Thursday, November 13, 2008

Aku Telah Memilih !

Aku telah memilih. Aku memilih Hindu sebagai jalanku sekarang. Aku yakin. Dan aku telah pula menjalani prosesi upacaranya tadi malam, di bawah purnama yang indah, saat purnama sasi kelima di pura Trimurti Palaran.

Anakku yang kecil juga ikut dalam upacara ini. Upacara Sudhi wadani namanya. Jadi kini aku bisa dengan bangga berkata, "aku seorang Hindu"

Setelah pencarian selama 10 tahun, rasanya aku telah berada diujung pencarianku dan mulai melangkah di jalan baru yang kuyakini akan dapat menghantarku ke tujuanku. Kemanakah tujuanku? Rasanya aku tahu. Tapi di saat yang sama aku tidak tahu. Yang aku tahu pasti adalah aku telah berjalan. Dan aku berjalan di jalan yang aku yakin benar.

Tetapi suamiku hingga hari ini belum memilih. Dia belum dapat memutuskan. Aku tidak memaksa. Agama adalah hati. Jadi bila hati belum berbicara siapa yang dapat memaksanya untuk bersuara?

Tentu saja keadaanku ini menjadi perdebatan, sumber keraguan dari orang-orang di sekitarku yang melihat proses acara ini. Bagaimanakah sebuah rumah tangga terisi oleh orang-orang yang saling berbeda keyakinannya? begitulah kira-kira pertanyaan yang terbersit di benak mereka.

Tetapi kami bisa.

Anak pertamaku sampai saat ini memeluk Islam. Suamiku hingga saat ini ber-KTP Islam dan hatinya condong ke Budha tetapi mendalami Kejawen. Aku dan anakku yang kecil kini Hindu. Dan kami bahagia!

Aku tahu semua agama mengajarkan yang Satu. Dengan cara dan bahasa yang berbeda. Dan aku memilih Hindu sebagai jalanku. Itu saja. Anggota keluargaku memilih yang lainnya atau belum memilih. Ini sebuah masalah? Bagi orang lain, ya. Bagi kami sekeluarga, tidak.

Tetapi tentu saja, karena kami hidup bermasyarakat hal ini mengakibatkan kebingungan. Bila kita memikirkannya secara ekstrem bahkan bisa memicu reaksi berlebihan dari pihak lainnya. (Sudah ada di kepalaku skenarionya, tetapi lebih baik tidak ku katakan).

Yang aku bisa katakan hanya aku telah mengambil sikap dan aku siap dengan segala konsekuensinya. Lebih tepatnya mungkin, kami--aku, suami dan anak-anakku-- telah siap dengan segala konsekuensinya.

Kami akan sendiri. Di tinggal keluarga. Hubungan persaudaraan sedarah bisa putus. Hubungan anak-orang tua bisa putus. Inilah resiko yang paling besar. Dan kami siap!

Kemaren malam, aku merasa bahagia karena semua orang menyambutku dengan baik sekali. Aku merasa tersanjung. Di dalam hati aku berharap semoga aku menemukan 'keluarga' yang selama ini aku cari. Semoga aku bertemu dengan 'akar'ku. Semoga! Karena aku tahu hatiku tidak pernah salah. Dan apa yang telah kulakukan sekarang ini hanyalah mengikuti kata hatiku. Jadi begitulah yang terjadi!

Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata apa yang kurasakan saat prosesi berlangsung. Semuanya terasa indah. Semua hening. Dan my little boy ikut menjalaninya dengan keceriaan dan kepolosan seorang anak. Ah! dia tahu lebih baik dariku. Aku tahu dia sudah berjalan di jalurnya. Aku tahu anakku yang ini istimewa. (Bukankah setiap ibu akan menganggap anaknya istimewa?)Tapi aku sungguh-sungguh. Dia memang istimewa, dan aku bahagia dia menjalani juga Sudhi Wadani ini, dan aku bahagia melihat suamiku ikhlas melihat my little boy menjalani Sudhi Wadani, dan aku bahagia anak pertamaku yang berangkat dewasa juga dapat menerima dengan lapang dada bahwa ibu dan adiknya menjalani Sudhi Wadani. Adakah lagi yang bisa membuatku bahagia selain keluarga yang sangat mendukungku di saat aku paling butuh dukungan? Keluarga intiku inilah harta paling berhargaku! Dan lihatlah besarnya cinta mereka padaku? Tidakkah semuanya sangat membahagiakan?

Kurasa aku tidak akan dapat melupakan purnama sekali ini, purnama pada 12 November 2008.
Kurasa aku tidak akan pandai merangkai kata untuk melukiskan peristiwa ini secara rinci.
Kurasa aku sadar begitu sulit berbagi rasa.
Kurasa aku bahagia.

Aku berterima kasih pada Sang Hyang Widhi Wasa
Aku berterima kasih pada Bunda Semesta
Terima kasih

No comments: