Tuesday, December 30, 2008

Ikhals dan Pasrah - Sederhana diucapkan, Sulit dijalankan

Sebulan terakhir ini aku mengalami kejutan kejadian yang luar biasa. Seandainya diibaratkan menumpang sebuah perahu, aku berlayar di laut lepas dengan perahu kecil pada saat badai hujan petir dengan gelombang pasang yang besar.
Dimulai sejak tgl 7 Des dan terus hingga akhir bulan ini aku terus mengalami guncangan, kejadian-kejadian yang mengejutkan, yang mengombang-ambingkan kepercayaan diriku, dan harga diriku.

(Harga diri yang mana? kepercayaan diri yang mana? Apakah selama ini aku sudah percaya diri? Berapa kuhargai harga diriku?)

Secara personal aku mendapat ujian yang berhubungan dengan cakra yang paling dasar: muladhara cakra. Ujian yang membuatku harus sadar untuk tetap membumi, rasional, logis, praktis, Ujian berikutnya dengan cakra yang kedua svadishtana. Sex? Ha..ha..ha... you bet! ternyata aku belum selesai dengan yang satu ini di saat aku mengira sudah melampauinya. Ujian yang ketiga dengan cakra ketiga :manipura. Semua hal yang berhubungan dengan kecemburuan, kemarahan, rendah diri. Ah..ah...(aku tidak ingat lagi apa dan bagaimana urut2an cakra-cakra ini, yang aku tahu dan yakin hanya ujian di 3 cakra mendasar inilah yang saat ini sedang aku hadapi)

Duh Gusti.... kenapa ujiannya ini mesti datang dalam satu paket pada waktu yang sama. Aku terhempas ke kiri, ke kanan, menangis tak bersuara, mencoba memahami, menghadapi. Aku dinasehati oleh temanku, guruku, dia bilang kuncinya hanya satu. Pasrah! Berserah! disertai keikhlasan.

Wuaa.... ini berat. Berat sekali ternyata pada saat kita dihadapkan pada situasi real, bukan sekedar membahas pengalaman orang lain, atau menuliskan pengetahuan kita tentang ikhlas dan pasrah. Aku banyak menangis. Dan sekali lagi temanku, guruku menasehati, penderitaan itu diterima dengan lapang dada, dinikmati. Nanti kalau sudah tahu nikmatnya penderitaan, semua jadi tidak berarti. Ah... kalimatnya sungguh puitis, yang menjalani ini yang rasanya berdarah-darah.

Sekarang memasuki minggu keempat aku berdarah-darah. Darahnya belum selesai mengalir. Nyatanya aku tidak menghadapi ujian ini sendiri. Aku beruntung teman hidupku, juga temanku, guruku selalu mendampingi, meski dalam hati mungkin sudah muntah darah juga mereka mendengarkan keluh kesahku.

Tapi hingga hari ini aku belum bisa untuk ikhlas dan pasrah. Oh sulitnya...sulitnya untuk ikhlas. Hatiku sempit, sesak, tidak bisa lapang. Sulitnya untuk pasrah. Egoku menjerit menginginkan. Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu..... yang semuanya tidak berakhir baik, hanya karena aku tidak mau pasrah.

Oh Sang Hyang Widhi... berkati aku. Beri aku kekuatan, kejernihan hati dan pikiran, agar pikiran, perkataanku dan perbuatanku senantiasa mencerminkan penyerahan diriku terhadap kehendak-Mu.
Oh Sang Hyang Widhi... setiap pagi kalimat itu juga yang kusebut. Tapi tak juga meresap ke dalam hati. Aku masih dikuasai egoku, nafsuku, amarahku.
Oh Sang Hyang Widhi.....

3 comments:

trune jati said...

orang boleh bangga karena menguasai berbagai ilmu dan tehnoklogi yang di dpt dari jalur formal namun di jaman kaliyuga ini tak seorang pun mampu mengusai dan menjalankan ilmu iklas.

martaemarta33@yahoo.com

trune jati said...

Ibu.sudah beberapa kali saya membaca tulisan ibu di media hindu namun baru kali ini dapat buka blog ibu.mari bu kita sama"belajar:dari air kita belajar ketenangan...dari batu kita belajar ketegaran...dari tanah kita belajar kehidupan...dari kupu" kita belejar merubah diri..dari padi kita belajar kejujuran dan kerendahan hati...dari Tuhan kita belajar kasih yang sempurna...kata orang bijak lho bu.kata"ini boleh sederhana bu tp maknanya............

Sikha said...

terima kasih untuk postingannya. maaf saya agak jarang cek blog yang ini jadi baru baca sekarang. tapi meskipun terlambat, buat saya ini tetap penting. jadi sekali lagi terima kasih. mari kita belajar bersama-sama