Wednesday, May 3, 2017

Tari Pakarena Nataraja





Pakarena selama ini dikenal sebagai salah satu tari tradisional suku Bugis Sulawesi Selatan. Pakarena artinya Berkah. Berkah Tuhan. Karena itu tari ini menggunakan kipas untuk menggambarkan Tuhan sedang memberkahi. ‘Tuhan yang sedang memberikan berkah kehidupan’ -- itulah inti tarian ini. 

Aku menarikan tarian ini juga atas permintaanNya. Dan seperti biasa aku harus melihat dulu tari Pakarena yang selama ini dikenal orang seperti apa, barulah aku dapat membuat sendiri tarian ini berdasarkan keadaanku dan pemahamanku pada kehidupan. 

Karena itu aku perlu melihat 3 rekaman tarian Pakarena untuk melihat pergantian gerak dan mengambil pergantian gerak yang benar saja. Ada 10 pergantian gerak dalam tarian ini :
1.       Angani (diam)
2.       Lamhasari (kehendak Tuhan)
3.       Mabiring kassi (mencipta)
4.       Anging kamalino (melihat dunya)
5.       Sanrobeja (membiarkan kehidupan berjalan)
6.       Samborina (memelihara)
7.       Digandang (bercermin diri)
8.       Tangang lea-lea (berkeliling meninjau dunya)
9.       Iyale (membagi berkah)
10.    Sonaya (mengakhiri dunya)

Tapi aku akhirnya memberi nama sendiri pada gerakan dasar dalam setiap pergantian gerak itu, yaitu:
1.   Membuka sayap
2.   Thatham (melihat keluar)
3.   Bunga (membagi berkah)
4.   Menyisir (memelihara)
5.   Buka tutup (menjaga keseimbangan)
6.   Lonceng (memberkahi)
7.   Muka-muka (membuang yang buruk)
Yang ditarikan sepanjang tarian dan membentuk kisah. Tari Pakarena yang sakral sampai sekarang pun masih memuat alur kisah seperti ini. Hanya orang umum biasanya sulit mendapatkan kesempatan untuk melihatnya karena menolak kebenaran.

Karena itu tetap saja Pakarena Nataraja yang kususun ini berbeda dari pakarena lainnya karena jaman sekarang ini yang dikenal hanyalah tari Pakarena yang sudah menjadi ‘sekedar pertunjukan tari’ saja.Walaupun  masih ada beberapa orang yang benar-benar paham apa tari Pakarena sesungguhnya tapi umumnya tidak diterima masyarakat banyak.

Dalam menarikan tarian ini aku juga menggunakan pakaian adat Bugis, baju bodo’ yang artinya baju putri. Kugunakan warna hijau karena hijau adalah warna Kehidupan. Dan memakai kain penutup kaki dengan cara gochi katira (memakai kain dengan membuat lipit di belakang). Warna merah hanya kugunakan dalam vajrapushpam (bunga kepala) yang kukenakan  karena tarian ini memang mengisahkan -Dia yang sedang memberi berkah kehidupan-, karena itu warna hijau lebih banyak digunakan.

Karena alasan tertentu aku juga tidak menggunakan musik pengiring aslinya. Aku menggunakan musik pengiring dari Ravi Shankar – Raga Bhairavi yang membuat tarian ini menjadi lebih sulit dibawakan. Namun atas kehendakNya tetap mampu kulakukan.

Jadi inilah Pakarena Nataraja, yang berhasil kuselesaikan komposisinya tanggal 2/5/2017 dari mulai mempelajari gerakan aslinya, menyusun gerak, melatih susunan gerak dan menyempurnakannya. Semua selesai sempurna dalam 7 hari yang benar-benar menghabiskan energiku.

Tapi Dia selalu memberkahi. BerkahNya pun akan menyentuh semua yang percaya saat melihat tarian ini.

Pakarena are known as one of the traditional dances of the Bugis of South Sulawesi. Pakarena means blessing. God's blessing. Therefore this dance uses a fan to describe God which is blessing. 'God who is giving life's blessing' – are the core of this dance.

I danced this dance also for His request. And as always I had to see first Pakarena dance that had been known these days, so I could make myself this dance base on my condition and my understanding and comprehension of life.

That's why I need to see 3 Pakarena dance to understand the change of movement and take only the right motion. There are 10 basic change of movement in this dance:
1. Angani (silent)
2. Lamhasari (the will of God)
3. Mabiring kassi (creating)
4. Anging kamalino (to see dunya)
5. Sanrobeja (let life live)
6. Samborina (care)
7. Digandang (reflection)
8. Tangang lea-lea (itinerate to see dunya)
9. Iyale (give blessing)
10. Sonaya (end dunya)

But I finally put my own name to the basic movement in every change of motion, as :
1. Open wing
2. Thatham (look out)
3. Flower (give bless)
4. Combing (nurturing)
5. Open to close (balancing)
6. The bells (bless)
7. Front-front (throw away)
These movement is danced throughout the dance and make a story. Pakarena which is still sacred dance until this day must have a storyline like this. Only common people are usually difficult to have chance to see because refuse the truth.

Therefore Pakarena Nataraja I composed is different from other pakarena today's known which mostly become 'performance dance' only. Even though there are still some people who really understand what the Pakarena dance really is.

In this dance I also use Bugis custom -bodo clothes- which means princess clothes. I use green because green is the color of Life. Wear a long cloth and put it by  gochi katira way (wear cloth with pleat in back). The only red color I use is in vajrapushpam (garland) because this dance is story about –He giving life blessing--, that’s why green color much used.

But I do not use the original accompaniment music for some reason. So I use the musical accompaniment of Ravi Shankar - Raga Bhairavi which make this dance become more difficult to dance. But at His Will I still able to do.

So this is Pakarena Nataraja, which I finished the composition on 2/5/2017 from start learning the original movement, arrange motion, break in all movement and make it perfect. All completed perfect in 7 day which really drain my energy.
But He is always bless. His Blessing will touch all who believe in seeing this dance.

Monday, April 24, 2017

Hula Mahakali Mahamaya





Aku menciptakan tarian ini setelah melihat di sebuah film kartun seorang balian Hawai menari. Aku terkejut, karena aku merasa familiar dengan gerakan itu. Dan seperti biasanya, Maha Guruku kemudian memintaku untuk melihat 2-3 buah tari Hawai –hula—yang masih banyak mengandung gerakan dasar tari balian.
Aku mudah menangkap gerakan dasarnya yang menurutku berakar dari tari balian Dayak (Kaltim) dan berujung pada tari kathak di India. Dan hatiku mudah sekali mengikutinya.

Jadi tidak memakan waktu lama jadilah tarian ini yang kuberi nama Hula Mahakali Mahamaya, karena memang mengisahkan tentang Dia dan ShaktiNya. Bahwa aku mengenalNya, bahwa aku mengenalNya dalam kehidupan, sebagai Kehidupan dan bahwa aku mengenal Mereka dalam segala keadaan dan sifatNya.
Dan seperti biasa, siapapun yang percaya pada hal ini, pasti mendapat berkahNya. Siapapun yang juga suka menarikannya pasti akan mampu juga mengenalNya seperti aku mampu mengenal Mereka.  

Kostum yang kugunakan untuk menarikan tarian ini berupa satu kain penutup kaki berwarna putih, satu kain penutup dada berwarna hijau bermotif persegi dan lis merah, dan satu kain yang menutup keduanya berwarna hijau dan merah. Memakai vajrapushpam (baca:bajrapuspam) merah dan putih, dan memakai gelang bunga merah dengan lis hijau.

Warna hijau adalah Tuhan sebagai Kehidupan-Mahamaya. Warna merah adalah Tuhan sebagai Dharma-Mahakali. Dan putih adalah CahayaNya. Motif persegi melambangkan darimana manusia berasal. Gelang bunga merah yang berlis hijau melambangkan berkah yang diberikan Dharma dan Kehidupan.
Aku tidak memakai gelang bunga di kepala seperti umumnya orang Hawai karena aku seorang balian. Tapi aku memakai vajrapushpam yang merupakan pakaianku. 

Karena itu, pakaian yang kugunakan saat menarikan Hula Mahakali Mahamaya ini adalah pakaianku. Apabila ada yang ingin menarikannya juga, mereka harus memakai gelang bunga di kedua pergelangan tangan dan kaki, juga di kepala. Kostum lainnya boleh diikuti, meskipun tidak harus persis sama seperti yang kukenakan. 

Siapapun yang suka menarikannya sesungguhnya tengah berusaha mengenal Dharma dan Kehidupan dalam kehidupan ini. Secara mudah dan menyenangkan.

Karena Mereka Berdua memberkahi.

·        **  Untuk suatu alasan aku akan selalu menggunakan musik pengiring dari Ravi Shankar meskipun aku menarikan tarian yang berasal dari berbagai wilayah di dunia. Hanya untuk tari balian dan tari perang dari Dayak Kalimantan Timur aku tetap menggunakan musik pengiring aslinya.




I composed this dance after watching a Hawaiian shaman dance in a cartoon movie. I was surprised, because I'm familiar with that movement. And as usual, my Maha Guru then asked me to learn 2-3 hula --hawaiian dance-- which still contain the basic movement shaman dance.


It’s easy to capture the movement which I think basically rooted Dayak shaman dance (East Kalimantan) and ended of kathak dance in India. And my heart so easy to follow.


So in a short time Hula Mahakali Mahamaya  set. I gave name Mahakali Mahamaya, because it told about Him and His Shakti. That I knew Him, I knew Him as Life and as living. That I knew Them in any characteristic and circumstances.


And as usual, anyone who believe would surely got blessing. Anyone who love to dance it too would able to know Him like I do.


Costume I used to dance this dance is a white cloth for covering foot, cloth covering chest with green square pattern and red trim, and green and red cloth that cover both. I also wear red and white vajrapushpam (read: bajrapuspam), and wearing a red flower bracelet and anklet with green trim.


The green color is God as Life-Mahamaya. The red color is God as Dharma-Mahakali. And white is Their Light. Square motif is symbol of place where human originated. Red with green trim of flower bracelet and anklet is symbol of the blessing given from Dharma and Life.


I'm not wearing flower garland on the head like Hawaiian used to, because I'm a shaman. But I wear vajrapushpam which is my own cloths.


Therefore, the clothes I used to dance Hula Mahakali Mahamaya are my very own clothes. If anyone want to dance it too, they have to wear flower bracelet and anklet, also garland on the head. But other costumes may be followed, though not necessarily exactly the same as I put on.


Anyone who like to dance it to be true are trying to get to know Dharma and Life in this life. Through an easy and liven up way.


Because They bless.


• For a reason I'll always using musical accompaniment by Ravi Shankar though I danced dance which come from different region of the world. Only shaman dance and warrior dance from Dayak East Kalimantan would still use the original musical accompaniment.

Friday, March 24, 2017

Tari Shaman Tarana




Tarian ini kubuat setelah aku membuat tarian Kateyasavithakathak. Sebenarnya kisah yang kutuangkan dalam kedua tarian ini sama; kisah hidupku. Hanya apabila Kateyasavithakathak mengajarkan caranya, maka Shaman Tarana hanya berkisah. Ini kisahku. Kisah hidupku. Kisah pencarianku.

Shaman adalah bahasa kuno nusantara untuk yang kini masih dikenal dengan istilah balian. Aku memang seorang balian. Artinya ‘orang yang mampu terhubung dengan Tuhan’. Tarana (baca tere na) artinya ‘tanpa diri’. Jadi Shaman Tarana arti bebasnya ‘ keinginan terdalam seorang balian’.

Karena itu seluruh mudra yang digunakan di tarian ini mempunyai arti. Dan Dia memberkahi, dengan mengijinkanku membagi—mengajarkan tarian ini pada siapa saja yang ingin juga menarikannya. Karena suka. Karena juga ingin bertemu denganNya.

Dalam tarian ini ada satu mudra yang tidak dikenal di kalangan mereka penari bharatanatyam/kachipudi. Tetapi mudra ini dikenal di nusantara meskipun yang masih mengenalnya hanya mengenal samar-samar. Padahal mudra ini sebenarnya adalah mudra utama.  Kratuh (dibaca krate dengan ‘e’ seperti e dalam kata apel—artinya postur Yang Baik. Jadi mereka yang melakukan mudra kratuh sebenarnya ‘sedang menjadikan diri menjadi stanaNya’. Beberapa perguruan mengajarkan untuk mengucapkan hal ini, ‘……...aku menjadi stanaMu’  karena tidak lagi mengenal mudranya. Inilah sesungguhnya cara mudah untuk meraihNya. Dengan melakukan mudra ini dalam memulai setiap persembahan apa saja.

Tarian yang dilakukan sambil duduk juga tidak dikenali lagi oleh mereka yang menjalankan dharma. Padahal menari yang dilakukan dengan duduk juga adalah tarian dharma di masa yang lalu. Di masa kini hanya beberapa suku di pedalaman Amerika Selatan yang tradisinya masih dharma yang mengenal tarian semacam ini.

Inilah shaman tarana. Berhasil kuselesaikan komposisinya 2 Maret 2017. Dan dari waktu ke waktu akan selalu kutarikan dengan makin sempurna, makin sempurna, makin sempurna. Karena begitulah hidup. Selalu bergerak. Dan aku selalu ingin pergerakan itu ke arah yang lebih baik. Menjadi lebih baik. Semoga demikian yang akan terjadi.

Karena Dia selalu memberkahi.


I make this dance after I make Kateyasavithakathak dance. Actually, I define my journey to this dance, same as Kateyasavithakathak. My journey to find God. The story of my life. Only Kateyasavithakathak told how (to meet God), but Shaman Tarana just a story. My story. 

Shaman is the archipelago ancient language, which is still known now as ‘the balian’. I am balian. And it means ‘one who able to connect God at anytime '. Tarana (read tere na) means 'without self'. So Shaman Tarana loosely translated as 'deepest desires of a shaman'.

Therefore the whole mudra used in this dance has a meaning. And He give His Blessing by allowing me to share it, to teach this dance to anyone who want to try dancing it too. Because he/she/they like it. Because he/she/they also want to meet Him too.

In this dance there is mudra not known among them dancers bharatanatyam / kachipudi. But this mudra is known in nuswantara although vaguely senses. Though this mudra is actually the main mudra. Kratuh (read krate with 'e' as e in apple) —Good God posture. So those who do kratuh actually are ‘make themselves as His stana'. Some guru told his disciples to say this, '...... ... I am your stana' because no longer know its mudra. This is indeed an easy way to reach Him. By doing this mudra in starting each and any offering.

Dances performed by sitting not recognized anymore by they who dharma. Whereas dancing by sitting are dharma tradition also in the past. At present only a few tribes in South America which tradition still dharma still knew it.
So. this is Shaman Tarana. I successfully finish its composition in March 2, 2017. And from time to time I would always dance it more perfect, more perfect, more perfect. Because that's life. Always on the move. And I always wanted to move it to a better direction. To be good. To be better. So blessfully that would happen.

Because He bless.