Friday, November 21, 2008

Labirin Hati

Sudah 9 hari ini sejak hari sudhi wadaniku, dan pikiranku masih berputar-putar di sekitar situ. Seperti masuk keluar labirin yang tidak berujung. Di sekitar upacara, di sekitar pura, orang-orang di pura, lingkungan baruku ini. Aku terus berputar-putar di sana dan tidak mendapat kemajuan apa-apa.

Sebelumnya aku puasa purnama tidak penuh 3 hari karena kedatangan tamu bulananku. Yang sekaligus menggagalkan rencana puasa wetonku yang hanya selisih sehari dari puasa purnama. Ok, ini yang pertama.

Aku berencana tangkil ke rumah Jero Gede minggu yang lalu, juga gagal karena aku merasa waktunya tidak tepat. Aku baru kali pertama itu ikut kegiatan di pura paginya yang ternyata sampai siang hari, kedatangan kakakku di rumah, rencana mengunjungi Mangku Anom juga, jadi intinya rencana tangkil ke Jero Gede gagal. Ini yang kedua. Ok juga.

Seminggu ini aku bingung tidak tahu apa yang harus kulakukan. Membaca pelajaran dasar agama Hindu, menghafal Tri Sandya, Kramaning Sembah. Aku di pinjami kaset untuk itu yang juga berisi kidung Warga Sari. Aku dengarkan dan aku masih kebingungan dengan nadanya. Ku rasa nada hatiku dan nada yang kudengar dari kaset itu tidak cocok, tidak matching. Susah sekali membuatku hatiku bernyanyi seirama. Ini yang ketiga. And it's not ok!

Jadi apa kesimpulannya. Sampai hari ini aku tidak tahu. Aku sudah memulai rutinitasku hari ini, bangun pagi, melakukakan beberapa pekerjaan rumah tangga, pranayama, menyiapkan anak-anakku berangkat sekolah, yoga, membuat canang, sembahyang dan berangkat kerja. Semua berjalan normal pagi ini, as usual, tetapi aku masih merasa ada yang kurang, tidak pas, tidak kena, tidak nyaman, tapi apa?

(mungkin itu pengaruh hatiku sendiri yang sedang kacau... ujiankah ini, ujian hati? Pastilah ujian hati. Apalagi? bisakah ku lewati? penderitaanku berasal dari pikiranku sendiri, sangkaanku sendiri. masalah-masalah di kantor, egoku yang mengembang, nafsu yang tidak terpuaskan, amarah, hasrat tak terkendali, kebencian, kedengkian, dan entah apalagi. oh Dewata... semoga Engkau memberkatiku dengan kebijaksanaanMu)

Kurasa aku harus bertemu Jero Gede. Aku harus bertemu dengannya minggu ini.

Thursday, November 13, 2008

Tuhan Memberkatiku

Aku lupa bercerita prosesku menjadi Hindu.

Dimulai sejak tulisanku yang merasa 'Hampa" 2 November 2008. Aku menemui PHDI Samarinda (sebelumnya aku ke pura dan minta ketemu pemangkunya dulu, pemangkunyalah yang memintaku menemui orang PHDI) tanggal 3 November. Seharian aku bicara, dan aku ternyata telah bicara dengan pandita, sekretaris PHDI, dan ketua PHDI Samarinda. Bless me!

Mereka memintaku memenuhi persyaratan administratif berupa surat permohonan memeluk agama Hindu, surat pernyataan baik dariku maupun suami (karena kasusku yang agak aneh, aku masuk Hindu sendiri bahwa kepemelukanku (wah... bahasa apa ini?)ini tanpa paksaan atau tekanan dari pihak lain. Itu saja. Lalu aku diminta hadir di acara suka-duka arisan tanggal 9 November hari Minggu berikutnya.

Tanggal 9 November aku hadir di acara suka duka, aku diperkenalkan dengan hadirin di sana sampai aku sempat gugup (nggak nyangka sih.....)dan waktu itulah aku dipastikan akan menjalani Sudhi Wadani pada purnama 12 November 2008. Saat itu aku bertemu dengan Jero Mangku, pandita, Jero Gede, Sekretaris PHDI, Ketua PHDI.... Bless me again!

Dan begitulah.... akhirnya aku memilih!

Semua terjadi dalam waktu yang begitu singkat, cepat, mudah
Aku merasa sangat diberkati. Aku sangat diberkati!
Terima kasihku pada Sang Hyang Widhi!

Aku Telah Memilih !

Aku telah memilih. Aku memilih Hindu sebagai jalanku sekarang. Aku yakin. Dan aku telah pula menjalani prosesi upacaranya tadi malam, di bawah purnama yang indah, saat purnama sasi kelima di pura Trimurti Palaran.

Anakku yang kecil juga ikut dalam upacara ini. Upacara Sudhi wadani namanya. Jadi kini aku bisa dengan bangga berkata, "aku seorang Hindu"

Setelah pencarian selama 10 tahun, rasanya aku telah berada diujung pencarianku dan mulai melangkah di jalan baru yang kuyakini akan dapat menghantarku ke tujuanku. Kemanakah tujuanku? Rasanya aku tahu. Tapi di saat yang sama aku tidak tahu. Yang aku tahu pasti adalah aku telah berjalan. Dan aku berjalan di jalan yang aku yakin benar.

Tetapi suamiku hingga hari ini belum memilih. Dia belum dapat memutuskan. Aku tidak memaksa. Agama adalah hati. Jadi bila hati belum berbicara siapa yang dapat memaksanya untuk bersuara?

Tentu saja keadaanku ini menjadi perdebatan, sumber keraguan dari orang-orang di sekitarku yang melihat proses acara ini. Bagaimanakah sebuah rumah tangga terisi oleh orang-orang yang saling berbeda keyakinannya? begitulah kira-kira pertanyaan yang terbersit di benak mereka.

Tetapi kami bisa.

Anak pertamaku sampai saat ini memeluk Islam. Suamiku hingga saat ini ber-KTP Islam dan hatinya condong ke Budha tetapi mendalami Kejawen. Aku dan anakku yang kecil kini Hindu. Dan kami bahagia!

Aku tahu semua agama mengajarkan yang Satu. Dengan cara dan bahasa yang berbeda. Dan aku memilih Hindu sebagai jalanku. Itu saja. Anggota keluargaku memilih yang lainnya atau belum memilih. Ini sebuah masalah? Bagi orang lain, ya. Bagi kami sekeluarga, tidak.

Tetapi tentu saja, karena kami hidup bermasyarakat hal ini mengakibatkan kebingungan. Bila kita memikirkannya secara ekstrem bahkan bisa memicu reaksi berlebihan dari pihak lainnya. (Sudah ada di kepalaku skenarionya, tetapi lebih baik tidak ku katakan).

Yang aku bisa katakan hanya aku telah mengambil sikap dan aku siap dengan segala konsekuensinya. Lebih tepatnya mungkin, kami--aku, suami dan anak-anakku-- telah siap dengan segala konsekuensinya.

Kami akan sendiri. Di tinggal keluarga. Hubungan persaudaraan sedarah bisa putus. Hubungan anak-orang tua bisa putus. Inilah resiko yang paling besar. Dan kami siap!

Kemaren malam, aku merasa bahagia karena semua orang menyambutku dengan baik sekali. Aku merasa tersanjung. Di dalam hati aku berharap semoga aku menemukan 'keluarga' yang selama ini aku cari. Semoga aku bertemu dengan 'akar'ku. Semoga! Karena aku tahu hatiku tidak pernah salah. Dan apa yang telah kulakukan sekarang ini hanyalah mengikuti kata hatiku. Jadi begitulah yang terjadi!

Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata apa yang kurasakan saat prosesi berlangsung. Semuanya terasa indah. Semua hening. Dan my little boy ikut menjalaninya dengan keceriaan dan kepolosan seorang anak. Ah! dia tahu lebih baik dariku. Aku tahu dia sudah berjalan di jalurnya. Aku tahu anakku yang ini istimewa. (Bukankah setiap ibu akan menganggap anaknya istimewa?)Tapi aku sungguh-sungguh. Dia memang istimewa, dan aku bahagia dia menjalani juga Sudhi Wadani ini, dan aku bahagia melihat suamiku ikhlas melihat my little boy menjalani Sudhi Wadani, dan aku bahagia anak pertamaku yang berangkat dewasa juga dapat menerima dengan lapang dada bahwa ibu dan adiknya menjalani Sudhi Wadani. Adakah lagi yang bisa membuatku bahagia selain keluarga yang sangat mendukungku di saat aku paling butuh dukungan? Keluarga intiku inilah harta paling berhargaku! Dan lihatlah besarnya cinta mereka padaku? Tidakkah semuanya sangat membahagiakan?

Kurasa aku tidak akan dapat melupakan purnama sekali ini, purnama pada 12 November 2008.
Kurasa aku tidak akan pandai merangkai kata untuk melukiskan peristiwa ini secara rinci.
Kurasa aku sadar begitu sulit berbagi rasa.
Kurasa aku bahagia.

Aku berterima kasih pada Sang Hyang Widhi Wasa
Aku berterima kasih pada Bunda Semesta
Terima kasih

Sunday, November 2, 2008

Hampa

Aku merasa hampa hari ini. Sebenarnya aku sering merasa hampa di antara waktu-waktu bahagia yang hanya sesaat ku miliki. Saat aku sendiri aku kembali akan merasa hampa.

Apa yang kucari? Apa yang kurang dalam hidupku? Kenapa aku harus terus merasa kosong, merasa sendiri, merasa sepi?

Semua yang terjadi di luar diriku berlalu seperti bayang-bayang semu. Saat aku bersama saat itu, hidupku terasa 'hidup'. Setelah itu kembali kehampaan yang mengisi.

Jadi apa?, bagaimana?, mengapa?

Sikha, apa yang kau inginkan? apa yang kau dambakan?