar 2 atau 3 minggu setelah aku kembali ke rumah, si penyusup tadi masih menguhubungiku via sms meskipun menggunakan nomor yang berbeda dan nama yang berbeda. Dan aku tahu, aku tidak berminat melayani orang ini, lagi pula aku yakin selama aku selalu berjalan di jalan Dharma, maka yang Adharma tidak bisa mendekatiku. Dan ini telah kubuktikan berkali-kali!

Kembali dengan kisahku di Banjarmasin. Setelah makan malam kami balik ke hotel. Besoknya karena pesawatku pesawat sore, sepanjang hari itu kami di antar Ibu Cok melihat-lihat kota Banjarmasin. Ke jembatan yang mirip jembatan San Fransisco itu, dan makan soto Banjar yang uenak….sekali di daerah Kuin kalau ndak salah ya?? Suamiku yang tidak tahan dengan aroma masakan ayam saja dan juga tidak makan ayam, bisa makan di sana cukup dengan menyingkirkan suiran ayam dari mangkok sotonya. Hmm…
Oh ya, pagi itu sebelum jalan-jalan, ibu moderatorku kemaren juga sempat mampir ke hotel. Kami mengobrol sekitar 1 jam dan dia juga membawakanku oleh-oleh makanan khas Kalsel yang dimasukkan dalam tas jinjing cantik. Tadinya kukira dia mau berangkat 1-2 hari kemana gitu, ternyata tasnya itu untukku beserta segala makanan di dalamnya. Oh oh….Airini juga membawakanku jajanan dan ikan saluang goreng. Hmmm orang Banjar ini memang senang makan. Hahaha…..

Sore sekitar pukul 6 Pak Cok mengantarku lagi ke bandara dan kami bersiap pulang kembali ke rumah. Aku berharap ada jeda waktu yang cukup sebelum ada undangan lagi ke tempat lain, karena aku mulai mengkhawatirkan proyek-proyekku yang terbengkalai selama 2 minggu ini.

Tapi daripada pusing memikirkan proyek-proyekku itu, lebih baik kuserahkan semua urusan ini kepada Tuhan, seperti biasa. Dia akan mengaturkan segala sesuatunya hingga hanya yang terbaik yang terjadi padaku. Jadi, setelah ingat dengan hal itu, aku tidak khawatir lagi.

Selamat tinggal Banjarmasin. Aku mendapat beberapa teman yang namanya bisa kuingat selain Pak Cok, yaitu pak Ngurah Sugiri dan Pak Wayan Landep. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan mereka di lain waktu.

Wednesday, November 16, 2011

Tirta Yatra Bali 2011 -- Part 2

Sesampai di kompleks pura Besakih, aku terpana. Olala…..ternyata yang namanya Pura Besakih itu tidak hanya satu. Ternyata yang namanya kompleks Pura Besakih itu seluas itu. Pantas, tadi di mobil Mas Made bilang bisa setengah hari di Besakih. Aku sendiri menghitung melihat jumlah pura yang ada di sana, bisa beberapa hari baru habis jika ingin menapaki satu persatu pura yang ada. Hhh……aku geleng-geleng kepala. Lihatlah leluhur kita begitu…..

Begitu…..

Begitu agung pencapaian spiritualnya (sampai susah ngomong aku). Begitu agung pencapaian seni dan budayanya. Mengapa masyarakat Indonesia kini malah berusaha dijauhkan dan menjauhkan diri dari budayanya sendiri? Mengapa masyarakat Indonesia masa kini selalu berusaha diputuskan atau memutuskan hubungannya dengan leluhurnya? Hal itu pasti disebabkan karena ketidaktahuan!

Aku teringat saat aku remaja dulu. Dicekoki dengan berbagai macam ajaran baik dari pelajaran agama maupun dari pelajaran umum di sekolah. Lama aku menerima informasi bahwa leluhurku dulu itu, leluhur orang Indonesia itu peradabannya masih rendah dan lain sebagainya, masih bercawat (dengan mencontohkan suku-suku asli yang masih tertinggal sekarang), mengenakan pakaian yang tidak praktis dan tidak etis. Ah…., aku ingat waktu itu aku sempat malu dan menyesal mengapa lahir menjadi anak cucu keturunan orang Indonesia.

Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini aku menyadari kalau semua itu tidak benar, bahwa sejarah leluhurku telah dinilai secara tidak proporsional dan penuh muatan politis. Bahwa selama ini ternyata aku telah dibohongi bulat-bulat. Telah beberapa waktu ini pula aku mengoreksi perilaku burukku itu. Tapi kunjunganku ke beberapa daerah bulan-bulan terakhir ini dan perjalanan-perjalanan yang membawaku bersentuhan pada sejarah masa silam, termasuk kunjunganku ke Besakih ini makin membuka mataku bahwa leluhur kita di Nusantara ini bukanlah kaum barbar, biadab dengan pengetahuan rendah dan tidak berbudaya. Justru leluhurku—leluhur kita-- berbudaya sangat tinggi. Mempunyai peradaban dan memegang serta memahami Pengetahuan Suci. Di beberapa daerah Pengetahuan Suci itu lebih dikenal sebagai kearifan lokal (local genius). Sayangnya hingga kini kearifan lokal inipun belum sepenuhnya dihargai. Dihargai saja belum, apalagi diterima, dan masih merupakan mimpi untuk mendapat apresiasi. Padahal aku bahkan berani mengatakan (meskipun belum bisa menunjukkan bukti nyata) bahwa Nusantara ini adalah pusat dunia, pusat dari peradaban diseluruh dunia! Jangan minta bukti sekarang padaku. Hanya itu yang sementara ini dapat kukatakan.

Percakapan yang terjadi di kepalaku terus berlangsung sementara kami menapaki jalan mendaki. Aku minta di antar ke Pura Gelap. Aku sudah diwanti-wanti oleh Ibu G di Lombok bahwa aku harus ke Pura Gelap sebelum ke yang lainnya. Jadi itulah yang kulakukan. Ternyata Mas Made malah belum pernah ke Pura Gelap. Tapi dia ngotot akan mengantarku ke sana.

Setelah bertanya-tanya (kok ya ndak mau melihat peta….padahal petanya jelas terpampang menjelang memasuki kompleks pura…^-^) akhirnya kami tahu jalan menuju Pura Gelap. Ada lorong di samping tembok penyengker pura utama terus naik ke atas. Kami menyusuri lorong itu. Sebenarnya tidak tepat juga dikatakan lorong. Mungkin lebih tepat dikatakan jalan kecil disamping tembok pura. Tapi karena sisi satunya lagi ada bangunan-bangunan pedagang yang menawarkan barang kerajinan maupun yang berjualan makanan/minuman, jadi mirip lorong deh.


Perlahan aku menapak jalan naik. Di sana sini ada anak tangga satu dua tingkat. Aku baru sadar, kalau sejak tadi kami mendaki terus makin mendekati kaki gunung. Gunung apa ya? Aku tidak sempat bertanya. Mungkin kami mendaki itu sekitar jarak 500m baru ada tanda-tanda Pura Gelap dari kejauhan. Normal, aku tidak akan sanggup deh jalan sejauh itu, dengan kondisi jalan mendaki, menggendong Kavyaa pula. Hehh……tapi nyatanya aku bisa. Tanpa mengkis-mengkis kehabisan napas.

Saat kami tiba di depan Pura Gelap. Aku terpana sekali lagi. Woowww….kami seperti dibawa melintas jaman. Entah ukiran gaya jaman kapan pura ini. Berbeda sekali dengan ukiran di pura-pura yang lain. Sepertinya yang ini dari era yang lebih tua. Mana batunya hitam semua. Kami tiba di Pura Gelap sekitar setengah satu siang, tapi di atas sini langit terlihat mendung-mendung saja plus udara yang sejuk membuat kami lupa kalau waktu itu sebenarnya adalah tengah hari membentang.


Naik ke jeroan pura ternyata anak tangganya banyak sekali. Pura di Samarinda hanya memiliki tidak sampai setengah dari jumlah anak tangga di sin. Untuk itupun biasanya aku harus dua kali berhenti di tangga untuk ambil napas. Tapi di sini tidak. Meskipun Kavyaa menggelayut di pinggang, mengenakan selop tinggi, aku tetap berhasil menaiki anak tangga satu persatu dengan mantap sampai tiba di jaba tengah. Tapi kami menahan diri untuk tidak langsung menikmati suasana yang indah ini. Kami langsung sembahyang.

Pemangku yang bersiap di Pura ini begitu melihat kami segera menyambut dan membantu kami dalam persembahyangan. Suamiku terpesona dengan naga Basuki yang terdapat di samping kanan pelinggih utama. Tak puas-puas dia memandang dan memotret patung naga itu. Padahal begitu banyak yang bisa dilihat di sini. Begitu banyak yang bisa dinikmati. Mau bilang apa, kalau perhatiannya sudah tersedot habis ke naga itu. Tapi dia sempat meditasi sejenak tadi selesai sembahyang. Dan selama waktu yang sejenak itu sempat melihat permata merah dihadapannya. Sayang tidak diambil hehehe….. Aku tidak bisa ikut meditasi. Jadi sementara menunggu aku beserta Mas Made dan Mbak Putu duduk-duduk saja sambil meresapi keadaan sekeliling. Setelah urusan sembahyang selesai, barulah kami benar-benar rehat sambil menikmati suasana di Pura Gelap ini.

Aku sudah memutuskan akan datang lagi ke sini lain kali aku ke Bali. Ada suasana mistis yang berbeda di sini. Aku masih ingin berlama-lama. Tapi tidak bisa kali ini karena merasa diburu waktu. Aku masih punya acara sore nanti. Jadi hati tidak tenang sepenuhnya. Kami meminta pemangkunya untuk berfoto bersama kami. Barulah kemudian kami ke jaba tengah. Di sini pemandangannya juga eksotis. Serasa berada di taman-taman kerajaan. Sedang asyik melihat-lihat tiba-tiba Mas Made memanggilku.
“Mbak kemari”, katanya.
“Lihatlah pemandangannya dari sini!”.

Sejak naik tadi baru inilah aku berbalik memandang ke luar dari arah dalam Pura Gelap. Dan ………. aku tak mampu berkata-kata. Pemandangan yang terpampang di hadapanku kini adalah pemandangan yang pernah kulihat dalam mimpiku seminggu sebelum aku berangkat ke Lombok. Aku bermimpi melihat hamparan pura-pura dengan payung kuning dan penjor di sana-sini seperti sedang ada upacara atau perayaan. Aku melihatnya dari tempat yang tinggi. Dalam mimpiku aku berpikir aku sedang terbang, karena yang kusaksikan adalah atap-atap pura. Dalam mimpi itu aku merasa tinggal di daerah itu karena ada seseorang yang memintaku untuk menempati salah satu rumah yang ada di situ. Jadi kemudian aku ke rumah itu dan bertemu dengan kera putih di sana. Kera itu kuberi makan dan bermain denganku. Begitulah mimpiku, hanya sampai di situ. Tak dinyana. Ternyata pemandangan yang kulihat dalam mimpi itu nyata. Di sini. Dalam mimpi itu aku ternyata berdiri memandang ke bawah dari Pura Gelap ini.
“Oh Tuhan….terima kasih. Terima kasih atas pengalaman ini. Aku belum sepenuhnya memahami pesanMu. Tapi sampai di sini saja aku sudah merasa di berkahi. Terima kasih!”

Aku berteriak memanggil suamiku yang masih sibuk memotret. Aku serasa tidak sabar mengingatkannya kembali cerita mimpiku itu. Setelah dia tahu bahwa mimpiku itu kejadiannya di sini, dia lantas bilang sambil mengangkat bahu,” Menurutku kera putihmu itu Hanuman”. Gantian aku lagi yang bengong mendengarnya. Tapi kami tidak memusingkan mimpi itu lagi. Perasaan senang dan bahagia yang tidak terlukiskan yang kurasakan sudah tidak tergantikan lagi dengan yang lain. Untuk sementara semua ini sudah cukup. Mas Made dan istrinya yang ikut mendengarkan percakapan kami hanya bisa mengatakan ,”Wah…wah…..,” saja. ^-^

Setelah berpuas-puas diri di Pura Gelap barulah kami turun kembali menuju Pura Penataran Agung. Jalan turun lebih cepat rasanya meskipun justru kurasakan lebih berat tekanannya di kakiku. Ya…aku harus menahan bobot Kavyaa juga yang lagi-lagi minta digendong. Tapi cepat kami sampai di Penataran Agung. Memang ada sisa odalan kelihatannya. Tapi Mas Made tidak tahu odalan apa. Buatku tidak menjadi masalah.

Mas Made dan Mbak Putu pamit karena akan sembahyang di pedharman mereka (mungkin?) karena tidak mengajakku sembahyang. Mereka membawa bunga dan banten dan melangkah ke daerah belakang pura Penataran Agung. Sementara aku duduk menunggu dan menyaksikan turis-turis yang hilir mudik berpose di beberapa tempat dan mengobrol dengan para guide mereka.


Memang Mas Made tidak lama. Hanya sekitar 15 menit. Kami kemudian bersiap sembahyang di sini. Yang ternyata tidak memakan waktu lama juga. Setelah sembahyang dan mengambil beberapa foto di dalam lingkungan pura Penataran Agung ini barulah kami melangkah pulang. Aku merasa lega karena niat tirta yatra terpenuhi meskipun belum memuaskan hatiku. sambil berjalan santai menuju parkiran mobil aku membuat rencana dengan suamiku untuk kembali tirta yatra dengan waktu yang lebih santai, lebih panjang daripada hari ini. Dia setuju. Sip sudah.

Kini aku tinggal memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dua eh tiga rencanaku lainnya. Pertama cari perlengkapan sembahyang, kedua cari oleh-oleh dan ketiga hadir pada acara copy darat FDJHN. Ah…..kayaknya nggak terkejar waktunya nih. Tapi janji is janji, aku akan hubungi dulu apakah tidak mengapa aku datang terlambat. Karena sesungguhnya memang sudah terlambat banget. Janji pertemuannya jam 6 sore. Sementara kami keluar dari Besakih saja sudah jam setengah 5 sore. Mana mungkin terkejar di acara untuk hadir tepat waktu?

Begitulah first thing first. Aku mencari perlengkapan sembahyang dulu yang sulit kudapatkan di Samarinda. Meskipun berbelanja kayak orang mabuk karena tidak pakai pilih-pilih, lihat langsung ambil dan bayar, tapi hampir semua kebutuhanku sudah berhasil kudapatkan. Malah kebutuhanku sendiri yang belum. Aku pengin menjahit beberapa kebaya rencananya di Bali ini. Malah nggak sempat nih…..wuawaawwaaa………*._.*

Setelah itu mencari oleh-oleh. Masak pergi 2 minggu meninggalkan rumah dan menitipkan anak-anak pada kakakku tidak membawa apa-apa. Harus disempatkan sore ini. Jadi begitu deh. Belanja kayak orang mabok lagi, ambil set.. set…. set… trus…bayar.

Setelah itu aku diantar kembali ke hotel untuk bersih-bersih badan sebelum menghadiri pertemuan itu. Tapi Mas Made memaksa aku harus mampir ke rumahnya barang sejenak sembari menunggu dia mandi, jadi nanti tidak pake acara menjemputku lagi. Langsung saja mereka nanti yang menunggu kami mandi di hotel.

Wuahahahaa….begitulah aku mampir rumahnya sejenak. Betul-betul sejenak. Mas Made mandinya bersih apa tidak itu kok cepat sekali selesai. Untung Mbak Putu mandinya tidak secepat Mas Made. Setelah mereka siap kami langsung menuju hotel. Gantian mereka lagi yang menunggu aku bergantian mandi dengan suamiku dan Kavyaa. Tepat jam 8 malam barulah kami bisa meluncur ke tempat pertemuan di Wr Gurame, rumah makan milik Pak Kantha yang salah satu dedengkot FDJHN itu.

Ternyata alamat yang dimaksud lumayan jauh jaraknya dari hotel kami. Pokoknya kami terlambat pol. Meskipun begitu aku sangat bahagia karena Pak Kantha tetap menyambut kedatangan kami dengan hangat. Ah…akhirnya bertemu juga dengan saudara-saudara dari dunia maya.

Telah berkumpul banyak orang yang tidak dapat kuingat dengan segera namanya satu-satu pada malam itu. Belakangan aku cari lagi wajah-wajah mereka pelan-pelan di FB barulah aku bisa menghubungkan nama dengan wajahnya. Itupun tidak semua berhasil kuingat. Seperti yang sudah sering kukatakan, maklumlah processornya mulai lelet kerjanya. Mungkin sudah waktunya aku harus upgrade kapasitas memori otakku sekarang hehehe…..

Yang tak kulupakan tentu saja Pak Kantha yang sering menyapaku di FB, Pak Ngurah Pratama, Bu His, Bu Ning, Bhawa Cakep, Jarot Widi, Pak Ketut Kinog yang datang belakangan lagi dibanding aku, Pak Wayan Sukarma, Pak…siapa lagi…hmmmm…dan bapak-bapak yang namanya tidak dapat kusebutkan satu persatu. Hahaha…

Pertemuan itu terasa akrab. Sayang mulainya sudah terasa malam sekali bagi aku yang punya anak kecil. Molornya hampir 3 jam dari jadwal semula. Biasalah orang Indonesia, tunggu-tungguan. Kupikir, aku aja datang terlambat. Sekalinya masih ditunggu-tunggu, jadi belum mulai-mulai. Oohh….


Akibatnya aku tidak bisa bergabung lama-lama juga. Kavyaa mulai rewel. Dia memang sudah mengantuk sejak sore tadi dan sama sekali belum mendapat kesempatan tidur. Sekarang acaranya ‘cuma’ ngomong-ngomong dalam suasana yang remang, yah..ngantuknya datang lagi rupanya ^-^. Rewellah dia ingin segera leyeh-leyeh di kasur. Terpaksa aku mohon ijin untuk pulang lebih dahulu. Jadinya hanya 1 jam aku bergabung dengan mereka. Mas Made dan istri yang juga ikut hadir bersamaku juga mulai mengantuk
kelihatannya. Jadi sangat bijaksana kami segera pamit pulang.

Sampai di hotel, memang aku segera bablas sampai pagi. Sebelum berpisah Mas Made hanya berpesan bahwa dia akan menjemput kami pagi untuk mengantar kami ke bandara. Aku berpisah dengan Mbak Putu malam ini, karena besok dia tidak akan ikut mengantar kami ke bandara. Ah…belum puas rasanya menghabiskan waktu bersama keluarga kecil ini. Tapi aku menghibur diri. Aku toh sudah berencana libur sekolah tahun depan akan ke Bali lagi bersama anak-anak. Dan untuk waktu yang cukup lama. Tidak seperti sekarang. Jadi aku tidak lama bersedih hati.

Besok paginya, tanggal 13 Oktober kami balik ke Samarinda transit Makasar. Perjalanan yang ternyata memerlukan waktu 18 jam untuk tiba di rumah lagi. Ya, karena jam 12 malam baru aku tiba di Samarinda. Biasalah, karena naik ‘delay air’. Sudah memang transitnya lama –4 jam—tambah delay 2 jam, lengkaplah sudah penderitaan. Kavyaa sampai berguling-guling di ruang tunggu bandara. Gelisah. Capek. Kubiarkan saja dia seperti itu daripada menangis rewel mengganggu calon penumpang lain yang memang semua sudah terganggu oleh kebiasaan delay maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia ini. Oh…..negeriku….

Saat aku tiba di pintu rumahku tepat jam 12 malam, aku menarik napas lega. Ah…selesai juga perjalananku ke Lombok dan tuntas juga niat singgah ke Bali. Tapi….ah aku baru ingat, tanggal 17 ini aku harus terbang lagi ke Banjarmasin Kalimantan Selatan. Menyambangi tanah kelahiranku. Memenuhi undangan dari Pak Cok Anom, mantan ketua PHDI Kalsel. Hmmm…..ternyata leganya tidak bisa lama-lama. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan memikirkan cara yang paling baik untuk menenangkan hati anak-anakku yang selama ini sudah harus mengurus dirinya sendiri selama aku di Lombok ini yang akan segera kutinggal sekali lagi: Pragyaa dan Chitta.

Friday, November 11, 2011

Tirta Yatra Bali 2011 - Pura Ulun Danu Batur

Meskipun semula Mas Made berencana mengajak tirta yatra jam 6 pagi, ternyata kami tidak jadi sepagi itu berangkat. Tetapi bagus juga begitu, karena kami jadinya sempat sarapan dulu di hotel. Harap maklum, hotel tempatku menginap ini baru bisa menyediakan sarapan mulai jam 7 pagi. Persis saat kami selesai sarapan jam setengah delapan pagi, Mas Made datang. Kami langsung berangkat, karena sejak sarapan tadi aku sudah berpakaian lengkap dan menyiapkan peralatan kami di lobby hotel. Mas Made beserta istrinya saja, anak-anaknya tidak ada yang ikut. Ini hari kerja sih, mereka sekolah mestinya.

Mas Made memutuskan membawa kami ke Pura Ulun Danu Batur terlebih dahulu. Aku menurut saja. Dulu dalam kunjungan ke Bali tahun 2008 yang lalu, aku hanya melewati kompleks pura ini. Waktu itu tujuan kami memang hanya untuk singgah makan di rumah makan di pinggir tebing yang pemandangannya langsung ke gunung Batur dan danau Batur. Ternyata rumah makan dan restoran sejenis banyak sekali berjajar di sepanjang jalan. Aku berusaha mengingat-ingat, rasanya dulu kok belum sebanyak ini ya? Entahlah kalau aku yang salah ingat.

Kali ini, rumah-rumah makan itulah yang justru kulewati. Tidak lama kemudian (eh kok tidak lama, lama juga dong karena dari hotel lama perjalanan sekitar 1 jam) Mas Made menghentikan mobil dan memarkir mobilnya di lapangan parkir di seberang kompleks pura Ulun Danu Batur. Istri Mas Made, Mbak Putu sudah menyiapkan bebantenan untuk acara tirta yatra ini. Jadi aku cukup melenggang saja, eh tidak –menggendong Kavyaa saja seperti biasa-- melangkah menuju pura. Perjalanan 2 minggu nonstop ini telah membuat tanganku kuat. Bagaimana tidak? Kemana-mana Kavyaa tidak mau lepas dari gendonganku. Sama ayahnya juga tidak mau. Tanganku yang dulu lemah, sekarang terasa lebih kuat. Jadi acara gendong-menggendong ini tidak terlalu menyulitkan lagi. Kecuali kalau Kavyaa terus-terusan tidak mau turun dari gendongan, ya capek juga lama-lama.


Kompleks pura Ulun Danu ini ternyata cukup luas. Waktu kami datang, jaba tengah sedang dibersihkan. Sedangkan di jeroan masih nampak sisa-sisa upacara yang mungkin telah berlangsung hari sebelumnya. Sebelum sampai di sini, waktu masih di jaba sisi, aku melihat patung Ganesha, dan kembali hatiku berdesir seperti saat aku melihat patung Ganesha di pura Gunung Sari Lombok. Jadi aku berbisik dalam hati, nanti aku akan sembahyang di sini juga. Jaba sisi ini sangat indah, berbentuk taman. Menurut Mas Made taman itu baru. Terakhir dia ke Ulun Danu taman itu belum ada.

Sambil berusaha merekam semua yang kulihat dalam ingatan, aku bergegas mengikuti langkah Mas Made dan istrinya yang telah bersiap di depan pelinggih Cina. Iya. Bayangkan, ada pelinggih Cina di dalam jeroan pura. Hebat bukan sikap saling menghargai yang dimiliki leluhur kita. Tidak cuma slogan kosong seperti yang sering diungkapkan pemuka agama di jaman
sekarang. Tapi benar-benar tindakan nyata. Hahaha....Itulah kemegahan HINDU saudara-saudara!...
Mas Made memberitahuku nama pelinggih itu. Tapi aku kok lupa lagi sekarang. Umumnya orang cukup tahu ada kuil budha atau kelenteng, begitu saja menyebutnya di dalam jeroan. Sekali lagi, hebat bukan?


Meskipun heran kenapa sembahyangnya di depan pelinggih Cina ini dulu, aku menurut saja dengan Mas Made. Setelah selesai, barulah kami sembahyang dengan dipandu pemangku setempat. Mangkunya Mangku Anom, masih muda, masih remaja. Tetapi sebelum dia mulai memimpin sembahyang, tetap kami diminta untuk minta ijin dulu pada guru pemangku yang masih muda ini. Mbak Putu bercerita bahwa di Pura Ulun Danu ini pemangkunya selalu ada yang muda, bahkan pernah ada yang masih anak-anak sehingga dipanggil Mangku Alit. Tapi kalau sudah memimpin sembahyang, tidak kalah berwibawa dengan pemangku umum lainnya. Dan itu memang benar. Mangku yang inipun begitu. Padahal kalau lihat wajahnya, lebih mirip pemain sinetron Korea. Wkwkwkkkk.....
Hmmm…..selalu ada kisah-kisah eksotis semacam ini di Bali.


Selesai sembahyang aku menyempatkan diri berfoto sejenak di depan gebogan yang masih tersusun berjajar di barisan depan. Cantik sekali gebogannya. Setelah puas foto-foto, baru kami keluar dari jeroan. Sampai di jaba sisi kami berfoto lagi di taman. Taman yang indah. Lantas aku ingat aku mau sembahyang di depan patung Ganesha yang tadi menyambut kami begitu kami memasuki kompleks pura ini. Mbak Putu segera membantu menyiapkan canang untukku. Ah…lega rasanya setelah bersembahyang. Hatiku lega dan merasa siap untuk segera berangkat ke Besakih.

Tetapi ternyata di jalan menuju Pura Besakih, pemandangannya indah juga. Kami berhenti sebentar di tebing yang sepertinya memang disiapkan untuk mudah mengambil gambar dengan latar belakang gunung Agung dan danau Batur. Suamiku jeprat-jepret lagi. Aku sendiri tidak terlalu tertarik, meskipun kuakui pemandangannya indah. Yah…namanya juga niat tirta yatra, jadi sesi foto-foto ini tidak menarik bagiku. Hanya selingan. Penginnya cepat-cepat menuntaskan tirta yatranya saja.


Setelah suamiku cukup puas bereksperimen mengambil gambar dari berbagai sudut pandang, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Pura Besakih. Lumayan juga jaraknya dari Pura Ulun Danu. Mungkin sekitar 1 jam juga baru kami tiba di Pura Dalem Puri Besakih. Mas Made bilang, sebelum ke Besakih, kami harus sembahyang di sini dulu. Ini adalah pura untuk pemujaan leluhur. Leluhur yang sudah meninggal tapi belum dientas singgah di sini dulu. Oh oh….mudah-mudahan aku tidak salah ingat. Kalau sudah begini aku baru sadar, ternyata tidak banyak yang aku ketahui tentang ritual dan tata cara dalam tradisi Hindu Bali. Dari yang tidak banyak ku ketahui itu, tidak banyak juga yang bisa nempel di kepalaku, tidak banyak yang bisa kuingat. Oh oh…..>*_*< Pura Dalem ini dibangun dari batu gunung. Hitam warnanya. Kokoh sekali. Namanya juga batu. Auranya dingin. Cocok sekali dengan fungsinya sebagai pura Dalem. Katanya sewaktu Gunung Agung meletus dulu memuntahkan batu-batu besar yang kemudian digunakan untuk membangun pura ini. Aku bergidik dalam hati. membayangkan bagaimana mereka membangun pura ini dahulu. Potongan batunya besar-besar. Beratkan? Terus terang, sebenarnya sejak di Ulun Danu tadi aku bingung bagaimana seharusnya aku sembahyang. Apa yang harus kulafalkan. Apa yang harus kumohonkan. Jadinya di semua tempat aku baca saja Tri Sandya dan kemudian berdoa sebisa-bisanya. Aku mencatat dalam hati, lain kali aku harus bertanya pada mereka yang lebih mengerti tentang hal ini bagaimana tata cara yang seharusnya. Begitulah, meskipun kebingungan, aku menyelesaikan sembahyang di pura dalem ini, lantas kami bergegas menuju Besakih. Semula kukira jalan kaki saja, ternyata kami menggunakan kendaraan kami juga menuju kesana. To be continued......

Sunday, November 6, 2011

From Lombok To Bali

Tanggal 11 Oktober 2011 ini berakhirlah kunjunganku ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aku bergairah menghadapi kemungkinan pengalamanku yang lain di Bali. Tadinya aku tidak punya rencana ke Bali. Tetapi setelah pikir-pikir betapa dekatnya Mataram dengan Bali, aku berusaha agar kami bisa mampir di Bali. Astungkara! Ternyata bisa.

Pagi-pagi masih jam 7, Bapak dan ibu U mampir ke hotel untuk mengucapkan selamat jalan. Terus terang aku merasa sedikit tidak enak pada mereka. Aku tahu mereka kecewa dengan kejadian malam sebelumnya dimana kami menolak usul mereka untuk ikut sembahyang odalan di Sraya. Tetapi aku juga berpikir, mungkin baik juga bagi mereka jika mereka mulai mau mendengarkan kebutuhan orang lain. Jadi kubuang saja jauh-jauh perasaan tidak enakku itu. Kami saling mengucapkan salam perpisahan. Aku berterima kasih pada mereka karena bagaimanapun juga banyak sekali yang telah mereka lakukan dan berikan pada kami selama kunjungan kami di Lombok ini.

Setelah mereka meninggalkan hotel, aku dan suamiku langsung sarapan. Ternyata di kafe hotel kami bertemu lagi dengan Pak W yang baru kemaren malam mengisi acara dharma tula di Sraya. Pak W ini sering sekali menulis di Media Hindu. Beliau juga kalau tidak salah adalah ketua sabha walaka PHDI Pusat. Kami sudah bertemu kemaren siang sebelum aku bersiap lagi ke Praya. Beliau menginap di hotel tempat kami menginap juga. Tapi kemaren kami hanya sempat bersalaman dan bincang-bincang sejenak. Jadi pagi ini begitu melihat beliau ada di salah satu meja sedang sarapan sendirian, langsung kami dekati.

Kami sarapan bersamalah jadinya. Pak W ternyata pulang lebih dulu dari kami. Pesawatnya lebih pagi. Selama sarapan banyak yang kami obrolkan. Tetapi semua percakapan ringan. Jadi begitu selesai, beliau langsung bersiap berangkat. Kami sendiri tidak menunggu lama juga, karena Ibu G dan Ibu I ternyata juga menjemput dan segera mengantar kami ke bandara.

Sebelumnya ke bandara Selaparang yang memang posisinya di tengah kota Mataram tidak memerlukan waktu lama. Kini setelah bandara yang digunakan adalah Bandara International Lombok, mereka masih belum yakin apakah benar-benar hanya memerlukan waktu 1 jam untuk tiba di sana. Daripada terlambat kami memutuskan lebih cepat saja pergi ke bandara.


Di bandara, mereka sempat menunggui kami sejenak. Tapi kami putuskan kami segera masuk ruang tunggu saja, supaya mereka bisa kembali bekerja. Masak pake pakaian dinas jalan-jalan. Hehehe…..

Dengan sedikit delay (Indonesia gitu loh! #delay.mode.on#) ^_^, hanya setengah jam, akhirnya kami berangkat juga. Sementara itu temanku Made Suwangsa sudah menunggu di bandara Ngurah Rai Denpasar. Aku sendiri sudah capek membayangkan bagaimana kira-kira kejadian hari ini, jadi aku berhenti berpikir, berkhayal. Kunikmati saja tiap waktu yang berlalu.

Terlambat hampir 1 jam di luar rencana semula akhirnya kami keluar juga dari bandara Ngurah Rai. Akhirnya bisa juga aku bertemu dengan Mas Made ini. Begitu dia biasa kupanggil di email-emailku. Ternyata wajahnya dan perawakannya tidak jauh berbeda dari foto yang memang baru dia kirim sebulan sebelumnya. Hehehe….

Kami langsung cabut menuju hotel. Ternyata Denpasar kini berbeda sekali dengan Denpasar 3 tahun yang lalu sewaktu aku berkunjung ke Bali tahun 2008. Sekarang macet dimana-mana. Perlu 1 jam juga untuk tiba di hotel. Padahal perkiraanku, namanya Bali pulau kecil, harusnya kemana-mana deket. Eh..ternyata lama juga.

Dan ternyata Mas Made ini meskipun sudah kuwanti-wanti supaya aku dicarikan hotel kelas melati saja, hotel yang biasa-biasa aja, eh kok malah booking hotel yang kelas mawar. Yah…..
Sudah gitu ternyata sudah dibayar lunas juga sama dia. Yah dua kali deh. Aku mencatat dalam hati. besok-besok aku ke Bali lagi, urusan penginapan ini kuurus sendiri. Hmmm….

Terus terang meskipun hotelnya kelas mawar, (ini penggolongan hotel menurut seleraku sendiri lho ya…kelas mawar ini lebih mahal dari kelas melati gitu….) tapi aku tidak merasa nyaman dengan interiornya. Lebih enak interior hotelku di Mataram. Hotelku di Mataram itu hotel baru. Saat aku menginap, katanya hotel itu baru diresmikan satu minggu. Biasa saja modelnya. Perabotnya. Desainnya. Tidak ada yang canggih-canggih, tapi nyaman. Feels like home. Aku sering sekali berucap aku mau pulang ke rumah saja, selama aku di Mataram. Betul-betul serasa pulang ke rumah sih, bukan ke hotel.

Kalau yang di Bali ini tidak. Aku betul-betul merasa sedang menginap di tempat lain. Tapi aku sangat menghargai apa yang dilakukan Mas Made. Aku rasakan ketulusan di sini. Jadi I had no complain. Kami bergegas mandi begitu check in dan menghabiskan malam itu dengan berkunjung ke rumah kenalan lama. Sempat mengobrol juga dengan Mas Made dan istrinya yang agak aneh untuk pasangan Bali menurutku. Hehehe....tahu anehnya? mereka salaing mendengarkan satu sama lain. Hehehe....senang melihat mereka seperti itu. Aku ikut bahagia untuk mereka. Tapi Mas made menyadari kami lelah, tidak lama mengobrol dengan kami di hotel. Dia dan istrinya cepat pamit, kami toh punya janji untuk acara besok lagi. Jadi harus simpan tenaga.

Aku tak sabar menunggu besok.

Thursday, November 3, 2011

Lombok Day 5 -- Part 2

Benar saja. Aku dibawa ke salah satu pabrik tenun yang masih tersisa di Lombok. Pabrik tenun ini terletak di tengah kota. Pabrik tenun Slamet Riyadi. Setelah memilih-milih selendang—aku kan memang hanya berniat membeli selendang—Pak U menawarkan untuk melihat-lihat pabriknya. Sayangnya karena sudah sore pekerjanya sudah pulang semua. Tetapi kami tetap diijinkan untuk melihat ‘ruang kerja’nya.


Belasan alat tenun berjajar. Benang-benang yang masih dalam proses pengeringan dijemur langsung dibawah matahari dan perlu berminggu-minggu sebelum benar-benar kering dan boleh dilanjutkan prosesnya. Aku baru tahu bahwa untuk menyelesaikan satu helai kain tenun itu membutuhkan waktu lebih kurang 3 bulan. Itu kalau cuaca panas, sehingga benang bisa cepat kering. Karena proses yang memakan waktu paling lama justru menyiapkan benangnya. Seperti yang kukatakan tadi, benangnya harus benar-benar kering sebelum boleh memasuki tahap selanjutnya. Belum lagi menyiapkan papan pola. Perebusan benang berkali-kali. Justru waktu yang paling singkat adalah saat benang sudah berada di mesin tenunnya sendiri. Hanya butuh seminggu di mesin tenun untuk menyelesaikan satu helai kain. Proses menuju kesana itulah yang lama. Perlu kesabaran, ketelitian, kecintaan dan pengabdian untuk menyelesaikan satu helai kain tenun itu. Wooww……..


Kurasa karena alasan itu pulalah aku hanya bisa menggunakan tenun asli. Oh, aku belum cerita. Aku suka memakai selendang. Tetapi untuk acara spesial atau penting, aku hanya boleh mengenakan selendang tenun asli. Kini aku baru tahu alasannya. Ada energi yang begitu besar yang tercurah dalam menghasilkan satu helai selendang itu. Ada usaha, emosi, dedikasi, cinta, pengabdian yang begitu besar yang terekam dalam sebuah kain tenun. Itu semua memberi energi pada kain. Memberi energi pada pemakainya. Hmmm…..orang jaman sekarang mana peduli dengan hal seperti ini. Mereka lebih senang dengan apa-apa yang diproduksi secara masal meskipun hasilnya kering, tidak berjiwa.


Pemilik pabrik ini mengatakan padaku, bahwa kemungkinan mereka akan bisa bertahan hanya sampai 5 tahun ke depan. Sekarang ini penenun termuda mereka berusia 40 tahun. Generasi muda sekarang tidak tertarik lagi menekuni pekerjaan ini. Di tambah lagi situasi pasar yang tidak mendukung. Pemerintah daerah juga tidak ada perhatian. Komplitlah penderitaan industri rakyat semacam ini. Dalam 10 tahun terakhir yang tadinya mereka memiliki ratusan penenun, kini hanya tersisa belasan saja. Itupun katanya masih untung karena mereka masih bisa bertahan. Banyak usaha sejenis sekarang ini hanya tinggal kenangan.

Mendengar itu aku hanya bisa merintih dalam hati. Seperti biasa, Indonesia ini selalu seperti itu. Tidak bisa menghargai kekayaan dirinya sendiri. Tidak pandai menghargai kepandaian dan kehebatan yang diwariskan dari leluhurnya sendiri. Nanti kalau sudah diambil orang kepandaiannya itu dan orang bisa mengemas dan menjualnya lebih baik, barulah dia kelimpungan menuntut pengakuan bahwa sesungguhnya itu miliknya. Ah…kita ini tidak pernah belajar. Pengalaman dengan batik yang diaku-aku oleh negara lain belum cukup untuk menyadarkan kita.

Sebenarnya jika dituruti, pemilik pabrik ini pengin curhat lebih lama lagi. Dia malah menawarkan aku untuk investasi. Aku tertawa dan berbisik dalam hati. Jalanku bukan disitu. Aku berharap yang terbaik untuk keadaan ini. Jadi dengan setengah memaksa diri untuk bergegas, kami segera pamit dan kali ini benar-benar langsung balik ke hotel.

Untuk malam itu Pak U sudah punya rencana lain lagi. Dia mengajak kami ikut sembahyang odalan di Sraya. Hari itu memang puncak acara odalan di pura Sraya. Kami tidak antusias mendengarnya. Di hotel aku berunding dengan suamiku bagaimana cara menolak ajakan ini agar tidak terlihat kasar. Sebenarnya telah berkali-kali kami katakan bahwa kami lebih memilih istirahat saja, kami ingin jalan-jalan sendiri saja—toh hotel kami terletak di tengah kota--. Tapi rupanya apa yang kami katakan tidak didengarkan. Pak U tetap ngotot memajukan rencananya sendiri, seperti apa yang telah dilakukanya selama beberapa hari kami disini. Sewaktu kami di kamar hotel, keputusan kami sudah bulat. Kami tidak ingin ikut sembahyang odalan di Sraya. Hanya saja sampai detik itu kami belum tahu bagaimana cara menolaknya.


Menjelang jam 6 sore, kami melupakan hal itu sejenak dan larut dalam kegembiraan mepeed. Kami hanya perlu keluar hotel dan jalan kaki tidak sampai 3 menit untuk bisa melihat arak-arakan mepeed. Suamiku sempat jeprat-jepret sana-sini. Sayang Kavyaa tidak terlalu bekerja sama. Dia lebih tertarik keluar masuk kios pedagang kaki lima yang memang mulai menggelar dagangannya di sepanjang jalan itu. Sekitar setengah jam kemudian kami sudah balik lagi ke hotel.

Tidak lama kemudian Ibu I dan Ibu G tiba. Mereka ingin mengajak kami keliling-keliling kota. Ah….inilah yang kami tunggu-tunggu (--bebas dari Pak U hehehe.....). Suamiku akhirnya berkeras dengan Pak U hanya untuk mengatakan bahwa kami tidak ingin ikut sembahyang odalan. Aku agak cemas. Suamiku itu kadang-kadang bisa ketus ngomongnya. Tapi dia menelepon di luar kamar. Jadi aku tidak persis bagaimana cara dia bicara. Yang pasti waktu kembali dia bilang kami bisa jalan-jalan sendiri malam ini. Horee……

Kami keluar hotel tidak lama kemudian. Ibu G bicara tentang pura Gunung Sari dan bertanya apa aku ingin kesana. Kubilang ya.

Heran juga. Aku mati-matian menghindar sembahyang odalan di Sraya. Diajakin ke pura Gunung Sari malah bilang iya nggak pake mikir. Tapi terlalu sering kejadian begitu kualami jadi aku ikuti saja meskipun di dalam hati tetap saja aku heran-heran dengan diriku sendiri.

Kami semua malam itu berpakaian santai. Tidak memakai baju adat. Hanya t-shirt dan celana jeans. Aku heran di dalam hati. Ibu G ini pemangku estri, tapi bisa santai begitu. “Asyik juga nih orang”, pikirku. Kami beli bunga di penjual bunga yang tetap buka sampai malam hari dan langsung menuju pura Gunung Sari.

Mungkin perlu setengah jam, baru kami tiba di pura itu. Puranya gelap. Aku berbisik dalam hati, kalau aku sendirian datang kesini, pasti aku tidak berani. Tambahan lagi, walaupun masih berada di luar halaman pura, aku sudah bisa merasakan energinya. Tetapi ternyata puranya gelap begitu karena pemangkunya sedang pergi menghadiri kaacara di tempat lain. Tidak lama kemudian ada seorang Ibu yang membantu kami menyalakan penerangan disana. Mungkin dia istri pemangku disini. Tapi aku tidak banyak bertanya. Aku dan suamiku meresapi saja keadaan sekeliling kami.

Halaman pura itu pasir. Aneh juga. Aku sempat bertanya tentang pasir itu. Katanya dari dulu dulu dulu ya sudah begitu. Hmmm…

Sementara ibu G menyiapkan segala sesuatunya, aku perlahan menaiki tangga pura. Sempat aku terkejut di bawah anak tangga. Aku terhenti sejenak melihat ada patung Ganesha di sisi kiriku. Hatiku berdesir. Tapi aku tidak paham. Aku diam saja. Terus terang aku sangat merasakan energi besar dari pura itu. Energi itu awalnya juga membuatku sedikit merasa tidak nyaman, hampir takut. Heehhh…susah memang kalau bawaan asli penakut begini. Tapi kemudian Ibu G memanggilku, mengajakku menaiki tangga sambil mepamit atas namaku. Segera aku merasakan perubahan. Seolah kedatanganku diterima dengan tangan terbuka sekarang. Ah….lagi-lagi aku baru nyadar. Aku ini orang baru nggak permisi-permisi, datang kok langsung mau nyelonong aja. Dasar beleguk..!

Kami sembahyang di atas persis di depan padmasana. Suasana tenang membuat sembahyang betul-betul nyaman. Kavyaa yang selalu tertarik dengan tangga dan sudah sejak tadi ingin naik turun tangga sendiri sedikit mengganggu konsentrasiku. Akhirnya kubiarkan dia membongkar isi tasku agar aku bisa sembahyang tanpa gangguan. Setelah selesai kami turun kembali. Ibu G kemudian menyuruhku untuk sembahyang di depan Ganesha. Hanya aku yang disuruh, yang lain tidak. Ah….ini dia getar hatiku tadi pikirku. Jadi tanpa disuruh dua kali aku langsung sembahyang lagi di sana.


Barengan denganku ada sebuah keluarga kecil yang sembahyang juga di depan Ganesha. Mereka sudah selesai, sedang bersiap pulang waktu aku baru mulai. Jadi setelah aku selesai juga, kami sempat berfoto bersama sejenak.

Setelah merasa cukup kami mepamit pulang. Sebelum kembali ke hotel, kami diajak makan mie kuah di warung pinggir jalan. Hore……akhirnya aku makan makanan yang biasa kumakan. Kami makan di warung mi langganan ibu G. Tapi Kavyaa sudah mulai ngantuk dan mulai rewel. Jadi setelah makan, meskipun ibu G menawarkan kembali untuk keliling-keliling melihat Mataram di waktu malam, kami menolaknya. Cukuplah sudah. Lebih memuaskan tadi ke pura Gunung Sari daripada diajak keliling kota.

Begitulah, saat kami tiba di hotel, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kami merasa puas dan lega. Setelah mandi kami semua pergi tidur. Berkemas? Nanti saja. Toh masih ada waktu besok pagi, karena pesawat kami agak siang. Rencananya Ibu G juga yang akan mengantar kami ke bandara. Beres sudah.

Malam itu aku lelap. Tapi sebelum betul-betul lenyap tenggelam di balik bantal aku sempat membayang-bayangkan bagaimana kedatanganku besok di Bali. Sedianya temanku Made Suwangsa yang akan menjemput. Dia juga yang mengatur penginapanku. Aku sudah berteman lama dengannya. Sejak pertama aku menulis di Media Hindu. Dan kini 2,5 tahun sudah pertemanan yang terjalin via email itu berjalan dengan puncaknya copy darat kami besok. Aku membayang-bayangkan bagaimana pertemuan kami besok. Aku sudah pernah melihat fotonya sih. Tapi seringnya foto sama aslinya kan tetap berbeda. Bagaimana ya istrinya? Bagaimana tanggapannya, aku tidur dimana, sempatkah waktu yang hanya sebentar di Bali untuk menyelesaikan semua rencana? Dan segala macam pikiran melintas silih berganti, Aku tidak ingat aku bertanya apa saja dan membayangkan apa saja. Tapi mungkin tidak banyak juga karena aku sudah lelap duluan.

Tenang saja. Cerita masih berlanjut besok. ^-^

Wednesday, November 2, 2011

Lombok Day 5 -- Part 1

Hari ke-lima di Lombok ini aku tidak punya jadwal khusus. Oh leganya ……. setelah 4 hari terakhir kegiatan terus full dari pagi sampai malam. Puncaknya tadi malam, aku betul-betul merasa exhausted. Jadi, sejak tadi malam memang sudah kurencanakan hari ini istirahat saja sebanyak-banyaknya. Baru besok aku terbang lagi ke Bali. Tapi ternyata rencana cuma mau leyeh-leyeh di hotel seharian gagal juga. Pak U yang sejak kedatangan kami di Lombok sudah memberiku macam-macam, --ada patung Shiva, gambar Shiva portable (gambarnya kecil, jadi mudah dibawa-bawa gitchu loh!), buku-buku, vibhuti, pelita sekaligus sumbu dan pelampungnya—setengah memaksa untuk mengirim via paket saja barang-barang pemberiannya itu. Niatnya sih sebenarnya baik, supaya kami tidak kerentelan membawa bermacam-macam barang. Mana punya bayi. Mungkin begitulah pikir beliau. Kami paham maksud baiknya. Yang membuat kami tidak nyaman justru maksanya itu lho.

Suamiku sendiri sudah bilang padaku bahwa kami tidak perlu merepotkan Pak U, bahwa dia bisa mengepak seluruh barang-barang itu dengan rapi, ringkes. Dan itu dia buktikan besok paginya.

Sejak dini hari, suamiku sudah mulai mengepak barang untuk melihat berapa banyak sebenarnya barang bawaan kami. Memang kami banyak membawa tirta. Masing-masing tirta dari Narmada, Suranadi, Lingsar, dan Batu Bolong kami taruh di botol aqua dan diberi label. Hehehe…..berat juga nih air. Tapi masih sangguplah kami bawa sendiri. Kalau dibanding-banding, sama saja bawaan kami waktu datang ke Lombok dengan besok pulang ini.

Tapi kemudian Pak U sekitar jam 9 pagi mampir ke hotel, persis ketika kami baru selesai berkemas dan sarapan. Beliau kembali (memaksa) untuk mengambil kembali barang-barang yang sudah diberinya untuk dipaketkan saja. Padahal semua sudah dikemas rapi oleh suamiku. Tapi karena maksa banget, dan aku tidak ingin ribut, aku menyerah saja. Kuberi tanda suamiku agar menurut saja kali ini. Kuserahkan lagi semua pemberian Pak U plus beberapa buah buku yang kudapatkan juga dari salah seorang Ibu saat dharma tula di Mayura Jumat lalu. Ibu itu suaminya penulis juga. Buku yang diberi padaku adalah tulisan suaminya. Dia sendiri sering menulis di Media Hindu. Lumayan berat tuh paketnya bakalan, karena banyak bukunya.

Sebenarnya bagian ini lho yang aku khawatirkan. Kirim paket kan mahal. Mending kami bawa sendiri. Aku sudah mikir-mikir, masak Pak U harus kuberi ongkos kirim. Padahal justru itu yang kuhindari, mahalnya itu. Nggak enak juga kan? Serba salah rasanya. Aku jadi bingung. Lagian aku tidak yakin mereka bisa mengemasnya dengan baik. Salah-salah patungnya malah hancur. Hmmm….

Tapi begitulah. Pak U berhasil meminta dari kami semuanya itu untuk dikirim via paket dan setelah itu mengajak kami menghabiskan hari itu berjalan-jalan di kota Mataram. Aku agak terkejut juga. Hebat Pak U ini. Tidak ada capeknya. Tapi aku sendiri sudah punya janji siang itu untuk ngobrol dengan Ibu E, jadi supaya semua bisa dipenuhi, kuminta Pak U datang menjemput kami setelah makan siang saja.

Ibu E sesuai janji datang ke hotel pada jam istirahat kantor. Dia PNS dan Senin ini tentu sudah harus bekerja. Jadi cuma itu waktu yang dia miliki untuk bisa bertemu lagi denganku. Kami baru mengobrol sekitar setengah jam. Rasanya masih belum puas, belum apa-apa, dan masih banyak pembicaraan yang menggantung, eeh… Pak U ternyata sudah menjemput lagi.

Aku hanya bisa menghela napas. Aku tidak paham maksud Tuhan dengan kejadian ini. Masih ada yang harus kubahas dengan Ibu E --menurutku. Tapi mungkin memang aku tidak perlu membahasnya lagi waktu itu. Mungkin kami masing-masing lebih perlu merenungkannya daripada membicarakannya. Kurasa itu juga yang dirasakan Ibu E. Dia segera pamit. Aku tidak tahu, kapankah lagi aku bisa bertemu dengannya. Belakangan aku baru sadar, bahwa meskipun lokasi kami berjauhan, kami tetap bisa saling terhubung. Melalui cincin yang diberikannya padaku di Narmada. Tentu saja kontaknya hanya akan terjadi, atau tepatnya hanya dapat kurasakan di saat-saat yang tidak menguntungkan. Tapi kurasa bagi Ibu E, dia terus dapat mengetahui keadaanku dengan mata batinnya. Hmm…

Kami segera bersiap untuk memenuhi ajakan Pak U. Kami diajak makan siang. Kembali makan sate dan gule di H. Imran. Aku ketawa dalam hati. Pak U itu vegetarian. Tapi bela-belain ngajak kami makan di H Imran ini lagi. Aku jadi tidak enak juga. Mungkin karena tadi malam dia melihatku makan lahap sekali. Dan memang benar. Itu makanku yang paling lahap selama 4 hari di Mataram. Mungkin dia menyimpulkan aku suka sekali sate kambing. Sebenarnya aku nggak doyan-doyan amat sih sama sate kambing, kecuali badanku memang lagi perlu.Tapi seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, sate kambingnya memang enak. Aku yang nggak lapar aja merasakan enaknya. apalagi kalau yang makan sedang lapar berat. Woo hooo....bisa enak banget tuh. Apa boleh buat, biar pulang nanti saja badanku balancing lagi dengan semua makanan yang sudah kadung masuk ini. Hehehe……


Setelah makan, kami keliling kota sebentar sebelum kemudian singgah di Unram, Universitas Mataram. Seperti biasa. Suamiku itu baru marem kalau sudah ambil foto di depan rektoratnya. Dibanding dengan Unhalu di Kendari, di sini lebih gersang kampusnya. Luas juga sih. Yah..paling tidak masih ada pohon besarnya. Kalau di Unmul (Universitas Mulawarman) kayaknya kan sudah nggak ada pohon besarnya lagi. Sudah jadi ladang beton semua. Keluh!

Setelah mengambil beberapa foto, kami minta diantar ke hotel lagi. Sedianya sore itu ada upacara Mepeed, yaitu semacam parade yang diikuti oleh para perempuan Bali(?)-- Karena mungkin ada juga yang non Bali. Mungkin. Aku ndak tahu-- yang mengusung gebogan. Gebogan adalah rangkaian buah dan aneka jajanan tradisional yang dihiasi dengan aneka janur setinggi kurang lebih 1 meter yang dibawa secara berjalan kaki. Masing-masing banjar yang ada di kota Mataram --semoga tidak salah ingat ada 32 banjar—membentuk rombongan-rombongan kecil berjalan beriringan maing-masing mengusung tempat tirta yang aku sudah lupa lagi namanya. Di Mataram ini, kalau aku tidak salah ingat, parade ini dimulai dari pura Meru sore hari sekitar jam 4, melewati beberapa ruas jalanan kota dan berakhir di pura Meru lagi. Aduh….sayang sekali ingatanku super parah mengenai hal ini. Yang kuingat mepeed itu adalah bagian dari rangkaian acara piodalan pura Meru, pura terbesar di Lombok. (Oh…terlalu banyak yang harus kuingat, yang harus kupelajari selama di Lombok ini, Sampai-sampai pengalaman semacam menonton mepeed ini tidak sempat kuingat dengan baik rinciannya. Seandainya kunjungan ke Lombok ini hanya sebagai liburan biasa, pasti ceritaku tentang ini lebih komplit).


Dalam perjalanan kembali ke hotel, aku ingat bahwa aku belum sempat membeli sesuatu selama di Lombok ini. Selintas aku membaca tulisan tenun di salah satu papan reklame besar di salah satu ruas jalan. Tanpa berpikir lagi aku katakan pada Pak U bahwa aku ingin membeli selendang tenun. Aku sendiri heran dengan diriku sendiri. Aku ini sudah lelah, kok masih mau belanja. Tapi hatiku menghibur diriku sendiri. Belum tentu aku akan mendapat kesempatan ke Lombok lagi lain kali. Jadi sebaiknya kusempatkan saja. Sebentar saja. Toh cuma beli selendang. Berapa lama sih itu?

Pak U bilang dia tahu tempat yang menjual tenun seperti itu. Yang asli. Harganya bervariatif. Informasi yang terakhir ini agak melegakan hatiku. Aku berharap akan ada yang sanggup kubeli. Tapi, cerita selanjutnya nanti ya.........To be continued....... ^_^

Friday, October 28, 2011

Lombok day 4 -- Part 2

Aku hanya punya waktu sejam untuk menenangkan hati dan pikiranku. Aku berusaha hening sambil berbaring, meluruskan punggung. Dan ternyata itu membantu sekali. Saat aku bangun, aku sudah tahu apa yang harus kusampaikan di Praya. Pendekatan apa yang akan kupakai. Sepertinya pikiranku cemerlang lagi. Petunjuk-petunjuk datang dengan mudah. Gangguan yang kurasakan siang tadi hilang dari pikiranku. Dan saat jemputan tiba, kami yang sudah siap langsung berangkat. Aku sadar, besar sekali pengaruh dari rileksasi bagi tubuh kitam juga pada kondisi mental dan emosional kita.

Ke Praya yang berada di Lombok Tengah ini kira-kira memerlukan waktu 1 jam. Sekitar jam 5 sore aku tiba di pura Praya. Disambut oleh pemangku yang aku lupa lagi namanya, tapi aku ingat wajahnya. Orang Jawa. Aku senang melihatnya memakai blangkon. Saat aku tiba yang hadir belum terlalu banyak. Tidak sampai 40 orang. Jadi kuminta mereka duduk melingkar saja, supaya lebih enak bisa ngomong bebas tanpa mikrophone. Tapi ternyata setelah acara dimulai, --aku memakai mikrophone--satu-persatu datang peserta lain hingga saat acara selesai sekitar jam 7 malam seluruh peserta mungkin mencapai 75 orang. Not bad…..


Tambahan lagi di sini aku senang karena pendengarku antusias dan menaruh minat dengan apa yang kusampaikan. Pertanyaannya praktis, bukan teoritis atau sekedar mengetes kemampuanku. Bagiku sendiri adalah lebih penting jika apa yang kubagikan bisa dipraktekkan juga oleh orang lain. Jadi bagi diriku sendiri, aku puas dengan acara di Praya ini. Sayang aku sedikit merasa terburu-buru karena rencananya harus bicara lagi di Banjar Sraya. Jadi sesi tanya jawab ditutup paksa, padahal seandainya waktuku lebih longgar, masih ada lagi yang ingin bertanya.

Oh ya di Praya ini aku sempat dikenalkan dengan Mangku Murba. Beliau sering tampil di Bali TV, sering memberi penataran pemangku, dan menulis buku juga. Jadilah aku mendapat satu buah buku dari beliau. 2 anak perempuan beliau ikut hadir dalam acara ini, dan salah satunya mengajukan pertanyaan yang bagus padaku.

Saat aku meninggalkan Praya, aku tersenyum. Aku tahu, seperti yang kutulis di atas, aku memerlukan keheningan diriku untuk bisa menyampaikan sesuatu, untuk bisa menuliskan sesuatu. Makin berisik pikiranku, makin kisruh hatiku, makin buruk kemampuanku untuk bicara. Makin tidak ada yang bisa kusampaikan. Penting bagiku untuk menjaga ketenangan hati dan pikiranku. Penting bagiku untuk menjaga kedamaian diriku sendiri. Hmm…inilah pelajaran penting yang kudapat hari ini.

Di perjalanan menuju Sraya, balik ke kota Mataram, aku diberitahu bahwa malam ini aku batal tampil di Sraya. Acaraku besok saja, katanya. Aku lega mengingat bahwa kami semua sudah meninggalkan kamar hotel sejak jam setengah enam pagi dan hanya sempat istirahat 1 jam hingga malam ini. Bayiku ini lho yang jadi pikiran. Kalau aku dan suamiku sih cukup diberi doping pakai antangin, beres. Lha Kavyaa…??? Jadi informasi pembatalan ini melegakan hatiku. Kami bisa langsung pulang istirahat, begitulah pikiranku semula.

Tapi sebelumnya kami diajak makan malam. Ada yang lupa kusampaikan. Di Lombok ini aku tidak pernah sempat lapar. Kenyang terus rasanya. Belum lapar, sudah jadwal makan lagi. Begitu terus. Malam itupun aku belum merasa lapar. Tapi kemudian ternyata aku dibawa ke warung sate kambing H Imran. Wa….aku ingat namanya. Soalnya sate dan gulenya uenak….!!. Meskipun tubuhku sudah menjerit karena hampir seminggu ini terlalu banyak makan daging, berhubung yang ini enak banget, jadi habis juga satu porsi sate dan satu porsi gule plus sepiring nasi kumakan dengan lahap. Setelah kenyang bangeeett….akhirnya kami balik ke hotel.

Ternyata oh ternyata…pihak Sraya sudah menunggu di hotel. Aku akan tetap tampil di Sraya malam ini katanya. Semula melihat waktu yang sudah menunjukkan jam 9 malam, aku minta agar acaraku ditunda besok saja. Sekali lagi aku ingat Kavyaa. Pasti sudah capek sekali dia. Tapi menurut mereka, besokpun acaraku akan tetap malam juga. Bisa jadi malah bakal lebih malam daripada hari ini. Jadi kuputuskan malam itu saja kuselesaikan kewajibanku, karena besokpun tetap saja acaranya tidak bisa dimajukan jamnya agar lebih sore.

Pun begitu, saat aku tiba di Sraya, persembahyangan belum selesai. Jadi aku masih harus menunggu lagi.Duh… Aku mulai gelisah. Kavyaa sudah mengantuk dan mulai rewel. Sungguh aku tidak yakin kewajibanku bisa kuselesaikan dengan baik. Dan memang benar.


Aku bicara lebih kurang 1 jam seperti biasa. Kavyaa duduk di pangkuanku. Dia sudah tidak mau lagi ikut suamiku. Belum selesai yang 1 jam itu dia sudah menangis. Jadilah buru-buru kututup pemaparanku. Setelah itu dia harus kubawa menjauh karena menjerit keras. Terpaksa suamiku menggantikanku dalam sesi tanya jawab. Itupun tidak lama. Hanya beberapa pertanyaan, setelah itu kami harus pamit pulang. Untunglah kelihatannya para hadirinnya paham dengan kondisiku.

Masih Tuhan berbaik hati pada kami. Di tengah situasi seperti itu, aku masih diberi kesempatan metirta dengan menggunakan sangkul dari abad 12 atau 13 itu. Informasi yang kudapat kemudian, sangkul itu terbuat dari emas, meskipun warnanya mirip tembaga. Aku diijinkan memegang dan meneliti ukiran pada sangkul itu setelah metirta. What a bless!. Kavyaa seperti biasa, kalau metirta langsung diam. Anteng. Begitu metirta selesai, nangis lagi. Jadi dengan rasa terburu-buru setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pamit dan meninggalkan tempat.

Sungguh, aku tidak puas dengan acara di Sraya ini. Tidak puas karena aku merasa tidak bisa memberikan penampilan maksimal kepada mereka yang mengundangku karena keterbatasanku seperti itu. Tapi kelihatannya mereka memang sebelumnya tidak tahu kalau aku punya bayi. Makanya enteng saja mereka mengundangku untuk acara malam hari. Apa mau dikata. Aku berharap yang baik saja. Baik bagiku, baik bagi mereka.

Tapi di Sraya inilah aku mendapat kesempatan melihat kemegahan suatu upacara adat Bali. Aku tampil itu sebenarnya sebagai salah satu mata acara dalam rangkaian acara piodalan pura Sraya. Piodalan masih besok harinya. Jadi aku sempat melihat persiapan upacara mereka yang begitu megah. Menyilaukan. Bling bling. Wow…Dengar-dengar Sraya ini memang banjar paling makmur di kota Mataram. Mmm….tidak heran deh.

Kami tiba di hotel lagi jam 11 malam. Kemudian segera mandi dan pergi tidur. Lelah sekali rasanya hari itu. Aku ingat, besok aku tidak punya acara khusus.” Aku ingin istirahat saja”. Begitulah pikiran terakhir melintas di kepalaku sebelum semuanya hilang lenyap di balik bantal hotel yang empuk. Aku bahkan tidak sempat menoleh lagi ke Kavyaa yang sudah tidur lebih dulu. Suamiku? apalagi.....auk ah …gelap. Besok ceritanya besok lagi. Oaehmm....

Thursday, October 27, 2011

Lombok Day 4 -- Part 1

Hari ini dan seperti biasanya, selelah apapun malamnya, tetap saja kami bangun jam 3-an pagi. Kemudian sadhana dan melek terus sampai pagi. Setelah aku siap untuk acara hari itu, yang aku khawatirkan justru Kavyaa. Masih nyenyak sekali tidurnya.

Jam setengah enam sesuai janji Pak Lurah menjemputku. Kami langsung berangkat. Kavyaa kuangkat saja. Dia bangun sebentar, lalu tidur lagi selama perjalanan ke Senggigi yang menempuh waktu sekitar 30 menit dari hotel tempat kami menginap.

Pak Lurah yang sudah biasa yogasana di Senggigi memimpin jalan. Arena yang dipilih untuk latihan lokasinya di belakang hotel mewah yang aku lupa namanya. Tidak perhatian sih. Terus terang terlalu banyak yang harus kuperhatikan dan kuingat selama di Lombok ini, jadi yang seperti ini lewat deh… Tapi kalau disuruh menunjukkan tempatnya, aku tahulah.
Pak Lurah memilih tanjung kecil yang sudah diberam dengan batu-batu sebagai tempat kami berlatih. Indah memang. Badanku yang mulai terasa kaku karena beberapa hari tidak yoga, bergairah mengantisipasi acara ini. Kavyaa semula menangis. Mungkin terkejut saat membuka mata kok sudah ada di pantai. Hehehe…..tapi setelah kuijinkan membongkar isi tasku, dia mau tenang, duduk saja di matras sementara mamanya jungklat jungklit bergerak mengikuti instruksi Pak Lurah.

Tidak lupa kami juga mengambil foto beberapa postur yoga untuk di upload di fb. Dan aku cukup gembira karena ternyata meskipun sejak pertama kali aku mengenal yoga, aku belajar secara otodidak, hanya dari buku atau nonton di You Tube, dan memulainya di usia yang tidak muda lagi, --setelah punya 2 anak malah-- (walah..!!^-^), ternyata posturku bisa dinilai bagus. Sudah sama bagusnya dengan postur sang instruktur yang telah yogasana sejak muda. Benar-benar memuaskan! Maksudnya aku puas dengan diriku sendiri, gitu loh!

Setelah puas ber-asana ria di Senggigi, kami memutuskan pulang jam setengah delapan karena aku telah ada janji dengan seorang pemuda, salah seorang peserta pada dharma tula di Mayura. Dia ingin ngobrol lebih leluasa denganku, katanya. Seandainya tidak ada janji itu, mungkin aku ingin lebih lama lagi di Senggigi.

Saat aku tiba di hotel, ternyata pemuda itu sudah menunggu. Surprisingly, dia datang bersama ibunya. Merasa aku telah terlambat sekitar 15 menit dari janji, dia segera kuajak ke kamar supaya bisa lebih bebas mengobrol. Ibunya menyertai. Aku memperhatikan dengan heran pada sikap tubuh ibunya yang kaku dan tegang. Sama sekali tidak rileks.

Begitulah, dengan menagabaikan itu, aku memulai obrolan. Anak ini yang patah semangat karena gagal menjadi ketua OSIS karena dia seorang Hindu, kembali menceritakan kisahnya padaku. Dia sudah berkisah sekilas tentang dirinya saat sesi foto-foto bersama seusai dharma tula di Mayura Jumat sore yang lalu, tapi mungkin dia tidak puas. Karena itu dia berusaha membuat janji bertemu denganku. Kejadian ini sangat menyakitkan baginya. Dia telah gagal menjadi ‘seseorang’ meskipun dia telah memenangkan pemilihan dengan cara yang adil dan sesuai aturan hanya karena dia seorang Hindu! Menyedihkan bukan? Dan kejadian ini terjadi di seluruh Indonesia di segala lapisan. Tidak hanya di sekolah, di kampus, tetapi juga di dinas-dinas, departemen-departemen. Entahlah kalau di swasta. Kurasa untuk swasta kebijaksanaannya tergantung pemiliknya. Tapi kondisinya juga tidak lebih baik.

Aku mendengarkan, memberi semangat sebisanya. Tapi di dalam hati merintih sekaligus berharap dan berdoa. Semoga semangatnya bisa kembali. Aku merasa hatinya terluka parah dengan kejadian ini. Hmm….kemudian ibunya ikut bicara. Dan luar biasa! Ibu anak ini malah bisa menjadi sepertiku juga, seandainya suka menulis. Pengetahuannya bagus dan yang penting, semua yang dia tahu dia lakoni. Di bagian tertentu bahkan saat bercerita dia sampai menitikkan air mata sangking emosionalnya.Hanya saja, karena dalam kesehariannya dia tidak bisa lari dan terikat begitu kuat dengan adat (Bali), membuatnya kelihatan rapuh dan selalu bersikap defensif. Aku bisa maklumi. Seandainya aku dalam posisinya, bisa jadi aku akan bersikap yang sama.

Dan, sekali lagi aku tercengang. Dalam perjalananku ke Lombok ini, begitu banyak aku melihat sendiri, sebagai pengalaman, bagaimana adat (Bali) begitu menyulitkan dan memberatkan bagi yang disebut pemeluk Hindu ini. Banyak yang berontak diam-diam. Ibu anak ini termasuk yang berani berontak dalam tindakan nyata. Tapi begitulah. Dia merasa sendirian. Nyatanya dia berjuang sendirian. Aku berdoa yang terbaik baginya. Hingga hari ini aku masih merenung-renung pesan apa gerangan yang harus kuterima dari pertemuanku dengannya. Dengan ibu dan anak ini karena cukup lama kami mengobrol. Cukup banyak kami saling berbagi selama hampir 2 jam itu.

Akhirnya, setelah dirasa cukup puas, dan karena aku juga harus menghadiri undangan makan siang oleh Bapak S yang telah menjadi moderatorku juga pada acara di Mayura Jumat pagi, pertemuan kami harus diakhiri. Mereka pamit. Dan aku bengong di kamarku, berusaha mencerna apa saja yang baru kudengar dari mereka. Wow…! Cuma itu yang bisa kukatakan. I was speechless.

Tapi aku tidak bisa bengong lama-lama. Jemputanku telah tiba. Kami mengobrol berjenak-jenak di lobby hotel sebelum berangkat. Aku heran dalam hati, kenapa penjemputku ini sengaja berlama-lama di lobby, padahal tadinya undangannya agak cepat. Belakangan aku tahu, Pak S yang mengundangku harus njebur kolam menangkap ikan sendiri, karena yang berjanji untuk membantunya menangkap ikan ternyata ingkar. Wkwkwkkk…aku kira-kira tahu kenapa kejadiannya seperti itu. Tapi itu bukanlah hal yang bagus untuk diceritakan. Jadi biarlah cukup begini saja. Kedatanganku ke rumah Pak S jadinya dilambat-lambatin supaya aku nunggu makannya nggak kelamaan nanti.

Rumah Pak S lokasinya seolah agak keluar kota. Meskipun bisa jadi masih di dalam kota. Hanya kesannya asri, hijau, seperti suasana di desa. Rumahnya cukup besar, dengan beberapa kolam ikan dan taman juga ada bale bengong khas Bali. Rumahnya memang full interior Bali. Setahuku sedianya aku akan diinapkan di rumah beliau ini, tapi entah bagaimana kok jadinya aku malah diinapkan di hotel. Tapi bagus juga untukku. Aku baru menyadari lebih mudah aku menginap di hotel daripada di rumah Pak S ini. Pelajaran pentingku dari peristiwa ini jika aku harus melakukan perjalanan lagi adalah; karena aku kemana-mana membawa Kavyaa, aku harus memastikan Kavyaa bisa tidur dengan nyaman malamnya supaya mudah bekerja sama saat aku harus bekerja. Wkwkwkkk…

Sama seperti di rumah paman Ibu I, di sini pun Pak S memang sengaja menjamuku. Beliau menangkap ikan sendiri dari kolamnya. Ada yang digoreng, ada yang dibakar. Enak. Tapi aku tak bisa sepenuhnya menikmati karena pikiranku malah melantur ke acara berikutnya di Praya. Aku merasa sedikit kelelahan dan meragukan apakah aku bisa tampil baik nantinya. Jadi aku sengaja sedikit menjauhkan diri dari keramaian dan menghindari diskusi. Ternyata agak sulit untuk menghindar.Malah ada hal yang lebih buruk terjadi.

Aku sebenarnya sudah mendapat waktu cukup lama dan berhasil mengasingkan diri dari perbincangan ringan yang menemani makan siang itu, ketika Ibu U mendekatiku dan dengan serius memberi tips padaku agar mudah memberikan dharma tula di lain waktu. Dia menyampaikan itu persis di saat aku sedang diam menikmati pikiranku yang sedang kosong begitu saja. Aku diminta fokus pada salah satu topik dan betul-betul mendalaminya. Radarku berdering. Aku langsung mengelak. Aku katakan biar itu jadi urusan para ahli agama, karena aku tidak berniat menjadi pedharma wacana. Di sini, saat ini, aku hanya berbagi pengalaman, begitulah kukatakan padanya. Mendengarku menyahut agak ketus (mungkin), beliau buru-buru menambahkan bahwa itu untuk tahun-tahun mendatang jika aku diminta orang bicara lagi, aku kan harus mengembangkan diri. Aduh..., aku jadi males deh. Aku berharap wajahku tidak menunjukkan kejengkelan hatiku. Tapi aku tidak yakin. Karena nada suaraku saat menyahut sudah berubah. Untunglah obrolan ini segera berhenti. Tapi toh sudah terlambat. Mood yang telah berusaha kupelihara sejak tadi agar tetap tenang untuk dharma tula nanti langsung hancur berantakan.

Hingga aku pulang ke rumah lagi, berkali-kali aku merenungkan mengapa aku selalu terganggu kalau dinasihati semacam itu oleh mereka (Pak dan Ibu U ini). Kurasa karena aku tidak ingin di atur-atur orang lain. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku berhasil atau gagal itu karena diriku sendiri. Aku tidak mengijinkan mereka menunjukkan mana yang baik untukku. Lagi pula, aku merasa mereka tidak benar-benar ‘tahu’ diriku, tapi menasehatiku seolah aku anak sekolahan yang tidak tahu apa-apa. Padahal dengan orang lain, aku mudah sekali berlagak pilon, menjadi pendengar yang baik. Dan dalam banyak kasus dengan suka hati menurut pada nasehat yang diberikan orang lain. Tapi dengan yang ini…??? Entahlah…kupikir sebenarnya inti masalahnya adalah pada egoku. Egoku terusik karena mereka menganggap aku tidak tahu apa-apa. Heehhh…

Bukti, bahwa aku belum sepenuhnya mengenal diriku sendiri.


Jadilah siang itu berlalu dengan menyisakan kejengkelan di hatiku. Setelah berfoto-foto sejenak di halaman rumah Pak S, kami pamit karena harus persiapan lagi ke Praya. Di perjalanan aku diam saja. Tapi setiba di kamar hotel, aku mengeluh pada suamiku. Aku mengeluh karena merasa buntu. Tidak yakin aku bisa tampil sore nanti.

Aku tahu aku harus menenangkan diri. Rasanya otakku mampet, padat seperti batu. Energiku habis. Jadi setelah mandi--untunglah Kavyaa segera tidur—aku pun berbaring. Savasana. Rileks…rileks…. Dan ceritanya harus kulanjutkan di bagian kedua. ^_^

Tuesday, October 25, 2011

Lombok Day 3 -- Part 2

Setelah beberapa waktu terkantuk-kantuk di mobil karena kekenyangan, akhirnya kami tiba di Lingsar sekitar jam 2 siang. Kompleksnya luas. Terdapat kolam besar di bagian belakang, dekat pura balian. Sayangnya karena ada miss comunication dan miss leading dari para pengantar kami, jadinya kami hanya sembahyang di pura balian ini. Pura paling kecil dan terletak di ujung. Pura lainnya adalah pura Gaduh yang paling besar, Kemaliq, Pesiraman dan Lingsar Wulon.

Ada 5 pancuran mata air di pura balian ini, pancurannya kecil. Tidak sebesar yang di Tirta Empul. Aku hanya mencuci muka di salah satu pancuran. Karena seolah sudah lama tidak dikunjungi atau tidak dirawat, lantainya licin sekali. Aku takut terpeleset. Lagipula aku merasa aku cukup melakukannya seperti itu saja. Suamiku mencuci wajah di kelima pancurannya, sementara aku duduk bersama Kavyaa menunggu sambil berusaha meresapi sekelilingku.


Tidak ada yang istimewa rasanya, atau apa karena aku sudah lelah juga? Tidak tahulah. Sebelum persembahyangan dimulai, Ibu U dan Ibu G mekidung. Rupanya kalau di Lingsar memang sebaiknya kita mekidung. Penjelasannya ada. Tapi sayangnya aku sudah lupa-lupa ingat penjelasan dari Ibu G tentang hal itu. Hanya ingat sebaiknya kita melakukannya. Selesai persembahyangan, kami keluar pura Balian. Aku menyempatkan berfoto sejenak di dekat kolam besaaaar itu karena rencananya kami akan segera meluncur menuju pura Batu Bolong.

Sambil berjalan perlahan keluar kompleks pura, Ibu G dan Ibu E yang menjejeriku bercerita sedikit tentang pura Kemaliq yang kami lewati. Suamiku masuk kesana sebentar, tapi aku tidak. Aku terus berjalan melewati pura Pesiraman (?) Tidak ada cerita tentang pura ini.Saat kami melewati pintu pura yang paling besar--pura Gaduh-- suamiku menunjukkan minat untuk masuk. Ibu E langsung menawarkan diri untuk mengantar dan langsung membukakan pintu. Ibu G segera menyusul. Aku memilih duduk-duduk di bale bengong di luar pura sambil melihat-lihat dagangan penjual mutiara asongan. Tapi tak lama kemudian aku dipanggil oleh Ibu E. Aku mendekat dan masuk juga pura itu. Di dalam pura yang cukup luas ini terdapat tiga bangunan yakni Pelinggih Gunung Agung di sebelah barat yang melambangkan Gunung Agung, kemudian ada semacam pelinggih juga di tengah dan dan Pelinggih Gunung Rinjani yang melambangkan Gunung Rinjani di sebelah timur. Di sinilah titik pertemuan antara kedua gunung suci itu.


Ibu G yang menjelaskan panjang lebar pada kami. Terutama pada suamiku. Sayang tidak banyak yang bisa kuingat sekarang. Yang kucatat hanya, jika kita tidak sanggup ke Gunung Agung atau ke Gunung Rinjani, maka cukup kita sembahyang di Lingsar ini. Ibu E diam saja mendengarkan, hanya sesekali menimpali. Setelah puas berada di dalam areal pura ini, meskipun tidak sembahyang, barulah kami melanjutkan perjalanan kami kembali.

Belakangan Ibu E bilang bahwa seharusnya pura Gaduh ini tidak boleh kami lewatkan. Karena itulah begitu suamiku ingin memasukinya, dia langsung membukakan pintu. Begitu juga, saat dia ‘mendengar’ bahwa aku juga harus memasukinya, Ibu E segera memanggilku. Ibu G ternyata juga kecewa dalam perjalanan tirta yatra ini karena banyak sekali pura dan prosesi yang dilewatkan karena dianggap tidak perlu oleh Pak U. Hmm….mendengar itu aku juga merasa sedikit kecewa. Tapi aku juga yakin, bahwa meskipun bisa dikatakan perjalanan tirta yatra ini tidak sempurna, tetapi bagian-bagian yang HARUS kami jalani sudah kami jalani. Hanya saja, tidak ada bonus yang kami peroleh dalam perjalanan ini. Betul-betul yang penting-penting saja. Tapi aku yakin dengan kebijaksanaan Tuhan. Jadi aku tidak berkecil hati.

Perjalanan kembali menuju parkiran mobil kami sepertinya menempuh rute yang berbeda dari waktu masuk. Kini hamparan sawah yang sedang menghijau membentang di samping kami sepanjang perjalanan keluar komplek pura. Inilah yang namanya pura mewah --mepet sawah-- hehehe…..Kami juga sempat berfoto sejenak dengan latar belakang sawah-sawah tadi. Setelah itu, kami segera bergegas kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju pura Batu Bolong.

Nah…sekali ini perjalanan terasa lumayan lama. Mungkin sekitar 30-45 menit barulah kami tiba di garis pantai. Mungkin. Karena aku yang sudah lelah, bertambah lelah rasanya diajak mengobrol terus sepanjang perjalanan. Padahal mauku kami diam-diaman saja. Kadang aku heran dengan Pak dan Ibu U ini yang seolah tidak ada lelahnya berbicara. Apa karena itu perjalanannya terasa lebih lama. Entahlah. Tapi kelihatannya rutenya memang jauh kok. Jadi sambil berusaha mengabaikan pembicaraan yang terus berlangsung pikiranku menerawang sendiri. Pantai Senggigi. Oh Tuhan….tak pernah terbayangkan bahwa suatu hari aku akan menginjakkan kaki ke pantai ini yang biasanya hanya kusaksikan di foto-foto wisata saja. Hari ini aku akan menyapa dan menikmati panoramanya dari dekat. What a bless!


Pura Batu Bolong indah. Kami tiba di sana sekitar jam 4 sore. Ada beberapa orang yang tengah sembahyang sambil ditonton turis bule. Aku berpikir, bagi para bule itu pemandangan orang sembahyang ini eksotis. Bagaimana bagi kami sendiri? Adakah kami bangga dan mensyukuri ke-eksotis-an itu? Lagi-lagi Ibu G menggerutu perlahan karena kami melewati pura kecil di bawah dan langsung menuju atas. Tapi aku sempat bertanya, tidakkah kami bersembahyang dulu di pura bawah? Jadilah Ibu E menarikku ke dalam pura bawah ini dan mencakupkan tangan, berdoa sejenak. Aku mengikuti jejaknya. Ibu G ternyata juga ada di belakangku. Dan besok-besoknya baru aku tahu juga bahwa seharusnya kami sembahyang dulu di pura bawah baru di pura atas. Ada aturan dalam setiap ritual persembahyangan di setiap pura. Tapi terlalu banyak yang di-skip dalam tirta yatraku kali ini. Untunglah dalam ketidaktahuanku, petunjuk selalu datang meskipun petunjuk itu hanya mampu kuikuti dengan seadanya.

Sambil menunggu mereka yang masih sembahyang di atas –puranya kecil di atas karang, jadi harus sembahyang bergantian—aku menyempatkan diri berfoto ria di depan batu bolongnya. Sempat jeprat-jepret cukup banyak juga sebelum kami mulai sembahyang. Angin bertiup sangat kencang waktu kami mau mulai. Setelahnya Ibu G bercerita, jika terasa seperti itu, artinya Bhatara yang mbahureksa berkenan. Aku sempat menempuk batu besar, yang karena terburu-buru oleh keadaan tidak sempat kuperhatikan apa itu. Apakah kaki salah sebuah pratima atau memang batu saja. Kurasa kaki pratima di sebelah Pelinggih utama. Ibu G yang memintaku melakukannya. Diapun memberi pengantar dengan bahasa Bali. Intinya minta keselamatan. Itulah yang dapat kutangkap.

Persis selesai persembahyangan datang seorang pemangku… eh pedanda (karena kuingat dia sudah membawa tongkat). Aku diperkenalkan, tapi oh… aku lupa namanya sekarang. Wajahnya sih aku ingat. Wajahnya menyenangkan. Menggambarkan hati yang penuh keceriaan dan kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa beliau sudah baca bukuku juga. Wah….hebat. Hehehe….

Kami berfoto bersama juga. Lantas pulang. Semula ku kira begitu. Sudah capek nih seharian. Aku banyak menggendong Kavyaa. Kavyaa juga kelihatan lelah. Tapi setelah duduk-duduk sebentar di bale-bale di sana, ternyata Pak U malah mau mengajakku menonton sunset di Senggigi. Walah! Padahal kami bilang pulang saja ke hotel. Tapi dia tetap ngotot mengajak. Ya sudahlah….


Terus terang kami ragu apakah sunsetnya bakal kelihatan karena kami melihat mataharinya tertutup awan. Tapi untuk sopan santun kami mengikuti ajakannya. Kami kan tamu. Keluar dari pura Batu Bolong, Pak U mencari lokasi pantai yang kira-kira enak untuk melihat sunset. Kami menghabiskan waktu sekitar 30 menit di sana.

Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak yakin kami akan dapat melihat sunset—yang mana pada akhirnya terbukti, matahari tetap tertutup awan hingga mendekati malam—. Aku juga sudah lelah, Kavyaa terutama yang kupikirkan, bagaimana dibalik keceriaanya bermain pasir sebenarnya dia sudah lelah sekali. Plus angin laut yang bertiup kencang begitu membuat aku khawatir aku bakalan masuk angin. Kami semua masih memakai kebaya yang tipis. Hmmm….

Jadi setelah berbasa-basi ngobrol dan memaksa diri menghabiskan 1 buah kelapa muda yang kumakan bersama suamiku, akhirnya kami berhasil meyakinkan Pak U bahwa kami ingin pulang saja dan istirahat menyiapkan diri untuk besok. Tentu saja malamnya masih ada jadwal makan bersama. Tapi aku berpikir harusnya tidak lama.


Kembali ke hotel kami segera bebersih badan. Saat jemputan datang untuk makan malam, kami semua sudah siap. Malam itu kami diundang oleh pamannya Ibu I untuk makan malam di rumah beliau. Bapak dan Ibu U menyertai. Menu makan malamnya enak. Kelihatan kalau itu jamuan khusus bagi kami. Tapi aku merasa agak aneh selama di sana, karena kami bahkan tidak ngobrol apa-apa. Pak U menguasai topik pembicaraan. Aku sampai bingung dan sambil berbisik bilang pada suamiku, untuk apa sebenarnya paman Ibu I ini mengundang kami, kalau kami bahkan tidak bisa ngomong apa-apa di sana?. Tapi aku yang sudah lelah seharian, bertambah lelah lagi jadinya mendengarkan obrolan yang tengah berlangsung. Pura-pura menjaga Kavyaa, suamiku kabur. Aku sendiri cekikikan ngobrol yang tidak-tidak dengan Ibu I agar tidak jatuh tertidur. Untunglah tidak lama kemudian kami berhasil mengajak pulang. Jadi dengan keheranan menggandul di hati kami dengan perasaan lega pamit pulang.

Ternyata oh ternyata keheranan kami beralasan. Sesungguhnya paman Ibu I memang sengaja mengundang kami makan malam di rumahnya agar dapat mengobrol dan mendengar kisah kami langsung dari mulut kami. Tapi rencana mereka gagal karena malam itu justru Pak U yang malah banyak bercerita. Aku merasa menyesal karena paman Ibu I kecewa dengan acara malam itu. Hingga jadwal kepulanganku beberapa kali aku mencoba mencari waktu untuk mengulang kunjungan kami ke sana, tapi selalu gagal. Mau apalagi? Aku sudah berusaha. Berarti memang belum waktunya sekarang ini.

Oh ya, sebenarnya ada ceritaku yang terlewat. Di hari kedua malam, Pak Lurah (orang ini beneran Lurah) mengirim pesan bahwa jika boleh dia ingin berkunjung ke hotel. Kami tidak menolak. Dan sekitar jam setengah sembilan malam Pak Lurah tiba di hotel bersama seorang temannya, N.

Kami mengobrol panjang lebar. Wuoo…kami senang sekali karena bertemu orang yang omongannya bisa nyambung dengan enak. Kami saling berbagi cerita, saling mendengarkan. Waktu memang tidak terasa kalau sharingnya mencerahkan, jadi tahu-tahu hari sudah menjelang tengah malam. Mereka pamit. Dan kami senang karena bisa juga bertemu orang yang ‘sehati’.

Sebelum pulang Pak Lurah sempat mengajakku untuk yogasana di Senggigi yang langsung ku iyakan. Omong-omong Pak Lurah ini sempat cukup lama menjadi instruktur yoga di Mataram ini. Asyikkan..? kami membuat janji untuk hari Minggu paginya.

Jadi saat aku pulang ke hotel lagi dari rumah paman Ibu I malam itu, pikiranku sudah dipenuhi lagi dengan impian bakal yogasana besok paginya. Sudah dua hari ini aku tidak berlatih yogasana. Jadi ajakan yoga bersama ini betul-betul menyenangkan. Aku malam itu tidur dengan perasaan senang. Kami hanya sedikit membahas tentang acara makan malam yang “aneh” itu sebelum benar-benar larut dalam tidur yang nyenyak.