Monday, December 15, 2008

Kejarlah Daku, Kau ku Lepas!

Beberapa minggu terakhir ini setelah aku mengingat, mengamati, merasakan, apa yang kualami, akhirnya dua hari yang lalu aku sampai pada kesimpulan bahwa, aku tidak boleh berambisi untuk mendapatkan sesuatu. Aku tidak boleh 'mengejar' apapun itu. Karena saat ku kejar dengan sekuat tenaga dan pikiran maka saat itu juga yang kukejar itu lepas dari genggaman. Aku belajar untuk mengikuti hidup saja. Baik, buruk, susah, senang, diikuti saja dengan sadar, dan siap setiap saat menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Pertama, bulan lalu aku ingin melaksanakan puasa pas wetonku. Sudah kurencanakan dengan matang, seksama, sepenuhnya. Aku merasa betul-betul sudah siap. Kemudian aku haid. Batal jadinya.

Berikutnya aku bersiap untuk puasa mapak purnama. Dengan penuh harapan, menanti dengan tidak sabar--tidak seperti bulan-bulan sebelumnya--, aku juga menunggu-nunggu purnama untuk ikut sembahyang purnamaku yang pertama, ternyata jadwal haidku maju lagi, dan batallah semuanya.

Mulanya aku kesal dan merasa menyesal. Bertanya-tanya kenapa kejadiannya terus begini. Aku merasa rugi!. Kemudian aku ingat-ingat kembali semua kejadian kecil sehari-hari, juga kejadian sebulan sebelumnya saat keinginanku begitu besar untuk bertemu dan belajar pada Jero Gede, pun tidak terkabul. Ada saja halangannya. Aku mulai melihat.

Setelah berulang-ulang kuingat, akhirnya aku sadar. Pelajaranku kali ini: aku harus belajar menerima hidup, tanpa syarat, tanpa ambisi, keinginan, ataupun nafsu pribadi. Aku harus belajar mengalir bersama hidup, tetapi dinamis, tidak pasif. Proaktif, tidak reaktif.

Aku tidak boleh berambisi. Apalagi apabila belakangan hal itu dapat menaikkan egoku. Aku tidak boleh. Aku tidak bisa. Dan Keberadaan telah mengatur semua untukku agar aku mendapatkan semua secara tepat, pada saat yang tepat, dengan ukuran yang tepat, untuk sebaik-baiknya bagi diriku.

Semua ada waktunya. Ada saat yang sempurna untuk segala hal agar segala sesuatu terjadi dengan indah, dan maknanya dapat dipahami dengan lebih sempurna.

Setelah menyadari hal ini, aku pasrah. Aku berserah. Apapun yang harus ku terima akan kuterima tanpa penyesalan, tanpa 'tapi' ataupun 'yaahhh..'
Aku serahkan hidup matiku pada yang memegang hidup. Aku serahkan diriku pada yang punya Kehendak. Aku tinggal menjalani. Karena apapun itu, itulah yang terbaik bagi diriku, tidak ada opsi yang lebih baik lagi seandainya aku dapat mengetahui sebelumnya. Aku yakin akan hal itu. Hanya saja keyakinanku terus saja naik turun, karena kesadaranku pun masih juga naik turun.

Ingatlah untuk tidak mengejar... segala sesuatu akan datang padamu pada waktunya.

No comments: