Friday, May 7, 2010

Masih Keluh Kesah

Sudah setahun lebih sejak aku kembali ke Hindu. Apa yang kudapat? Kedamaian hati, ketenangan batin, diriku, diriku sendiri, ya benar. Tetapi segala hal yang berkaitan dengan keluarga suamiku belum selesai, masih mengganjal karena kami belum berani berterus terang dengan keadaan kami sekarang ini. Kami sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.

Tapi dalam kehidupan berkeluarga aku mendapat hadiah seorang bayi perempuan akhir tahun lalu. Awalnya aku sulit menerima kehamilanku, karena khawatir dengan keadaan finansialku yang nyatanya memang belum membaik sampai hari ini. Tapi ternyata aku dan keluarga tetap hidup dan dapat menjalani hari-hari dengan gembira, rukun dan cukup.

Aku keluar dari pekerjaanku dengan situasi yang tidak baik, tepatnya disingkirkan secara paksa dari posisiku hingga aku memutuskan untuk berhenti saja. Tapi bagian itu sudah ku-delete dari memori dan tidak ingin kubicarakan lagi. Akibatnya saja. Akibatnya kondisi kami sempat collaps.

Bayangkan saja. 3 bulan setelah aku menjadi Hindu, aku hamil pas di saat aku harus kehilangan pekerjaanku. Diduga hamil kembar lagi! Aduh! Untung dalam perkembangannya tidak.

Bagaimanapun, setelah belasan tahun bekerja, bayangan hanya menjadi ibu rumah tangga menakutkanku. Ditambah lagi dua kali aku mencoba usaha, ternyata gagal dan bangkrut. Ya. Bangkrut. Dengan hanya meninggalkan utang di bank yang hingga kini belum selesai. Tapi kalau masalah kesulitan finansial itu bagiku lebih mudah diatasi. Tapi takut dengan diriku sendiri ini yang lebih sulit ditangani. Astungkara! Ternyata aku berhasil melewatinya.

Dibantu dengan kesulitan dan kesibukan menjalani kehamilanku yang berat (maklum usia menjelang 40, hehehe…) waktuku lewat begitu saja hingga saat kelahiran anakku. Dan kini bayiku sudah berumur 6 bulan dan aku baik-baik saja, dan kami semua baik-baik saja. Kehidupan masih sulit? Ya. Tapi kami baik-baik saja. Aku bahkan mulai menikmati menjadi ibu rumah tangga. Punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain. Sabar-sabar……proyekku banyak. Tapi kini aku harus bersiasat karena harus melihat kondisi bayiku, memungkinkan untuk diajak bekerja sama atau tidak. Hahaha….

Berkaitan dengan hal ini semua, (terutama karena aku kelihatan miskin sekarang, hik hik hik…..) aku mendengar desas-desus di belakangku bahwa kesulitan yang kualami sekarang ini adalah hukuman karena aku keluar dari agamaku semula. Kok rasanya pernah dengar ya? 

Ucapan itu selalu berulang dalam setiap kejadian yang sama. Tapi aku sudah punya jawabannya, karena aku tahu hal itu sangat mungkin terjadi. Bukankah aku memang harus memulai segalanya dari awal lagi? Seperti orang yang baru memulai hidup baru, begitulah keadaan kami sekarang. Aku masih bersyukur, di tengah kesulitan finansial kami sebagai satu keluarga tetap utuh, bahagia dan rukun. Itu lebih berarti bagiku.

Kalau ada yang kuminta sekarang ini adalah aku mohonkan kekuatan dan keberanian untuk menjalani hari-hari mendatang. Karena aku yakin segala sesuatu akan datang pada waktunya. Yang perlu kita lakukan hanya bersiap. Bersabar. Ikhlas. Pasrah. (sssttt…bagian ini cuma gampang ditulis, waktu melakoni, waduh…..naik turun juga rasanya…)

Aku membuka diri terhadap segala kemungkinan. Aku menerima setiap keadaan

Om Santi, santi santi Om

Samarinda, 30 April 2010