Wednesday, May 20, 2009

Ah.....!

Aku pernah menulis tentang kepasrahan, penerimaan, kesabaran. Juga pernah menulis tentang Tri Kaya Parisudha, berpikir yang benar, berkata yang benar dan bertindak yang benar.

Sekarang, aku dalam kondisi hamil muda dan selama trimester pertama kehamilanku ini aku praktis meninggalkan latihan rutin seperti pranayama dan meditasi. Aku mabuk bukan kepalang, lagipula pengalamanku pada kehamilan terdahulu --meneruskan latihan dan akibatnya aku malah limbung sepanjang kehamilan dan malah betul-betul harus stop berlatih-- membuatku agak ragu untuk tetap meneruskan latihan.

Akibatnya mungkin aku menjadi tidak seimbang. Apa yang kumaksud tidak seimbang? Aku, hatiku dipenuhi dengan kesedihan, sakit hati dan mungkin kebencian yang berusaha kuingkari, juga yang yang paling buruk --dendam!.

Beberapa bulan yang lalu ada kejadian luar biasa yang membuatku sakit hati. Tetapi pada waktu itu, terima kasih Hyang Widhi, aku dapat mengendalikan diri, sehingga tidak terjadi hal yang buruk, setidaknya aku tidak melakukan tindakan yang buruk. Setelah kejadian itu berlalu hampir 3 bulan hingga saat ini, keherananlah aku kenapa justru perasaan sakit hati, marah dan kebencian yang seharusnya muncul pada saat itu malah baru muncul sekarang?

Kukira aku sudah melepas semuanya pada saat kejadiannya sedang berlangsung. Ternyata tidak. Nyatanya sekarang pikiranku malah terus berputar-putar di sekitar kejadian itu, dan sakit hati yang dulu tidak kurasakan malah baru kurasakan sekarang. Aneh!

Dulu, teman-temanku heran, aku disakiti sampai seperti itu kok tidak marah, tidak ingin membalas dengan kata-kata atau tindakan. Aku sendiri pada waktu itu heran, kok aku tidak bisa marah. Jadi aku mengira aku memang bisa mengatasinya, menerimanya, bahwa apapun kejadian buruk yang kualami pastilah hasil perbuatanku sendiri, entah karma itu untuk masa kehidupan ini juga atau untuk masa kehidupan sebelumnya. Tetapi setelah merasakan apa yang kurasakan sekarang ini, aku berpikir ulang tentang penerimaan, kepasrahan dan apapun label yang kuberikan untuk sikapku dulu itu.

Ternyata aku marah. Ternyata aku sakit hati. Tetapi aku masih ngotot bilang aku tidak sampai dendam. Hal itu jadi lucu karena aku juga bilang bahwa aku tidak ingin berurusan lagi dengan orang-orang yang terlibat kejadian itu. Apa bukan dendam itu namanya? Lagipula aku bisa dengan tegas mengatakan: aku tidak ingin minta maaf karena dalam hal itu aku tidak bersalah, dan aku juga tidak ingin memaafkan orang-orang yang terlibat pada peristiwa itu.

Nah lho..! Dendamkan namanya?

Sekarang kehamilanku memasuki bulan kelima, mabuk hamilku sudah hilang, tetapi sebulan terakhir ini aku kena serangan semacam alergi sekujur tubuh, bintil-bintil, merah hitam dan gatal sekali. Semua usaha sudah kucoba. Dari obat dokter sampai obat tradisional. Belum ada hasil yang memuaskan. Sekarang cuma kuoles minyak batu, obat segala macam penyakit, yang mudah-mudahan berjodoh denganku jadi aku bisa sembuh.

Dan sekarang juga memasuki hari kelima aku mulai latihan lagi, pranayama dan meditasi. Tetapi sebelum aku mulai latihan, temanku, guruku sempat mengurut kaki dan tanganku. Aku tak pasti apa yang dia kerjakan, dia bilang persiapan, supaya yang diperut tidak kaget ^-^

Entahlah...

Biasanya aku meditasi tanpa tujuan. Hanya meditasi, menenangkan pikiran dan hati. Menyeimbangkan jiwa dan raga. Tetapi sekali ini aku punya harapan. Aku berharap dengan aku rutin latihan lagi sakit hatiku, marah dan benciku, dendamku, bisa ku atasi. Aku berharap aku bisa memahami apa yang sedang terjadi pada diriku sekarang ini.

Karena itulah berkali-kali kukatakan pada diriku sendiri. Ikhlas dan pasrah itu adalah kata-kata yang sederhana, tindakan sederhana yang sulit sekali melakoninya. Tetapi sepanjang hidup harus tetap dicoba. Dengan itulah kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan. Kalau tidak, kita tidak akan bisa bertahan.

Tapi tetap saja memahami hal ini tidak membuatnya mudah untuk dilakoni.
Ah...!

Friday, February 13, 2009

Akhirnya Kami Bersama

Akhirnya kami bersama. Ya...akhirnya kami bersama, aku, suamiku dan dua anakku. Aku sudah bercerita bahwa aku dan anakku yang bungsu telah di sudhi wadani pada tanggal 12 November 2008 yang lalu. Dan pada tanggal 24 Januari 2009 kemarin, suamiku dan anakku yang besar, juga telah di sudhi wadani, tepat pada malam Siwaratri di Pura Jagat Hita Karana Samarinda.

Dan aku bahagia sekali. Semua bukannya tanpa proses. Entah bagaimana caranya suamiku memantapkan hati hingga akhirnya mengikuti jalan yang telah kupilih. Aku tidak memaksa. Dan entah apa yang telah dilihat anak sulungku sehingga dia pun akhirnya memilih untuk mengikuti jalan yang dipilih kedua orang tuanya. Anak sulungku sudah besar. Menjelang 17 tahun, sehingga padanya kuberi pilihan untuk memilih jalan mana yang ingin dia ambil. Aku ingin dia bertanggung jawab pada apa yang dipilihnya. Tidak sekedar ikut orang tua, atau ikut kebiasaan saja. Dia memerlukan waktu 2 hari 2 malam untuk benar-benar berpikir, merenung-renung sebelum akhirnya mengatakan ya, kepadaku.

Selepas upacara itu, hatiku lega dan terasa ringan. Kami sekarang bersama. Lebih mudah memang bila dalam satu rumah tangga mempunyai satu saja nilai dan keyakinan. Nilai dan keyakinan yang sama. Aku tidak menentang bila ada rumah tangga yang disusun oleh individu2 yang berbeda keyakinan--aku malah kagum, dan sempat terjadi hal seperti itu memang di dalam rumah tanggaku. Ada 4 keyakinan yang berjalan, sehingga aku banyak merayakan hari besar dalam setahun. Tetapi kini kami bersama dalam satu jalan, dan ternyata semua menjadi lebih mudah.

Kenyataan bahwa kami sebelumnya memilih jalan yang berbeda-beda telah membantu kami untuk melihat segala hal dengan kaca mata yang lebih besar. Melihat dari berbagai sudut, dan mengetahui kebenaran dalam berbagai bentuk.

Itu semua tetaplah merupakan pengalaman hidup yang sangat berharga yang menjadi bekal bagi kami sekeluarga untuk menempuh perjalanan ke depan dengan lebih percaya diri, ikhlas dan pasrah.

Tapi ini pun bukanlah akhir perjalanan. Ini adalah awal sebuah perjalanan baru yang panjang. Perjalanan mencari jati diri. Tetapi kami kini menempuh perjalanan itu dengan melihat rambu-rambu yang sama, sehingga perjalanan tak lagi dirasa berat. Ada tempat berbagi pengalaman, berbagi rasa. Dan semuanya menjadi begitu indah!